
Neska sebenarnya tidak pergi jauh, dia ke kampus pagi-pagi sekali. Lalu beruntung Aura menjemputnya hari ini. Neska cukup bersyukur, sebab dengan ini dia tidak perlu bertemu Rion dulu untuk sementara waktu. Lagipula, pertemuan itu justru akan membuat Rion semakin terluka karenanya dan Neska berniat menghindari Rion.
Pertemuannya dengan Aura, membuat Neska membuka pikiran. Dia tidak mau Aura maish menganggapnya pacar Rion. Dan, Neska juga tak mau Aura salah paham jika nanti dia tau mereka sudah putus sementara Neska masih menikmati fasilitas yang diberikan oleh orangtua mereka.
Neska sebenarnya adalah gadis yang kuat memendam problem. Tapi, dia tidak pandai menyembunyikan gelagatnya sehingga Aura dapat menebak jika Neska sedang dalam mode tidak baik-baik saja.
"Ada masalah?" tanya Aura yang mengemudikan mobil. Dia tak memesan taksi lagi, entah mobil siapa yang dia gunakan selama di Singapore dan Neska tak mau ribet ingin tahu hal itu.
Neska menggeleng sebagai respon dari pertanyaan Aura. Kendati dia mau jujur pada gadis itu tentang apa yang terjadi, tapi rasanya dia bingung hendak memulai dari mana.
Aura melihat gestur Neska yang seperti orang uring-uringan. Dia menebak jika Neska sedang terlibat dalam problem.
"Masalah kuliah, atau masalah perasaan?" Aura sedikit mengulas senyum, dia pikir pacar adiknya ini akan rileks jika dia tidak terlalu serius dalam menanyakan hal ini.
Neska menggigiit bibir. "Ehm ..." Dia tampak ragu-ragu. "Aku, aku ... udah putus sama Rion, Kak," sambungnya.
Sontak saja, Aura terbelalak mendengarnya. Dia nyaris mengerem mobil secara mendadak, tapi untungnya Aura pandai menguasai keadaan.
"Putus?"
Neska mengangguk lesu. "Aku mau menghindari Rion, Kak. Maaf," ujarnya terus terang.
"Kenapa? Rion buat kamu gak nyaman?"
"Bukan. Justru Rion menawarkan kenyamanan yang membuat aku gak enak sendiri sama dia."
"Why? Kamu ... gak seserius itu sama Rion?"
"Dari awal, aku emang belum bisa nerima Rion, Kak. Aku akui, dia cuma pengalihan perasaan aku aja dan aku sadar aku udah jahat banget sama dia. Aku minta maaf sama Kakak juga, selaku kakaknya Rion."
Demi apapun, Aura speechless karena ungkapan yang Neska utarakan. Aura bukan lagi remaja yang baru mengenal cinta tapi dia sendiri memang gadis dewasa yang tidak memahami definisi itu sama sekali jadi mendengar kejujuran Neska cukup membuatnya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
__ADS_1
"Aku harap, Kakak gak menganggap aku gadis pengeretan yang memanfaatkan keluarga kalian karena tadinya aku memacari Rion, Kak. Maksud aku gak gitu dari awal. Maaf..."
"Santai aja, Nes. Meski aku gak paham sama problem kalian. Tapi aku bisa melihat kalau kamu itu gadis yang baik dan aku juga tau kamu bukan bermaksud memanfaatkan Rion. Sejak awal, Rion yang kekeuh untuk mengajak kamu kuliah disini. Kamu tenang aja, ya,"
Syukurnya Aura cukup dewasa dalam menyikapi segala sesuatu. Entahlah, Neska semakin merasa tak enak hati karena menyakiti Rion yang notabene nya adalah adik dari gadis ini.
"Selain mau menghindari Rion, sebenarnya aku .... aku juga mau menghindari ..." Neska tidak sanggup mengatakannya pada Aura, tapi dia harus. Setidaknya, Aura akan tau duduk permasalahannya sejak awal agar gadis itu tidak salah paham dengan Neska suatu saat nanti.
Bagaimanapun, Neska juga sudah menganggap Aura seperti kakak perempuannya sendiri. Dia takut menyakiti hati Aura yang percaya kepadanya.
"Siapa? Kamu mau menghindari siapa?" Ada intonasi mendesak dari kalimat Aura, tampaknya dia ingin tau sekali.
"Kak Cean." Nama itu akhirnya tercetus begitu saja dari bibir Neska. "Aku mau menghindari dia, Kak. Sebenarnya dia yang aku suka, bukan Rion," katanya dengan suara bergetar saat mengakui segalanya.
Kalo ini, Aura tak dapat menutupi rasa terkejutnya. Dia menghentikan mobil di rest area dan ingin mendengar cerita Neska tanpa ketinggalan satu jejak pun. Bagaimana bisa gadis ini terjebak diantara dua hati dan itu adalah kedua adik lelakinya sendiri?
Neska menceritakan pada Aura semuanya. Sejak awal dia menyukai Cean ketika pemuda itu masih bertetangga dengannya di Apartmen lama. Hingga akhirnya, Cean hanya menganggapnya seorang adik.
Dan puncaknya, Neska tidak sanggup lagi jika harus bersama dengan Rion terus-terusan, dia memilih mengakhiri segalanya dengan tujuan agar tidak menyakiti Rion lebih dalam lagi.
