TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
9. Pertukaran yang tak sebanding


__ADS_3

"Se-serius, Kak? Kakak mau nerima masakan aku?" tanya Neska yang kini berkedip tak percaya.


Pemuda dengan rahang tegas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, serius. Kamu serius juga, kan ngasihnya?"


"Hehe, ya iya dong, Kak." Neska menggosok tengkuknya sendiri dengan sikap kikuk.


Gadis itu lalu menyodorkan piring berisi steak tempe ala kadarnya kepada Cean dan langsung disambut oleh pemuda itu.


"Makasih, ya, Nes."


"Sama-sama, Kak. Aku balik dulu, ya."


"Ehm, Nes?"


"Kenapa, Kak?" Neska menoleh lagi, padahal dia sudah mulai beranjak tadi.


"Kebetulan tadi aku udah pesan makanan online juga, sih. Kita makan bareng aja, gimana?"


Wah, wah ... mimpi apa Neska semalam? Diajak makan malam bersama dengan Tetamren.


"Emang gak apa-apa, Kak?" respon Neska.


"Ya, gak apa-apa. Anggap aja ini kunjungan pertama kamu ke Apartmen aku."


Mendadak, Neska merasa ada bintang-bintang yang mengelilingi kepalanya. Dia hampir pusing sangking senangnya, tapi buru-buru mengenyahkan keinginan pusingnya karena ajakan Cean tak akan dia pikir dua kali.


"Permisi, mau mengantar pesanan makanan dari Bapak Ocean Lazuardi."


Cean dan Neska langsung menoleh pada seorang kurir makanan yang muncul disana. Tadi, Cean memang berpesan agar makanan itu diantar langsung ke depan pintu Apartmennya di lantai 11.


"Ya, itu pesanan saya."


Cean mengambil pesanan makanannya dan memberi dua lembar uang merah kepada sang kurir.


"Kembalian---"


"Ambil aja, Mas," sela Cean sebelum kurir itu menyelesaikan ucapannya.


"Terima kasih banyak, ya, Pak."


"Sama-sama." Cean tersenyum ramah.


Sementara Neska yang masih berdiri disamping Cean memandangi pemuda itu dengan penuh kekaguman.


"Nes? Jadi makan bareng, gak?"


Neska masih saja diam dengan tatapan berbinar-binar pada pemuda sempurna itu. Bila saja Cean tidak menyadarkannya dengan mengibas-ngibaskan jemari didepan wajah sang gadis, mungkin Neska akan tetap berada pada posisi semula sembari menjatuhkan liur disana.


Cean terkikik geli karena pada akhirnya Neska terperanjat saat menyadari keadaan.


"Bisa-bisanya kamu melamun, Nes," gumam Cean sambil tertawa pelan. "Ayo, masuk," lanjutnya seraya berderap ke dalam unitnya sendiri sebab tadi mereka masih di ambang pintu.


Bagai terhipnotis, Neska segera mengikuti langkah jenjang pemuda itu. Sekarang dia sudah benar-benar berada dalam kediaman Cean yang ... bersih dan nyaman.


"Maaf ya, Apartmen aku berantakan.".


Neska meneguk ludahnya kasar, bahkan Apartmennya lebih berantakan daripada kediaman pemuda ini. Jika ini berantakan, apa kabar dengan kediamannya sendiri? Pikir Neska.

__ADS_1


"Kamu duduk dulu, ya, aku ambilkan minum dulu. Sekalian ini kamu buka aja," kata Cean menyerahkan bungkusan makanan yang tadi dia pesan secara online kepada Neska.


Neska masih saja terhipnotis, tanpa kata dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan duduk di sofa yang tersedia.


Neska membuka bungkusan makanan online yang Cean pesan, dia menemukan sirloin steak disana.


"Astaga, mana aku buatin kak Cean steak tempe. Makanan aku jadi gak berharga berdampingan sama makanan pesanan kak Cean, ya walaupun ini sama-sama steak," batin Neska merasa kicep.


Tak berapa lama, Cean kembali ke hadapan Neska dengan minumannya, dia juga membawa sendok serta pisau makan untuk melengkapi makan malam dadakan mereka saat ini.


"Ehm, Kak?" Neska berujar ragu-ragu.


"Ya?"


"Ini, kakak makan makanan kakak, aku makan masakanku sendiri aja," usul Neska.


Cean mengernyit heran. Apa Neska tidak ikhlas membaginya makanan? Kenapa gadis ini justru meminta memakan masakannya sendiri.


"Tapi, tadi kamu udah kasih makanan kamu ke aku, kan?" tanya Cean. Pemuda itu lantas mengambil piring yang ada dihadapan Neska, dia membawanya ke depan hadapannya sendiri. "Kamu masak steak? Aku juga pesan steak tadi," ujarnya disertai kekehan kecil.


Neska menggaruk pelipisnya sekilas. "I-iya, sih, kak. Tapi---" Belum sempat Neska berujar bahwa dia hanya memberi steak tempe, tak sebanding dengan makanan pesanan Cean, tapi lelaki itu sudah keburu melahap makanan yang sejak tadi dia idam-idamkan bahkan sebelum Neska mendatangi kediamannya.


"Enak ... ini daging apa, Nes?" respon Cean diluar prediksi Neska, gadis itu menganga tak percaya, apa Cean tak bisa merasakan bahwa itu bukan daging melainkan tempe?


