TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
19. Mengajak jalan-jalan


__ADS_3

Cean memasuki gedung Apartmen dengan langkah lunglai dan bahu yang luruh. Tampangnya tampak lesu dengan wajah yang ditekuk.


Sebelum membuka pintu unitnya, Cean menyempatkan untuk melirik sekilas pada pintu di unit sebelah yang tampak sudah tertutup.


Pasti pintu itu baru saja dimasuki oleh Neska dengan tergesa-gesa beberapa saat sebelumnya.


"Nes--" Ingin rasanya Cean mengetuk pintu itu, tapi tangannya berhenti dan hanya melayang di udara--hingga akhirnya urung untuk melakukannya.


Ah, sudahlah. Cean masih merasa jika sikapnya tidak salah. Kelakuannya di Bar tadi memang mau melindungi Neska. Dia tidak menyesal telah memukul pria muda yang menggoda Neska. Tapi dia cukup menyesali kenapa dia dan Neska harus menjadi seperti ini.


Cean menggeleng samar sebelum akhirnya masuk dan membersihkan diri di kediamannya sendiri.


Pemuda itu tidak bisa jatuh ke dunia mimpi sebab pikirannya seakan menolak untuk tertidur. Kendati hari sudah sangat larut, Cean masih saja terjaga dan memikirkan lamat-lamat ucapan yang sempat Neska utarakan.


"Kenapa kamu harus menyukai aku, Nes?" Cean tersenyum satir. Neska sama sekali bukan tipenya. Bahkan jauh dari kriteria gadis yang dia inginkan.


Bukan berarti Neska tidak cantik. Gadis itu justru memiliki inner beauty tersendiri. Neska baik, sopan, bertutur kata lembut, polos dan juga lugu.


Neska tidak mungkin bersanding dengan Cean, pemuda itu menyukai wanita yang berkebalikan dari diri Neska.


Tipe Cean adalah gadis yang anggun, dewasa, pintar dan sudah mengetahui dunia serta bisa menyikapi segala problematika hidup dengan bijak.


Cean juga jadi kepikiran dengan perkataan adiknya siang tadi. Rion sempat mengatakan bahwa dia menyukai Neska, tapi kenapa Cean tidak mengizinkan hal itu? Bukankah itu lebih baik? Dia bisa mendukung keduanya. Mereka terlihat lebih cocok ketimbang Neska harus menyukainya.


"Rion suka Neska. Ya, mereka lebih cocok bersama ketimbang Neska yang menyukai aku."


Cean mengusap kasar wajahnya sendiri sembari mengembuskan nafas berat.


"Ya, ya, lebih baik aku mendukung Rion bersama Neska saja."


...~~~...


Ujaran Cean semalam, ternyata tidak sinkron dengan apa yang kini dia rasakan saat melihat Rion sudah mendatangi lantai 11 Apartmen tua dimana dia dan Neska tinggal dan bertetangga.


Untuk apa Rion datang? Ini bahkan baru pukul 9 pagi, pikir Cean.


Cean jelas tidak suka dengan kemunculan adiknya disini. Padahal semalam dia sudah berniat mau mendukung Rion dan Neska untuk bersama.


Kenapa? Kenapa Cean tidak menyukainya? Kenapa mulutnya bisa berkata mau menyetujui, tapi bahasa tubuhnya tidak bisa memungkiri ketidaksukaannya?


"Ngapain kamu kesini? Gak mungkin mau main ke Apartmen kakak, kan?"


Cean menyapa Rion saat dia baru saja kembali dari rutinitas joging di kawasan sekitar Apartmen.

__ADS_1


Rion sedikit terkejut menemukan kakaknya disana. Dia memang tidak pernah tau unit yang ditinggali Cean ada disebelah mana. Kemarin mereka pun bertemu di koridor lantai 11, tapi Rion tidak mampir ke tempat tinggal kakaknya itu. Rion juga tidak tau apa alasan kakaknya memilih tinggal di tempat semacam ini.


"Ah, iya, kak. Aku mau ajak Neska jalan-jalan, mumpung hari Minggu."


Sudah Cean duga, Rion datang untuk bertemu Neska. Kenapa hati Cean rasanya bergemuruh? Apa dia marah? Kenapa? Apa yang salah? Seharusnya dia tidak bersikap begini.


"Kayaknya Neska gak ada," ujar Cean yang tentu saja berdusta. Entah kenapa dia harus mengucapkan kalimat kebohongan pada adiknya sendiri.


"Hah? Gak ada? Emang Neska kemana? Kakak tau?"


Cean mengendikkan bahu cuek. "Entah," katanya tanpa rasa bersalah.


Rion menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia memang mau terang-terangan mendekati Neska mulai sekarang, daripada harus mencari gara-gara untuk mendapat perhatian gadis itu. Toh, dia sudah tau keberadaan tempat tinggal Neska sekarang.