"Aku gak maksud memanfaatkan Rion, Kak. Jikapun beasiswa aku dicabut oleh orangtua Kakak karena pada akhirnya aku dan Rion berpisah, aku pasrah, aku siap kembali ke Indonesia karena udah buat Rion sakit hati."
Aura mematut senyum, sekarang dia tau kenapa Rion dan Cean terlihat perang dingin sejak awal kedatangannya ke Negara ini. Jadi, penyebab utamanya karena Neska?
"Kamu tenang aja, beasiswa itu gak akan dicabut hanya karena hal pribadi. Lagipula, Mama dan Papa ngasih beasiswa itu karena kamu layak. Kamu pintar. Bukan karena ada atau tidak adanya hubungan antara kamu dengan Rion. Jadi, jangan berpikir kesana. Kamu lanjut kuliah sebaik mungkin sampai kamu gak mengecewakan kedua orangtuaku yang udah membiayai kuliah kamu. Oke?"
Neska menyeka airmatanya sekilas, dia terharu, merasa Aura sudah seperti bagian dari keluarganya sendiri.
"Kak, maaf ya aku jadi nyeritain ini ke Kakak."
"Nes, harusnya aku malah berterima kasih sama kamu udah mau terbuka dan jujur begini, seenggaknya aku jadi tau apa permasalahannya. Lagian, meski aku gak tau rasanya pacaran tapi aku tau pemaksaan itu gak enak. Jadi, kamu benar, Rion gak boleh memaksa kamu untuk tetap tinggal bersamanya.
__ADS_1
Aura sendiri pernah merasakan di paksa oleh seseorang. Pemaksaan kehendak itu bahkan menyebabkan dia trauma sampai detik ini. Jadi, dia menghargai keputusan Neska dan salut pada Rion yang mau berlapang dada. (Sepintas kisah kelam Aura yang menyebabkannya trauma, ada dibahas di novel EX pada bab Bonus Chapter 5. Dan nanti akan dimunculkan kembali pada novel khusus cerita Aura🙏)
Selanjutnya, Neska juga menceritakan pada Aura terkait kedatangan Cean semalam ke apartmennya. Dia menduga Cean tengah bercanda sedang Aura yang mendengar cerita Neska ini sangat tau tabiat saudara kembarnya. Dia merasa sifat playboy Cean kembali kumat dan justru mau mempermainkan Neska.
Hal ini turut membuat Aura dongkol. Dia yang akan mengomeli Cean terkait hal ini dan Neska akan berada dibawah perlindungannya sampai Cean tidak akan berniat mengganggu gadis itu lagi.
"Udah, hari ini kamu di Apartmen ku aja dulu. Nanti biar aku yang bicara sama Cean. Dia itu kebiasaan. Aku bakal omelin dia sebelum dia berniat main-main sama kamu lagi. Kalau perlu, jangan ada pertemuan lagi diantara kalian sebelum Cean bener-bener insaf dari sikap buayanya itu!" kata Aura bertekad.
Dan Aura benar-benar merealisasikan ucapannya, dia mengomeli Cean sore itu lewat panggilan seluler. Dia juga meminta Neska memblokir nomor Cean kalau perlu tidak usah berhubungan lagi dengan saudara kembarnya itu.
Aura emosional, karena Cean mau mempermainkan perasaan Neska yang sudah terlalu lama menyukainya.
...***...
Karena kesibukan pekerjaannya, Cean tidak dapat terus berada di Singapore untuk mencari keberadaan Neska dan menemui gadis itu.
Beberapa kali dia menghubungi Neska namun rupanya dia tidak dapat melakukan panggilan, mungkin karena Neska masih berniat menghindar darinya dengan cara memblokir nomornya.
Rasanya kepala Cean sangat berdenyut nyeri sekarang, belum lagi perasaannya yang juga terasa semrawut. Disatu sisi Cean khawatir dengan keberadaan gadis itu, namun disisi lainnya ada rasa yang ingin segera diledakkan pada Neska-- yaitu perasaannya yang sungguh-sungguh, bukan permainan seperti yang Neska sangka atasnya.
Masih didepan pintu Apartmen Neska, Cean kembali mendapat sebuah panggilan seluler. Jika tadi Aura yang menghubunginya, sekarang Marko juga sudah menelepon Cean dan mengatakan bahwa produk terbaru milik perusahaan mereka akan segera diluncurkan besok, sehingga mau tak mau Cean harus kembali ke Indonesia sesegera mungkin.
Meski perasaan Cean saat ini sangat egois dan mendesak diri sendiri agar bisa bertemu Neska secepatnya, tapi dia juga tak bisa melepaskan tanggung jawab.
Cean tidak mungkin menggadaikan pekerjaan orang-orang yang mencari nafkah di perusahaan yang dia pegang--hanya karena perasaanya sendiri, sebab nasib semua pekerja itu berada ditangannya. Jadi, disaat yang sama Cean juga dituntut oleh keadaan untuk selalu bersikap bijaksana serta tidak boleh gegabah.
Jika Cean tak hadir dalam peluncuran produk itu, sama artinya dengan dia yang tidak menghargai jerih payah mereka yang telah berusaha memberikan kualitas produk terbaik untuk nama perusahaannya.
Rela tidak rela, Cean pun akhirnya harus kembali ke negara kelahirannya di hari yang sama.
Bersambung ...
__ADS_1