
Jelita terkejut mendapati beberapa orang mengunjungi Apartmennya. Ada sekitar lima orang pria yang datang, dua diantaranya memakai seragam kepolisian dan tiga lainnya mengenakan setelan biasa. Tapi Jelita yakin jika mereka benar-benar aparat yang membuat perasaannya langsung tidak enak.
"Apa Anda Jelita Dwinaya?"
"Y-ya," jawab Jelita gugup.
"Kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan Anda terkait kasus perdagangan wanita." Polisi itu berujar sembari menunjukkan surat perintah penangkapan Jelita.
"A-apa?" Jelita terbelalak syok. Siapa yang melaporkannya dalam kasus seperti ini?
Polisi itu tidak mengindahkan reaksi Jelita yang nampak terkejut, dia memberi isyarat pada rekan-rekannya agar mereka semua segera memasuki Apartmen wanita itu.
"Kami akan sekalian menggeledah dan mencari barang bukti di kediaman Anda."
"Tidak! Ini tidak bisa!" Jelita menggeleng keras. "Saya tidak melakukan tindakan yang dituduhkan itu," bantah Jelita.
Polisi itu tersenyum samar. "Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor kami," paparnya tenang.
"Tapi, Pak?"
"Periksa semuanya! Jangan ada yang terlewat!"
Jelita kalang kabut ketika polisi itu tidak menanggapi rengekannya. Dia segera diborgol sebelum melakukan tindak melarikan diri. Untuk sesaat, Jelita memperhatikan kamarnya yang digeledah.
Jelita bukan takut soal kasus yang ditujukan padanya sebab dia tidak melakukan tindakan itu, meski dia memang sengaja menjual foto Neska di situs penjualan wanita, tapi sebelumnya dia tak pernah melakukan hal serupa pada gadis lainnya.
Akan tetapi, yang Jelita takutkan adalah hal lain.
"Lapor, kita menemukan ini didalam plafon, Pak."
Kepala polisi yang tadinya memimpin penggeledahan itu langsung menoleh pada rekannya yang melapor. Disanalah Jelita semakin syok bahkan nyaris pingsan, ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan. Polisi menemukannya.
Itu adalah paket sabu dan morfin dalam jumlah yang tidak main-main. Ada sekitar 5 kg sabu dan morfin yang tampak sangat banyak.
"Bawa barang bukti itu untuk sekalian di proses!" titah sang kepala polisi.
"Sial," umpat Jelita dalam hati. Inilah yang paling dia takutkan, usaha sampingannya yang membuatnya ketakutan. Kenapa polisi bisa menemukannya padahal dia sudah menyembunyikan itu ditempat yang tidak mungkin dicurigai.
Jelita harus pasrah dengan apa yang terjadi, dia langsung di gelandang menuju kantor polisi untuk diusut tuntas mengenai laporan yang ditujukan padanya termasuk barang-barang ilegal yang ditemukan di Apartmennya.
Jelita langsung dijebloskan ke jeruji besi tanpa diberi kesempatan untuk membela diri.
"Pak, itu bukan barang saya, Pak. Saya pasti di fitnah!" kecam Jelita yang tak terima dikurung dalam penjara seperti ini.
__ADS_1
"Anda bisa menyewa pengacara untuk membela Anda di pengadilan. Semoga saja ada yang mampu meringankan hukuman Anda," kata polisi itu dengan senyuman sarkas.
Jelita mendengkus keras. Dia kembali menjerit sambil memberontak jeruji besinya.
"Aku tidak bersalah. Ini semua fitnah! Fitnah!"
Jelita kesal sekali, tidak ada yang mau mendengar ucapannya. Yang ada dia malah ditatapi dengan tajam oleh para penghuni sel yang lebih dulu berada disana sebelum kedatangannya.
Jelita memasang wajah ramah, dia takut dihajar oleh para wanita disana yang tampangnya nampak sangar.
"Sekali lagi lo berisik, siap-siap aja gue kerjain!" ancam salah satu penghuni sel tersebut.
Jelita langsung kicep, dia tidak berani melawan sebab dia memang minim ilmu bela diri, lagipula dia benar-benar seorang diri disini, dia sadar jika kedepannya dia akan menjadi bulan-bulanan dan bahan bullying para penghuni tempat terkutuk ini.
Membayangkannya saja Jelita langsung merinding. Dia tidak mau berada disini terlalu lama. Secepatnya dia harus keluar dari jeratan ini dan dia harus menghubungi pengacara pribadinya untuk segera membebaskannya.
...***...
Berita tentang Jelita yang ditangkap aparat kepolisian memang belum rilis di media, tapi Cean sudah mendengar kabar itu dari Marko dan itu membuatnya cukup lega.
Selebihnya, Cean akan mengurus soal mengembalikan nama baik Neska dan tentunya Karel yang tak mungkin dia lepaskan begitu saja.
"Ada apa, Kak?" Neska menatap Cean yang tampak semringah.
"Aku ada kabar baik buat kamu."
"Jelita udah ditangkap polisi."
