
Neska bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Rion. Benarkah dia sedang cemburu? Entahlah.
"Aku cuma bercanda, jangan jadi bengong terus gitu, dong." Rion tertawa sementara Neska menggosok tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Percakapan itu terhenti kala seorang pelayan menyajikan makanan pesanan mereka ke atas meja. Mereka pun mulai makan dengan diam tapi sesekali Rion memperhatikan gelagat gadis yang duduk dihadapannya.
"Kamu ..." tangan Rion terulur, lalu tiba-tiba mengelus ujung bibir Neska dengan selembar tisu. "Makannya, berantakan banget, sih?" ujar pria itu diselingi dengan senyuman tipis.
Neska tertegun, dia tidak tau harus bagaimana merespon tindakan manis Rion akhirnya dia hanya berdehem-dehem tidak jelas dari posisinya.
"Sorry, aku cuma mau bantu bersihin aja," kata Rion dengan senyum sungkan.
Neska mengangguk. "Iya, aku tau," katanya kikuk.
Kegiatan makan itu akhirnya selesai beberapa menit setelahnya. Neska dan Rion melanjutkan sesi jalan-jalan mereka didalam pusat perbelanjaan itu. Rion membeli beberapa kaos untuk dirinya juga setelan rumahan untuk Neska.
"Udah terlalu banyak, Rion."
"Gak apa-apa, kamu kan seneng di rumah. Jadi anggap aja aku beliin ini biar kamu makin betah di Apart dan gak kemana-mana pas aku juga sibuk kuliah."
Neska tertawa mendengar ujaran Rion itu meski kenyataannya dia memang lebih senang dirumah dengan hobinya yaitu membaca novel ataupun mengerjakan tugas kuliahnya.
"Sekarang kamu udah betah kan tinggal disini? Aku rasa gak ada alasan lagi buat kamu memikirkan hal-hal yang ada di Indonesia kan?"
Neska tersentak dengan pertanyaan Rion, tangannya yang tadi memegang sebuah kaos yang tergantung di hanger sontak turun seketika. Bagaimana bisa dia justru ingin membelikan sebuah kaos untuk Cean ketika disini dia justru dibelikan banyak baju oleh Rion.
Dan pertanyaan Rion barusan, seperti menyinggung apa yang tengah Neska pikirkan. Hal-hal yang ada di Indonesia seperti sebuah kata kunci atau isyarat yang Rion ucapkan tapi merujuk pada satu nama yakni tentang kakaknya sendiri, Cean yang dia ketahui belum Neska lupakan sepenuhnya.
"Nes, kamu betah, kan disini?" ulang Rion.
Kali ini gadis itu menganggukkan kepala. "Aku betah, kok, Ri," jawabnya.
Rion menyunggingkan senyum kecil. "Bagus kalo gitu," katanya sedikit lega meski dia dapat membaca raut wajah Neska yang agar ragu mengatakannya. Rion tidak bisa membaca pikiran gadis itu tetapi dia tidaklah bo doh.
Rion memandang ke arah kaos yang tadi sempat Neska pegang sesaat.
"Kalau ini aku pakai, bagus gak?" tanya pemuda itu sembari mengambil kaos yang dia tau Neska perhatikan sejak tadi.
"Ehm, bagus. Kamu pakai apa aja bagus, kok."
"Hmm, kamu udah pandai memuji aku, ya?" Rion tertawa kecil.
Namun, tawa itu terhenti kala Rion sadar bahwa seseorang tengah meneleponnya. Hal itu sekaligus menginterupsi kegiatan keduanya yang sedang memilih baju-baju didalam sebuah store.
"Kenapa, Kak?"
Rupanya, Rion mendapat panggilan dari Aura yang mengatakan bahwa dia telah tiba di Bandara yang ada di Negara Singa.
__ADS_1
"...."
"Ah, iya, Kak. Aku dan Neska bakal jemput kakak disana. Sebentar ya."
"...."
"Apa? Gak usah, kenapa, Kak?"
"...."
Raut wajah Rion berubah, entah kenapa Neska tampak menangkap ketegangann yang sempat Rion tunjukkan meski sejenak. Entah apa yang Aura katakan dari seberang sana, Neska tidak dapat mengetahuinya.
"Oh ... oke. Aku tunggu Kakak di Apartmen aja ya."
"...."
"Ya, sekarang aku emang lagi di Mall sama Neska, tapi---"
"...."
"Ya udah kalo gitu."
Kali ini wajah Rion berubah sendu dan tak bersemangat. Pemuda itu kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana ketika panggilannya sudah berakhir.
"Kenapa? Semua baik-baik aja, kan?" Neska bertanya pada Rion yang diam tidak menjelaskan apapun terkait telepon barusan.
"Wah, bagus, dong. Kenapa kamu jadi gak semangat gitu?"
"Gak apa-apa, sih. Ya udah ayo kita ke kasir bayar belanjaannya." Rion menarik tangan Neska dan mengajaknya menuju kasir diujung ruangan yang berisi baju-baju style terkini anak muda seusia mereka.
Sampai selesai membayar, Rion tampak banyak diam, membuat Neska bertanya-tanya kenapa Rion mendadak berubah setelah menerima panggilan dari Aura yang mengatakan sudah tiba di Singapore.
"Kita pulang, kan? Udah gelap juga," celetuk Neska ditengah keheningan mereka.
