
Setelah melewati beberapa waktu tidak kembali ke Indonesia sebab problem yang dulu diakibatkan oleh Jelita. Akhirnya, hari ini Neska kembali menginjak tanah kelahirannya.
Jika dulu Neska datang kesini untuk bekerja dengan menjalani pekerjaan sebagai BA di perusahaan Cean, kali ini dia bukan datang melainkan pulang.
Kuliah Neska sudah selesai. Pun dia pulang untuk mengurusi soal rencana pernikahannya dengan pria yang sudah melamarnya satu bulan yang lalu.
Neska dijemput oleh Cean di Bandara dengan sunggingan senyum yang selalu menawan.
"Kangen banget sama kamu," kata Cean sembari merangkul Neska dengan erat.
Neska sedikit menjaga jarak, membuat Cean mengernyit heran pada perilaku calon istrinya itu.
"Kenapa, sih? Udah sebulan kita gak ketemu, Sayang!"
"Gak apa-apa kok, Kak."
"Kamu nggak lagi ngehindarin aku, kan?" Cean memprotes tingkah gadisnya.
Neska menggeleng dengan kulumann senyum yang tertahan.
"Terus kenapa gitu?"
Neska mengendikkan dagu ke arah yang berlawanan dimana disana ada kedua orangtua Cean yang juga datang untuk menjemput kepulangan Neska yang memang tidak seorang diri melainkan bersama Rion dan Sheila juga.
"Aku malu kalau dilihatin Mama sama Papa Kakak," bisik Neska dan akhirnya Cean ikut terkekeh pelan.
Mereka pulang dengan satu mobil yang sama.
"Akhirnya, Mama punya tambahan dua orang anak perempuan lagi," kata Mama Yara merujuk pada Neska dan Sheila yang ada dalam mobil yang sama.
"Iya, kan, Ma. Jadi tambah rame." Papa Sky menimpali ucapan istrinya.
Suasana perjalanan itu terasa ramai hari ini. Sampai akhirnya mobil mengantarkan mereka semua ke rumah utama yang ditempati keluarga Lazuardi.
"Nes, ini kamar kamu selama disini. Semoga betah ya, Nak."
Mama Yara berbicara pada Neska didepan pintu kamar tamu yang akan gadis itu tempati.
"Makasih ya, Tante." Sebenarnya Neska sungkan harus tinggal dikediaman orangtua Cean, tapi keluarga dari calon suaminya itu memaksa Neska untuk tetap berada disana sampai nanti hari pernikahan mereka tiba. Mereka hanya akan merasa lega jika bisa menjaga Neska dari dekat.
"Ya udah, kamu istirahat ya, pasti kamu udah capek selama perjalanan."
"Iya, Tante."
"Nanti kalau udah jam makan malam, Bi Dima bakal panggil kamu ya, sayang."
Neska mengangguk mengiyakan. Dia merasa amat bersyukur karena orangtua Cean selalu menyambutnya dengan hangat, pun seakan menganggap dia seperti anak gadis mereka sendiri.
Sementara di tempat lain, tepatnya didepan rumah, Cean masih sibuk menurunkan beberapa koper milik Neska yang jumlahnya lumayan banyak karena semua peralatan Neska dari Singapore kembali dibawa ke Indonesia sebab Neska tak akan tinggal di Apartmennya yang ada disana lagi dan akan menetap di Indonesia bersama Cean setelah mereka resmi menikah.
"Sudah, Den Cean, biar saya saja yang mengangkatnya." Pak Zulmi, petugas keamanan dirumah mereka berucap kepada Cean.
"Gak apa-apa, Pak. Sekalian olahraga," kata Cean.
Sementara disana juga ada Rion yang baru saja pulih dari kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu sebelum pulang ke Indonesia. Rion tidak seperti Neska yang sudah akan menetap disini, sebab Rion masih harus kembali ke Singapore untuk melanjutkan study yang tertunda.
