
Hari pernikahan Neska dan Cean sudah semakin dekat. Keduanya kini disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang berurusan dengan momen spesial itu.
Yang pertama adalah mereka harus menyiapkan undangan. Membuat list siapa saja yang akan diundang dalam acara sakral tersebut.
Mereka juga melakukan fitting busana dan mendatangi beberapa tempat yang kiranya cocok untuk tempat resepsi pernikahan mereka.
Rencananya Cean dan Neska tidak mau pesta yang terlalu wah. Tema pernikahan mereka pun sudah disepakati, mereka lebih memilih untuk membuat pesta taman di pekarangan rumah keluarga Cean saja ketimbang mengadakan acara wah di ballroom hotel.
Selesai dengan list undangan, fitting baju, mengurus vendor, tempat dan catering, akhirnya sekarang mereka disibukkan dengan sesi foto prewedding.
Meski Neska sudah tidak se-amatir dulu saat menghadapi kamera sebab pengalaman menjadi BA di perusahaan Cean cukup membuatnya memiliki pengalaman akan hal itu, tapi untuk berpose bersama dengan lelakinya. Neska seolah kembali seperti pertama kali menjalani pemotretan.
Neska canggung apalagi pose yang diminta sang fotografer cukup intens menurut gadis itu. Cean sendiri juga tampak kaku, yang pertama karena dia tidak bisa menunjukkan kemesraannya pada Neska didepan kamera. Yang kedua, dia memang jarang sekali melajukan pemotretan semacam ini.
Hingga akhirnya, sesi foto itu berhasil dilakukan dengan berbagai tema. Di studio dengan pakaian formal bergaya retro, disebuah pantai dengan pakaian casual dan yang terakhir mereka berpose di danau yang dulu sempat mereka kunjungi--disana mereka berfoto dengan tema seakan sedang tamasya.
Neska sangat senang dengan hasil fotonya, apalagi Cean. Meski harus diakui jika itu sangat melelahkan bagi Cean yang sangat amatiran.
"Kakak cocok lho di foto begini. Kenapa gak jadi BA juga ya kayak aku dulu. Tampang Kakak itu ala-ala cover boy," kata Neska dengan senyum dikulumm.
Cean terkekeh mendengar pujian calon istrinya. Memang beberapa kali dia ditawari beberapa fotografer yang bekerja di perusahaannya agar sesekali Cean ikut berkecimpung dalam dunia pemotretan sekaligus memamerkan produk mereka yang beberapa juga dibuat khusus untuk pria. Seperti parfum, deodorant dan aftershave. Tapi, tentu Cean menolaknya dan meminta mereka mencari model yang memang berkualitas saja ketimbang dirinya yang asing dengan hal itu.
"Aku kan kerjanya bukan di bagian itu, Sayang."
Neska mengangguki ucapan Cean. "Tapi lihat. Ini foto kita bagus. Sesekali kakak juga harus coba berpose didepan kamera, siapa tau produknya malah makin laris karena yang jadi bintang iklan dan brand ambasador nya itu pemiliknya sendiri."
Cean hanya mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh. "Biarin aja itu jadi andil orang lain. Ntar perusahaan gak sanggup bayar gaji aku kalau merangkap jadi modelnya juga," katanya berkelakar.
Neska langsung mencubit gemas kedua pipi Cean yang bisa dikatakan tidak chubby itu, sebab dia tetap gemas dengan kepercayaan diri Cean yang terkadang melewati batas wajar.
Cean berlagak meringis padahal yang Neska lakukan padanya tidak menimbulkan efek sakit apapun untuk dirinya.
"Udah berani ya cubit-cubit aku. Nanti aku cium disini baru tau!" kata Cean berlagak mengancam Neska.
"Coba aja kalau berani." Dan ternyata Neska malah menantang pria itu.
"Sini kamu. Aku buktiin nih!" Cean mendekat pada Neska dan gadis itu malah berlarian.
Fotografer yang pandai menangkap momen, justru mengambil kesempatan itu untuk mengabadikan dalam bentuk foto. Dan ya, hasil jepretannya tampak sangat natural karena kejadian Cean dan Neska yang saling mengejar itu bukan hanya akting melainkan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
...***...
Hari ini Neska dan Cean akan mengirimkan surat undangan yang sudah berhasil di cetak. Kebetulan ada beberapa yang memang mereka titip pada jasa pengiriman. Tapi ada pula yang harus mereka antarkan secara langsung. Misal teman-teman baik mereka.
Ah iya, Neska juga mengundang Vanya, teman kuliahnya di Singapore. Dia juga mengundang Vita yang kini tinggal di Papua sebab Vita memang mengatakan akan berkunjung ke Jakarta. Neska mengundang mereka via telepon dan surat undangan dalam bentuk digital.
Selain itu, Neska juga mengikuti Cean yang mengirim undangan pada beberapa teman baiknya.
Mereka juga mencari keberadaan teman lama Neska alias tetangga-tetangga yang dulu satu Apartmen dengan mereka di gedung tua.
Pertama mereka mendapatkan alamat Yola yang baru. Mereka mendapat info dari seorang yang memang diminta Cean untuk melacak tempat tinggal Yola berdasarkan tempat kerja Yola dulu yakni di Bar.
