
Kabar mengenai kepulangan Cean ke Indonesia, akhirnya sampai ke pendengaran Neska. Ada rasa yang sulit dijelaskan mengenai ini. Dia memang mau menghindari pemuda itu, tapi mengetahui Cean telah pergi membuat dia merasa kehilangan kembali.
Tidak dipungkiri, dalam hati terdalam milik gadis itu, Neska sangat berharap jika Cean serius dengan kata-katanya. Tapi, Neska tak bisa berharap banyak dari Cean apalagi dia juga sudah mengetahui tabiat sang pemuda dari saudari kembarnya.
"Seandainya aja yang diucapkan Kak Cean itu bukan bercanda." Neska tersenyum getir dalam posisinya yang sedang memandang langit dari jendela Apartmennya malam ini. "Tapi, mana mungkin Kak Cean mau sama bocah kayak aku," lanjutnya bermonolog.
Neska cukup sadar diri, pun dia masih mengingat jelas bagaimana dulu Cean mengatakan bahwa dia menganggap Neska sebagai adik perempuannya.
Segala kepedulian yang dulu Cean berikan terhadap gadis itu kini terkenang dalam benaknya dan seolah berputar-putar dalam tempurung kepalanya. Neska merindukan sosok itu. Pemuda yang pernah menariknya keluar dari dalam Bar yang tak seharusnya Neska datangi.
Neska merindukan senyum simpul itu, yang dulu pernah mengantarkannya ke sekolah.
Neska bahkan mendadak rindu makan roti dari toko yang ada di dekat gedung Apartmen lamanya--hanya karena Cean pernah membelikannya sebagai salam perkenalan pertama mereka. Rasa-rasanya, Neska ingin selalu dekat dengan pemuda itu.
Akan tetapi, mengingat percandaan Cean tempo hari, cukup membuat Neska kecewa. Kenapa Cean harus membuat lelucon seperti itu? Seolah-olah perasaan yang Neska miliki terhadapnya hanya dianggap hal sepele, sehingga dengan seenaknya Cean menjadikan pernyataan rasa sebagai permainan.
Sebab hal itulah, Neska memilih untuk menghindari Cean. Dia tidak mau perasaannya yang tulus dibuat bahan percandaan oleh pemuda itu. Tidak, dia tidak akan mau. Meski dia tidak bisa melupakan Cean, bukan berarti Cean bebas mempermainkannya begini.
Jadi, sekali lagi Neska menekankan dalam dirinya bahwa kepulangan Cean ke Indonesia adalah yang terbaik. Neska harap, dia tidak bertemu dengan Cean lagi suatu-waktu, sebab dia takut Cean akan kembali mengucapkan kata yang melukai perasaannya.
Jikapun nanti takdir kembali mempertemukan mereka, Neska berharap perasaannya pada pemuda itu sudah biasa saja, atau minimal Cean sudah melupakan tentang leluconnya.
...***...
Sementara di lain sisi, Cean kembali menjalani rutinitasnya di Indonesia
Dia disibukkan dengan pekerjaan yang membuatnya sulit untuk mengelak dan mau tak mau harus mengerjakannya sebagai bentuk tanggung jawab dan loyalitas.
Satu hal yang tidak bisa Cean lupakan adalah keinginannya untuk bertemu Neska kendati hal itu belum sempat dia realisasikan.
__ADS_1
Aura juga telah kembali ke kediaman orangtuanya setelah dua Minggu penuh berada di Singapore dan memantau kebiasaan Rion dan Neska yang menjadi alasan utamanya datang kesana.
Rion sendiri sudah mulai bisa menerima kenyataan. Meski didepan Cean tempo hari dia sudah berkata-kata bijak dan seakan lapang dada, tapi menjalaninya memang tidak semudah mengatakannya. Tapi, setelah dua Minggu ini, Rion menyadari bahwa Neska benar-benar bisa tanpa dirinya dan dia menghargai keputusan gadis itu meski dia sendiri terluka hatinya.
"Nes?"
Neska terkesiap saat melihat Rion menghampirinya di taman kampus. Dia pikir, dia masih butuh waktu lebih lama untuk menghindari Rion tapi nyatanya hari ini dia tak dapat mengelak sapaan dan keberadaan Rion didekatnya.
"Ri--on?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Neska mengangguk meski ragu-ragu. Hal itu membuat kawan sekelas yang tadi menemani Neska disana otomatis undur diri untuk memberi Neska dan Rion ruang agar bisa berbicara empat mata.