"Kamu gak usah bantuin angkat, biar Mang Dedi sama Pak Zulmi aja," kata Cean mengingatkan sang adik bungsu.
"Iya, Kak."
"Ya udah, ajak Sheila masuk."
__ADS_1
Rion baru sadar jika sejak tadi Sheila menungguinya disana. Rion pun mengajak kekasihnya untuk ikut masuk ke dalam rumah.
Sheila langsung menanyakan dimana kamar Neska sebab dia mau menyusul Neska saja setelah memastikan Rion baik-baik saja. Akibat kecelakaan waktu itu, Sheila memang menjadi jauh lebih protektif kepada Rion. Malah terkadang Rion merasa jika disini Sheila yang bersikap lagaknya amat melindunginya, membuat Rion heran sendiri dengan sikap Sheila yang terkesan berlebihan.
"Ya udah, kamu ke kamar Neska aja. Nanti aku anter pulang ke rumah selesai kita makan malam keluarga."
"Gak usah, nanti aku pulang sendirian aja. Lagian aku malah takut kamu kenapa-napa kalau nanti anterin aku."
"Sheila..."
Sheila meringis keki. "Aku tau aku lebay. Tapi aku memang khawatir sama kamu."
"Ya udah, nanti aku suruh Pak Dedi aja yang anterin kamu pulang."
Sheila mengangguk setuju. Lebih baik begitu, pikirnya.
Sheila berjalan pelan menuju ke kamar Neska. Rupanya disana sudah ada Cean yang sedang membereskan barang-barang Neska dari kopernya. Sementara Neska juga ikut sibuk menyusunnya ke dalam lemari. Beberapa kali Sheila mendengar jika keduanya agak sedikit berdebat akan isi koper-koper itu.
Cean meminta Neska untuk istirahat saja, tapi Neska ngotot ingin ikut membereskan semuanya. Begitulah sekilas yang Sheila dengar.
Sheila sebenarnya cukup penasaran akan hubungan keduanya. Ya, memang dia tau mereka akan segera menikah. Tapi sikap usil yang ada dalam diri Sheila ingin tau lebih lanjut sejauh apa dan apa saja yang mereka lakukan selama berpacaran. Sheila penasaran, mengingat Neska adalah gadis yang polos. Sheila tidak yakin jika mereka pernah berciuman. Ataupun Cean tidak berani menyentuh Neska sama sekali.
Hihihi ... celetuk hati Sheila ingin tau hal itu. Dia bersembunyi dibalik dinding dan diam-diam mendengarkan dan mengintip interaksi keduanya.
"Sayang, aku gak mau kamu capek. Udah istirahat aja. Ini biar jadi kerjaan aku."
"Tapi koper yang itu biar aku aja yang nyusun, kak. Soalnya itu barang-barang pribadi aku." Neska menahan tangan Cean yang sudah memegang sebuah koper kecil.
"Udah, gak apa-apa. Ini biar aku bantuin susun ke lemari."
Neska menggeleng, sementara Cean mengangguk.
"Kak Cean itu dingin-dingin kalo sama Neska beda ternyata," batin Sheila terkekeh usil.
Neska dan Cean sontak saling menatap, mereka seperti mendengar suara tawa perempuan.
"Kamu yang ketawa?" tanya Cean.
Neska menggeleng.
Sheila kembali terkikik di posisinya. Dia tidak sadar jika tawanya itu sudah didengar Neska dan Cean.
"Terus siapa?" tanya Cean.
"Heee ... kakak takut itu hantu, ya?" cibir Neska. Dia tau Cean takut dengan hal-hal mistis, apalagi mengingat sikap absurd Cean saat memasuki wahana rumah hantu beberapa waktu lalu.
"Mana ada, Sayang. Di rumah ini gak ada hantu." Cean mencoba menyangkal hal yang sudah dipikirkannya.
"Setiap rumah ada penunggunya, Kak." Neska malah menakut-nakuti kekasihnya itu.
"Ish, kamu ini. Aku gak takut. Aku udah disini dari kecil juga, yang ada hantunya yang takut sama aku."
