TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
67. Mencoba Wahana


__ADS_3

2 Tahun Kemudian ...


Suara hentakan dari sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema di sebuah koridor panjang yang tampak kosong, semua orang-orang yang harusnya berada disana telah memasuki Aula yang ada di paling ujung.


"Astaga, aku telat." Pria yang tadinya masih berjalan santai itu kini sedikit berlari untuk menuju Aula yang sedang menggelar acara kelulusan Mahasiswa sebuah Universitas.


Dua orang petugas keamanan yang bekerja menjaga pintu depan ruangan-- menghadang langkah sang pria yang tampaknya sedang terburu-buru untuk memasuki Aula yang ditujunya.


"Undangannya, Pak?" Salah satu petugas menanyakan surat undangan yang harusnya pria itu miliki jika ingin masuk dan bergabung dengan acara privat tersebut, sebab jumlah memang undangan terbatas dan tidak boleh diikuti oleh orang yang tidak diperkenankan.


Pria itu segera mencari-cari undangan yang harusnya dia bawa, namun sialnya surat itu tertinggal di mobilnya.


"Kalau tidak ada undangan, maaf, Bapak tidak boleh masuk."


"Surat undangan saya ada di mobil, ketinggalan. Apa bisa saya melihat acaranya dari depan pintu saja?"


Kedua petugas itu menggeleng tegas.


"Saya akan membayar untuk hal itu."


"Tidak bisa, Pak. Silahkan Bapak menunggu diluar sampai acaranya selesai."


Pria itu menghela nafas frustrasi, harusnya dia tidak ceroboh dengan meninggalkan surat undangannya atau bahkan datang di waktu yang memang sudah terlambat.


Pria itu akhirnya harus pasrah menunggu di sebuah kursi tunggu yang tak jauh dari tempat berlangsungnya acara wisudawan itu.


Menunggu itu memang membosankan. Sudah hampir satu jam sang pria menunggu sembari menekuri ponselnya, namun belum ada tanda-tanda acara itu akan selesai dilangsungkan. Ia nyaris mengantuk. Mendongakkan kepala sambil memijat pangkal hidungnya namun tetap urung meninggalkan tempat tersebut.


"Kak Cean?"


Tiba-tiba pria itu tersentak, tubuhnya menegak dan menatap seorang gadis yang sudah mengenakan toga kebanggaan. Neska tersenyum kepadanya hingga membuatnya melengkungkan bibir serupa.


"Kok disini?" tanya Neska sambil mengulumm senyum.


"Maaf ya, tadi aku telat pas kesini." Cean menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Gak apa-apa, Kak. Kakak jam berapa sampe ke Singapore? Langsung kesini ya, tadi?"


Cean mengangguk. Dia memang langsung menuju kampus Neska setibanya di Changi Airport pagi tadi. Sekarang, mata Cean memindai ke seluruh penjuru ruang itu dan ternyata sudah ramai orang yang keluar dari Aula wisudawan.


"Acaranya udah selesai?" tanya Cean pada Neska.


"Udah, Kak."


"Yah, aku gak lihat pas kamu nerima kelulusan dan dipakaikan toga." Pria itu melenguuh singkat, merasa kecewa.


Neska tersenyum lalu berinisiatif membuka toga yang masih dikenakannya di kepala.


"Nih," kata gadis itu.


"Buat apa?"


"Kan kakak gak sempat lihat aku dipakaikan toga, Kakak aja yang pakaikan ke aku."


Cean terkekeh lalu kemudian menuruti ucapan gadisnya. Dia memakaikan ulang toga itu pada Neska dan menatap mata lentik itu lekat-lekat. "Selamat, Princess," katanya tersenyum.


"Makasih, Sayang."

__ADS_1


Cean menggigitt bibirnya mendengar panggilan Neska itu, pasalnya baru kali ini Neska memanggilnya demikian. Dia sedikit grogi dan salah tingkah.


"Ya udah, pulang yuk."


Cean mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggandeng jemari Neska menuju pelataran dimana mobilnya terparkir.


Neska sempat berpamitan pada teman-teman seangkatannya yang tadi sama-sama melangsungkan acara kelulusan.


Neska memasuki mobil Cean setelah pria itu membukakan pintunya.


"Nes?" Cean memanggil Neska saat dia sudah duduk di balik kemudi.


"Ya, Kak?"


"Ayo, foto!" Cean langsung mengarahkan kamera ponselnya untuk memotret mereka berdua dengan Neska yang masih mengenakan toga kelulusannya. Keduanya ber-swafoto didalam kabin mobil.


Cean kemudian mengirimkan foto itu untuk kedua orangtuanya.


"Mama sama Papa minta maaf gak bisa kesini lihat kamu di wisuda."


"Gak apa-apa, Kak. Tapi Tante Yara dan Om Sky sehat, kan?"


"Iya, cuma gula darah papa lagi tinggi jadi aku larang bepergian, untung Rion belum wisuda, kalo wisuda sekarang juga pasti mama dan papa gak bisa datang." Cean pun memasang seatbelt untuknya dan melirik pada Neska yang juga sudah mengenakan sabuk pengamannya.


Mobil yang dikendarai Cean mulai melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan padat di salah satu kota di Singapore.


"Kita pulang, kan, Kak?"


"Enggak, aku mau nepatin janji dulu sama kamu."


Cean mengangguk, dia ingat jika dia masih punya janji yang sudah terlalu lama namun belum sempat dia tepati pada gadisnya.


