
Neska merasa aneh saat hari ini dia pergi ke kampusnya. Tampak banyak mahasiswi yang berbicara secara bisik-bisik ketika dia lewat. Neska tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan, sehingga dia mencoba mengabaikan begitu saja.
Neska tiba di kelasnya dan dikejutkan oleh suara Dania--temannya.
"Nes, aku gak nyangka banget ya sama kamu." Dania memandang Neska dengan tatapan meremehkan.
"Ada apa, sih?" tanya Neska tak paham.
"Sebenernya kamu beneran polos seperti yang sekarang atau justru ini hanya topeng kamu, Nes?" sarkas Dania.
Neska benar-benar tak mengerti maksud Dania, tapi dia penasaran kenapa temannya ini seolah men-judge dirinya memakai topeng?
"Kamu selalu bilang kalau semua yang kamu dapatkan, mulai dari biaya kuliah, uang saku, sampai sewa apartemen kamu karena biaya beasiswa. Nyatanya? Kamu gak lebih baik dari cewek-cewek yang gak ada akhlak diluar sana."
Neska sampai kaget dengan ucapan pedas Dania, memang selama ini Dania tidak terlalu dekat dengannya, bahkan gadis itu tampak memandangnya sebelah mata. Semua karena Dania iri melihat Neska yang hidup dengan mudah selama berkuliah padahal dia dan Neska sama-sama mahasiswa penerima beasiswa, tapi fasilitas hidupnya tidak seperti Neska yang terjamin keseluruhannya.
"Neska!" Vanya, teman Neska yang lain memanggil gadis itu. Panggilan Vanya berhasil membuat Neska terbebas dari kekesalan Dania sebab gadis itu segera pergi setelah Vanya mendekat ke arah Neska.
Vanya cukup dekat dengan Neska selama berkuliah, dia satu-satunya teman sekelas Neska yang tidak memandang Neska remeh meskipun Neska hanya mahasiswa penerima beasiswa dan Vanya adalah salah satu anak orang berada.
"Vanya, kamu tau gak kenapa orang-orang kayak ceritain aku gitu?"
Vanya menepuk pundak Neska sekilas, kemudian mengajak Neska ke taman kampus berhubung jam kuliah belum dimulai.
Sesampainya di taman, Banyak segera menyodorkan ponselnya kepada Neska dan gadis itu menerima dengan tampang kebingungan.
Mata Neska langsung terbelalak melihat sesuatu yang terpampang disana. Itu adalah fotonya yang dipajang di situs open B O, alias booking online.
Bagaimana bisa? Memang foto itu bukan foto yang sama dengan yang dikirimkan Jelita kepada Cean. Di foto itu Neska tampak tertutup dengan gayanya yang lugu. Neska tau itu salah satu foto yang ada di Instagram pribadinya. Tapi Neska tidak mengetahui ini ulah siapa? Jika Neska boleh menebak, maka pemikirannya hanya ada dua jawaban. Yang pertama adalah Karel dan yang kedua tentu Jelita yang sejak awal memang mau mencemarkan nama baiknya.
Neska semakin syok saat melihat tulisan yang ada disana. Seolah dirinya sedang menjajakan diri.
Wajahku memang tampak polos, tapi aku bisa memuaskan. Hubungi nomorku ya. Lalu dibawahnya ada deretan nomor yang Neska sendiri tidak tau itu nomor siapa.
"Ini kapan mulai tersebar, Van?" Neska bertanya pada Vanya.
"Kayaknya pagi tadi deh. Aku yakin ini bukan kamu yang sengaja buat, kan? Meski kita baru kenal beberapa tahun ini tapi aku yakin kamu gak mungkin begini." Vanya mengelus pundak Neska yang mulai menangis karena dia sudah merasa tak punya muka lagi di kampusnya.
"Tentu aja itu bukan ulah aku, Van." Neska menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Sabar ya, Nes. Pasti ada yang iri sama kamu."
__ADS_1
Neska menghela nafasnya. Dia sudah tak bersemangat kuliah dan melanjutkan kelasnya hari ini.
"Kamu mau kemana, Nes?" tanya Vanya saat melihat Neska ingin beranjak.
"Aku pulang, Van. Mendadak aku lemes banget karena hal ini."
"Ya udah, nanti aku absenin kamu. Kamu hati-hati di jalan ya." Vanya menyahut pengertian.
Neska mengangguk dan berlalu dari taman. Sialnya, dia berpapasan dengan seorang cowok dari fakultas lain dan tangannya langsung dicekal begitu saja membuat Neska semakin ketakutan.