"Ehm, unit Kakak yang mana? Aku boleh nunggu Neska di tempat Kakak gak?"


Ingin rasanya Cean marah, bukan karena dia tak suka dikunjungi adiknya, tapi karena kedatangan Rion yang sebenarnya memang bukan untuk ke tempatnya.


"Kamu balik aja, Dek. Kakak mau pergi habis ini."


"Kak? Mau pergi ya pergi aja. Nanti aku kunci pintunya kalau aku juga pergi, gampang ..."


Cean menghela nafas panjang. Dalam hati dia berharap Rion tidak bertemu Neska hari ini. Sayang, baru saja Cean menyetujui usul Rion dan mau mengajak pemuda itu untuk masuk ke unitnya, rupanya pintu sebelah sudah terbuka dari dalam.


"Nes?"


"Lho, katanya, lo pergi, Nes?" Rion buka suara lebih dulu.


Sementara gadis yang ditatap, tampak kebingungan, dia melirik Cean sekilas, namun kemudian membuang pandangan ke arah lain demi menghindari kontak mata dengan pemuda sejuta pesona itu.


"Gue pergi? Kata siapa?" ujar Neska tak acuh. "Lagian, lo ngapain disini, Rion?" tanyanya kemudian.


Rion menggosok tengkuknya sekilas, tampak malu dan entah kenapa Cean justru mematung menyaksikan interaksi saudara lelakinya dengan gadis yang ada dihadapannya.


"Gue ... mau ajakin lo jalan, Nes. Mau gak?"


"Kemana?" respon Neska-- membuat Cean melotot di tempatnya, sebab tak menyangka jika Neska akan menanggapi ajakan sang adik.


"Lo maunya kemana? Makan? Nonton? Minum es krim?" tanya Rion.


Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu, dia langsung menyahut pertanda setuju dengan tawaran Rion.


"Ya udah, kita jalan, tapi gue siap-siap dulu, ya."

__ADS_1


Jawaban Neska membuat Rion tersenyum penuh kemenangan, sementara Cean menghela nafas panjang dari posisinya yang masih mematung di tempat.


Padahal tadi Cean sudah memberi isyarat pada Neska dengan sebuah gelengan agar gadis itu menolak ajakan Rion, sayangnya Neska tidak memahami maksud Cean atau justru sengaja mengabaikannya begitu saja?


Neska tampak berbeda sejak pertengkaran mereka kemarin. Apa gadis itu serius untuk menjaga jarak darinya? Pikir Cean.


"Ya udah, gue tunggu di rumah Kak Cean aja, ya." Rion tersenyum manis. "Ternyata kalian tetanggaan deket banget, pantesan Kak Cean kenal lo, Nes," lanjutnya.


Neska hanya mengangguk samar, kemudian kembali masuk ke dalam unit apartmennya untuk bersiap karena ajakan Rion.


Rion dan Cean saling bertatapan. Rion tampak biasa saja, dia tak merasa ada yang salah, justru raut wajahnya memancarkan binar bahagia karena ajakannya pada Neska tak ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.


Sementara Cean, menatap Rion dengan tatapan malas. Andai saja Rion tidak datang, pasti tadi dia bisa mengajak Neska bicara lebih lanjut perihal kesalahpahaman semalam. Walau bagaimanapun, Cean merasa tidak enak jika dia dan Neska harus benar-benar menjaga jarak.


"Kenapa tadi Kakak bilang Neska pergi?" tanya Rion sesaat setelah masuk ke kediaman sang Kakak.


"Hah?"


"Tadi Kakak bilang Neska pergi, taunya dia ada dirumah!?"


"Oh, iya, berarti tadi Kakak salah lihat. Pas joging tadi ngeliat cewek yang mirip Neska, lagi jalan ke arah supermarket depan."


Sekali lagi Cean berdusta untuk menutupi kebohongannya yang sudah terlanjur dia lakukan sejak awal.


"Oh..." respon Rion. Pemuda itu pun melihat-lihat keadaan dalam unit yang ditempati sang kakak.


"Mama, Papa, sama Kak Aura tau kalau Kak Cean tinggal disini?" tanyanya lagi.


"Enggak lah. Kamu jangan bilang-bilang ya, dek."


"Gampang, asal ada uang tutup mulutnya."


Cean terkekeh mendengar akal bulus adik bungsunya itu.


Kemudian Rion duduk di sofa sederhana yang ada disana.


"Nyaman juga disini, apalagi bisa tetanggaan sama Neska."


Cean tak menyahuti perkataan sang adik. Dia menuju kulkas dan mengambil dua kaleng softdrink disana.


"Nih, minum," kata Cean pada Rion dan menyerahkan minumannya.


"Makasih, Kak," jawab sang adik. "Kak, kalau aku ikut tinggal disini, gimana?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Bersambung ...


Next? Tinggalkan komentar✅


__ADS_2