TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
46. Canggung


__ADS_3

Suasana terasa sangat canggung saat Neska dan Cean sudah berada dalam satu ruangan yang sama. Terlebih, sekarang mereka hanya tinggal berdua saja.


Neska hendak beranjak, demi menyelamatkan diri dari kontak mata Cean yang ibarat melumpuhkannya perlahan-lahan. Sebelum tungkai kakinya berubah menjadi jelly, Neska memilih untuk menghindar dan akan menyusul Marko saja--sesuai dengan perintah pria itu yang memintanya untuk menandatangani kontrak didalam ruangannya--meskipun Neska belum tau letaknya dimana.


"Nes, aku mau bicara."


Kalimat yang sama kembali terlontar dari bibir pemuda itu. Membuat Neska urung kemanapun atau lebih tepatnya--kedua kakinya mendadak terpasak disana tanpa bisa digerakkan.


Neska terlambat, pesona pemuda itu masih selalu membuatnya kalah dan jatuh berkali-kali. Jangan lupakan juga--jika bersinggungan dengan Cean--selalu berimbas pada jantung Neska yang jadi berdetak dua kali lebih cepat.


"Mau tetap disini atau kita bicara di ruanganku? Semuanya sama saja," kata Cean kemudian. Pemuda itu memberi pilihan.


Neska menunduk, memilinn ujung baju yang ia kenakan, membuat Cean yang melihat itu menarik sudut bibir menjadi sebuah lengkungan.


Buru-buru Cean mengubah wajah menjadi mode setelan pabrik alias datar-- saat Neska mengadah padanya. Cean belum mau Neska menyadari gemuruh rasa senang yang terpancar dari senyumnya.


"Aku mau ke ruangan Kak Marko dulu, Kak," jawab Neska tampak ragu-ragu. Gadis itu kembali menunduk dalam.


"Kak?"


Neska menangkap nada protes dari suara Cean. Buru-buru gadis itu meralat ucapannya.


"Eh, maksud saya, Pak. Saya mau ke ruangan Kak Marko dulu untuk membicarakan soal pekerjaan saya ke depannya." Neska mengubah bahasanya menjadi formal. Ini memang dalam area kantor dan benar jika tak seharusnya ia memanggil Cean dengan sebutan 'Kakak'.


Cean makin mengernyit, tentu maksud protesnya tadi bukan karena panggilan Neska kepadanya ataupun bahasa santai yang digunakan gadis itu. Dia memang protes, tapi karena dia mendengar Neska yang memanggil Marko dengan sebutan Kakak. Mana Cean rela, panggilan itu hanya untuk dia. Cean mana mau Marko dan dia memiliki panggilan yang sama dari Neska.


"Kamu panggil Marko apa?"


Neska refleks mundur saat Cean berjalan mendekat kepadanya.


"Kenapa, Pak?"


"Kamu manggil Marko apa tadi?" Entah kenapa mereka jadi membicarakan ini, padahal niat awal Cean menahan Neska bersamanya di ruangan ini, tentu bukan untuk hal remeh tersebut. Heh? Remeh? Tidak, bagi Cean panggilan Neska pada Marko terdengar mengganggu jadi itu bukan hal remeh.


"Maksud Bapak ... Kak Marko?" tanya Neska memastikan apa yang dimaksud Cean.


"Pak Marko." Cean menipiskan bibir. "Mulai sekarang panggil dia Bapak," titahnya.


Neska mengangguk keki. "Iya, Pak."

__ADS_1


"Dan jangan panggil aku Bapak."


Neska melotot saat Cean sudah menarik tangannya dan didetik yang sama membawa tubuhnya ke dalam dekapan pria itu.


Untuk beberapa saat, Neska terkejut sekaligus tertegun. Dia dapat menghidu aroma aftershave yang Cean gunakan dan itu tercium sangat maskulin. Neska terhanyut dan lupa pada kenyataan, dia menikmati keadaan itu.


Sementara Cean, jangan ditanya. Tentulah dia sangat bahagia. Apalagi sekarang Neska ada dalam pelukannya. Tidak menghindar, pun tidak berontak. Neska tidak menolaknya.


Perasaan Cean yang carut-marut selama dua tahun belakangan ini, seakan luruh begitu menemukan gadis yang sangat lama tidak ditemuinya.


Didetik yang sama, Neska baru menyadari jika dia berada dalam posisi dan tempat ternyaman. Neska berharap ini bukan mimpi di siang bolong. Atau jikapun ini memang mimpi, Neska mau durasinya lebih diperpanjang lagi.


Cean meletakkan dagu di puncak kepala Neska, membuatnya dapat menghirup aroma shampo yang melekat di rambut gadis itu. Dia benar-benar mabuk sekarang dan tidak ingin melepaskan.


"Nes, jangan menghindar lagi dari aku, ya."


