
"Sebenarnya kita mau kemana sih, Kak?"
Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan Neska pada pemuda yang sedang mengemudikan mobil itu. Ini bukan mobil yang sama dengan yang dulu sering Cean gunakan di depan Neska.
Baru kali ini Neska menaiki mobil Cean yang sesungguhnya. Jika dipikir-pikir, Neska sangat jarang melihat mobil tipe seperti ini berada di jalanan, mungkin hanya orang-orang tertentu yang menggunakannya dan salah satunya adalah Cean.
"Kenapa? Kamu takut pergi sama aku?" tanya Cean dengan senyum yang tidak surut.
"Takut? Kenapa harus takut?" Neska tertawa pelan. Dia pikir Cean selalu menjaganya, kan? Bukankah pria itu selalu menganggapnya adik kecil? Dan ya, Neska sudah sadar sekarang jika pelukannya dan Cean beberapa saat lalu di kantor--mungkin sebagai bentuk rindu seorang kakak yang telah lama tidak bertemu adiknya.
"Ya, mungkin kamu akan berpikir kalau aku mau culik kamu," kata Cean terkekeh.
"Culik? Kakak gak mungkin culik aku, lagian--"
"Siapa bilang?" sela Cean. "Aku memang mau culik kamu, kok," tukasnya membuat Neska melongo.
Awalnya Neska mengira Cean hanya bercanda, tapi melihat raut wajah Cean yang sungguh-sungguh saat mengatakan mau menculiknya, Neska jadi ciut seketika.
Belum lagi jalanan yang mulai lengang di siang hari terik seperti saat ini.
"Kakak beneran mau culik aku?" tanya Neska setelah hening yang cukup lama dan Cean tak lagi berkata-kata setelah mengatakan soal culik-menculik.
Cean hampir saja menyemburkan tawa saat lagi-lagi dia disuguhi oleh kepolosan Neska. Tapi sekuat hati Cean berusaha menahan gemuruh lucu di hatinya. Kehadiran Neska benar-benar seperti oase yang muncul ditengah-tengah gurun tandus dihatinya-- yang telah mengering cukup lama.
"Kita udah sampai." Cean mulai membuka seatbelt.
Sementara Neska terperangah melihat sekeliling. Cean bilang sudah sampai, tapi disini hanya ada pohon-pohon dan rerumputan liar serta ilalang. Kemana Cean membawanya? Apa dibalik pohon sana ada gudang penyekapan? Neska jadi mengira jika Cean benar-benar akan menculiknya.
Cean sudah mengitari sisi mobil, disaat Neska masih saja berpikir.
Cean membukakan pintunya agar Neska bisa keluar dari dalam mobil.
Baru saja Neska bergidik jika Cean benar-benar akan menculiknya, tapi nyatanya gadis itu masih saja menurut untuk keluar dari pintu yang telah Cean bukakan. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Neska hanya diam dan mengikuti.
Harus Neska akui, jika dia masih saja terhipnotis oleh pria itu dan jauh dalam lubuk hatinya meyakini kalau Cean takkan mungkin melukainya.
"Ayo, Nes," tutur Cean dengan lembutnya.
Neska tersadar saat Cean kembali menyentuh jari jemarinya, dia mengikuti langkah Cean di jalan setapak yang sunyi.
Sampai pada akhirnya, perjalanan kaki mereka membawa keduanya pada sebuah danau yang tidak terlalu luas dibalik ilalang yang tadi tumbuh dengan tingginya hingga menutupi jarak pandang Neska.
"Panas, ya?" tanya Cean melihat Neska terperangah dengan tempat yang dia tunjukkan. "Kita kesana aja," lanjut Cean sebelum Neska sempat menjawab pertanyaannya.
Cean kembali membimbing Neska untuk mengikutinya berjalan. Rupanya ada sebuah pondok yang tersedia didekat danau. Mereka masih bisa menyaksikan pemandangan danau dari sini.
Anehnya, pondok itu seperti pondok eksklusif yang estetik, lebih menyerupai aula tapi tidak begitu besar. Ada tv layar datar, bak cuci piring bahkan banyak gelas-gelas yang tergantung didekat meja kecil semacam mini bar. Disana juga ada ruang kecil yang bertuliskan toilet. Neska sendiri heran, apa barang-barang disini tidak akan hilang? Terlebih barang elektronik yang dibiarkan saja dalam pondok yang terbuka.
"Harusnya kita kesini sore aja, ya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kamu jadi kepanasan."
"Gak apa-apa, Kak. Disini bagus tempatnya. Banyak pohon jadi lumayan teduh juga."
"Tadinya aku mau ajak kamu makan di cafe, tapi kayaknya udah biasa. Kalau disini pandangan kita jadi lebih luas dan lebih tenang. Hitung-hitung sedang tamasya," kelakarnya.
Neska mengangguki ucapan Cean yang benar adanya. Dia juga tersenyum kecil mendengar Cean yang kini banyak bicara.
