
Neska melanjutkan pekerjaannya bersama Dena dan rekan-rekan yang lain. Dia mulai terbiasa dan bisa mengambil pelajaran dari kegiatan yang hari ini dia lakukan.
"Kak, Den?"
"Ya, kenapa, Nes?"
"Lain kali, kalau ada pekerjaan begini lagi ajak aku lagi, ya."
Dena tersenyum tipis. "Yakin, lo? Lo gak takut kepanasan? Ntar kulit lo jadi sering ke jemur kalo ngikutin kerjaan gue," ujar Dena secara blak-blakan.
"Gak apa-apa, Kak. Semua kerjaan sama aja buat aku, yang penting halal dan dapat duit biar bisa makan."
"Nah, gue suka nih sama pekerja keras kayak lo. Ntar kalau ada job lagi gue ajakin ya."
"Makasih ya, Kak."
"Hmm..."
Hari ini, Dena juga langsung membayar gaji Neska secara tunai, dia tak mau memberi upah terlalu lama karena itu pantang baginya.
"Ini, gaji lo hari ini."
"Wah, ini banyak banget, kak." Neska menatap pada tiga lembar uang 50ribu-an yang diberikan Dena padanya. Ini di luar ekpektasinya.
"Gak apa-apa, ini karena lo rajin dan mudah mengerti yang gue ajarin."
"Sekali lagi, makasih ya, kak."
Neska pun berlalu dari hadapan Dena, sebab wanita itu memiliki kediaman di lantai sepuluh, sementara Neska, Yola dan Indah di lantai 11.
Sampai di dalam kamarnya, Neska langsung mandi dan membersihkan diri, tak lama dia keluar lagi dari Apartmen untuk berbelanja bahan makanan.
Memang hari sudah mulai gelap, tapi Neska terbiasa makan malam jadi dia memang harus mengisi perutnya malam ini. Memasak akan lebih hemat, itulah kenapa dia memilih untuk tetap berbelanja bahan-bahan untuk dimasak.
"Beli apa ya, buat nanti malam?" Neska berpikir sembari melihat-lihat sayur yang tertata di rak supermarket. Jika saja ini masih pagi, Neska pasti akan memilih berbelanja di pasar agar lebih murah. Sayangnya ini sudah malam jadi terpaksa Neska berbelanja di supermarket seberang Apartmen tua yang dia tinggali.
Syukurnya supermarket itu juga termasuk lengkap, ada menjual sayur, buah dan berbagai macam daging.
Uang 150 ribu hasil pekerjaannya hari ini bisa dia belanjakan setengahnya untuk stok makanan dua hari ke depan. Tentu dengan lauk yang apa adanya.
__ADS_1
Neska pun mengambil beberapa tempe dan kentang disana. Dia juga mengambil buncis serta wortel.
...~~~~...
Cean baru kembali ke Apartmen tua yang dia tinggali selama beberapa hari ini. Kalau sampai Papa dan Mamanya tau dia tinggal disini sekarang, pasti mereka akan tertawa. Bukan tertawa meremehkan, tapi tertawa karena ternyata seorang putra mahkota seperti dia mau tinggal ditempat seperti ini hanya karena ingin menguji kesetiaan seorang gadis.
Untung saja, sebelum memasuki tempat tinggalnya yang baru, Cean sudah meminta Marko mempekerjakan orang untuk membersihkan tempat ini sampai tuntas.
Tapi, namanya juga Apartmen tua, Cean bahkan bisa mencium aroma masakan dari tetangga disebelah kamarnya.
"Astaga ... siapa yang masak malam-malam begini?" batin Cean. Cean pikir, jika malam begini lebih baik makan diluar atau minimal pesan makanan online. Kenapa mesti repot-repot? Pikirnya.
Sebenarnya, aroma masakan ini tidak menggangu Cean, tapi justru membuatnya merasa kelaparan. Mau keluar Cean malas, akhirnya dia memilih mencari menu makanan di aplikasi online agar bisa dia santap secepat mungkin.
Cean suka makan, apalagi masakan mamanya. Tapi, tetap saja badannya terjaga karena dia rajin berolahraga.
Tidak ada pantangan bagi Cean, dia doyan makan, dan itu loyalitas tertinggi darinya untuk tubuhnya sendiri, Cean tak mau menyiksa diri dengan menahan selera makannya.
"Ini tetangga masak apa, ya?" Cean malah selera dengan aroma masakan tetangga kamarnya.
Dia ragu, apakah aroma ini dari arah Apartemen Neska atau justru dari unit yang lainnya?
Cean sudah memesan makanan onlinenya dan menunggu itu datang, tapi tetap saja dia penasaran apa yang tetangganya masak sebab aromanya tercium sangat menggugah selera.
