TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
7. Saingan?


__ADS_3

Sejak diberi wejangan oleh Marko, sedikit banyak Cean jadi memikirkan saran dari sahabatnya itu.


Akan tetapi, untuk meninggalkan Wenda saat ini juga, Cean belum bisa melakukannya. Bukan karena dia secinta itu pada Wenda, tapi dia masih mau memikirkannya secara matang.


"Denger-denger, Perusahaan Delmindo bakal buka usaha baru di bidang kosmetik dan fashion juga, lho. Ini bakal jadi saingan baru buat perusahaan kita."


Tanpa sengaja, Cean mendengar pembicaraan salah seorang karyawannya. Ia mengernyit sekejap, namun dia tidak mau desas-desus seperti ini marak tanpa ada fakta yang akurat.


"Alika?"


"Ya, Pak?" Resepsionis yang tadi sedang menelepon itu-- langsung sigap memutus panggilan saat menyadari CEO perusahaan mereka telah datang. Dia tidak tau jika tadi Cean sempat mendengar percakapannya.


Cean berpikir akan menanyakan hal ini pada Marko saja, kalau dia bertanya pada Alika, sama saja dengan dia memperbesar gosip tersebut.


"Ada yang mencari saya dua hari ini?" tanya Cean. Akhirnya dia menanyakan hal lain pada sang resepsionis kantor.


"Ng... ada, Pak."


"Siapa?"


"Seorang pria. Dia ingin bertemu dengan CEO disini. Dia juga menanyakan apa benar CEO disini telah digantikan."


"Lalu, kamu jawab apa?"


Cean merasa cukup heran dengan hal ini, kenapa ada yang bertanya hal seperti ini-- bersamaan dengan isu kebangkrutannya. Apa memang ada yang mau mengecek tentang kebenaran hal itu?


"Saya bilang, CEO perusahaan sedang di luar kota. Dan memang CEO disini diganti oleh orang yang lebih berkompeten."


Cean mematut senyum puas. Dia tau, Alika mengerti pesan yang sudah dia sampaikan tempo hari. Lagipula, Cean tau yang mencarinya ini pasti bukan rekan bisnisnya, sebab jika itu partnernya--orang itu akan menghubungi Marko--bukan ke resepsionis kantor.


"Thanks," kata Cean sambil berlalu. Soal pembicaraan Alika yang sempat Cean dengar tadi--dia akan memastikannya pada Marko setelah ini.


Delmindo Corp. adalah perusahaan yang bergerak di bidang makanan frozen. Perusahaan itu cukup terkenal. Cean tidak takut memiliki saingan baru dalam bisnis keluarganya, hanya saja dia cukup terkejut karena itu terdengar lari dari jalur.


Yah, mungkin Delmindo ingin mengepakkan sayap lebih lebar lagi dan menjangkau dunia kecantikan. Itulah pemikiran positif yang terlintas dalam benak Cean.


Perusahaan yang dipegang Cean sendiri-- memang bergerak dalam bisnis kecantikan. Perusahaan induk ada di Singapore dan beberapa Pabrik tersebar hampir di seluruh Asia. Perusahaan itu memang sudah turun-temurun menjadi produsen kosmetik.


Cean memang tidak merintis dari bawah, sebab dia hanya menikmati pekerjaan yang saat ini dilimpahkan kepadanya. Akan tetapi, Cean memiliki tanggung jawab yang besar di usianya yang belum genap 26 tahun.


Untuk hal inilah, Cean mengerti kenapa dulu Papanya menghindar dan lebih memilih mengejar cita-cita menjadi Arsitek. Tapi, Cean tak merasa terbebani karena dunia bisnis memang seperti ditakdirkan ada dalam dirinya.


"Jadi, kau dengar Delmindo mau buka usaha kosmetik dan fashion?" tanya Marko saat keduanya bertemu di sebuah Cafe di siang harinya.


"Hmm," sahut Cean. Dia menyeruput kopi yang tadi ia pesan.