"Kita ke rumah Kak Yola kan, hari ini?"
Cean mengangguk dalam posisinya yang menyetir mobil. Dia sudah mendengar dari Neska jika Yola adalah teman yang baik dan sering membantu Neska dalam hal keuangan dulu. Meski Cean sempat emosi karena Yola yang juga pernah mengajak Neska berkerja di Bar, tapi dia tau Yola tidak berniat menjerumuskan Neska waktu itu.
Mereka mendengar kabar jika Yola sudah menikah lagi dan melepas status janda nya dengan seorang duda anak satu.
"Neska?" Yola terkejut saat mendapati Neska didepan pintu rumah yang ditempatinya sekarang.
"Kak Yola?" Neska memeluk Yola kegirangan. Berapa tahun mereka tak bertemu. Neska merasa merindukan sosok itu.
"Kamu apa kabar? Aku lihat kamu lho jadi bintang iklan? Ya ampun kamu makin cantik aja sekarang."
Neska pun menjawab pertanyaan Yola dengan tak kalah semangatnya. Mereka melupakan Cean yang juga ada disana.
"Ya ampun sampai lupa, ayo, ayo masuk Nes!"
Yola mengajak Neska masuk dan disanalah dia tersadar jika gadis itu datang dengan seorang pria tampan yang wajahnya tampak familiar.
"Nes... dia ini kan?"
"Tetamren, Kak." Neska mengerlingkan matanya pada Yola, mengingat jika gelar itu dulu adalah Yola yang menyematkannya pada Cean yang menjadi tetangga Apartmen mereka yang terlihat sangat meresahkan kaum wanita.
"Astaga... iya, Mas Cean, kan?"
Yola makin semringah dan mengajak keduanya untuk segera memasuki rumah kecilnya yang sederhana namun sangat nyaman.
Mereka berbincang singkat dan Neska menyampaikan tujuan kedatangannya.
__ADS_1
"Jadi kalian mau menikah? Wah, selamat... aku seneng banget dengernya." Yola merasa ini adalah kabar yang sangat membahagiakan. Dia mendukung itu seratus persen.
"Aku sama suamiku pasti datang." Yola kembali berujar semangat 45.
Yola mengatakan suaminya sedang bekerja saat ini jadi tak ada dirumah. Neska juga sempat berkenalan dengan anak sambung Yola yang sangat gembul berusia 4 tahun. Namanya Mirza. Mirza langsung akrab dengan Neska.
"Kamu masih suka anak-anak ya Nes?" tanya Yola. Dia ingat dulu Neska sering menjadi teman Miko, anaknya Indah yang juga tinggal di gedung apartmen yang sama.
"Iya dong, Kak." Neska langsung teringat Miko dan ibunya. "Kak Indah sekarang tinggal dimana, Kak? Kak Dena juga? Aku mau sekalian undang mereka."
"Indah udah jauh, dia jadi TKI di Arab. Miko diasuh sama bukdenya. Itu sih yang aku denger terakhir kali."
Neska menganggukkan kepalanya. Kasihan juga Indah harus bekerja sampai jauh disana, tapi itu pasti dilakukan Indah untuk masa depan Miko yang lebih baik, pikirnya.
"... kalau Dena---" Yola tak melanjutkan kalimatnya, ucapannya menggantung di udara.
"Kak Dena kemana, Kak?"
Yola menunduk dalam. "Dia udah gak ada, dia kecelakaan beberapa tahun lalu. Aku denger sih, tabrak lari."
"Ya Allah," kata Neska yang spontan lesu dan bersedih. Dia cukup menyesal tidak bisa mengantarkan Dena ke tempat terakhirnya. Bagaimanapun, Dena juga merupakan Kakak yang baik bagi Neska dulunya dan sering mengajak Neska bekerja tambahan.
"Aku boleh minta alamat pemakamannya, Kak? Sekalian aku juga mau ziarah ke tempat almarhum Ayah dan Ibuku."
"Tentu aja boleh."
Yola seger memberikan alamat yang Neska mau. Meski itu berada di TPU yang berbeda dengan tempat pemakaman keluarga Neska tapi dia akan tetap berkunjung kesana nantinya.
Neska dan Cean sudah melewatkan hampir seharian untuk berbagi surat undangan. Pun mereka sudah melakukan ziarah ke makan orangtua Neska serta menyempatkan diri ke tempat pemakaman Dena. Syukurlah semuanya masih dalam kota yang sama.
"Kita makan dulu ya. Aku laper," kata Cean pada Neska.
Neska menyahuti dengan anggukan. Perutnya juga perlu diisi lagi sebab terakhir mereka makan tadi adalah saat sebelum mengunjungi kediaman Yola.
Mereka makan disebuah Restoran yang menyajikan makanan khas Nusantara. Duduk menunggu menu yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Cean?"
Neska dan Cean sontak menoleh pada sumber suara tersebut. Disana, mereka mendapati seorang wanita yang tampak cantik dengan dress berwarna peach.
__ADS_1
Neska tentu mengenali sosok wanita itu. Apalagi Cean yang sangat tahu siapa wanita yang kini ada didepannya dan menyapanya.
...Bersambung ......