"Hah?" Neska terkejut. "Kakak yang laporin dia? Memangnya ada bukti?"
Cean tersenyum. Tujuan awalnya melaporkan Jelita bukan terkait penjualan wanita seperti yang dituduhkan, tapi itu hanya alasan utamanya saja agar kediaman wanita itu bisa digeledah, karena menurut penyelidikan Marko--ternyata Jelita itu seorang pengedar narkoba dan itu adalah pekerjaan sampingannya.
Jika Apartmen Jelita sampai dimasuki oleh polisi, mereka pasti dengan mudah menemukan barang-barang haram tersebut. Lagipula, Jelita tak akan menyangka dia akan didatangi polisi terkait hal ini, jadi wanita itu tak mungkin bisa mengelak ataupun sempat menyembunyikan barang dagangannya di tempat lain.
"Kamu tenang aja. Sekarang kita tinggal urus pengembalian nama baik kamu."
Neska menggeleng lesu. "Apa orang lain akan percaya, Kak?" ujarnya pesimis.
"Yang penting kita udah mencoba." Cean mengelus rambut Neska sekilas.
"Tapi, satu isi kampus udah keburu tau. Aku tinggal nunggu dipanggil rektor aja kayaknya, Kak. Rasanya aku mau pindah kampus aja, Kak,"
"Kita gak bisa memaksa orang lain untuk percaya, Sayang. Tapi setidaknya kita udah membuktikan kalau kamu gak bersalah dan itu hanya fitnah untuk menjelekkan nama kamu. Kalau kamu pindah kampus, sama aja dengan kamu yang menghindari masalah. Masalah itu buat dihadapi bukan buat dihindari."
__ADS_1
Neska mendongak pada Cean yang memberitahunya dengan sangat tenang dan dewasa.
"Kamu ingat gak, pas ada masalah sama aku dulu? Padahal sebenarnya kita gak bermasalah sih, cuma kamu aja yang salah menanggapi ucapan aku waktu itu. Kamu anggap pernyataan aku sebagai bahan bercanda, lah. Padahal aku serius waktu itu."
Neska menganggukkan kepalanya. Tentu dia mengingat momen dimana dia dan Cean sampai tak berkomunikasi hingga dua tahun lamanya dan itu membuat banyak hal yang berubah dari diri Neska termasuk sikapnya yang menjadi pendiam. Pun dengan Cean yang berubah menjadi tempramental dan diktator di kantornya.
"Nah, waktu itu kamu juga menghindar dari aku, kan? Apa yang kamu dapat? Cuma waktu yang terbuang sia-sia. Makanya kamu jangan menghindari masalah lagi, kamu harus berani menghadapinya."
Neska merasa Cean tengah menegur kebiasaannya yang memang selalu menghindari masalah. Harus Neska akui jika itu benar adanya dan dia merasa Cean memahami dirinya.
"Aku tau, Kak. Makasih ya Kakak udah ingatin aku. Aku akan berusaha jadi lebih baik lagi dan lebih berani menghadapi setiap masalah dengan cara tidak menghindarinya."
Cean mencubit kedua pipi chubby Neska dengan gemas. Kemudian menyentuh dahi Neska dengan dahinya hingga wajah keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat.
Cean mau menyatukan bibir mereka, dia dan Neska nyaris tak pernah berciuman selama mereka menjalin hubungan sebab Cean amat menghargai gadis itu, tapi entah kenapa sekarang dia ingin. Sayangnya keinginannya harus tertunda saat Neska yang mendadak cegukan.
Neska refleks mendorong Cean untuk menjauh, dia terlalu malu dan selalu seperti itu jika Cean terlalu dekat dengannya.
Cean yang tadinya mau protes karena penolakan Neska jadi terkekeh karena cegukan gadis itu tidak berhenti.
Neska melempar Cean dengan bantal sofa, kemudian beranjak dari sana masih dengan cegukannya yang sesekali muncul.
Seharusnya memang Neska tidak mengizinkan Cean masuk ke Apartmennya seperti ini. Tapi karena tadi dia sangat sedih dan buru-buru pulang dari kampus, mau tak mau dia harus menerima Cean dikediamannya sebagai tamu.
Cean masih tergelak saat Neska menghindarinya. Tapi kemudian dia kembali mendapat panggilan dari Marko.
"Gimana?"
"Udah di penjara dia," kata Marko dengan nada senangnya.
"Baguslah, pastikan gak akan ada pengacara yang mau membelanya."
"Gak akan ada!" jawab Marko yakin. "Barang buktinya melebihi ekspektasi. Dia bakal kena pasal berlapis bahkan tuntutan seumur hidup," ujarnya kemudian.
"Oke, lanjutkan rencana. Saat aku
kembali aku mau semuanya udah beres."
"Sip!" sahut Marko patuh.
Telepon itu terputus dan Cean tersenyum memikirkan rencana apa yang akan Marko jalani selanjutnya setelah Jelita berada dalam penjara.
...Bersambung ......
__ADS_1
Mampir ke novel Aura yuk🙏 Dijebak di Malam Pengantin. udah bab 18 disana.