TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
37. Definisi


__ADS_3

Jika di dunia ini ada istilah pemaksaan, apa permintaan Rion termasuk kedalam hal itu? Bukankah Neska sudah jujur kepadanya, tapi kenapa Rion tetap bersikukuh untuk mempertahankan hubungannya bersama Neska?


Diawal, bahkan pemuda itu meminta agar Neska tidak mengutarakan isi hati yang akan membuatnya sakit hati. Tapi, tidakkah Rion berpikir bahwa dengan Rion memaksakan hubungan mereka--yang berat sebelah--juga sama halnya membuat tekanan pada diri Neska sendiri?


Jujur, Neska sendiri merasa syok kendati dia tau maksud Rion adalah mempertahankannya.


"Kamu beneran sayang sama aku?"


Setelah hening yang cukup lama merajai diantara mereka, akhirnya Neska kembali bersuara.


Rion mengangguk mantap. "Iya, Nes. Aku sayang banget sama kamu."


"Cinta?" tanya Neska lagi.


Kembali Rion mengangguk, "Kalau aku gak cinta sama kamu, aku gak akan mempertahankan kamu segininya, Nes."


"Terus, kamu tau gak definisi dari mencintai itu apa?"


Kali ini, Rion tak menyahut, dia menatap ke netra Neska dengan tatapan serius namun ada keheranan disana akan pertanyaan sang gadis yang sekali ini. Kenapa Neska harus mempertanyakan definisi cinta padanya? Apa Neska meragukan perasaannya sekarang.


"Rion, mencintai itu gak harus memiliki dan hari ini aku udah berusaha jujur sama kamu." Neska menunduk, menatap ke arah flatshoes yang dia kenakan. "Cinta itu juga gak perlu memaksakan ... karena kalau kamu tetap kekeuh seperti ini, sama dengan kamu tidak memikirkan kebahagiaan aku dan hanya mementingkan diri kamu sendiri, sementara hal itu justru bertentangan dengan definisi mencintai yang sebenarnya," jelasnya.


"Neska? Jadi, maksud kamu ... aku sedang memaksakan kamu, begitu?" Ada sorot kecewa dimata Rion yang jelas kentara, tapi Neska yang masih menunduk tak dapat melihat itu.


"Hmm." Neska mengangguk-anggukkan kepalanya. "Menurut aku begitu, Ri. Tapi gak tau menurut kamu gimana? Apa kamu rasa ini semua udah bener?" tanyanya balik.


"Aku udah bilang kan, aku gak peduli. Termasuk hal ini." Rion menekankan kata-katanya.


"Rion, itu artinya kamu juga gak peduli sama perasaan aku, dong. Kamu egois dan hanya mementingkan perasaan kamu," tukas Neska menohok.


Rion merasa sangat terpojokkan dengan ucapan gadisnya. Dadanya terasa diremass kuat. Nyeri dan sakit berpadu menjadi satu.


"Baik." Rion menoleh pada Neska yang juga tengah menatapnya sekarang. "Jadi, sekarang kamu mau gimana? Aku bakal turuti kemauan kamu, asal kamu gak bilang aku egois dan mementingkan diri aku sendiri."


"Aku mau mulai sekarang kita saling membebaskan."


Mata Rion sontak terbelalak. "Maksud kamu ... putus?" ujarnya memperjelas perkataan Neska yang ambigu.


"Iya." Neska manggut-manggut. "Itu lebih baik daripada kamu terus berharap sama aku tapi---"


Rion berdiri dari duduknya, sedikit menyentakkan tubuh membuat Neska menghentikan kalimat. Pemuda itu berjalan sedikit menjauh ke depan dari tempat duduk yang tadinya ia tempati.


"Kasih aku kesempatan, Nes. Buat bisa luluhin hati kamu." Rion menatap lurus ke depan, angin sepoi-sepoi yang terasa menerpa tidak bisa mendinginkan dirinya akibat perkataan Neska ini


"Aku gak bisa, Rion. Ini bakal buat kamu makin sakit hati karena kenyataannya aku gak bisa membuka hati untuk kamu. Yang kita jalani selama ini percuma aja."


Rion tertawa getir. "Tapi bagi aku, yang kita jalani selama ini sangat berarti, Nes," lirihnya.


"Maaf, maafin aku. Karena itulah aku gak mau menyakiti kamu terus-terusan. Lebih baik semuanya dihentikan."

__ADS_1


Rion memejamkan matanya rapat. Dia tidak menyangka jika secepat ini Neska mau memutuskan hubungan mereka. Niat awalnya yang ingin merefresh pikiran-- justru jadi tekanan, karena pada akhirnya dihari yang sama Neska malah mau mengakhiri semuanya.


"Terus, setelah ini apa, Nes?" Rion menoleh pada Neska di belakang tubuhnya.


"Kita bisa temenan kayak dulu. Maaf."


"Bukan itu. Apa setelah kita putus kamu mau terus berharap sama Kak Cean?"


Neska menggeleng lemah. "Aku gak tau. Aku udah coba melupakan dia dengan berbagai cara. Dan setelah ini, aku mau fokus kuliah tanpa menjalin hubungan apapun dengan siapapun."


"Nes?"


"Aku gak mau membuat orang lain sakit hati lagi, Rion."


"Kamu yang sebenarnya gak mau buka hati kamu," gumam Rion putus asa.


"Sekali lagi maaf, aku udah berusaha. Tapi, aku gak bisa."


...***...


