TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
6. Sahabat yang berlebihan


__ADS_3

Cean memasuki Bangsal perawatan Wenda. Kemarin gadis itu masih baik-baik saja, tetapi sekarang dia terbaring lemah di Rumah Sakit.


"Sayang? Kamu datang?" Wenda menyunggingkan senyum sendu dari posisinya yang berbaring saat menyadari kedatangan Cean pagi itu.


Cean mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gimana kondisi kamu?" tanyanya.


"Udah membaik, kok."


"Makanya lain kali jangan telat makan, kan udah aku bilang kamu itu ada maag akut."


Wenda menggenggam jemari Cean, sembari menatap lekat pada netra hazel milik pemuda itu. "Makasih, ya, kamu selalu perhatiin aku dan sayang sama aku, cuma aku aja yang bandel," ujarnya penuh penyesalan.


"Iya, itu udah seharusnya, kan? Siapa yang nganter kamu ke Rumah Sakit tadi?" tanya Cean kemudian.


"Jas."


"Jasper?"


"Iya, dong, Sayang. Siapa lagi. Jasper, sahabat aku."


Cean memasang senyum kecut. Jasper adalah pemuda keturunan asing yang tentu saja berperawakan bule. Lelaki itu bersahabat dengan Wenda sejak remaja, dan Cean tidak menyukai hal itu karena kentara sekali jika Jas menyukai Wenda, meski Cean tau gadisnya tidak menganggap Jas lebih dari sekedar sahabat.


"Jas emang selalu ada buat kamu, ya." Cean pun tertawa sumbang.


"Cean? Kamu apa-an, sih? Udah deh, aku gak mau ribut karena keadaanku yang seperti ini sekarang."


Cean menyunggingkan senyum tipis. "Sorry. Ini, buat kamu ..." ujarnya sembari menyerahkan bingkisan yang sempat ia beli di toko roti dekat Apartmennya.


"Makasih, ya, Sayang." Wenda menerimanya dengan antusias. "Oh iya, kamu gak kerja hari ini?" tanyanya.


"Agak siangan, abis dari sini baru aku ke kantor."


"Emangnya gak apa-apa?"


"Tadi aku udah izin, kok. Soalnya, kamu kan tau, kalau sekarang aku udah bangkrut dan cuma jadi kacung di perusahaan itu."


Wenda mematut senyum masam. "Aku tuh masih gak habis pikir, kenapa kamu bisa diturunkan jabatannya. Dari seorang CEO, sekarang harus jadi karyawan biasa."


"Kamu gak terima soal itu?" tanya Cean.


Cean mau tau apa jawaban Wenda setelah ini. Dia juga penasaran kenapa Wenda masih bertahan dengannya yang sudah bangkrut. Atau, Wenda tau sesuatu mengenai dirinya? Memang hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, sekitar setahun. Tapi Cean tak pernah terbuka secara gamblang mengenai latar belakang keluarganya.


Wenda memang mengetahui sekilas tentang keluarga Cean, tapi gadis itu tak pernah tau asal-usul harta dan kekayaan yang Cean miliki. Cean bersyukur karena latar belakang papanya adalah seorang Arsitek--sebab tak mau menjadi pemegang perusahaan--yang sejatinya diturunkan dari mendiang Opa Cean.


Karena hal ini pula, Wenda hanya tau jika latar belakang keluarga Cean hanyalah anak dari Arsitek handal--Sky Lazuardi.


Syukurnya lagi, Papa Cean sudah lama menutup diri dari media sehingga asal-usul keluarga besar mereka tidak diketahui publik. Ini yang membuat Cean menjadi low profile juga, dia tak suka kehidupan mengenai keluarganya dikonsumsi oleh publik.


"Aku bukan gak terima, aku cuma masih bingung. Kok, bisa? Gitu aja, Cean," ujar Wenda.

__ADS_1


"Ya bisa. Siapapun bisa turun jabatan. Apalagi karena aku tidak berkompeten saat menjadi CEO disana."


"Gitu, ya?"


Cean mengangguk. "Iya, Sayang. Lagipula, itu bukan perusahaan pribadiku, aku cuma bekerja dan menuruti hasil kesepakatan dari para pemegang saham yang sepakat untuk menurunkan jabatanku."


