
Penantian Cean untuk menikahi gadisnya sudah tercapai saat ini.
Ketika Cean memasuki kamar pengantinnya. Gadis kecilnya yang sudah bertranformasi menjadi wanitanya itu sedang duduk didepan meja rias dalam posisi memunggunginya.
Neska terlihat baru saja membersihkan diri. Tidak ada lagi pakaian pengantin yang tadi sempat membalut tubuhnya dengan anggun, yang ada kini hanya piyama tidur berbahan katun dengan motif kepala sapi.
"Hai?"
Entah kenapa kata itu yang pertama kali Cean ucapkan tatkala Neska menoleh pada kedatangannya. Sejujurnya Cean juga gugup untuk malam pengantin mereka, tapi dia berusaha bersikap sewajarnya.
"Hai, Kak. Temen-temen kakak udah pulang?" Seperti biasa, Neska bertanya dengan kepolosannya.
Cean mengangguk. "Udah," jawabnya. "Maaf ya, jadi lama nyusulin kamu. Tadi ditahan mereka karena sebelumnya aku gak ngadain pesta lajang," ujarnya terus terang.
Kini giliran Neska yang mengangguk. Dia tampak melanjutkan sesi bercermin didepan meja rias.
Cean melepas jas yang ia kenakan. Kini hanya sebuah kemeja putih polos yang melekat pada tubuhnya. Dia menggulung lengan baju sampai sebatas siku, lalu mendekat pada Neska yang sedang mengoleskan skincare yang tidak asing bagi Cean sebab itu adalah produksi dari pabriknya.
Cean berdiri tepat disebelah Neska lalu mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Kamu pake skincare ini?" Cean baru tahu jika Neska menggunakan produk tersebut.
"Iya, awalnya enggak, tapi waktu aku jadi BA aku coba pake, ternyata cocok. Kan bagus kalau aku bener-bener realisasikan pemakaiannya. Jadi gak cuma diiklan doang." Neska menyengir.
"Oh … kalau cocok ya, bagus."
"Huum." Neska sepakat dengan kalimat Cean. "Aku jadi bisa beli dengan harga diskon, kan? Soalnya ini kan produk dari perusahaan suami aku," katanya dengan senyuman usil.
Cean tertawa. "Jangankan diskon, pabriknya aku kasi buat kamu," kelakarnya.
Neska akhirnya ikut tertawa, suasana canggung itu terasa tak lagi ada.
"Aku mau mandi dulu ya." Cean pamit pada Neska untuk membersihkan diri juga.
"Oke, Kak. Aku siapin baju gantinya, ya."
"Duh, enaknya punya istri," celetuk Cean yang sudah hampir mencspai pintu kamar mandi.
Neska hanya terkekeh dan kemudian mengambilkan segala kebutuhan ganti Cean yang diperlukan sehabis pria itu mandi nanti.
Neska menyusun semuanya di atas meja yang ada di walk in closet, kemudian dia kembali ke kamar untuk membaringkan diri diatas tempat tidur king size yang ada disana.
Sebenarnya ini adalah kamar Cean yang ada dikediaman orangtuanya, tapi sekarang sudah menjadi kamar Neska juga sebab mereka baru saja resmi menjadi sepasang suami-istri.
Jangan tanyakan apa perasaan Neska sekarang. Tentu dia tidak setenang kelihatannya. Mungkin jika diibaratkan, didalam dada Neska kini ada banyak kembang api yang sedang meletup-letup. Ini semua karena dia ingat jika ini adalah malam pertamanya bersama Cean sebagai sepasang suami istri.
Neska tersentak saat merasakan sebuah tangan dingin menyentuh lengannya yang tadi berbaring dalam posisi menyamping.
__ADS_1
Blush …
Belum apa-apa wajah Neska sudah memerah saat menyaksikan jika Cean duduk di pinggiran tempat tidur dalam keadaan hanya memakai handuk saja.
Glek …
Neska menelan air liurnya dengan cepat sekali. Tiga kali meneguk saliva dalam hitungan sedetik. Semua itu karena pemandangan yang saat ini disaksikannya tepat didepan mata. Perut rata dengan aksen kotak-kotak yang berjajar menjadi 6 bagian. Neska tidak berniat menghitungnya tapi itu seperti terstimulus dengan sendirinya hingga sampai pada jaringan otaknya.
