
Penawaran Rion memang terasa menggiurkan, siapa yang tidak tertarik dengan beasiswa ke luar negeri? Tapi, entah kenapa ada hal yang membuat Neska sulit menerima semuanya.
Rion benar, Neska merasa berat meninggalkan Indonesia. Padahal, entah hal apa yang membuatnya enggan meninggalkan negara ini khususnya kota yang sekarang dia tinggali. Dia tidak memiliki siapapun yang harusnya menjadi pertimbangan untuk dia menerima tawaran itu. Tapi, kenapa mengatakan iya terasa sangat sulit?
"Seharusnya kamu bisa menerimanya kalau kamu beneran mau. Sama seperti kepindahan kamu dari Apartmen lama ke rumah kontrakan kamu yang baru."
Perkataan Rion mengembalikan kesadaran Neska pada keadaan. Dia menatap pada pemuda dengan hidung bangir itu--yang tampak masih ingin melanjutkan kalimatnya.
" ... semuanya bisa, kalau hati kamu menginginkan. Beda halnya jika keinginan kamu bertolak belakang dengan perasaan di hati kamu."
Entah kenapa ujaran Rion sekali ini sangat menyentil sisi hati Neska yang terdalam. Benar, jika saja keinginannya atas penawaran Rion itu tidak berselisih dengan rasa di hatinya, pasti dia sudah mengiyakan dengan gampang mengenai hal ini. Sayangnya, kata-kata Rion adalah benar, ini sulit karena sejatinya hatinya lah yang menolak.
"Aku gak akan maksa kamu, kamu bisa jawab hal ini nanti. Aku pergi dua Minggu lagi dan aku harap diwaktu itu kamu udah bisa kasi jawabannya."
Neska mengangguki perkataan Rion. Dua Minggu adalah waktu yang sangat cukup untuk dia mempertimbangkan serta memikirkan segalanya.
Neska kembali menatap ombak di pantai yang saat ini mereka tapaki. Dia merenung cukup lama, alih-alih memikirkan tawaran yang Rion ajukan, pikirannya justru melayang pada satu sosok yang ingin dia lupakan. Cean seakan menetap disana, dipikiran dan hatinya. Tidak peduli jika kini dia tengah bersama Rion, semua pemikirannya justru merindukan sosok Cean serta beberapa hal yang pernah terjadi diantara mereka.
"Kamu suka disini?"
Suara Rion kembali membuat Neska menoleh, dia hanya mengangguki pertanyaan itu.
Rion menarik sudut bibirnya. "Meskipun kamu suka disini, tapi hari udah semakin sore, kita harus pulang," ujarnya kemudian.
"Aku tau, aku juga gak mungkin tidur disini," kata Neska menyahut dengan candaan dan disertai dengan kekehan geli.
Rion menggenggam tangan Neska, membuat gadis itu mengernyit dan menatap pada tangan mereka berdua yang kini saling bersentuhan. Ini adalah skinship pertama diantara mereka sejak menjalin hubungan, dalam artian skinship yang disengaja.
Akan tetapi, hal ini turut membuat Neska membandingkan. Sentuhan Rion tidak berdampak apa-apa bagi dia. Berbeda ketika saat Cean menarik tangannya, meski kejadian itu terjadi hanya karena Cean mau menariknya keluar dari Bar pada malam itu.
"Kamu sering melamun, ya?"
Neska bergerak karena tersentak, lagi-lagi dia menyadari bahwa kebersamaannya dengan Rion tidak berarti apa-apa. Pada kenyataannya, tubuhnya ada disini, tapi sejak tadi dia lebih sering mengabaikan Rion dan justru memikirkan pemuda lain. Kenapa rasanya sulit? Apa ini dampak daripada hubungan yang dibina hanya karena ingin melupakan orang lain? Neska jadi sering membanding-bandingkan antara Rion dengan Cean.
"Kamu ... mikirin apa, Nes?"
Genggaman di jemari Neska semakin terasa, Rion menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Aku pikir, gak perlu menunggu waktu dua Minggu lagi, Ri. Aku udah punya keputusan."
Ujaran Neska membuat Rion cukup speechless, semoga jawaban gadis ini sesuai dengan yang dia inginkan.
"Jadi, apa keputusan kamu?"
Neska mengangguk. "Ya, aku mau menerima beasiswa itu. Kapan aku bisa menemui orangtua kamu untuk membuktikan usaha aku agar bisa meraih beasiswanya?"
...____...
Neska tau, keputusan yang diambilnya akan sangat berat. Tapi, walau bagaimanapun dia harus meninggalkan zona nyaman. Meski di Indonesia dia sudah merasa nyaman dan ada hal yang memberatkannya untuk pergi beranjak tapi dia juga harus memikirkan masa depannya. Setidaknya, jika nanti dia telah kembali, dia sudah memiliki sesuatu yang lebih baik. Gelar yang baik ataupun pekerjaan yang baik.
Dan Neska juga berharap mendapatkan bonus yakni kepergiannya membuatnya bisa melupakan Cean untuk selamanya.
Hari ini Rion kembali menjemput Neska, dia mengajak Neska ke rumah orangtuanya.