Wenda terdiam lama, tapi kemudian dia tersenyum kembali.


"Gak apa-apa, kok. Yang penting kamu tetap Cean yang sama. Meskipun sekarang kamu cuma karyawan biasa, tapi kamu gak pernah perhitungan sama aku."


"Ya, tapi mulai sekarang kamu juga harus belajar menerima keadaanku, Wenda."


"Iya, ini juga lagi belajar. Yang penting aku gak ninggalin kamu, karena aku tau kamu yang terbaik."


Cean hanya mengangguk samar, sampai akhirnya ruangan Wenda dimasuki oleh seseorang yang tidak Cean harapkan kehadirannya.


"Jas? Kamu kemana aja? Untung Cean cepat datang tadi," kata Wenda menyambut kedatangan Jasper di bangsalnya.


"Sorry, tadi aku mengambil keperluan kamu di Apartmen," jawab Jasper dengan entengnya.


Cean menatap dingin pada sahabat kekasihnya itu, tapi dia lebih fokus pada barang-barang yang dibawa oleh Jasper saat ini. Barang yang katanya adalah keperluan untuk Wenda.


Oh Astaga, sedekat itu mereka-- bahkan Jasper bisa memasuki Apartmen Wenda seorang diri dan mengambil keperluannya. Keperluan semacam apa yang dibutuhkan Wenda hingga membuat Jasper harus memasuki Apartmen pribadi wanita itu? Apa ini suatu hal yang biasa bagi sepasang sahabat yang berlawanan jenis?


"Thanks, Jas. Aku gak tau apa jadinya kalau kamu gak membantuku," ujar Wenda. Jas dapat Wenda percaya, sebab orangtuanya sedang tidak berada di Indonesia saat ini.


Akhirnya, Cean mematut senyum miring khas-nya. Kemudian dia berujar pelan.


"Kebutuhan apa yang kamu butuhkan, Sayang? Hingga meminta Jas memasuki Apartmen kamu? Aku pikir kamu gak memerlukan pakaian ganti karena pakaian pasien pasti sudah kamu dapatkan di ruangan VVIP?"


Cean tidak bisa memendam hal itu dalam hatinya, dia terlanjur memiliki rasa ingin tau yang lebih besar.


"Sayang, banyak sekali yang aku butuhkan selama opname disini. Memang bukan pakaian ganti. Aku butuh sikat gigiku, aku juga butuh parfumku, belum lagi aku membutuhkan pakaian d@l@m karena gak mungkin aku gak menggantinya."


Jawaban Wenda membuat Cean terperangah beberapa saat, gadis itu juga langsung menyadari kesalahan kosa-katanya yang terlampau jauh dan melewati batas.


Andai Jasper adalah seorang wanita, atau minimal pria bertulang lunak, mungkin Cean akan memaklumi jika pria itu mengambilkan barang paling pribadi milik kekasihnya, tetapi nyatanya pria itu normal dan terlihat tertarik pada sang gadis. Haruskah Cean mengutarakan apa pemikirannya saat ini?


"Kalau begitu, aku permisi, aku harus bekerja." Cean lebih memilih undur diri dengan pendaman rasa tak enak di hati nya.


Cean pun berderap menuju pintu keluar, sementara Wenda merasa jika Cean marah padanya.


"Sayang?"


Cean tak menggubris, dia merasa tingkah Wenda dan Jasper sangat keterlaluan. Ini baru hal yang Cean tasau, tapi apalagi hal yang tak dia ketahui--yang Wenda dan Jas lakukan dibelakangnya? Entahlah.


"Cean?"


Masih terdengar Wenda meneriaki nama Cean namun pemuda itu langsung keluar dari bangsal perawatan itu begitu saja.

__ADS_1


Terserah Wenda mau mengatakannya kekanak-kanakan atau apa, tapi Cean merasa sikap Wenda yang meminta bantuan Jasper untuk mengambil underwear di kediaman pribadinya--sangat terdengar tidak pantas.


Bahkan jika Cean yang Wenda suruh melakukan itu, dia akan meminta bantuan orang lain, Aurora misalnya. Kendati saudari kembarnya itu akan menggerutu tapi Cean tak mungkin berlaku lancang seperti yang Jasper lakukan.


