
Seharian mereka menghabiskan waktu bersama di tempat hiburan itu. Tidak terhitung berapa banyak hal yang mereka bahas dan berapa kali mereka saling menertawakan. Rasanya semua beban mereka terlepas, seolah kembali ke masa-masa kecil dimana tidak memiliki masalah yang patut dipikirkan.
Terakhir, Neska mengajak Cean menonton pertunjukan yang ada disana, barulah mereka pulang disaat hari sudah beranjak malam.
"Nes?"
Neska yang hampir menekan panel kunci Apartmennya, kembali berbalik saat mendengar Cean memanggilnya.
"Besok aku udah balik ke Indonesia lagi."
Neska mengangguk, dia sudah mengetahui jika Cean datang kesini diwaktu sibuknya hanya untuk melihat kelulusan Neska saja. Jadi, Neska memahami hal itu.
"... sebelum aku pulang, kita ketemu dulu ya."
"Oke, pesawat kakak jam berapa?"
"Jam 7 pagi."
Kali ini Neska mengernyit. Kalau pesawat Cean sepagi itu, jam berapa mereka mau bertemu? Apa saat subuh? Begitulah pemikiran gadis itu.
"Aku jemput kamu jam 4, nanti."
"Hah? Jam 4? Itu terlalu subuh, Kak."
"Iya, gak apa-apa. Aku tunggu kamu disini lagi nanti jam 4 pagi." Cean tampak sangat serius saat mengucapkannya, membuat Neska akhirnya mengiyakan.
Tubuh pria itu maju beberapa langkah, mendekat pada gadisnya dan melabuhkan sebuah kecupan ringan dipuncak kepala Neska. Hal itu turut menyalurkan rasa hangat di sekujur tubuh Neska. Selama Neska mengenal Cean hingga menjalin hubungan sampai beberapa tahun ini, tindakan Cean memang lebih sering diluar perkiraan.
"Aku balik ke hotel dulu ya. Ingat, jam 4," kata Cean mewanti-wanti.
"I-iya, Kak." Neska gugup, untung saja dia tidak cegukan. Neska tau sekarang kenapa dia selalu begitu saat bersama Cean, karena pria itu yang paling mampu membuatnya gugup luar biasa. Cegukan Neska selalu muncul jika dia gugup, semacam Pinokio Syndrome.
Neska menatap pada punggung Cean yang berlalu, sesekali pria itu menoleh juga untuk memastikan Neska benar-benar memasuki unit apartmennya.
Pukul 4 pagi, Cean benar-benar datang mengunjungi Apartmen Neska. Dia menekan bel sambil sesekali menguap.
"Kak?" Neska membuka pintu dan mendapati wajah Cean yang tampak masih mengantuk.
"Tuh, kan masih ngantuk, kenapa dipaksain sih, pake acara janjian jam 4 subuh gini?"
"Karena aku gak mau buang-buang waktu lagi."
"Buang waktu soal?"
Cean tersenyum tipis. "Pakai jaket kamu. Diluar lumayan dingin," katanya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Neska menurut, dia mengambil jaket yang memang sudah dia siapkan didekat sofa.
"Kita mau kemana, sih, kak?"
Cean menatapi jari jemarinya yang bertauutan dengan jari gadis itu. Dia hanya menjawab Neska dengan senyuman penuh arti.
Mobil Cean mulai melaju, dengan kecepatan penuh sebab jalanan memang senyap. Neska tidak tau Cean mau membawanya kemana. Pria ini sulit ditebak. Neska jadi ingat jika dulu Cean pernah mengajaknya ke tepi danau. Itu beberapa tahun yang lalu dan disana menjadi tempat pertama kali mereka sepakat untuk menjalin hubungan.
Malam ini pun demikian, tak jauh berbeda sebab laki-laki itu tidak mau mengatakan kemana tujuannya.
Tapi Neska selalu sama. Termasuk rasa yang dia punya untuk lelakinya. Dia percaya dan selalu yakin jika Cean tak akan menyakitinya sehingga dia tetap duduk tenang disisi Cean sambil sesekali mengikuti lirik lagu yang Cean putar lewat audio di mobilnya.
Sampai tibalah mereka disebuah tempat yang Neska pun tidak tau apa namanya.
Disana, terdapat jalan setapak yang kiri kanannya sudah dijejer lilin-lilin kecil yang menyala. Cean mengajak Neska menyusuri jalan itu. Cahaya yang melingkupi mereka hanya berdasarkan penerangan lilin. Cukup gelap dan remang bagi Neska.
Sampai akhirnya cahaya lilin itu menunjukkan satu tujuan yang seperti dua kursi disusun berhadap-hadapan, ditengahnya ada sebuah meja dengan vas yang berisikan buket bunga mawar merah.
Neska tercengang, dia menutup mulutnya yang ternganga karena speechless. Tak bisa berkata-kata, Neska justru dihadapkan pada sebuah layar besar yang terbentang. Layar itu terhubung dengan proyektor yang bisa menampilkan banyak gambar seolah menonton film.
Neska terkesima. Apalagi saat melihat begitu banyak tulisan disana. Tulisan itu bergerak seiring Neska membacanya.
Kamu adalah satu hal yang dulu tidak ada dalam hidupku.
Kamu tiba-tiba hadir dan mengusik perhatianku.
Aku tidak tau apa jadinya tanpa kamu.
Aku tidak pernah lelah menghitung hari untuk bersamamu.
Maukah kamu menjadi separuh dari diriku?
Neska menatap Cean bergantian dengan layar didepan sana. Tiba-tiba suara musik romantis yang diputar terdengar mengalun lembut.
Neska menatap Cean dengan rasa haru. Apakah ini saatnya? Apakah ini saat dimana Cean akan melamarnya.