"Universal studio," kata Cean lagi, menjawab pertanyaan di kepala Neska.


***


Hari itu, Cean dan Neska menghabiskan waktu seharian berdua di Universal Studio, Singapore.


Jujur saja, selama beberapa tahun tinggal disana, Neska memang belum pernah ke tempat itu. Dulu diawal-awal dia menjadi mahasiswi, dia tidak punya waktu untuk bermain-main, sebab mau membuktikan pada kedua orangtua Cean jika dia layak menerima beasiswa yang diberikan. Lalu di tahun-tahun terakhir berkuliah, Neska memang sengaja tidak kesana karena dia mau ketempat itu bersama Cean yang sudah pernah menjanjikan.


Tidak disangka, Cean memang masih ingat janji itu. Neska sangat senang karena ternyata prianya bisa dipercaya dan dipegang kata-katanya meski sudah cukup lama Neska harus menunggu momen seperti ini.



Universal Studios Singapore adalah sebuah taman hiburan yang terletak di dalam Resorts World Sentosa di Sentosa Island.


Mereka datang kesana di waktu yang tepat dimana wahana memang sedang dibuka dan sangat ramai.


"Naik itu, yuk!" Cean menunjuk sebuah wahana ekstrem yang membuat Neska tercengang beberapa saat. Dia tidak memiliki adrenalin yang tinggi untuk mencoba wahana yang Cean maksud.


Bayangkan saja, begitu mereka tiba disana. Zona arena yang Cean pilih adalah yang menantang keberanian. Neska langsung menggeleng tidak setuju.



Battlestar Galatica: Human vs Cyclon Berada di Zona Sci-Fi City, ini adalah salah satu wahana favorit di Universal Studios. Wahana ini memang sangatlah cocok bagi orang yang memiliki keberanian besar. Roller coaster ini memiliki dua jalur, yaitu jalur merah untuk manusia dan jalur abu untuk cyclon. Dibuat sedemikian rupa agar dapat merasa jika seolah sedang bertarung karena harus memilih berada di satu sisi dengan kecepatan yang ekstrem.


Melihatnya saja Neska sudah keringat dingin. Mana mungkin dia berani mengiyakan ajakan Cean.

__ADS_1


"Ayo, sayang."


Neska segera mencekal langkah Cean dengan menarik lengan pria itu. Dia menggeleng sebagai isyarat penolakan.


"Gak apa-apa, nanti kamu pasti suka."


"Aku gak berani, Kak." Neska merengek seperti anak kecil tapi Cean tetap mau mengajaknya.


"Kamu tarik nafas pelan-pelan, terus hembuskan. Gitu aja berulang-ulang, ntar kalau udah naik itu pasti rileks."


Neska memilih mempercayai Cean dan dia mengikuti keinginan pria itu untuk menaiki wahana tersebut. Sampai diatas, Neska merasa gamang dan serba salah, ingin rasanya dia turun lagi tapi itu tak akan mungkin. Cean memberinya kata-kata penyemangat dan akhirnya Neska berpasrah diri saja.


Hingga akhirnya, mereka benar-benar menaiki wahana itu. Tak terbayang bagaimana suara jeritan Neska disana. Sepertinya jantungnya sudah mencelos lebih dulu sebelum permainannya dimulai.


"Gimana? Seru, kan?" tanya Cean saat mereka turun.


Neska tidak menyahut. Dia berlari ke toilet terdekat dan muntah-muntah. Cean jadi merasa bersalah sekarang.


"Maafin aku ya, aku gak tau kamu bakal seperti ini. Aku pikir itu bakal seru dan menguji adrenalin kita."


Neska hanya diam, dia tidak marah, sebenarnya dia juga menikmati wahana tadi hanya saja mungkin reaksi tubuhnya yang berlebihan. Neska memikirkan cara untuk membalas Cean. Agar bukan cuma dia saja yang dipaksa Cean menaiki wahana yang tidak diinginkan. Tapi, Cean juga harus merasakan hal yang serupa.


"Kamu marah, ya?"


"Enggak kok."


"Terus? Kok diemin aku."


"Aku mau balas dendam sama kakak," akui Neska terus terang.


Cean terkikik, dia kira Neska bercanda tapi saat gadis itu menarik tangannya untuk masuk ke salah satu wahana rumah hantu Cean langsung pucat pasi.


"Gak, gak. Kita gak usah kesini," tolak Cean keki.


Neska tersenyum penuh kemenangan. "Kakak takut?" tebaknya.


"Enggak lah. Mana ada aku takut, itu kan isinya hantu bohongan semua."


"Yaudah kalau gitu, ayok!"


Cean menggeleng sambil sesekali mencoba menepis tangan Neska yang ngotot mengajaknya masuk ke wahana seram itu.


"Sayang, jangan bercanda gini. Kita naik wahana lain aja. Itu naik yang kayak kora-kora disana."


"Gak!" sahut Neska mantap. Dia tertawa ngakak didalam hati. Cean harus merasakan bagaimana tadi dia dipaksa naik wahana ekstrem itu.


Mereka akhirnya memasuki rumah hantu yang begitu masuk ke dalamnya sudah disambut dengan suasana remang-remang.


"Neska, Sayang, ini gak lucu sama sekali."


Neska terkikik melihat Cean yang ketakutan.


"Kakak takut hantu? Tadi katanya disini isinya cuma hantu bohongan doang," cibir Neska.


Cean langsung bergidik hingga akhirnya pasrah saat memasuki wahana menakutkan itu.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2