Sejujurnya, Neska penasaran apa yang membuat mood Rion berubah, tapi dia enggan menanyakannya lebih jauh.
"Kita disini aja dulu. Kak Aura mau nyusul kesini. Kalau kita pulang ke apart masing-masing, nanti dia harus ke Apartmen kamu lagi setelah dari Apartmen aku. Jadi, kita temui dia dulu ya. Kak Aura udah dalam perjalanan kesini setelah aku bilang kita ada disini."
Neska mengangguk patuh. "Oke, kayaknya itu lebih bagus. Kita tunggu disana aja, yuk." Neska menunjuk sebuah kursi yang ada diantara koridor-koridor mall yang memang disediakan untuk tempat duduk pengunjung.
"Kamu capek?" tanya Neska memecah keheningan yang Kemabli tercipta setelah mereka mendudukkan diri disana.
"Gak juga," kata Rion sembari mengendikkan bahu. Pemuda itu tersenyum simpul. "Kamu yang capek, ya?" tebaknya.
Neska menggelengkan kepalanya. "Aku gak capek, tapi aku lihat kamu agak berubah jadi pendiam sejak nerima telepon Kak Aura tadi," paparnya.
Rion menghela nafas panjang kemudian menatap Neska dengan pancaran tatap yang sulit dideskripsikan. Lekat, sangat lekat.
__ADS_1
"Setelah kebersamaan kita selama ini ... aku mau nanya sama kamu."
Mendadak, Neska merasa jika percakapan yang akan terjadi antara dia dan Rion akan serius sekali.
"Ke--napa?" tanya Neska dengan nada ragu-ragu.
"Nes, setelah kita sama-sama, apa kamu udah ada rasa sayang buat aku? Apa kamu takut kehilangan aku? Atau justru rasa seperti itu gak ada sama sekali untuk aku? Aku mau kamu jawab jujur, Nes."
Baru kali ini Neska melihat tatapan Rion sememelas ini. Biasanya pemuda ini selalu menyunggingkan senyuman hangat khasnya yang terasa mendamaikan dan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
"Kenapa kamu tanya hal itu?" Alih-alih menjawab, Neska justru kembali melontarkan pertanyaan.
"Jawab, Nes. Aku butuh jawaban kamu, bukan pertanyaan lain yang membuat kamu bisa menghindar dari pertanyaan aku." Kali ini suara Rion terdengar ditekankan, lebih tegas dari biasanya tapi tidak ada emosi disana.
"Aku--aku, sebenarnya aku udah mulai terbiasa sama kebersamaan kita."
"Selain itu?" Rion menatap manik mata Neska lamat-lamat. "Aku tadi tanya, apa kamu udah ada rasa sayang sama aku? Takut kehilangan aku? Jawab salah satu dari pertanyaan itu aja udah cukup kok, Nes," imbuhnya.
"Apa itu perlu? Aku rasa--"
Rion tiba-tiba tertawa pelan yang terdengar sumbang. Dia tahu Neska akan terus menghindari pertanyaannya jika menyangkut soal perasaan.
"Apa arti kebersamaan kita selama ini, Nes? Apa kamu gak bisa lihat ketulusan aku sama kamu?"
"Rion ... bukan gitu maksud aku. Kamu kenapa, sih? Tiba-tiba nanyak hal kayak gini? Aku gak ngerti kenapa kamu tiba-tiba berubah dan jadi mempertanyakan perasaan aku? Apa kita gak bisa menjalani aja seperti biasanya? Kenapa--"
"Cukup, Nes," potong Rion. "Aku tau kamu gak akan bisa ngejawab pertanyaan aku. Ya udah, aku gak akan menanyakannya lagi," tukasnya.
Neska melongo. Dia tidak menyangka jika akan jadi seperti ini. Terjadi perdebatan dengan Rion tanpa dia tau pemicu yang membuat pemuda ini jadi mempertanyakan soal rasa.
"Dan ... jika kamu mau tau kenapa aku tiba-tiba menanyakan hal ini, jawabannya hanya satu, Nes. Aku ... takut kehilangan kamu. Kamu pacar aku, tapi hati kamu bukan buat aku."
"Rion ..."
"Aku takut kehilangan kamu. Aku cuma mau memastikan perasaan kamu terhadap aku disaat aku udah dapat menyimpulkan tentang perasaan seseorang terhadap kamu."
"Maksud kamu?"
Rion tersenyum getir, disaat dia ingin membuka mulut dan menjelaskan pada Neska arti ketakutannya, detik itu juga suara seseorang menyapa mereka.
"Rion? Neska? Kalian sehat, kan?"
Itu adalah Aura. Dan wanita cantik itu tidak datang sendirian, melainkan bersama Cean.
Inilah yang membuat Rion mendadak berubah moodnya. Aura mengatakan sudah tiba di Singapore bersama Cean yang juga ikut serta. Dari sini, Rion dapat mengartikan jika perasaan sang Kakak terhadap gadis kesayangannya memang sudah tumbuh dengan subur menjadi tunas baru yang bisa membuatnya kehilangan Neska. Sebab, sejak awal Rion tau mengenai perasaan Neska terhadap kakak lelakinya itu, kan?
Bersambung ...
__ADS_1
Tekan like, beri komentar ya guys🙏✅