"Masak?" Neska meragukan kata-kata Cean.
Hal itu turut membuat Sheila yang mengintip mereka jadi semakin terbatas diposisinya.
Cean yang sudah terprovokasi oleh ucapan Neska, sontak bergerak ke belakang tubuh mungil gadis itu.
"Tuh, kan, takut ..." olok Neska. Padahal dia juga mulai takut karena suara tawa perempuan itu semakin terdengar kencang, hanya saja Neska merasa sangat mengenal suara tawa itu.
"Aku gak takut, cuma itu tadi suara ketawa siapa?"
__ADS_1
"Udah jelas-jelas takut juga."
Neska membiarkan Cean memeluknya dari belakang, pria itu menyurutkan wajah di bahu Neska.
"Udah deh, kalau posisinya begini ini namanya modus." Neska mencoba protes.
Cean menggeleng dan tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Dia sudah terlalu nyaman disana. Akhirnya dia mengakui kalau dirinya takut.
"Iya, deh.Aku takut. Biarin dulu kayak gini."
"Ish, nanti dilihat Tante Yara sama Om Sky. Aku malu."
"Gak apa-apa. Bentar lagi kita juga nikah, kok."
"Tetap aja kan kalau sekarang belum."
Sheila yang sudah tidak tahan mau meledakkan tawanya kembali. Akhirnya kembali tergelak diposisinya. Menurutnya hubungan Cean dan Neska itu sangat manis.
Neska kembali mendengar tawa itu. Cean pun semakin mengeratkan pelukan.
"Tuh, kan ada lagi suara ketawanya.Aku jadi beneran takut."
Neska berpikir sejenak. Dia tau pemilik tawa ini. Kali ini dia pasti tidak salah menebak. Apalagi dia ingat jika orang yang memiliki suara tawa ini sangat usil dan jail.
"Sheil ... ayo keluar! Itu kamu, kan?"
Sheila pun keluar perlahan-lahan dari tempat persembunyiannya. Gadis itu menyengir sembari menunjukkan dua jari berbentuk huruf V.
Cean langsung mendengkus. Tapi dia tidak marah, berkat Sheila dia jadi punya alasan untuk mendekap gadisnya. Tap, tetap saja karena Sheila juga Cean harus menunjukkan kelemahannya yang takut akan sesuatu.
"Ck, kamu rupanya, Sheil." Cean berdecak lidah. Mau marah tapi itu kekasih adiknya. Mau bagaimana lagi.
"Ngapain sih pake ngumpet gitu?" Neska menatap Sheila sambil memutar bola matanya. "Kamu ngintipin kita ya?" Neska kembali menebak.
Sheila mengangguk cepat. Dia tidak bisa menyanggah, toh sudah terlanjur ketahuan.
"Kamu nguping juga?" Kali ini Cean yang bersuara lagi.
Sheila kembali mengangguk membuat Neska mendesis.
"Kamu ngapain sih begitu?" tanya Neska bersungut-sungut.
"Sorry, Nes. Aku cuma mau lihat, siapa tau kalian ciuman," jawab Sheila tanpa rasa berdosa sama sekali.
Kali ini Cean malah terkikik. Tak habis pikir dengan ucapan Sheila.
"Kamu tuh ya." Neska menepuk jidatnya sendiri. "Aku sama Kak Cean juga lihat-lihat tempat kalo mau ciuman," ujarnya terus terang.
Sekarang Cean terperangah akan ucapan gadisnya. Ternyata Neska bisa se-blak-blakan itu jika didepan Sheila.
"Abisnya aku penasaran."
"Praktek aja gih sama Rion," olok Neska.
"Gak boleh ..." Sheila mengigitt bibirnya sendiri.
Kali ini Cean dan Neska menimpali serentak. "Kenapa?"
"Gak boleh sekali maksudnya." Sheila pun menyengir keki sementara Neska dan Cean melongo melihatnya.
...Bersambung ......
__ADS_1