Lalu, Neska kembali melihat pada layar besar itu. Disana menunjukkan foto-foto Neska yang entah kapan dipotret oleh Cean. Angel foto itu memang kebanyakan adalah Neska yang tidak sadar kamera. Cean bahkan tidak pernah menceritakan padanya jika dia memiliki hobi memotret Neska seperti itu.
Gambar-gambar Neska terus dipertunjukkan secara bergantian, berlanjut dengan foto-foto kebersamaan mereka berdua. Neska sangat tersentuh. Dia meneteskan airmata bahagia. Bagaimana bisa Cean memaknai setiap momen yang mereka ciptakan.
Di foto itu ada saat Neska sedang belajar, serius dalam kelasnya saat berkuliah. Ada saat Neska makan mie dan ada pula saat Neska memasak steak tempe yang kini menjadi kesukaan Cean.
Lalu foto yang menunjukkan kebersamaan mereka adalah saat Cean dan Neska terlibat dalam ruang meeting yang sama ketika bekerja. Saat Cean memperhatikan Neska di make-up, saat mereka jalan-jalan berdua di banyak tempat, lalu yang terkahir adalah saat Neska menerima toga kelulusannya.
Sebelum Neska bisa berucap, sebuah video disana kembali diputar. Itu adalah saat Neska yang lagi-lagi cegukan. Sepertinya itu diambil Cean lewat rekam layar ponsel ketika mereka melakukan video call.
__ADS_1
"Kakak?" Neska benar-benar merasa seperti gadis yang sangat dipedulikan. Dia ingin memeluk Cean saat ini juga sebab matanya terasa panas karena rasa haru.
Cean menyongsong tubuh Neska, membawanya dalam dekapan. Hanya sesaat karena kemudian pria itu kembali meminta Neska menyaksikan pada layar besar tersebut sampai tayangannya benar-benar tuntas.
Sampai akhirnya, didetik-detik akhir video itu, Neska membaca satu kalimat sakral yang terselip disana.
"Aneska Putri, Will you marry me?"
Lagi-lagi Neska tertegun, dia mendongak pada Cean dan langsung menyahutnya dengan anggukan.
"Artinya?" tanya Cean memastikan.
"Tentu aja aku mau, Kak!" Neska melompat ke dalam dekapan Cean. Dia merasa sangat berharga dan telah menemuka. pria yang tepat yang paling dia cintai dan sangat mencintainya.
"Thank," ucap Cean berterima kasih karena kali ini lamarannya benar-benar diterima Neska dan tidak seperti yang sudah-sudah. Ingat kan dulu Neska selalu memintanya menunggu sampai gadis itu lulus kuliah. Jadi, Cean benar-benar melamar Neska saat gadis itu dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude.
Cean membuat momen lamaran romantis ini karena dia ingat Neska pernah mengatakan bahwa ajakan nikahnya selalu seperti itu, seolah main-main dan tidak ada momen romantisnya sama sekali.
Jadi, kali ini Cean ingin membuktikan pada gadis itu jika dia bisa bertindak seperti yang Neska bayangkan jika dia benar-benar telah berniat untuk membuktikan keseriusannya.
Cean memeluk Neska sebentar, lalu mengajaknya duduk di meja yang terdapat bunga mawar tadi.
"Aku gak nyangka kakak bisa seperti ini?"
Cean mengulumm senyum mendengar ucapan Neska yang seakan tengah memuji tindakan dan kreatifitasnya menciptakan hal seperti ini.
"Aku juga bisa romantis, Sayang." Cean berujar dengan sangat lembut. Dia mengelus punggung tangan Neska dan berharap gadis itu mau menerima pemberiannya.
"Nes, jika tadi kamu sudah membaca tulisan itu maka sekarang aku akan menyatakannya langsung sama kamu."
Neska tersenyum sambil menitikkan airmata yang sejak tadi ditahannya. Akhirnya dia bisa menangis karena rasa bahagia. Bukan menangis tersedu-sedu seperti dulu yang disebabkan karena masalah dan kepedihan hidup.
"Aku mau menikahi kamu, menjadikan kamu istriku... menjadikan kamu pendamping hidup dan matiku. Kamu bersedia, kan?" tutur Cean dengan sangat lembut dan serius menatap ke dalam panca indera milik gadisnya.
"Iya, Kak. Aku mau. Aku mau ..."
Meski tadi Cean sudah mendengar jawaban yang sama dari Neska tapi mendengar penerimaan yang memang diharapkannya itu membuat Cean senang bukan kepalang. Dia seperti habis memenangkan lotere yang berhadiah fantastis.
Lantas, Cean pun sedikit bergerak untuk meraih sesuatu dalam sakunya. Kemudian, Cean mengambil posisi setengah berlutut dan memasangkan cincin di jari manis sebelah kanan milik Neska karena di jemari kiri sudah terdapat cincin lain yang dulu sempat dia berikan juga pada gadis itu.
"Makasih, makasih kamu udah nerima aku. Aku gak mau menjanjikan hidup pernikahan kita kedepannya akan selalu bahagia dan baik-baik aja. Tapi aku akan membuktikan kalau aku adalah lelaki yang tepat untuk kamu yang tidak akan gentar membersamai kamu dalam kondisi apapun." Cean berujar sembari menghapus jejak-jejak airmata di pipi Neska.
Neska mengangguk. Dia sulit berkata-kata. Yang bisa keluar dari mulutnya hanya kata-kata untuk menuruti perkataan Cean seolah dia setuju dengan apa yang memang Cean harapkan.
Cean mengikis jarak diantara mereka lalu mengecup bibir Neska dengan hangat.
__ADS_1
...Bersambung ......