Neska menundukkan wajah dengan malu malu.
"Kak, pakaiannya udah aku siapin di ruang ganti."
"Hmm …" Cean hanya berdehem pelan untuk menyahuti ucapan sang istri, sebenarnya dia juga gugup luar biasa saat ini, tapi dia tau jika istrinya sangat polos dan tidak mungkin memulai lebih dulu, jadi Cean akan berinisiatif untuk mengambil start-nya malam ini.
"Ya udah, pakaian dong, Kak."
Cean tak menyahut, tatapan matanya lekat memandangi sang istri yang tampak sangat cantik malam ini. Berkali-kali lebih cantik ketimbang dulu–sebelum Neska resmi menjadi istrinya. Hal ini turut membuat sesuatu dalam diri Cean amat menginginkan gadis itu sekarang juga.
"Kak, jangan lihatin aku kayak gitu," Neska memprotes, namun masih menekuk lehernya dalam-dalam. Gadis itu tidak berani membalas sorot mata Cean yang menatapnya, namun dia tau jika kini Cean tengah menghujaninya dengan pandangan yang berbeda.
Udara disekitar Neska menjadi semakin panas saat Cean tiba-tiba mencium pipi kirinya dengan hembusan nafas yang terasa hangat menerpa kulit. Gadis itu pun meremang seketika.
"Kak, kakak gak mau pakaian, ya?" Neska berujar pelan lantas mengigitt bibirnya kemudian.
Alih-alih menjawab, Cean justru berujar lain dari topik yang tengah Neska tanyakan.
"Kamu cantik, apalagi kalau sedang gigitt bibir gitu, kamu berkali-kali lebih cantik."
Saat Neska mengadah, disaat itu pula Cean mengambil kesempatan untuk mencium Neska kembali. Bedanya, yang kini menjadi sasarannya adalah bibir gadis itu. Bibir yang terasa manis, bibir yang sudah menjadi candunya dan bibir itu pula yang akan selalu dia rindukan disaat-saat jauh dari sisi Neska seperti yang selama ini mereka jalani.
Neska memang terlalu amatiran dalam hal berciumaann. Sementara Cean, selalu mampu membuktikan bahwa dia adalah seorang good kisser yang handal.
Jika biasanya Cean memaklumi ciuman Neska yang pasif, kali ini dia meminta Neska untuk membalasnya dengan cara menggigitt gemas bibir istrinya seperti yang tadi Neska lakukan terhadap bibirnya sendiri. Hal itu sontak membuat Neska sedikit meringis dan secara otomatis membuka bibirnya dan memberi akses untuk lidah Cean masuk demi menjelajahi rong-ga itu dengan lebih in-tim lagi.
"Kakhh …"
Kali ini suara Neska yang memanggilnya disertai dengan desahann yang membuat sesuatu dalam diri Cean terasa bangkit.
Suara gadis itu tertahan, sebab mereka masih melanjutkan ciumann yang rasanya malas untuk Cean sudahi. Tangan Neska meremass sisi sprei yang kini dia duduki.
Neska masih saja pasif meski Cean sudah memancing lidahnya untuk berdansa disana. Cean pun memegang kedua sisi wajah Neska untuk memperdalam ciuman tersebut.
Cean bergumam pelan disela-sela kegiatan intens itu. "Balas aku, Sayang," ujarnya penuh harap.
Disanalah Neska mencoba memahami, dia mengambil inisiatif untuk membalas perlakuan lidah Cean dengan tindak tanduk yang sama. Apabila Cean menyesaap bibir bagian atasnya, Neska pun melakukan tindak serupa dengan mengulumm bibir bawah Cean yang terasa kenyal dan memabukkan.
Neska tidak tahan untuk melanjutkan ciuman ini, rasanya dia telah kehabisan oksigen dan dia butuh mengesah nafas yang nyaris terengah-engah. Cean yang pengertian memberi Neska waktu jeda untuk hal itu.