"Aku memang dengar anak pemilik perusahaan itu tinggal di Indonesia. Mungkin mereka memang akan menjadi saingan buat perusahaan kita dengan membuat brand yang baru."


Cean mengendikkan bahu acuh tak acuh. Baginya, hal semacam ini sangatlah biasa. Banyak yang mau coba-coba memulai bisnis baru tapi hanya satu dua brand yang akan bertahan itupun jika menawarkan kwalitas dan hasil yang benar-benar memuaskan konsumen. Sisanya, banyak yang jatuh sebelum brand nya di kenal khalayak.

__ADS_1


"Ah, iya, brand ambasador untuk produk lotion terbaru kita udah dapat belum?" tanya Cean, dia ingin tau hasil rapat pagi kemarin, sebab dia tak bisa hadir karena mengunjungi Wenda di Rumah Sakit.


Marko menggeleng. "Rencananya kita mau ngegaet Jelita, tapi susah, Bro!" jelasnya.


"Jelita?"


"Hmm, Jelita, pemenang top model 2022, kemarin. Dia salah satu kandidat yang mau kita ajakin kerja sama buat jadi bintang iklan plus brand ambasador lotion terbaru kita."


"Susahnya dimana? Harusnya dia mau, kan? Merk kita bukan brand yang baru dibuat kemarin sore, Ko."


"Aku udah minta Santi buat nge-keep dia, tentu dengan bayaran yang fantastis. Tapi, dia nolak dengan alasan yang gak jelas. Pake bilang jadwalnya padat banget lagi. Anj*r, kan?"


"Jangan suruh Santi lagi kalo gitu, mungkin dia mau kau yang turun tangan."


"Hhh ..." Marko menghela nafas berat. "Okelah, kali ini aku coba tangani ini, kalau gak berhasil juga kau yang harus membujuk dia ya," usul Marko membuat kesepakatan.


"Oke, pake jurus tebar pesona mu, Ko." Cean tersenyum tengil dan sekali lagi Marko mendengkus keras.


...~~~...


Hari ini Aneska ada job untuk membantu Dena yang bekerja disalah satu Garden Organizer. Dena kekurangan orang untuk membantunya membenahi taman sebuah rumah mewah, dia meminta bantuan Neska sepulang gadis itu sekolah. Tentu saja tawaran itu tidak ditolak oleh Neska.


"Ini rumahnya, kak?" tanya Neska yang memandang bangunan besar di hadapannya. Dena bahkan menjemput Neska dari sekolahnya.


"Iya, Nes. Lo bantuin gue sama rekan-rekan yang lain hari ini. Mau kan?"


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama, satu mobil lagi tiba didekat mereka. Mobil itu diisi oleh tiga orang lain yang menjadi rekan mereka untuk menata taman rumah pribadi ini.


"Oke," sahut ketiga orang itu serentak.


Mereka adalah Diana, Feni dan satu orang pria bernama Tio.


Neska menyalami mereka satu persatu. Kemudian mengikuti langkah mereka semua untuk memberi salam pada pemilik rumah besar yang sudah memanggil jasa mereka.


"Selamat siang, terima kasih ya, kalian sudah datang kesini. Saya percayakan taman rumah saya ditangani oleh kalian, jadi jangan mengecewakan, ya."


Seorang wanita cantik yang umurnya sudah matang menyambut kedatangan mereka. Wajah dan bentuk tubuhnya terlalu bagus untuk kalangan ibu-ibu, pasti dia sering perawatan, batin Neska.


"Mudah-mudahan kami tidak mengecewakan ibu. Percayakan semua pada kami ya, Bu."


Wanita paruh baya sang pemilik rumah itu mengangguk dengan senyum hangatnya. Neska sendiri baru sadar bahwa ada orang kaya yang bertutur sopan seperti ini. Selama hidupnya, Neska beranggapan orang kaya itu sombong dan tidak terjangkau. Ya, memang tak semuanya tapi begitulah yang Neska tau selama ini.


Neska sudah bekerja dari rumah ke rumah untuk bersih-bersih sebagai job sampingan, maka dari situ dia dapat bertemu banyak orang dengan berbagai kalangan. Tapi, baru sekali ini Neska bertemu tuan rumah yang welcome dan hangat bahkan hanya dari senyumannya saja.