"Kenapa?" tanya Neska dengan wajahnya yang sembab menahan kesedihannya.
"Kamu Aneska, kan? Yang ada di situs itu?"
Neska menggeleng ingin menyanggah perkataan cowok itu.
"Boleh dong puasin aku."
Neska menepis keras tangannya dari cengkraman laki-laki itu tapi dia tidak bisa melepaskannya dengan mudah sebab itu terasa sangat erat.
"Aku bakal bayar kamu lebih dari tarif yang kamu sertain di situs itu kok. Tenang aja."
"Jangan kurang ajar!" marah Neska. "Itu semua gak bener. Aku gak pernah menawarkan diri di situs itu!" sanggah Neska.
"Kamu tidak percaya aku punya uang untuk membayar tarifmu semalaman?"
Neska mendengkus. "Lepasin!" katanya mulai ngotot.
"Waw, ternyata kamu bisa marah juga ya."
"Lepas! Kalau enggak aku bakal teriak dan laporin kamu ke rektor kampus."
Laki-laki itu menyeringai. "Kamu yang bakal abis kalau rektor tau apa usaha sampingan kamu selagi masih berstatus mahasiswi disini," katanya tak gentar.
"Lepas!" Neska akhirnya berhasil lepas dari cengkraman pemuda itu.
Neska berlarian sepanjang koridor kampus, dan disaat yang sama Neska merasa tawa sumbang, desas-desus serta senyum sinis mengantarkan kepergiannya dari pelataran Kampusnya.
Neska merasakan sesak yang luar biasa. Siapa yang membuat namanya jelek begini. Neska ingin sekali menghapus fotonya di situs itu meski banyak orang yang sudah mengetahuinya.
Neska menunggu taksi dan disana dia kembali menjadi bulan-bulanan oleh mahasiswa yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"Tampangnya aja yang polos, ternyata itu gak menjamin kelakuannya."
Rasanya Neska mau bersembunyi di selah bumi yang tidak dapat ditemukan oleh siapapun.
"Boleh dong temenin kita, kayaknya kalo dibooking rame-rame juga mau, kan?"
Neska menutup telinganya, sebab indera pendengarannya terasa sangat panas sekarang bersamaan dengan gemuruh hatinya yang terasa nyeri.
Disaat yang sama, Neska sadar bahwa seseorang tengah menggenggam tangannya. Neska menoleh, dia ingin mengumpat siapa yang berani mengganggunya dengan cara seperti ini tapi akhirnya dia membungkam bibirnya saat tau sosok itu adalah Cean.
"Kak ..." Rasanya Neska ingin sekali memeluk Cean sekarang.
Cean seakan memahami jika Neska butuh kekuatan. Dia sudah mengetahui soal ini namun tidak sempat mencegah karena situsnya lebih dulu tersebar.
"Semua bakal baik-baik aja. Tenang ya. Aku akan mengurus semuanya."
Neska mengangguk meski dia tau semuanya telah terjadi. Neska percaya jika Cean akan melindunginya.
"Ayo, sekarang kita pulang."
Neska menurut dan mengikuti Cean ke mobil yang dipakainya selama berada di Singapore.
Kepergian Neska itu berhasil membuat banyak mata melihat padanya. Ada yang percaya jika Cean adalah pria yang membooking Neska. Ada pula yang meyakini jika Neska hanya dikerjai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Neska hanya diam selama perjalanan menuju pulang. Dia tidak kuasa untuk berkata-kata.
Cean tau jika Neska sangat terpukul terkait masalah ini. Dia juga tak menyangka jika Jelita memasang situs itu bahkan tersebar sampai ke kampus Neska di Singapore. Sepertinya Jelita memang sudah merencanakan ini secara matang.
Ponsel Cean berdering, itu adalah panggilan dari Marko.
"Gimana?"
"Udah beres."
Sudut bibir Cean tertarik keatas. Dia puas mendengar jawaban Marko, itu berarti masalah soal Jelita sudah diselesaikan oleh asistennya itu.
"Ada satu lagi yang harus kau kerjakan, Ko."
"Apa?" sambut Marko dari seberang panggilan.
Cean menceritakan soal situs yang menyebarluaskan berita Neska. Dia ingin Marko menghapus foto Neska di situs itu kalau perlu situsnya juga diblokir. Cean mempercayakan semua pada Marko sebab dia mau ketika nanti dia pulang ke Indonesia masalah ini sudah benar-benar selesai.
__ADS_1
"Aku akan segera mengurusnya," jawab Marko tenang dan penuh penekanan. "Kau tunggu saja berita mengenai Jelita setelah ini," tukasnya.
...Bersambung ......