Neska sudah khawatir jika Rion kembali menginginkan hubungan mereka disambung lagi, tapi rupanya kekhawatiran Neska itu tidak berlaku setelah Rion mengucapkan kalimat pertamanya.
"Meski kita udah gak punya hubungan spesial seperti dulu, aku berharap kamu masih bisa menerimaku sebagai seorang teman."
"... jangan menghindar dari aku, Nes. Setidaknya kita harus menjalin hubungan baik sebagai dua orang yang pernah mengenal."
"...."
"... aku gak mau kamu berubah. Kamu bisa anggap aku apa aja, mantan, teman, saudara, asal jangan anggap aku sebagai musuh kamu yang bahkan gak layak untuk kamu sapa sama sekali."
Lihat, kan? Betapa baiknya pemuda ini? Neska kembali dihantam rasa bersalah karena sempat melukai Rion. Dasar dirinya saja yang tidak tau bersyukur pernah bersama dengan pemuda sebaik ini? Dirinya lah yang tidak tau diri sebab sudah dicintai oleh Rion tapi justru tak mampu membalas perasaan lelaki itu dengan rasa yang sama.
"Maaf. Maafin aku kalau kamu merasa jika aku berubah dan menghindari kamu. Aku melakukan itu karena aku gak mau dianggap memanfaatkan kamu terus sehingga aku memutuskan untuk jaga jarak."
"Nes? Kamu tau kan, aku gak mungkin punya pemikiran begitu terhadap kamu?"
__ADS_1
Neska mengangguk, dia tau Rion selalu menganggapnya yang terbaik meski nyatanya dia tidak sebaik itu.
"Hmm ... kedepannya, aku gak bakal menghindari kamu lagi, karena kamu benar-benar orang yang baik. Maaf, kalau tindakan aku selama dua Minggu setelah kita pisah justru terasa kekanakan."
Rion akhirnya tersenyum cerah. "Gak apa-apa, Nes. Aku paham, kok. Lagian, aku juga butuh waktu untuk membuat semua kembali terasa biasa saja. Makasih kamu udah memberi kesempatan untuk aku menata hati selama beberapa Minggu ini."
"Kamu baik sekali, Rion. Aku berharap kamu mendapat gadis pengganti yang lebih baik dari aku." Kalimat itu hanya bisa Neska ungkapkan dalam hati sebab dia tidak kuasa mengutarakannya secara langsung kepada Rion. Sebagai gantinya, dia menyunggingkan senyum pada pemuda itu membuat perasaan Rion menjadi tenang karena akhirnya Neska tak akan menghindarinya lagi.
"Gimana soal Kak Cean?"
Neska menoleh pada Rion yang kali ini pertanyaannya justru mengarah kepada Kakak lelakinya dan bukan mengenai mereka berdua lagi.
"Kak Cean? Emang kenapa dengan Kak Cean?" tanya Neska tak mengerti.
"Bukannya kalian sempat ketemu sebelum Kak Cean pulang ke Indonesia?"
"Ah, ya, kami sempat ketemu sebentar waktu itu." Neska menunduk, dia tidak sanggup bicara pada Rion tentang kejadian singkat dimana Cean membercandainya soal perasaan di pertemuan terakhir mereka waktu itu.
Sementara yang dimaksud Rion, tentu bukan pertemuan yang itu, sebab dia pikir Cean dan Neska kembali bertemu setelah malam itu.
Neska menggeleng. "Kita bahas hal lain aja. Aku lagi gak mau bahas soal Kakak kamu," paparnya.
"Lho? Kenapa? Kalian baik-baik aja, kan?"
"Gak ada apa-apa. Aku lagi gak pengen bahas aja."
Jika Neska tak berkata yang sebenarnya pada Rion mengenai praduganya terhadap Cean maka kesalahpahaman ini akan terus berlanjut.
Dan benar saja, Neska seakan menghindar dari pembahasan mengenai hal itu, sementara Rion sendiri juga tidak bisa mengungkapkan pokok permasalahannya sebab dia mengira Cean dan Neska sempat bertemu kembali waktu itu dan menduga jika hubungan mereka sudah jauh lebih baik saat ini.
__ADS_1
Rion tak mungkin memaksa Neska untuk bercerita padanya, kan? Maka, dia tidak tau jika Neska masih menganggap Cean bercanda akan ungkapan perasaannya waktu itu. Rion mengira permasalahan Cean dengan Neska sudah diselesaikan dengan baik.
Bersambung ....