Meski Cean sering jalan dengan wanita juga dibelakang Wenda, tapi dia tidak pernah melangkah sejauh yang Wenda dan Jasper lakukan. Ia hanya berteman dekat dengan gadis-gadis sepermainannya. Dulunya ia memang playboy, tapi ia masih mengetahui norma dan batasan. Sekarang ia mau fokus ke Wenda saja, sebab wanita itu kandidat terbaik---sejauh ini. Tapi, kenapa kenyataan ini seakan menamparnya?


Bahkan, saat Neska memergokinya berciuman dengan Wenda didepan apartmennya--Cean merasa amat bersalah karena dia tau aturan. Jika saja waktu itu bukan Wenda yang lebih dulu melakukan dan menggodanya--Cean tak mungkin berciuman ditempat umum. Bagaimanapun, dia tinggal di Negara yang memiliki adat ketimuran dan masih tabu untuk blak-blakan didepan umum.


Untuk itulah Cean merasa kesal ketika tau Jasper mengambil keperluan paling pribadi milik kekasihnya. Apa itu salah?


...~~~...


"Makanya, jangan main hati sama cewek. Udah bagus kayak dulu, sana sini oke. Eh, si b@ngke ... malah mau tobat dan fokus sama satu cewek doang," cibir Marko saat Cean menceritakan permasalahannya.


"Mana pake acara nyamar jadi orang susah segala lagi," lanjut Marko yang selalu ceplas-ceplos.


"Diam, Nyet!" hardik Cean, membuat Marko langsung bungkam seketika itu juga.


"Aku cerita masalahku sama kau, bukan untuk denger ejekan. Aku minta solusi. Ngerti solusi, enggak?" tukas Cean.


"Oh, solusi... gampang, kau balik aja jadi playboy kelas b@ngke kayak dulu. Buat apa fokus sama satu cewek kalau taunya cuma nyakitin. Setia itu memang bukan jalanmu, Brother!"


Cean menatap tajam pada Marko dan sekali lagi Marko terdiam, selanjutnya Marko memasang cengiran tak berdosa agar Cean tak terus menatapnya dengan tatapan setajam silet.


"Oke sekarang serius, solusi dariku, kau cari cewek lain. Dari penglihatan ku si Wenda itu gak baik. Mana ada cewek yang gak risih dal@mannya di pegang cowok lain, Bro. Kecuali ...."


"Kecuali apa?"


"Ya kecuali dia udah biasa seperti itu sama Jasper."


Cean mendengkus keras.


"Ah iya, lagian di Apartmen tua yang sekarang kau tinggali, ku dengar banyak janda disana... apa kau gak tertarik, hmm?" Marko cengengesan menggoda Cean.


"Kalau berita yang gitu aja, kau cepat banget taunya!" Cean pun berdecak lidah.


"Hahaha, soalnya aku udah kenalan sama salah satu diantara mereka," kata Marko dengan jumawa.


Cean tak tertarik dengan cerita Marko. Dia masih memikirkan Wenda. Kenapa disaat ia mau meninggalkan kebiasaan buruknya dan fokus pada Wenda saja dia harus mendapat kenyataan seperti ini. Yang dikatakan Marko juga ada benarnya, kenapa Wenda tak merasa risih dengan Jasper? Terlepas dari hubungan persahabatan mereka memang sepertinya ini berlebihan, kan?


"Sejauh ini cuma Wenda yang bertahan sama aku, Ko. Dia yang nerima aku susah, gak banyak nuntut juga."


Sekarang Marko yang memasang wajah masam. "Kau dengar baik-baik ya, cewek diluar sana masih banyak. Dunia ini luas. Jangan kayak gak laku gitu lah. Kalau kau nyari yang nerima apa adanya juga pasti ada, meskipun itu agak sulit di zaman sekarang ini. Tapi, aku yakin lah, itu gak cuma Wenda doang!" tandas Marko.


Bersambung ...


Next? Komen✅


Dukung karya ini dengan tinggalkan like dan komentar kalian ygy❤️

__ADS_1


__ADS_2