
"Aku permisi sebentar," kata Cean yang lantas beranjak, padahal belum lama mendudukkan diri itu.
Disisi lain, Neska keluar dengan tergesa-gesa dari ruang VVIP itu, dia merasa langkahnya sudah sangat cepat tapi sayangnya ada yang lebih cepat mendahuluinya, mungkin karena langkah Cean lebih jenjang sehingga sekarang pemuda itu sudah menangkap tangan Neska yang hendak menghindar darinya.
"Bisa kita bicara, Nes?" Cean tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa dia harus sepeduli ini dengan Neska sampai ada rasa amarah dalam hatinya melihat apa yang tengah sang gadis lakoni.
"A--aku lagi kerja, Kak."
Cean meneguk saliva dengan cepat. "Jam berapa kamu pulang?" tanyanya.
"Mungkin sampai jam 12," kata Neska tak yakin.
"Mungkin?" Cean mengernyit.
Cean tidak mengerti kenapa Neska terlihat kikuk, gestur tubuh gadis itu juga seolah tidak terbiasa dengannya. Cean baru menyadari jika tangannya masih melingkari pergelangan tangan Neska seperti tampak protektif.
"Katanya begitu, aku gak tahu dengan pasti karena ini pertama kali--"
"Oke, aku tunggu jam pulang kamu," sela Cean. Dia sudah mengerti sekarang kenapa Neska tampak canggung padanya, pasti karena genggaman tangannya yang tidak kunjung Cean lepas kendati sudah menyadarinya.
"Aku harus kembali bekerja, Kak. Maaf," kata Neska tampak sungkan. Gadis itu menunduk sopan sebagai bentuk izinnya undur diri dari hadapan Cean, tapi disanalah Cean menyadari lekuk tubuh Neska yang tercetak jelas karena seragam kerja yang hari ini dikenakannya.
"Shiitt;" Cean mengumpat entah pada siapa. Dia memutuskan untuk kembali ke ruangan VVIP dimana teman-temannya berkumpul.
Cean sudah beranjak, tapi kembali menoleh ke arah dimana Neska sudah berbalik badan untuk pergi.
Disaat yang sama, gadis itu juga tengah menoleh untuk melihat Cean sekali lagi.
Mereka akhirnya saling bertemu tatap dalam keadaan yang sudah berjarak. Tak ada kata, seolah mata yang memberi isyarat namun entah penuh makna apa.
Hingga akhirnya, mereka sudah kembali ke tujuan masing-masing.
"Ada masalah?" Marko menyambut Cean yang sudah kembali.
Cean hanya menggeleng samar sebagai tanggapan atas pertanyaan Marko.
"Ah, iya, aku pernah mengatakan kalau aku mengenal seorang janda yang juga tinggal di Apartmen tua yang kau tinggali."
Cean menatap Marko dengan tatapan tak berminat.
"... dia bekerja di Bar ini. Namanya Yola."
"Yola?" Cean merasa pernah mendengar nama itu.
"Iya, kami berkenalan singkat disini, dari dia aku tau jika Apartmen tua itu ditinggali banyak janda," kata Marko dengan seringaian tipisnya.
"Lagi ngomongin apa, sih?" Digta yang juga ada disana mendengar sekilas percakapan Cean dengan Marko.
__ADS_1
"Ngomongin janda. Kau berminat?" tanya Marko sambil mengerling pada salah satu teman semasa kuliah mereka itu.
"Hahaha, aku kesini mau traktir kalian minum. Jangan bilang mau minta traktir main cewek juga," tanggap Digta yang disusul tawa Marko dan juga Evan disana.
Sementara Cean mendengkus sekilas, dia tak lagi mendengar percakapan-percakapan antara teman-temannya itu--sebab atensinya kini hanya memikirkan gadis polos nan lugu yang tiba-tiba dia temukan didalam Bar.
"Blue Ocean Lazuardi?"
Cean tersadar dari lamunannya ketika Evan memanggil namanya dengan lengkap, karena beberapa kali menyerukan nama Cean, pemuda itu tidak kunjung menyahut malah tampak melamun.
"Apa?" tanggap Cean yang tak lagi bersemangat.
"Minum!" Evan meletakkan satu seloki minuman dihadapan pemuda itu.
"Dia gak minum, Bro!" Marko yang menyahut sambil tergelak.
"Wah, sejak kapan?" Evan dan Digta tampak terkejut.
Cean menggeleng samar dan sepertinya Marko sudah lebih dulu menjelaskan hal itu pada kawan lama mereka yang tak sengaja bertemu karena dunia bisnis. Hal itu pula yang mempertemukan mereka kembali dalam beberapa hari ini.
Cean memang sudah menghindari minum-minum. Dulu dia pernah nakal pada masanya, tapi saat tanggung jawab pekerjaan semakin besar, dia memutuskan untuk berhenti. Dia tak mau kebiasaan meminum alkohol justru akan menjerumuskannya dan memberi pengaruh buruk untuk dirinya.