"Kakak agak beda ya sekarang," kata Neska akhirnya.
"Beda?"
"Sekarang lebih banyak omong."
Cean terkekeh pelan, senyumnya menularkan kebahagiaan untuk Neska.
"Kamu juga beda sekarang," kata Cean tak mau kalah.
"Bedanya dimana?"
"Kamu makin cantik."
Neska sontak membuang pandangan ke arah lain, dia terlalu malu dipuji Cean saat ini. Mungkin rona wajahnya sudah berubah semerah tomat sekarang. Dia tak mau Cean mendapati wajahnya yang seperti ini hanya karena digombali oleh lelaki itu.
"Kamu mau makan apa?" Cean tau Neska malu karena pujiannya, sehingga dia mengalihkan pembicaraan agar tidak terjebak suasana akward.
Cean tertawa kembali. "Ada. Dibalik pohon situ bahkan ada rumah makan untuk menjual makanan, karena diseberang sana dijadikan tempat pemancingan. Kalau weekend, disini biasanya ramai. Mulai dari pengunjung, sampai pedagang asongan. Sore hari juga, sayangnya kita kesini pas siang dan terik-teriknya begini," katanya menjelaskan disertai tawanya yang masih samar-samar terdengar.
Neska mengangguk lagi, dia memang lapar.
"Makanannya ada apa aja, Kak?" tanyanya.
"Kamu pilih sendiri atau aku pilihkan?"
"Kakak aja deh." Neska menyerah.
"Oke."
Cean terlihat mengambil handphonenya dan menelepon seseorang. Dia terlibat percakapan mengenai pesanan makanan, itulah yang sempat Neska dengar.
"Kakak menyimpan nomor ponsel orang yang jualan?" tebak Neska.
Cean menggeleng. "Itu nomor
orang yang jaga pondok ini," jawabnya.
Jadi pondok ini ada yang menjaga, pikir Neska. Tapi kenapa Cean sampai punya nomor ponsel orang itu?
__ADS_1
"Kebetulan Pakde Anton mau buat cabang cafe disini, jadi aku udah kenal sama orang-orang disini karena sempat ikut dengannya beberapa kali untuk memantau tempat ini."
"Pakde Anton?" ulang Neska.
"Ah iya, itu Kakaknya Mamaku. Nanti kamu juga bakal kenal beliau kalau kita--" Cean menghentikan kalimatnya, dia menatap Neska yang mengernyit dalam.
"Kalau kita, apa, Kak?" tanya gadis itu polos.
"Hm, nanti aku kenalkan," jawab Cean ambigu.
"Jadi ini pondoknya punya Pakde Anton juga ya, Kak?"
"Iya, sementara ini dibuat pondok ini untuk tempat bersantai selama tahap pembangunan cafe masih berjalan. Jadi, kalau beliau mau melihat perkembangannya, bisa beristirahat di pondok ini."
"Oh ..." Neska ber-oh ria.
Tak berapa lama makanan mereka datang dan keduanya makan dengan lahap.
"Enak?" tanya Cean pada Neska.
"Enak," sahut gadis itu.
"Enak mana sama steak tempe buatan kamu?"
Neska hampir saja tersedak karena Cean mengingatkannya pada makanan itu. Makanan yang dulu pernah Neska antarkan pada Cean saat pemuda itu masih menempati Apartmen sebelah tempat tinggalnya yang lama.
Melihat Neska tak dapat menjawab, Cean kembali bersuara.
"Aku pengen kamu masakin itu lagi. Boleh?" Wajah Cean tampak penuh harap. "Karena aku gak pernah menemukan makanan seperti itu dimanapun," jelasnya.
Jelas saja Cean tak menemukannya, pasti kalangan tempat makan Cean yang menengah keatas. Lagipula, itu makanan sederhana yang lebih sering di buat sendiri di rumah ketimbang dijual di cafe atau resto, pikir Neska.
Neska hanya mengangguki permintaan Cean tanpa berani menjanjikan.
"Aku seneng banget ketemu kamu hari ini, Nes."
Haruskah Neska juga mengatakan hal yang sama pada Cean? Tapi, dia takut kecewa jika Cean hanya menganggap pertemuan ini semacam reuni antara Kakak dan adik.
"Aku ... udah lama gak seperti ini."
"Seperti ini?" ulang Neska mempertanyakan.
"Iya, biasanya hari-hariku disibukkan dengan pekerjaan. Aku udah lama gak menikmati hidup," akuinya.
"Kenapa begitu?" Neska menyeka mulutnya dengan secarik tisu sebab ia sudah selesai dengan makanannya.
"Karena kamu."
Dua kata itu berhasil membuat Neska mematung. Bibirnya sempat terbuka untuk kembali bertanya, tapi kemudian terkatup lagi sebab dia sangat sulit berkata-kata.
__ADS_1
...Bersambung .......