"Nes?"


Neska tersadar akibat panggilan Feni.


"Iya, Kak?"

__ADS_1


"Boleh tolongin ambil tanaman yang disitu, gak? Kita tata disini."


"Oh, iya, kak."


Neska segera beranjak, dia mengambil beberapa tanaman pucuk merah dan menyerahkannya pada Feni. Untuk tanaman yang cukup besar dan berat, mereka meminta bantuan Tio untuk mengangkatnya.


"Jadi, konsep tamannya gini ..." Dena mulai menjelaskan pada rekan-rekan tentang konsep taman yang akan mereka rencanakan--tentu sesuai permintaan konsumen yang sebelumnya sudah dikonsultasikan dengan pihak Garden Organizer.


Neska mendengarkan dengan seksama, suatu saat nanti dia mau membuka usaha, mungkin salah satu usahanya adalah semacam ini. Intinya dia masih mau banyak belajar peluang-peluang yang bisa dia jadikan pundi rupiah nantinya.


"Ma ... Mama?"


Seorang gadis yang sangat cantik, baru saja turun dari mobil putih yang dikendarainya. Dia hanya melirik sekilas pada orang-orang yang bekerja untuk menata taman rumah.


Wanita paruh baya yang tadi menyambut kedatangan Neska dan rekan-rekan turut keluar untuk menyambut kedatangan gadis cantik itu.


"Aura? Kenapa sih kamu teriak-teriak gitu?"


"Aku tadi nabrak kucing gak jauh dari sini, Ma."


"Lah, terus gimana?"


"Aku bawa kucingnya, itu ada di mobil. Kita bawa ke dokter hewan, yuk, Ma. Kucingnya masih nafas."


"Syukur deh, Mama ambil tas dulu ya. Kita pergi sekarang."


"Iya, aku tunggu disini ya, Ma."


Neska menatapi interaksi ibu dan anak itu dari posisinya yang tak begitu jauh. Ah, andai saja ibunya masih hidup, pasti dia juga berlaku sama seperti gadis itu. Mengadukan setiap problem pada sang Mama, baik itu masalah ringan maupun hal berat.


Neska menyunggingkan senyum saat gadis yang tengah menunggu sang Mama di ambang teras melempar senyuman kepadanya, mungkin gadis itu juga sadar saat Neska memperhatikannya.


"Ayo! Mama udah siap." Wanita pemilik rumah sudah beranjak dan mengajak anak gadisnya. Tanpa sengaja dia juga melihat pada Neska dan mematut senyuman pula.


Neska sampai tak sadar jika sebelum memasuki mobil, wanita paruh baya itu menyempatkan diri untuk menghampirinya sejenak.


"Saya mau keluar dulu sebentar, kalau perlu apa-apa ada Bi Dami di dalam. Dia akan membantu kalian. Kalau haus atau butuh cemilan minta aja, gak apa-apa, karena tadi saya udah pesan juga sama beliau."


Untuk beberapa saat Neska tertegun, karena kebaikan sang wanita yang memang peduli pada para pekerja taman yang sedang bekerja di kediamannya. Akan tetapi, buru-buru Neska sadar dengan keadaan.


"I--iya, Bu. Makasih."


"Sama-sama. Permisi, ya. Kalian yang giat meskipun cuaca lagi agak terik hari ini."


Neska pun mengangguk, disusul dengan senyuman yang ia sertakan.


Mata Neska menatap tak berkedip saat melihat mobil yang dikendarai gadis--anak sang pemilik rumah--sudah berlalu dari kediaman mewah tersebut. Dalam hati, Neska merasa kagum dengan orang kaya yang mampu bersikap ramah dan tidak sombong. Ada juga rasa rindu yang melingkupi dirinya pada mendiang sang ibu. Ah, rindunya.


Bersambung ...

__ADS_1


Next? Komen✅


Jangan lupa tinggalkan Like nya yah bestie❤️


__ADS_2