Neska menepuk jidatnya sendiri. Merutuk diri. Bagaimana bisa Cean tampak menikmati steak buatannya dan mengabaikan sirloin steak yang dia pesan.


"Ayo, kamu juga makan, dong! Masa aku makan sendiri."


"I-iya, Kak." Neska mengambil sendok dengan ragu-ragu, jujur saja dia bingung mau memulai makan darimana sekarang.


"Ayo, makan Nes. Apa mau aku potongin sirloinnya?"


"Enak?"


Neska tak mungkin berbohong, dia mengangguki pertanyaan Cean.


"Hmm, bagus, kalau gitu kamu abisin steak aku, aku juga bakal abisin masakan kamu."


"Tapi, Kak?"


"Gak boleh, ya?"


"Bukan gitu ..."


"Terus? Serius, ini enak. Kamu tenyata pinter masak ya."


Neska meringis sungkan. Ia memasang cengiran kaku. "Kakak gak mau cobain sirloin-nya?" tanyanya kemudian.


"Enggak, buat kamu. Abisin aja semuanya. Aku udah bosen juga sih makan itu. Kalau yang kamu buat ini baru pertama kali."


"Hehehe ..." Neska tertawa getir.


"Oh, iya, kamu belum jawab ini steak dari daging apa? Kayak ayam, tapi kok kayak ada rasa kacang-kacangan gitu? Apa dari sausnya, ya?"


Neska menggigit bibir bawahnya.


"Nes?"


"Ya, kak? Ehm... itu sebenarnya steak tempe," akuinya terus terang.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Cean diam tapi kemudian terkekeh. "Asli, gak ketebak kalau ini tempe, aku pikir ini dari daging-dagingan. Hahaha," tawa pemuda itu meledak. Neska semakin merasa tak enak hati.


"Maaf ya, kak."


"Kok, maaf? Emang kamu salah apa?"


"Ya, pertukaran kita gak sebanding. Masak aku makan sirloin dari kakak, tapi aku cuma ngasih kakak steak tempe."


Sekali lagi Cean terbahak. Dia mengambil minuman untuk menetralkan suasana. Neska ini terlalu polos atau apa, mana mungkin dia membandingkan makanan mereka. Lagipula dia tak pernah berpikir sampai kesana, justru dia bersyukur-- berkat Neska dia jadi bisa merasai makanan seperti ini yang mungkin tak ada dalam list menu makanan yang akan dia cobai. Akan tetapi, setelah merasakan makanan ini cukup enak, Cean justru mau mengulang untuk memakannya lagi suatu hari nanti.


"Nes, serius makanan yang kamu kasih ini enak. Kenapa kamu harus merasa bersalah?"


"Kakak gak nyesel?" tanya Neska dengan bibir yang mengerucut kemudian.


Disitulah Cean melihat jika Neska amat lucu. Dia baru sadar bahwa gadis ini selain polos juga sangat menggemaskan.


"Udah, kamu abisin aja sirloinnya. Aku gak nyesel tukaran makanannya, karena aku gak bakal dapatin steak tempe kayak gini lagi di lain waktu."


Neska terharu dengan ucapan Cean, dia merasa Cean benar-benar tengah memuji dan menghargai masakannya. Neska seperti melambung di udara. Apalagi sembari menikmati sirloin yang juga sulit untuk dia makan di kemudian hari. Ya, bukan hanya Cean yang merasa begitu, sebab diapun merasa kalau dia tak akan bisa makan steak mahal begini jika bukan karena pemberian Cean.


Mereka makan dalam senyap, tentu saja disertai dengan Neska yang mencuri-curi pandang pada pemuda disampingnya.


"Pacar kakak gak kesini?" tanya Neska penasaran.


"Ah, Wenda kan sedang sakit."


Oh, jadi namanya Wenda, batin Neska.


"Kenapa kakak gak ngejagain dia?"


Cean tersenyum tipis atas pertanyaan polos gadis itu, ingin rasanya dia menjawab 'untuk apa menjaganya? Wenda sudah ada yang menjaga disana.' Tapi, tak mungkin dia berkata demikian.


"Kenapa? Apa aku harus jagain dia?" Cean malah balik bertanya.


"Ya, kakak kan pacarnya, harusnya kakak ada disana, jagain dia sampai dia sembuh. Setau aku, begitulah yang namanya pasangan."


Cean mematut senyum hambar. "Kamu kok tau banget? Emang kamu udah punya pacar? Udah pernah pacaran?" tanyanya pada sang gadis.


"Ehm..." Neska menundukkan pandangan, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Haha, kalau gitu, belum pengalaman, kan?"


"Yah, boro-boro pengalaman, Kak. Lha, aku aja gak pernah pacaran," akui Neska sejujur-jujurnya.


"Ya bagus kalau gitu. Kamu sekolah aja yang rajin dan jangan memikirkan tentang laki-laki dulu," kata Cean bijak.


"Termasuk kakak?" tanya Neska lagi-lagi dengan polosnya.


Disitulah Cean tersentak. "Aku?" tanyanya menunjuk diri sendiri.


"Ng--- maaf ya, kak. Aku salah bicara. Aku udah selesai makan. Aku permisi, ya."


Gadis itu buru-buru bangkit kemudian beranjak secepat kilat, ia merasa ucapannya sudah kebablasan dan ia malu untuk mengakui itu.


Bersambung ....


Next?


Komen✅

__ADS_1


Tekan like dan berikan hadiah❤️🙏


__ADS_2