Kehadirannya di Bar ini juga karena ajakan Digta, dan Cean menghargai ajakan teman semasa kuliahnya itu. Jika pun dia pernah kesini bersama orang selain mereka-- itu karena membicarakan bisnis--sebab ada relasi dan kolega yang suka mengajak meeting ditempat semacam ini.
Cean juga pernah menemani Wenda yang waktu itu menghadiri undangan ulang tahun temannya--didalam Bar yang sama.
Tidak terasa waktu yang ditunggu Cean akhirnya tiba. Marko dan Digta tampaknya sudah meracau tak jelas akibat mabuk. Mereka bahkan bertaruh, yang Cean tak mengetahui dengan jelas apa pertaruhan itu.
"Ko, aku balik duluan."
Marko terperanjat dengan ucapan Cean. Dia nyaris mabuk, seharusnya Cean membantunya pulang bukan meninggalkannya. Tapi, Marko juga masih bisa sadar diri dalam keadaan setengah mabuknya itu, mana mungkin dia meminta Cean memapahnya. Kendati Cean adalah sahabatnya, tapi Cean juga merangkap sebagai atasannya yang tidak mungkin Marko atur apa yang pemuda itu ingin lakukan.
Cean tak menunggu tanggapan Marko, dia meraih kunci mobil Xenia dan memasukkan remote mobil Audy-nya kedalam saku kemeja Marko. Tidak peduli bagaimana pria itu harus mengurus mobilnya serta diri Marko sendiri yang tampak sempoyongan.
"Thanks, untuk traktirannya, Bro. Kapan-kapan giliranku," kata Cean ber-high-five ria dengan Digta kemudian lanjut dengan Evan.
Cean keluar dari ruang privasi yang tadi dia tempati bersama ketiga temannya. Duduk di stool bar yang lebih membuatnya leluasa untuk menunggu Neska keluar.
"Minum?"
Jo sang Bartender menawari Cean minum.
"Orange juice, please!"
Jo mengernyit, menyadari pemuda ini tidak memesan minuman semacam bir, vodka atau tequila.
"Lagi cari orang, Boss?" tanya Jo yang memperhatikan Cean menatap penuh selidik ke hampir seluruh penjuru ruangan Bar.
__ADS_1
"Hmm," Cean menyahut lebih seperti bergumam.
"Siapa? Mungkin gue tau orangnya dan bisa bantu lo," kata Jo kemudian.
"Pekerja disini biasa pulang jam berapa?"
Disitulah Jo tau bahwa yang dicari Cean adalah salah satu pekerja bukan pengunjung yang biasa datang ke Bar tersebut.
"Macem-macem, tapi mayoritas pulang pagi."
"Bukan jam 12 malam?" tanya Cean kenaehan.
"Justru jam 12 malam, jam puncak di Bar ini. Mana bisa pekerja pulang di jam segitu, apalagi ini satnight." Jo menjawab realistis sembari menyunggingkan seringaian kecil.
Iya juga, pikir Cean. Dia tampak frustrasi menyadari hal ini.
"Siapa?"
"Hah?" Cean mendadak linglung.
"Siapa pekerja yang lo cari?" tanya Jo mengulang.
"Neska." Akhirnya Cean menyebut nama gadis itu.
Jo hampir terkekeh kala Cean menyebut nama gadis polos yang tadi sempat dikenalkan Yola padanya.
"Lo ... pacarnya Neska?" tanya Jo akhirnya.
Cean terperanjat, dia menggerakkan tubuh agar lebih mendengar jelas apa ucapan Jo yang sepertinya mengenali gadis yang dia cari.
"Jam berapa Neska pulang?" Bukannya menjawab, Cean malah balik bertanya pada Jo.
"Seperti yang tadi gue bilang, ini satnight, kemungkinan mereka bakal pulang pagi. Neska anak baru, mungkin ada pengecualian. Maybe." Jo tampak tidak yakin diujung kalimatnya.
Jadi benar jika Neska anak baru disini.
"Udah berapa hari Neska kerja disini?"
"Kayaknya baru malam ini," kata Jo terus terang. "Biasa aja, disini Neska cuma jadi pramusaji. Lo gak usah berlebihan marah sama pacar lo!" ujarnya melanjutkan.
Cean mendengkus. Dia meneguk jus jeruk yang sudah disajikan Jo sejak tadi. Meski Jo mengatakan Neska bekerja sebagai pramusaji, tetap saja Cean tidak suka-- mengingat dimana sekarang kaki Neska berpijak apalagi jika ingat seragam kerja yang tadi gadis itu kenakan.
Ah, kenapa dia harus merasa seperti ini?
Ya, ya, tentu saja karena dia menganggap Neska adik kecilnya yang tidak seharusnya berada dalam lingkup orang dewasa. Ini bukan kawasan bocil, kan? Pikir Cean realistis.
Bersambung ...
__ADS_1
Next? Komen✅