TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
41. Mencari Pengganti


__ADS_3

...2 tahun kemudian ......


Sudah dua tahun belakangan, Cean tampak uring-uringan dalam dunia pekerjaan. Dia juga banyak merenung dan tidak bersemangat. Beberapa kali pulang pergi Indonesia-Singapore tapi hanya bisa mengurus tentang pekerjaan tanpa bisa sekalipun bergerak mengurus masalah pribadinya.


Hal ini semakin membuatnya seperti orang linglung yang tidak tentu arah. Entah apa yang sebenarnya menjadi beban pikiran pemuda itu, tidak ada yang tahu sebab Cean semakin tertutup saja.


Bahkan ketika Marko menanyainya, Cean selalu menjawab tidak tahu. Kepalanya seperti diporsir untuk memikirkan sesuatu yang Marko tidak bisa menebaknya.


"Nih, kau cari model baru untuk menggantikan Jelita. Cari yang fresh... Jelita udah ku pecat."


"Apa?" Marko tak habis pikir pada Cean, bisa-bisanya pemuda itu memecat Jelita--sang model yang dulunya dengan susah-payah Marko rayu untuk bergabung sebagai brand ambasador produk mereka. Bahkan masih terbayang dalam benak Marko bagaimana dia membujuk wanita itu. "Kenapa kau pecat dia? Jika aku tidak salah, kontrak Jelita dengan perusahaan ini masih ada setahun lagi!" tukasnya.


"Aku tidak bisa mempekerjakan wanita seperti dia."


"Memangnya Jelita kenapa?"


"Murahan." Cean langsung to the point. Dia terbayang bagaimana semalam dia melihat sang model meliuk-liukkan badan di lantai disko saat Cean meeting dengan beberapa relasi bisnis di sebuah Diskotek.


"A--apa?"


"Aku tidak mau nama perusahaan ini tercemar karena pribadinya yang seperti itu. Tidak pantas dia bekerja dibawah nama perusahaan ini."


"Kau melihatnya dimana?"


"Di Diskotek. Aku meeting dengan Pak Hariandy semalam. Kau tau dia suka ketempat seperti itu, kan? Jadi aku iyakan saja. Tanpa sengaja malah bertemu Jelita disana." Cean mendengkus keras sesudah kalimatnya.


"Tapi, itu tidak bisa dijadikan patokan untuk memecatnya, Cean."


"Bisa! Apapun yang ku katakan bisa, artinya bisa!"


Marko menghela nafas berat. Ya, jika benar keputusan Cean begitu maka Marko hanya bisa menuruti instruksinya.

__ADS_1


"Baiklah." Marko bergerak dan ingin keluar tapi ucapan Cean kembali menghentikan langkahnya.


"Jangan lupa, kau cari model yang jauh lebih baik dari dia untuk BA. Kalau perlu wajah baru yang tidak pernah diduga olehnya. Gantikan Jelita segera!"


Marko menangkap sinyal otoriter dari seorang Cean. Perkataannya kali ini bagaikan titah yang tak bisa dibantah. Marko tau belakangan sikap Cean berubah, selain tak bersemangat dia juga menjadi sedikit emosional. Ah, rasanya kepala Marko mau pecah menghadapi sikap Cean dua tahun belakangan.


Cean menghela nafas berat setelah Marko pergi. Bagaimana mungkin dia terus mempekerjakan Jelita jika bukan cuma semalam wanita itu berniat menggodanya. Benar-benar murahan.


"Pak Cean? Tidak disangka kita bertemu lagi disini." Jelita mendekati Cean yang padahal tengah meeting dengan rekannya disana.


Cean risih dengan posisi Jelita yang mencondongkan dada ke arahnya, belum lagi tatapan Pak Hariandy saat melihat kedekatan mereka. Cean takut muncul desas-desus buruk sebab Jelita dikenal sebagai BA salah satu produk milik perusahaannya.


"Pak, sudah lama saya mengagumi Bapak. Awalnya saya tidak tertarik masuk ke perusahaan Bapak karena saya tidak mau terikat dengan peraturan formal. Dunia saya bebas. Tapi, saat saya tau perusahaan itu dipimpin oleh pria setampan Pak Cean, barulah saya mau terjun disana."


"Kamu sepertinya sudah mabuk, tolong pergilah. Saya sedang ada meeting disini."


Cean menyesali kenapa tidak memilih ruangan yang lebih privasi. Semua ini karena permintaan Pak Hariandy yang mau semuanya santai dan tidak terlalu formal. Bagaimanapun, Cean hanya berusaha menjamu kliennya sesuai dengan permintaannya itu. Atau lebih tepatnya, Pak Hariandy memang ingin menyaksikan para wanita yang berlenggak lenggok dan meliukkan diri di panggung disko, makanya beliau mengusulkan untuk duduk tak jauh dari lantai disko.


"Ayolah, Pak! Kita sudah terikat kerja sama. Partner dalam bekerja. Bagaimana kalau kita juga menjadi partner dalam hal lain." Jelita meracau. Dia juga mengerling nakal didepan Cean, membuat pemuda itu panas. Bukan panas karena ber naf su pada Jelita, melainkan panas ingin menyembur wanita itu setelah dari sini.


