TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
50. Mengunjungi Apartmen lama


__ADS_3

Cean tidak bisa menutupi kebahagiaannya hari ini, dia bersiul-soul senang membayangkan kejadian yang terjadi hampir seharian ini bersama Neska.


"Eh, eh, anak Mama kenapa? Kayaknya seneng banget?" Mama Yara dapat melihat suasana hati Cean yang tidak seburuk biasanya. Dia menebak jika Cean sedang bahagia sekarang.


Cean mendekat pada sang Mama, kemudian mengecup pipi kiri Mamanya dengan lembut.


"Tuh, kan, ada sesuatu nih," kata Mama Yara mulai menebak.


Cean tersenyum lebar. "Cean mandi dulu ya, Ma," katanya tanpa menjelaskan apapun.


Mama Yara hanya bisa mengangguk dengan hati yang bertanya-tanya. Tapi, dia bersyukur jika Cean benar-benar sedang bahagia. Mama Yara berharap Cean selalu seperti ini karena dia juga merindukan sikap putranya yang hangat.


Setelah Cean selesai mandi, dia mulai mengotak-atik ponselnya. Pertama, dia mengubah nama kontak Neska disana. Ah, akhirnya Neska membuka blokiran nomornya hari ini. Bayangkan saja, Neska sudah memblokirnya selama dua tahun, bagaimana Cean tak lega sekarang jika kini dia bisa menghubungi gadisnya kapan saja.


Cean mengelus layar ponsel dimana disana sudah terpasang foto Neska--sejak lama. Itu foto Neska dua tahun yang lalu--yang dia ambil secara diam-diam saat Neska makan di restoran Cina bersamanya dan kedua saudaranya yang lain.


"Neska ..." gumamnya menyebut nama gadis itu. Sepertinya malam ini dia akan tidur nyenyak.


Cean terpancing untuk mengirimi Neska pesan malam ini.


[Udah tidur?]


Pesan itu terkirim dan tampak centang dua di sana, tapi sepertinya Neska belum membalasnya.


"Belum apa-apa aku udah kangen lagi, Nes." Cean mengakui jika dia sudah jadi budak cinta Neska sekarang. Padahal dia baru mengantarkan gadis itu ke rumah Sheila satu jam yang lalu, tapi sekarang dia sudah merindukan gadis itu lagi.


[Ini mau tidur, Kak]


Cean tersenyum membaca pesan balasan dari Neska. Benar kata Neska, dia seperti remaja yang baru saja berpacaran, rasa senangnya terlalu berlebihan.


[Mana? Aku mau lihat]


Sengaja Cean membalas pesan Neska dengan kalimat itu, berharap agar Neska peka untuk mengirimkan foto gadis itu yang benar-benar hendak tidur, sayangnya Neska tidak membalas pesannya lagi setelah cukup lama Cean tunggui.


"Kok gak dibalas lagi, ya?" Cean mengusap wajahnya, mulai menggerutu. Tidak adanya kabar Neska selalu membuatnya takut, berlebihan memang tapi setelah Neska benar-benar menjadi kekasihnya, Cean tidak mau kehilangan Neska lagi.


[Udah tidur ya? Good night, Princess]


Akhirnya Cean kembali mengirim pesan kepada Neska. Dia berharap Neska tidak membalas pesannya karena gadis itu benar-benar sudah tertidur.


...***...


Hari Minggu biasanya Cean habiskan dengan joging atau fitnes di pagi hari. Tapi sepertinya hari ini dia tidak melakukan dua kegiatan itu. Dia sudah rapi dengan penampilan casual yang membuatnya tampak lebih santai daripada biasanya.


"Cean, mau kemana?" Papa Sky yang sudah berada di ruang makan menatap putranya dengan tampang ingin tahu, ini bukan seperti Cean yang biasanya.


"Aku mau jalan-jalan, Pa."