__ADS_1
Wajah keduanya memerah sebab baru kali ini ciuman mereka terasa jauh sampai ke tahap tersebut. Biasanya Cean hanya mengecup atau mengulumm bibir Neska, tidak ada pergulatan lidah, pun tidak ada balasan dari Neska yang tak pernah merasai ciuman kecuali dari Cean.
Kini Cean menatap Neska kembali, tangannya terulur ke depan piyama yang gadis itu kenakan, lalu berhenti tepat di depan kancing teratas, seolah tampak siap untuk membukanya. Neska membalas menatap Cean dengan tatapan sayu.
Disaat itulah Cean berujar lembut. "Boleh?" tanyanya seolah meminta izin.
Neska sebenarnya masih takut membayangkan hal-hal berbau malam pertama, tapi karena ini bersama Cean, pun karena pria ini sudah meminta izinnya Neska tak mungkin menolak sebab dia sadar jika Cean sudah menjadi suaminya.
Cean benar-benar melepas seluruh kancing piyama Neska sekarang, namun belum membuat pakaian itu benar-benar terlepas begitu saja.
Cean kembali mencium bibir mungil istrinya. Kemudian ciuman itu mulai turun ke leher dan berlama-lama disana.
Cean senang mendengar Neska mulai mendesaahh, dia melanjutkan aksinya sembari benar-benar menanggalkan baju atas Neska yang sudah terbuka kancingnya, dia menyisakan gadis itu dengan kain yang menutup sebagian dada nya.
Cean menatap tampilan Neska sesaat, membuat sang empunya tubuh merasa malu dan justru kembali mencium Cean lebih dulu karena dia tak bisa jika Cean terus menatapi bagian tubuhnya seperti itu, sebab ada sesuatu dalam dirinya–yang rasanya ingin meledak disaat-saat seperti itu.
Melihat Neska yang malu, Cean justru semakin tertarik untuk menggoda gadisnya. Dia melemparkan handuk yang dikenakanannya ke sembarang arah, menujukkan keperkasaannya.
"Kak?" Neska tampak terpana atau justru kaget dengan hal ini, entahlah, Cean tak mau membuang waktu untuk menduganya.
"Ya, sayang?" Cean menyahut disertai dengan tangannya yang sudah bergerilya kemana-mana.
Neska melenguuh lagi akibat tindakan Cean itu. Pikiran warasnya seakan terbang dan melayang. Dia tak menolak perlakuan Cean justru senang dan ingin semuanya berlanjut terus menerus. Ini terasa melenakan.
Cean menuntun jari jemari Neska untuk menggapai miliknya. Disanalah Neska kembali mendelikkan mata namun Cean membalasnya dengan senyuman dan sedikit erangann karena sentuhan Neska yang baru memegangnya saja sudah membuat Cean merasa tersengat dan semakin panas.
"Kak, aku gak yakin …" Neska berujar dengan suara yang merintih-rintih kegelian, karena Cean sudah memilinn sesuatu dari balik kain penutup dadanya.
"Gak yakin apa?" Cean masih menanggapi perkataan gadis polosnya.
"Apa ini beneran bisa masuk?" tanya Neska sembari kembali mengelus-elus kepunyaan Cean. Tampaknya jemari itu mulai terbiasa disana dan justru tidak malu-malu lagi saat memegangnya. Neska bahkan menggenggamnya dengan gemas. Ah, dia menyukainya.
Cean hampir tertawa karena pertanyaan Neska itu, tapi disaat yang sama dia juga menikmati perlakuan Neska pada miliknya.
"Bisa, Sayang. Bisa."
"Tapi …"
"Kamu gak yakin?"
Neska mengangguk dalam posisinya.
"Mau aku buktiin?"
Neska terdiam, tampak malu kembali. Disaat yang sama Cean menangkap jika Neska hampir mengeluarkan cegukannya. Cean sudah dapat memperkirakan hal ini sebelumnya sehingga dia kembali membasahi bibir sang istri dengan kuluumannya.
"Sini aku buktiin kalau ini bisa masuk!"
__ADS_1
...Bersambung …...
Ini udah mau ending tapi kok gak ada yg ninggalin komentar ya. 🙄🙄🙄