"Pak, apa bapak tidak tertarik denganku? Kita habiskan malam ini dengan panas," bisiknya seduktif ditelinga Cean. Jelita melupakan kalimat formalnya dan berbahasa santai seolah Cean adalah pasangannya saja.


Cean langsung beringsut menjauh, dia memang memagari diri dari wanita seperti ini.


Sontak saja, penolakan Cean yang tanpa kata itu membuat Jelita tak percaya. Dia mendengkus keras sambil membuang muka, tak menyangka Cean menjatuhkan harga dirinya dengan penolakan yang terang-terangan. Seorang secantik dirinya ditolak mentah-mentah oleh Cean. Yang benar saja? Ya, meski Jelita harus mengakui jika Cean memanglah pria yang tampak luar biasa dan membuatnya ser-seran.


Melihat Jelita yang tampak menyedihkan, Pak Hariandy yang terkenal sebagai pria hidung belang mulai mendekatinya dan mengambil kesempatan.


Disana, Cean tidak mau ikut mencampurinya. Lagipula, Jelita sudah berpindah haluan dari Cean dan dia sama sekali tak menolak rangkulan Pak Hariandy di pinggangnya.


Cean melengos mengetahui betapa murahan wanita itu. Bisa dipakai siapa saja. Syukur Cean tidak pernah terlibat hubungan diluar pekerjaan dengan wanita seperti Jelita. Tidak terbayang jika dia benar-benar menghabiskan satu malam bersama gadis itu. Bisa-bisa dia kena imbas dari perbuatan Jelita yang sana-sini mau, pikirnya.

__ADS_1


Cean menggeleng-gelengkan kepala akibat bayangan yang mengingatkannya pada kejadian semalam yang berakhir dengan kepergian Pak Hariandy bersama Jelita. Cean bukan pria bodoh yang tidak tau kemana muara terakhir sepasang lawan jenis itu.


Dan garis bawahi jika Jelita mencoba menggodanya bukan hanya semalam saja. Bahkan semalam masih mending karena Jelita dalam pengaruh minuman. Sebelumnya, Jelita bahkan menggoda Cean di koridor toilet perusahaan. Tapi, saat itu Cean tak menggubrisnya, dia menganggap Jelita hanya sedang main-main dan bercanda saja.


Tapi, dari kejadian semalam Cean jadi bertekad untuk menyingkirkan Jelita. Bisa jelek image perusahannya yang bekerja sama dengan wanita seperti itu. Selain pemain, Jelita juga peminum. Meski itu adalah hak personal seseorang, tapi Cean berhak menentukan kredibilitas para pekerjanya dari perangai yang dia lihat didepan mata kepalanya sendiri.


...***...


Marko sendiri bingung harus mencari BA baru untuk menggantikan Jelita. Beberapa kali dia mencari referensi yang cocok. Tapi kebanyakan model cantik ataupun artis sudah bergabung dengan produk lain dan tidak bisa di kontrak di perusahaan tempatnya bekerja.


Ada kejenuhan di kepala Marko, ingin sekali berhenti kerja jika Cean terus bersikap seperti ini, tapi selain bekerja dia juga punya hutang budi pada Cean yang dulu sering membantunya kala dia masih menjadi mahasiswa tanpa dibiayai orangtua. Cean juga yang selalu membantunya bangkit saat awal perusahaan orangtua Marko mengalami kebangkrutan.


Untuk sebab itulah, Marko tidak bisa keluar dari perusahaan Cean seenaknya saja. Dia bersahabat dengan Cean sejak SMA, pun mengenang jasa Cean yang selalu baik kepadanya.


Marko tau Cean bersikap keras begini sejak dua tahun belakangan, tapi Marko tidak tau apa penyebab Cean jadi seperti sekarang. Padahal dulunya Cean tidak begitu--ya setidaknya itulah yang Marko kenali dari Cean yang dulu.


"Cari model nanti dulu lah," gerutu Marko. Dia lebih tertarik mencari tau kenapa Cean. Ada apa dengan pemuda itu sebenarnya?


Marko ingin mencari tahunya dari keluarga Cean, barangkali ada yang tau kenapa Cean begini.


Menelepon Aura, tidak mungkin. Marko tak berani mengganggu Aura. Aura tengah memiliki personal problem saat ini, sebatas itulah yang Marko ketahui.


Satu-satunya harapan adalah menelepon Rion yang masih berkuliah di Singapore--demi mengetahui kenapa Cean berubah. Ya, barangkali Rion tau. Berusaha tak ada salahnya, kan?


"Hallo, Rion?"


"Kak Marko?"


"Nah, bagus kalau ternyata kamu menyimpan nomorku."


"Ada apa, Kak?"

__ADS_1


"Aku mau tanya soal Cean. Dan kalau bisa, bantu aku dalam pekerjaanku kali ini. Kamu kan adiknya Cean, mungkin kamu tau bagaimana tipe yang pas dan disukai oleh Kakakmu itu." Marko menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Aku pusing, menghadapi, Cean," katanya terus terang seolah curhat pada adik lelaki Cean itu.


...Bersambung ......


__ADS_2