"Oh, ya?" timpal Mama Yara yang datang dengan secangkir kopi untuk suaminya. "Jalan kemana? Sama siapa?" tanyanya kemudian.


Mama Yara dan Papa Sky sepertinya penasaran sekali. Ini semua karena mereka melihat gelagat yang berbeda dari putranya. Apa kiranya yang membuat Cean bisa kembali seperti ini?


"Sama pacar Cean, Ma," jawab pemuda itu tenang.


"Pacar?" Sang Mama dan Papa kompak bertanya, membuat Cean menipiskan bibirnya tanpa berniat memberitahu siapa pacar yang dimaksudkannya.


"Kamu udah pacaran lagi? Mama kira kamu udah jadi workaholic yang gak mikirin perempuan lagi. Mama udah khawatir sama kamu."


Cean terkekeh pelan sebelum menyantap roti bakar yang dibuatkan oleh Bi Dima untuknya.


"Mama lebih khawatir yang mana? Cean punya banyak cewek kayak dulu atau Cean yang kelihatan gak tertarik sama perempuan sama sekali--kayak belakangan hari?" Papa Sky malah menanyai istrinya.

__ADS_1


Mama Yara sempat mengernyit heran, Cean pun mengangkat alis mendengar pertanyaan sang Papa.


"Kayaknya Mama lebih khawatir kalau Cean gak tertarik sama perempuan lagi deh, Pa."


Papa Sky jadi tertawa, begitupun Cean.


"Mama ada-ada aja, memangnya aku gak normal apa," protes Cean.


"Mama kamu berpikir begitu karena belakangan hari kamu kelihatan beda, Cean." Papa Sky membela pernyataan sang istri dihadapan putranya.


"Ya, intinya aku masih straight, Pa." Cean menyeruput kopinya sebelum akhirnya berdiri hendak beranjak.


"Ehm, tapi siapa pacar kamu yang sekarang Cean?" tanya Mama Yara kemudian, Cean belum ada menyebutkan satu nama gadis dihadapan mereka.


"Nanti juga mama tau." Cean mencium pipi mama Yara sekilas, kemudian dia pamit untuk segera pergi.


Mama Yara dan Papa Sky saling berpandangan heran, tapi mereka cukup lega karena akhirnya Cean mau membuka diri lagi.


...***...


"Tadi malam chat aku kok gak dibalas?" Cean menanyai Neska yang sudah duduk disisinya dalam mobil yang sedang dia kemudikan.


"Maaf ya, Kak. Tadi malam aku udah tidur." Neska menatap Cean dengan tatapan sungkan.


"It's oke, aku kira juga gitu, kok." Cean tersenyum lebar menandakan dia tidak marah pada Neska.


Neska pulang ke Singapore hari ini dengan pesawat siang, maka dari itu Cean mau memanfaatkan waktu yang ada dengan mengajak Neska jalan-jalan.


"Mungkin Minggu depan aku yang bakal samperin kamu ke Singapore, ya."


"Kakak ada kerjaan disana?"


"Terus?"


Cean tertawa pelan. "Mau ngapelin pacar," jawabnya sambil melirik Neska. "Ngapelnya jauh, harus naik pesawat. Keren, kan?" sambungnya dengan sisa tawa yang masih terdengar.


Neska malu sendiri karena jawaban Cean. Rasanya masih seperti mimpi saja jika sekarang mereka benar-benar sudah berpacaran.


"Kak?"


"Hmm?"


"Hari ini kita mau kemana? Waktunya kan gak banyak."


"Kemana aja asal sama kamu pasti menyenangkan."


"Aku serius, Kak. Jangan main-main terus."


"Aku juga serius, Sayang."


Neska membuang pandangan ke arah jalanan. Cean selalu bisa membuat jantungnya tremor seperti ini hanya dengan kalimat atau panggilannya itu.


Cean terkekeh lagi melihat gelagat Neska yang malu-malu. Dia mengacak rambut Neska dengan gemasnya.