Disana, Yara dan Sky sudah menunggu gadis itu, tidak perlu melakukan formalitas seperti ujian karena mereka ingin menguliahkan Neska bukan hanya karena Neska adalah pacar dari Rion melainkan, mereka dapat menilai jika Neska adalah gadis yang baik dan tidak akan mengecewakan kesempatan yang mereka beri.
"Jadi, tanggal 17 nanti kalian akan berangkat. Disana, kalian punya tempat tinggal sendiri-sendiri. Jadi, jangan lakuin hal yang membuat Mama dan Papa kecewa." Raya menatap mata Rion dan Neska bergantian, berpesan kepada mereka untuk bisa menjaga diri masing-masing, baik dari godaan dalam hubungan mereka, maupun hal lain yang membahayakan.
"Iya, Ma. Rion tau apa yang pantas dan gak pantas untuk Rion lakukan."
"Mama harap, semua kepercayaan mama dan papa gak disia-siakan sama kalian."
"Terima kasih, Tante." Neska menatap haru pada wajah Yara.
"Ah, iya, Aura akan sering datang berkunjung ke sana karena dia juga memantau perusahaan pusat yang ada di Singapore. Jadi, kalian tetap terpantau." Sky menambahkan.
"Iya, Pa. Rion tau," papar pemuda itu.
"Selamat berkuliah. Kalian pasti bisa sukses diwaktu yang tepat. Ini Cean juga sedang mengurus untuk paspor Neska."
"K-kak Cean?" gumam Neska. Ternyata pemuda itu juga tau mengenai keberangkatannya dan ikut sibuk mengurusi. Tapi, apa tanggapan Cean tentang ini? Pikir Neska.
"Iya, Papa yang minta dia ngurusin ini." Sky terlibat percakapan dengan Rion yang Neska tidak mendengar jelas awal mulanya.
Neska masih memikirkan tentang tanggapan Cean mengenai keputusannya, tapi disisi lain yang ada dalam hatinya, mungkin Cean ikut sibuk mengurusi ini karena permintaan dari Papanya dan juga seperti ujaran pemuda itu sendiri yakni menganggap Neska adalah adik perempuannya. Inilah alasan yang sesungguhnya mengapa Cean mau terlibat ke dalam urusannya, tidak lebih.
__ADS_1
Ah, Neska, apa yang sebenarnya kamu harapkan? Apa kamu berpikir Cean mengurusi ini karena memiliki rasa padamu? Ya mungkin memang ada rasa, tapi tidak lebih dari sekedar rasa seorang kakak yang peduli pada adiknya.
"Gimana, Nes?"
"Hah?" Neska terperanjat kaget saat sebuah pertanyaan dilayangkan Rion kepadanya. Mana dia tau apa yang mau ditanyakan pemuda itu padanya, sebab sejak tadi dia tidak fokus karena pikirannya justru melanglang buana memikirkan Cean.
"Kamu ... melamun lagi ya?" Ada sorot geli yang terpancar dari mata Rion saat menatap Neska.
Neska baru sadar bahwa disana sudah tidak ada kedua orangtua Rion lagi. Kapan perginya? batin gadis itu.
"Bahkan tadi waktu Mama sama Papa pamit pergi, kamu cuma jawab 'hmm'?" ujar Rion dengan seringaian kecil.
Mata Neska membuat sempurna. "Iyakah? Maaf, aku gak sadar," cicitnya merasa bersalah.
Neska jadi malu sendiri, pasti tadi mereka semua dapat melihat wajahnya yang melamun.
"Gak apa-apa, mungkin kamu lagi mikirin kepergian ke Singapore. Jangan banyak pikiran ya. Semuanya udah diurus mama sama papa kok, kamu tenang aja. Kamu cuma perlu belajar yang sungguh-sungguh supaya kedua orangtua aku gak kecewa."
"Ya-ya. Pasti," jawab Neska yakin.
"Nah gitu dong. Rasanya kamu jarang banget tanggapin perkataan aku dengan cepat kayak gini."
"Apa iya aku gitu?" Neska merasa sungkan pada Rion, tampaknya dia lebih sering mengabaikan pemuda itu dan larut dalam lamunannya sendiri.
"Iya, akhir-akhir ini lebih parah. Kamu sering ngelamun."
"Ehm, maaf," kata Neska tulus.
"Gak apa-apa kok. Nanti kalau udah di Singapore kamu jangan banyak melamun lagi ya."
Neska mengangguk meski tak yakin akan merealisasikan hal itu.
Rion mengulurkan jemarinya ke depan wajah Neska. "Janji?" tanya pemuda itu, dia ingin membuat janji jari kelingking dengan Neska.
"Iya deh, janji." Neska menyambut jari kelingking Rion hingga kedua jemari itu bertauutan.
Disaat yang sama, seseorang tiba disana dan melihat interaksi antara Neska dan Rion. Entah kenapa dia merasa jauh tertinggal. Terabaikan dan tidak dianggap sama sekali. Cean menatap pemandangan itu dengan mata nanar.
__ADS_1
Bersambung ....