Cean berjalan mondar-mandir di koridor Apartmen Neska. Sudah lebih dari satu jam dia disana dan tidak mendapati tanda-tanda Neska berada ditempat itu ataupun akan segera pulang.


Disaat Cean sudah putus asa, dari arah berlawanan dia merasakan langkah seseorang disana, refleks dia menoleh dan orang itu pun menghentikan langkah yang tadinya terdengar terburu-buru.


Mereka saling bertatapan. Dari jarak kurang dari dua meter. Cukup jauh memang, tapi Neska seakan terkunci pada tatapan pemuda itu. Kakinya membeku ditempat dan tidak bisa beranjak.


Neska tampak semakin cantik dan membuat Cean ingin sekali merengkuhnya.


Dengan tenang dan perlahan, Cean mulai menghampiri posisi Neska dimana gadis itu masih tidak bergerak disana.


Sampai Cean benar-benar sangat dekat dengan Neska dan hanya menyisakan jarak tiga puluh centimeter. Sangking antusiasnya dengan kepulangan Neska, Cean hampir saja benar-benar membawa gadis itu dalam pelukan, tapi buru-buru dia mengenyahkan niat itu. Dia takut kelakuannya justru membuat Neska syok atau bahkan menyakiti perasaan sang gadis.


Cean harus dapat menahannya. Ya, tahan, tahan. Begitulah isi kepalanya.


"Kamu kemana aja? Aku udah nunggu kamu satu jam disini."


Neska tertegun, matanya berkedip-kedip gelisah. Apalagi suara Cean benar-benar meluluhlantakkan perasaannya. Dia menelan saliva beberapa kali dalam hitungan detik.


"Abis pergi sama Rion, ya?" tebak Cean.


Sepertinya pemuda ini sedang tebar pesona yang bagaikan racun bagi Neska, sebab keadaan ini begitu menyiksa gadis itu. Ingin rasanya Neska mundur beberapa langkah, setidaknya tetap memberi jarak aman bagi mereka, tapi kakinya seakan terpasak disana dan tak dapat bergerak. Begitupun dengan lidahnya, kelu, tak dapat menyahut.


"Nes? Kamu ... baik-baik aja, kan?" Sorot mata Cean tampak khawatir dan mencari jawaban dalam netra bening sang gadis.


Neska berusaha menguatkan diri, dia menghela nafas sepenuh dada, kemudian mengangguk singkat dengan sangat canggung.


Cean gemas sendiri melihat ekspresi gadis ini. Dia tidak menyangka ternyata dapat berada sedekat ini dengan Neska dan gadis itu tidak bisa menolaknya seakan terhipnotis olehnya.


Cean bisa menyimpulkan jika Neska masih amat menyukainya. Apa dia sepercaya diri itu? Tentu saja. Coba saja lihat wajah Neska sekarang, rona di pipinya terlihat memerah karena Cean dekati. Cean semakin optimis mendapatkannya.

__ADS_1


"K-kak, aku ... mau ... lewat." Neska berkata dengan terputus-putus, seperti baru saja terkena serangan panik.


Cean menipiskan bibir, dia sedikit menggeser posisi untuk memberikan Neska ruang.


Jadi, begini ya wajah gadis itu jika gugup? Atau kedekatannya dengan Neska ini membuat sang gadis sulit bernafas barangkali?


"Nes, aku mau main ke Apartmen kamu. Boleh?"


Neska spontan menggeleng cepat, lantas menundukkan kepala kemudian.


"Kenapa?" tanya Cean. Meski dia sudah menggeser posisi tapi jarak mereka justru semakin dekat, karena Cean tidak berdiri dihadapan Neska lagi, melainkan pindah ke sampingnya.


Neska kembali menghela nafas dalam-dalam. "Ini udah malam, Kak," jawabnya sudah mulai bisa menguasai keadaan.


"Baru jam 7," jawab Cean dengan tenangnya.


"Iya, tapi tetap aja udah malam."


"Terus?"


"Aku gak nerima tamu malam-malam. Apalagi cowok." Suara Neska bergetar mengatakannya. Dia gugup luar biasa. Berapa lama dia dan Cean tidak sedekat ini? Bahkan mereka baru bicara banyak kata lewat panggilan seluler sore kemarin, kan? Itupun bukan bicara yang serius.


"Jadi, aku gak boleh--"


"Gak," sela Neska cepat. Dia berjalan cepat, meninggalkan Cean dan menuju pintu unit apartmennya.


"Maafin aku, Nes."


Ucapan Cean itu membuat Neska urung menekan tombol di panel pintu unitnya.


"Maaf kalau selama ini aku terlalu naif dan menganggap kamu seperti adik aku sendiri."


Sekali lagi Neska tertegun karena ucapan pemuda ini.


"Apa kamu gak mau tau maksud aku datang kesini dan menunggui kamu?"


Neska masih saja diam.


"... kamu gak nanya kenapa aku sampai rela nungguin kamu disini satu jam lebih?"


Neska tetap tak menyahut seolah dia membiarkan saja Cean untuk berujar lebih lanjut.


"Aku ... entah sejak kapan udah melupakan kamu, Nes. Melupakan kamu yang adalah sosok adik perempuanku. Dan sejak aku melakukan itu tanpa ku sadari, aku mulai merasa kehilangan kamu. Selanjutnya, aku ... menyesal pernah menganggap kamu sebagai adik. Kamu tau kenapa?"


Neska sontak menoleh pada Cean di belakang sana.


"... karena aku mulai menyukai kamu sebagai seorang gadis, Nes."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2