
Cean mengemudikan mobilnya sembari sesekali melirik Neska yang duduk diam disisinya. Cean merasa tak enak hati, apalagi dia takut Neska termakan ucapan Jelita tadi yang mencoba memprovokasi mereka.
"Nes?"
Gadis itu menoleh pada Cean sebab sejak tadi dia menatap ke jalanan melalui jendela mobil.
"Soal ucapan Jelita yang terakhir tadi---"
"Aku tau, kok, Kak," sergah Neska.
"Tau apa? Kamu gak mikir kalau yang dia bilang itu benar, kan? Aku gak pernah seperti itu, baik sama dia maupun sama gadis manapun."
Neska hanya membalas ucapan Cean dengan senyum tipis.
"Aku minta maaf ya, karena gak sengaja ketemu dia kita jadi gagal makan disana tadi."
"Gak apa-apa, Kak."
Cean tidak tau apa yang Neska pikirkan sekarang. Yang jelas, gadis itu tampak banyak diam sejak mereka bertemu dengan Jelita tadi.
"Kamu marah, ya? Kamu percaya sama aku, kan? Kalau aku gak mungkin---"
"Udah, Kak. Gak usah dibahas lagi, ya. Aku tau Kak Jelita begitu karena dia merasa terpojok. Aku yang gak sebanding dengan dia malah gantiin posisinya jadi BA."
"Kamu jangan merendahkan diri kayak gitu, Nes. Kamu jauh lebih baik dari dia."
"Makasih, Kak." Neska menganggap ujaran Cean barusan hanyalah sebuah penghiburan untuk tidak melukai hatinya.
Alih-alih memikirkan ucapan Jelita mengenai wanita itu yang mengabiskan berhari-hari tidur dengan Cean, Neska justru memikirkan soal kwalitas dirinya yang memang tidak pantas untuk menggantikan seorang Jelita Dwinaya.
Soal hubungan Jelita dan Cean dulunya, Neska tidak mau terlalu ingin tahu karena jika dia mencampuri, Neska takut semakin sakit hati nantinya.
Neska menunjuk sebuah tempat makan pinggir jalan. Sudah lama dia tidak makan ditempat seperti itu. Dia mau memanfaatkan kepulangannya kali ini dengan makan di pinggiran. Dia merindukan saat dimana dulunya dia sering makan makanan seperti itu. Selama di Singapore, atau lebih tepatnya selama mengenal Rion dan Sheila, Neska jarang makan di tempat yang demikian.
"Aku mau makan disitu, Kak." Neska merujuk warung soto dengan tenda biru yang khas.
"Serius?" tanya Cean yang mulai melambatkan laju mobilnya.
Neska mengangguk. Lantas, Cean segera memarkirkan mobilnya di bahu jalan yang lengang.
"Bu, saya pesan nasi soto nya dua, sama es teh manisnya dua juga," kata Neska pada penjual disana.
"Siap, Neng."
Cean hanya diam, memperhatikan Neska yang tidak sekalipun mau menatap padanya. Gadis itu tampak tak acuh, hanya sesekali melirik Cean itupun saat Cean memanggilnya.
"Tau gak, sekarang ada yang lucu banget," celetuk Cean pada Neska yang diam menunggu makanannya siap untuk disajikan.
__ADS_1
"Apa?" sahut Neska tak antusias.
"Kamu. Kamu yang lucu."
"Aku?" ulang Neska. Alisnya terangkat sebab heran dengan kalimat Cean.
"Iya, kamu lucu banget kalau udah cemburu."
"Hah?" Neska melongo. "Siapa juga yang cemburu," sambungnya berlagak tak peduli.
Cean terkekeh sekarang. "Yakin gak cemburu? Kamu begini sejak Jelita bilang kalau aku sama dia---"
"Stop, Kak! Aku udah bilang gak mau bahas itu, kan?"
Cean mengangguk-anggukan kepalanya namun masih mengulumm senyum yang sama.
"Aku begini karena aku lagi memikirkan ucapan Kak Jelita yang bilang aku gak cocok menggantikan posisi dia. Aku memikirkan kwalitas diriku sendiri yang yah ... memang gak setara sama dia."
"Yakin cuma mikirin itu?" goda Cean. "Bukannya karena cemburu juga?" tanyanya.
"Kan udah aku bilang tadi, aku gak memikirkan soal hubungan kalian. Aku gak mau tau juga," katanya acuh tak acuh.
Cean sedikit bergeser saat seorang ibu-ibu menyajikan makanan pesanan mereka ke atas meja. Dia menatapi Neska yang kini menyedott es teh manis menggunakan sedotann plastik dihadapannya.
"Kamu gak mau tau karena kamu takut makin cemburu, kan?" Cean masih saja menyambung hal yang sempat terjeda tadi.
"Iya," jawab Cean dengan menahan geli. Dia mau mendengar Neska mengaku soal rasa cemburunya. Dia tak suka Neska menutupi perasaan itu.
"Ya, ya, ya, aku cemburu sama dia. Tapi bukan karena kakak, aku cemburu karena dia punya skill yang pasti jauh diatas aku. Cemburu bukan berarti iri ya. Aku cemburu karena mau memiliki karir seperti dia, kalau bisa lebih dari dia."
Cean tertawa. "Kamu udah buktiin kalau kamu jauh lebih baik dari dia kok."
"Masa? Kapan aku buktiinnya?" tanya Neska tak paham.
"Ya, sejak kamu udah jadi pacarku. Itu tandanya kamu udah membuktikan kalau kamu yang terbaik, makanya aku jadikan kamu pacar."