"Lucu banget sih kamu. Pacar siapa, sih?"


"Tauk!" jawab Neska tak acuh.


"Kok gitu? Bilang dong kalau kamu pacar aku, masa gak mau mengakui?" protes Cean.


"Iya, pacar ..." kata Neska menekankan.

__ADS_1


Cean tertawa puas. Dia menghentikan mobil saat mereka sudah tiba di tujuannya.


"Kita kesini?" Neska menatap sekeliling. Ini adalah halaman parkiran gedung Apartmen lamanya. Iya, Apartmen yang dulu ditempati Neska dan Cean hingga membuat mereka menjadi tetangga.


"Kok kaget gitu? Aku cuma mau mengingat masa lalu, dimana dulu aku ketemu sama adik kecil yang nyaris setiap hari ngerepotin aku."


"Ih, Kakak ..." Neska mencubit pinggang Cean, membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.


"Masuk?" tawar Cean.


"Emang gedung ini masih ada ya g nempatin ya, Kak?"


Cean mengangguk, bangunan Apartmen tua itu memang masih beroperasi sampai sekarang, tapi kabarnya tidak lama lagi akan segera dihancurkan untuk dibangun proyek kontruksi lain yang lebih menguntungkan.


"Kabarnya, gedung ini akan segera di robohkan. Aku mau kita kesini sebelum gak bisa ngelihat tempat ini lagi."


Neska mengikuti Cean yang sudah lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuknya.


"Kakak kok bisa tau?"


"Ya, soalnya Papa aku kan pensiunan Arsitek. Kantor papa masih beroperasi dengan para arsitek muda yang baru, dari sana aku bisa dapat info gedung-gedung baru yang akan segera di buat dan juga akan dihancurkan untuk dijadikan lahan yang lebih baik."


Neska manggut-manggut mengerti. Mereka mulai memasuki lobby apartmen itu. Rupanya bangunan 20 lantai itu hanya dipakai setengahnya saja sekarang alias sampai lantai 10, sisa lantainya tidak lagi dioperasikan karena para penghuni yang dulu menempati gedung itu juga sudah banyak yang pindah dari sana.


"Tapi, Apartmen kita dulu kan di lantai 11, kak?"


"Tenang aja, aku udah dapat izin untuk ke lantai 11," kata Cean.


Tibalah mereka di lantai 11. Mereka saling menatap saat tiba di koridor lantai tersebut.


"Kak, suasananya kok jadi horor ya? Padahal dulu gak gini?" bisik Neska pada Cean.


Cean tersenyum kecil. Dia mengerti jika sekarang gadis itu takut.


"Sebenernya aku juga gak tau sih kenapa aku harus ajak kamu kesini,"kata Cean mengaku. Awalnya dia hanya ingin mengenang momen dengan Neska di Apartmen itu, tidak menyangka jika suasana lantai 11 jadi menyeramkan seperti ini.


Krek ... prang!!


Neska sontak mendekap lengan Cean saat mendengar suara itu. Dia jadi benar-benar takut sekarang.


"Kak, kita turun lagi ya. Aku gak mau disini."


"Itu cuma tikus, Nes."


"Gak, gak ... aku gak mau kesini." Neska ngacir lebih dulu, dia meninggalkan Cean yang tertawa melihat tingkah konyolnya.


"Maafin aku ya, aku gak maksud buat kamu takut." Cean merangkul Neska dan membawa gadis itu lebih dekat dengan dirinya.


Neska masih saja canggung, kendati dia tau hubungannya dengan Cean sekarang sudah menjadi sepasang kekasih.


Mereka kembali tiba di lantai dasar, saat seseorang menyapa Neska disana.


"Neska?"


Neska dan Cean sontak menoleh pada orang yang memanggil nama gadis itu.


"Ternyata kamu benar-benar Neska."


...Bersambung .......


Tinggalkan komentar agar Novel ini terus dilanjut🙏

__ADS_1


__ADS_2