Neska mengangguk dalam posisinya. Dia amat senang sampai-sampai memejamkan matanya di dada bidang Cean. Dia juga dapat mendengar degupan jantung pria itu yang berdetak dengan ritme teratur namun begitu keras menghentak. Mungkin itu tidak jauh berbeda dengan keadaan jantungnya saat ini.


Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya. Lebih tepatnya itu adalah gangguan bagi Cean.


Neska segera menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya. Dia melerai pelukan lebih dulu dan menatap Cean yang tampak ogah dan tidak rela tautann tubuh itu harus terlepas begitu saja.


"Eh, Pak... maaf, saya pikir Neska tertinggal disini sendirian," kata Zain sungkan menatap Cean.


Kini lelaki itu menatap pada Neska yang memerah wajahnya. Untungnya gadis itu segera menundukkan wajah sehingga Zain tidak begitu jelas melihat rona tersebut.


"Kamu udah ketemu Pak Marko, Nes? Kalau udah, aku tunggu di bawah ya. Nanti biar aku anterin ke rumah Sheila."


Sebelum tiba di kantor ini--tadi, Zain sempat menanyakan kemana Neska pergi setelah meeting hari ini, Zain pikir Neska akan menginap di sebuah hotel-- sampai jadwal penerbangannya untuk kembali ke Singapore tiba, tapi rupanya Neska akan menginap di kediaman Sheila.


Cean yang mendengar perkataan Zain langsung menoleh pada pemuda itu dengan tatapan dingin--hanya sesaat--karena kemudian dia kembali menjatuhkan pandangan pada Neska seolah menunggu apa jawaban gadis itu mengenai tawaran Zain.


"Ehm, aku---"


"Neska masih akan mengurus soal pekerjaannya sampai jam 2 siang. Jadi, kamu pulang saja lebih dulu, Zain." Cean tak sabar menunggu keputusan Neska, hingga dia yang lebih dulu menyahut untuk menentukan jawaban.


Zain tampak heran, dia pikir Neska tak akan terlalu lama di kantor bahkan sampai jam 2 siang? Terdengar tak masuk akal, sebab ini baru jam 11. Tapi, akhirnya Zain menganggukkan kepalanya juga karena itu adalah pernyataan atasannya.


"Kamu tau kalau Neska itu calon BA baru yang belum berpengalaman. Jadi, dia masih butuh banyak pembelajaran disini," kata Cean seolah tahu jika Zain merasakan kejanggalan dengan ujaran dia sebelumnya.

__ADS_1


"Oke, Nes. Aku pulang duluan kalau gitu... gak apa-apa, kan?"


Neska mengangguk sungkan pada pemuda itu.


"Ah iya, kamu simpan aja nomor hp aku, ntar kalau butuh apa-apa biar gampang dihubungi."


Neska lantas mengambil ponselnya dan mengetik nomor yang Zain bacakan. Hal itu tentu menjadi tontonan oleh Cean disana.


Seperginya Zain, Cean dan Neska kembali bertatapan. Ada rasa canggung dalam netra Neska, sementara Cean menyimpan rasa kesal sebab sejak awal kedatangannya, dia selalu melihat Neska yang dekat dengan Zain.


"Kapan kamu kenal dengan Zain?"


"Belum lama ini, Kak."


"Aku denger dia muji kamu waktu di lift tadi."


"Eh?" Neska menatap Cean dengan tatapan tak percaya. Apa Cean sempat mendengar hal itu tadi? Karena perkataan Cean disertai dengan nada yang terdengar kesal, Neska jadi merasa seperti tengah tertangkap basah selingkuh oleh pasangannya sendiri?


Neska segera membuyarkan pemikiran itu sebab mereka bukan sepasang kekasih, kan?


Neska juga langsung menatap arah lain, sebab dia hanya berusaha menghalau rasa gugup akibat mengingat momen pelukan mereka berdua--beberapa saat lalu.


"Aku ke ruangan Pak Marko dulu ya, Kak." Neska pun pamit pada Cean.


"Hmm ..." Cean menyahut yang lebih terdengar seperti gumaman kecil.


"Eh, tapi ruangannya dimana?" Neska bertanya pada dirinya sendiri saat dia sudah berbalik menuju pintu keluar.


Tanpa Neska sadari, Cean sudah berdiri disampingnya. "Ayo aku antar kesana. Tapi sebagai gantinya kamu harus temani aku sepulang dari sini."


"Kak?" Neska menatap bergantian pada bola mata Cean, seolah ingin mencari jawaban disana, kenapa mendadak Cean bersikap seperti ini setelah begitu lama tidak ada pertemuan lagi diantara mereka.


"Dan satu lagi ... pastikan kamu menandatangani kontrak itu, Nes."


Lagi-lagi Neska menundukkan kepalanya, dia tidak berani beradu tatap dengan mata Cean lebih dari dua detik.


"Aku gak akan biarin kamu menghindari aku lagi," gumam Cean dan itu masih bisa Neska dengar dengan cukup jelas.


...Bersambung .......

__ADS_1


Vote Senin? Kirimin kesini dong🤭


__ADS_2