Cean keluar dari kamarnya lalu berjalan mendekat ke arah dinding untuk menguping, ia mau memastikan jika ini memang berasal dari unit apartmen Neska.
"Ah, iya, suara wajan. Kayaknya emang Neska yang masak," gumam Cean dengan senyum semringah.
Ah, kenapa dia senang? Apa dia berharap Neska mau membagi makanan yang tercium aroma harumnya itu?
Cean kembali mendadak lapar, tapi dentingan Bel Apartmen kini cukup terdengar nyaring di telinganya.
Cean pun beranjak dari posisinya, dia berniat membukakan pintu, dia pikir ini pasti pesanan makanan online yang dia pesan, meski dia juga kurang yakin sebab ini terasa begitu cepat sampai.
"Hai, Kak? Udah makan?"
Cean terpana beberapa saat ketika seorang gadis sudah muncul didepan pintu unitnya.
...~~...
__ADS_1
Masakan Neska telah matang, dia memang tidak masak makanan mewah, karena dia sedang mencoba resep baru yaitu steak tempe lengkap dengan sayurannya.
"Makanan enak yang minim budget, udah siap," celetuk Neska pada dirinya sendiri.
"Dari aromanya sih enak. Tapi lebih enak lagi kalau makannya sama tetangga sebelah," kata Neska yang bermonolog sambil terkikik.
Untuk membalas kebaikan Cean yang kemarin memberinya banyak roti, juga sudah mengantarkannya ke sekolah, Neska berniat membagi steak tempe nya kepada Cean.
"Kak Cean level makannya begini gak, ya?" batin Neska takut Cean tak menyukainya.
"Ah, level makannya Kak Cean pasti gak jauh beda sama selera aku. Toh, dia juga tinggal di Apartmen ini sama kayak aku. Gak mungkin seleranya dia makanan resto bintang lima, kan?"
Ya, walau dalam batin Neska ragu jika Cean adalah orang susah karena dari tampangnya sudah dapat menjelaskan bahwa pria itu tidak dari kalangan menengah ke bawah, tapi dengan Cean tinggal di gedung Apartmen yang sama dengan Neska membuat gadis itu dapat menebak jika pemuda itu sedang dalam masa-masa sulit saat ini.
Neska pun membuatkan satu porsi steak tempe dengan komplit dalam sebuah piring. Dia juga berusaha menata itu sebagus mungkin.
"Steak enak ala Neska buat tetangga yang istimewa." Lagi-lagi Neska terkikik, sebab sebelumnya dia tak pernah berlaku se-absurd ini apalagi pada seorang pemuda.
Aneh. Sungguh aneh, Neska merasakan keanehan pada dirinya.
Dengan keberanian diri yang mencapai angka 100%, Neska mulai melangkah keluar dari unit apartmennya dengan sebuah piring saji di tangannya. Tak lupa dia menutup makanan itu dengan sebuah piring lain agar tetap terjaga kebersihannya.
"Nih, ditutup aja biar gak dihinggapi nyamuk-nyamuk lewat yang penasaran sama masakan aku."
Neska mulai menekan bel Apartmen sebelah, berharap Cean sudah pulang kesana. Dia menunggu dengan gelisah padahal tadi dia percaya diri sekali. Neska takut masakannya di tolak Cean mentah-mentah.
"Hai, kak? Udah makan?" Dengan kadar percaya dirinya yang nyaris menipis, mau tak mau Neska tetap menawari Cean yang kini sudah terlanjur membuka pintu dihadapannya.
"Ah, Neska. Ada apa?" tanya Cean, pemuda itu melirik pada piring saji yang di bawa Neska.
"Kak, kalau belum makan, mohon diterima, ya. Ini tadi aku masak. Aku gak tau ini sesuai selera kakak atau enggak. Anggap aja ini rasa terima kasih aku karena kakak sempat mengantar aku ke sekolah."
Untuk beberapa saat, Cean terdiam. Neska mengira pemuda itu akan menolak pemberiannya. Padahal, Cean hanya diam karena tak percaya dengan kedatangan Neska yang seakan dapat membaca pikirannya. Dia sangat menginginkan masakan beraroma sedap itu sejak tadi dan berharap Neska mau membaginya. Nyatanya harapannya benar-benar terkabul sekarang.
"Kak? Kalau gak mau gak apa-apa, kok. Aku bawa pulang lagi, ya."
"Eh, Nes?" Buru-buru Cean menghentikan langkah gadis itu. Dia bahkan memegang pundak Neska agar Neska tidak terlanjur pergi. "Aku mau, kok. Aku emang belum makan," tandasnya dengan cengiran manis.
Bersambung ...
__ADS_1
Next? Komen✅