Neska manggut-manggut, dia mulai menyendok makanannya sekarang.
"Jadi, kalau udah jadi pacar kakak berarti itu yang terbaik kan, ya? Terus, mantan-mantan pacar kakak yang dulu juga gitu dong? Mereka semua terbaik," sarkas Neska.
Sekarang Cean merasa jika Neska tengah menyindirnya. Ah, sepertinya dia salah bicara tadi.
"Gak gitu, Nes. Kamu yang terbaik, kan kamu yang jadi calon istri aku. Kalo mantan-mantan yang dulu enggak pernah aku ajakin menikah, Sayang." Cean menggenggam tangan Neska yang tidak memegang apapun. "Jangan marah lagi, ya. Aku tau kok kamu marah. Percaya sama aku, aku gak seperti yang dikatakan Jelita. Jangankan tidur berhari-hari sama dia. Melihat dia pemotretan aja enggak pernah," paparnya terus terang.
Neska hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan samar. Sebenarnya dia geli melihat tingkah Cean yang berusaha meyakinkannya agar dia tidak marah. Padahal, Neska sendiri tidak mungkin menelan bulat-bulat ucapan Jelita itu-- meski harus diakui bahwa saat mendengarnya tadi--cukup membuat hati Neska memanas.
"Udah, deh. Sekarang Kakak makan sotonya. Habiskan, biar aku enggak marah lagi," kata Neska mencoba mengalah.
__ADS_1
"Tuh, kan bener, jadi tadi kamu memang marah."
Neska menyengir. "Sedikit," akuinya.
"Tapi kamu percaya sama aku, kan?"
Neska mengangguk-anggukkan kepala sembari menikmati makanannya.
...***...
Jelita kesal sendiri karena niatnya memprovokasi BA baru bernama Aneska itu harus gagal total. Malah dia yang ditinggalkan Neska dan Cean di Restoran.
Sebenarnya Jelita bukan kebetulan berada disana. Sesudah dia menonton konferensi pers di televisi pagi menjelang siang tadi--seorang rekannya mengiriminya pesan bahwa Cean sedang makan di restoran yang dekat dengan kantor pria itu.
Disanalah Jelita ingin memberi Cean teguran atau minimal dapat menyinggung pria itu terkait dirinya yang digantikan oleh model ingusan yang sepertinya tak berbakat sama sekali. Jelita meremehkan gadis itu sejak tau jika Neska yang menjadi penggantinya.
Sayangnya, sesampai disana Jelita justru diabaikan oleh Cean. Belum lagi saat dia menyadari jika pemuda itu hendak makan siang berdua dengan BA baru tersebut yang tak lain adalah Neska.
Disanalah hati Jelita geram. Sedangkan dia sudah seringkali mengajak Cean jalan berdua tanpa urusan pekerjaan, tapi pemuda itu tidak pernah menggubrisnya.
Bahkan ketika Jelita bermurah hati hingga menjatuhkan harga diri didepan Cean, laki-laki itu juga langsung menolaknya habis-habisan seolah tubuhnya yang bak gitar spanyol itu tidak membuat Cean tergiur sama sekali.
Tapi sekarang apa? Kenyataannya Jelita malah melihat Cean mau untuk makan bersama dengan bocah ingusan itu? Rasanya Jelita kalah telak dari Neska, tapi dia masih mau menyangkal hal itu. Dia selalu meyakini bahwa dirinya lah yang terbaik.
"Hah, bisa-bisanya Pak Cean mau jalan dan makan berdua dengan BA baru itu. Waktu aku yang mengajaknya dia tidak mau. Apa kurangnya aku?" Jelita merasa gusar. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Bukan cuma posisinya yang digantikan oleh Neska, tapi gadis itu juga mendapat jackpot karena bisa mengajak Cean keluar bersamanya.
"Pasti ada yang tidak beres. Apa dia menggunakan dukun?" Jelita menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Tidak mungkin, di zaman sekarang itu terdengar mustahil," lanjutnya berdialog pada dirinya sendiri.
Jelita mondar-mandir. Dia memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan gadis ingusan itu yang bahkan tidak selevel dengannya.
Jika saja yang menggantikan Jelita adalah model ternama juga yang adalah salah satu teman sejawatnya di dunia model dan artis, mungkin Jelita tak segamang ini, tapi karena ini Neska yang wajahnya tidak familiar di layar kaca justru membuat Jelita geram sendiri.
"Gadis itu sama sekali tidak layak menggantikan aku. Dia tidak berkelas sama sekali. Aku akan memikirkan cara untuk menjatuhkannya. Enak saja dia mau terkenal dengan cara instan."
Jelita mulai menyusun rencana liciknya. Dia terbiasa diatas. Dia tidak mau kalah oleh gadis seperti Neska.
"Dia juga sudah menggoda Pak Cean. Apa selera Pak Cean gadis ingusan seperti dia? Benar-benar diluar prediksi."
Jelita merasa percaya diri bahwa dia jauh lebih segala-galanya dari Neska. Tapi dia melupakan yang paling utama yaitu attitude diri. Per se tan dengan itu, Jelita sudah lama tak menggunakannya sejak dia mau meraih sebuah pencapaian.
...Bersambung ......
Nah, othor up lagi. jangan lupa tinggalkan komentarnya yaa🥰
Mampir juga di novel Aura.
DIJEBAK DI MALAM PENGANTIN. udah bab 13🙏
__ADS_1