TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
36. Terjebak


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore saat Rion dan Neska keluar dari Salon. Menggunakan taksi sebagai alat transportasi mereka seperti biasanya, Rion mengajak Neska jalan-jalan hari ini, dia mau semakin giat meluluhkan hati Neska sebelum keduluan oleh Cean yang sudah terang-terangan ingin merebut Neska darinya.


"Ehm, mulai besok kita gak bakal naik taksi lagi. Jadi, kalau kemana-mana udah gak repot," kata Rion.


"Kamu beli motor?" tebak Neska.


"Enggak, aku pikir naik mobil lebih nyaman buat kamu."


"Kok aku?" ujar Neska heran. "Jadi kamu beli mobil karena aku?" tanyanya.


Rion menipiskan bibir. "Kasihan kamu kalau pas hujan. Lagian bukan aku yang beli, kan Papa yang nawarin, ya udah aku iyain."


Neska diam. Dia tidak tau harus merespon apa sekarang.


"Ehm, sekarang kita mau kemana?"


"Kita jarang bisa jalan-jalan bareng gini, kan? Kemarin kita cuma ke Mall, padahal aku pengen ajak kamu ke banyak tempat selama disini."


Neska tersenyum simpul. Pemuda ini memang terlalu baik padanya, tapi entah kenapa hatinya tidak bisa dipaksa untuk berbelok arah kepada Rion. Neska mau jujur pada Rion hari ini mengenai perasaanya, sekaligus dia ingin melihat respon Rion tentang hal ini.


Tak berapa lama, Taksi yang mereka tumpangi tiba di sebuah tempat yang tampak sejuk. Changi Point Coastal Walk, sebuah tempat yang romantis dan biasa didatangi bersama dengan pasangan.


Tempat ini mempunyai jalan pantai yang dapat melihat langsung panorama laut yang menakjubkan.


Terdapat pula pohon-pohon yang meneduhkan, pondok-pondok di puncak bukit, dan tanaman hijau subur.


Rion berniat menikmati matahari terbenam yang memesona bersama dengan Neska di tempat ini.



"Kamu suka banget ajak aku ke Pantai," kata Neska yang mengingat jika Rion beberapa kali mengajaknya ke tempat seperti ini--pun saat mereka masih di Indonesia.


"Aku suka lihat laut, menjernihkan pikiran yang sedang kusut," kata Rion terus terang--masih dengan sunggingan senyum yang tidak hilang.


"Jadi, sekarang pikiran kamu sedang kusut, gitu?" tebak Neska.

__ADS_1


Rion diam. Dia tidak membantah, pun tidak mengiyakan.


Mereka kemudian duduk disebuah kursi panjang yang ada disana.


"Kamu tau, pertama kita tiba di negara ini sama-sama, perasaan aku mulai tenang. Aku bisa konsen kuliah dan memikirkan soal kita." Rion menoleh pada Neska yang duduk disisinya. "Tapi sekarang, ketenangan aku mulai sedikit terusik," lanjutnya.


Neska menoleh dan mendapati wajah Rion yang sudah menatapinya dengan serius. Kedua bola mata itu seolah mengurung Neska agar dia tidak memandang ke arah yang lainnya.


"Jujur, Nes ... aku merasa terusik karena kedatangan Kak Cean kesini."


Ucapan pemuda itu membuat kelopak mata Neska melebar. Dia semakin menatap Rion lamat-lamat, ada keterkejutan dari cara tatapnya, tapi dia berusaha menutupi meski pandangannya masih terkunci pada sepasang mata Rion yang penuh keseriusan disana.


Neska yang awalnya mau jujur pada Rion mengenai apa yang dirasakannya dari hubungan mereka ini, mendadak blank dan tidak bisa berucap. Bibirnya terkatup rapat dan tubuhnya seakan terpasak disana demi mendengarkan pernyataan Rion selanjutnya.


"Aku tau, aku bisa menilai semuanya Nes, kamu gak perlu ucapkan apapun mengenai perasaan kamu ke aku karena itu hanya akan membuat aku semakin sakit hati."


Deg ...


Jantung Neska rasanya mencelos. Jadi ini maksudnya dia tidak perlu menjelaskan pada Rion perkara apa yang tadinya mau dia katakan? Rion sudah tau semuanya? Ya, pasti pemuda ini sudah dapat menebak dari semua sikap Neska yang acuh tak acuh setiap bersama dengan pemuda itu. Neska memang bersalah dan merasa semakin berdosa sekarang. Ternyata dia benar-benar sudah menyakiti Rion sedemikian rupa.


"Aku gak pernah memaksakan kamu, kan, Nes?"


Secara implusif, Rion memalingkan wajah, sekarang pemuda itu menatap lurus-lurus ke depan sana, dimana air terbentang luas dengan sedikit meliuk-liukkan ombak. Matahari mulai condong ke arah barat membuat Neska mengikuti arah pandangan Rion juga pada akhirnya.


"Jangan, Nes. Jangan jujur sama aku apapun perasaan kamu."


Ucapan Rion kali ini membuat Neska tertegun.


"... karena aku pasti gak akan bisa mendengar kejujuran kamu."


Rion mengambil tangan Neska yang berada dalam pangkuan gadis itu, membuat Neska menoleh pada Rion seketika itu juga.


"... aku gak mau denger apapun itu, Nes. Bagi aku, ini semua udah cukup. Kebersamaan kita sampai hari ini udah buat aku bahagia. Jadi, jangan mengutarakan apapun, ya."


Rion menggenggam jari jemari Neska lembut, membuat hati gadis itu semakin terenyuh.

__ADS_1


Padahal Neska baru saja mau jujur pada Rion jika sampai saat ini dia belum bisa memiliki rasa berlebih terhadap pemuda itu. Jika memungkinkan juga, Neska mau mengakhiri saja semuanya karena dia tidak mau Rion semakin tersakiti. Tapi sekarang, Rion malah tidak mau mendengar kejujurannya seakan bisa menebak jika dia memang mau mengutarakan semuanya.


"Aku tau kamu belum bisa membawa nama aku dalam hati kamu, Nes."


Sekali lagi Rion dapat menebak perasannya membuat Neska serba salah.


"Itulah kenapa aku merasa terusik dengan kedatangan Kak Cean, karena ..." Rion menjeda ucapannya. "... karena aku tau dihati kamu masih ada dia, bukan aku," sambungnya lirih.


Neska menundukkan wajah, menggigiit bagian pipinya dari dalam dengan cukup keras, sampai dia merasakan asinnya darah dan membuatnya meringis karena ulahnya sendiri. Neska tau perasaan Rion sekarang terasa lebih sakit dari ini, Rion pasti merasa dipermainkan.


"Aku bakal berusaha lebih keras buat kamu nyaman dan menerima aku, Nes. Yang penting kamu mau, kan?" tanya Rion yang kini sedikit menoleh ke samping--kearah Neska.


Neska membeku, dia ingin tegas tapi sejak awal Rion bahkan tidak memberinya kesempatan untuk jujur. Apa ini artinya Rion sengaja membuka kesempatan bagi Neska untuk terus melukai perasaannya?


"Rion, sebenarnya apa yang kamu bilang itu benar ..." Mau tak mau Neska harus mengutarakannya juga. Toh, Rion sudah tau segalanya. Kendati pemuda itu telah melarangnya, tapi Neska sudah berniat mengatakannya.


"Nes--" Rion seakan memprotes Neska yang berusaha untuk terbuka, tapi secepat kilas Neska memotong ucapannya.


"Dengerin dulu," sela Neska. "Kamu mau kasih aku kesempatan untuk ngomong, kan?" tanyanya menatap lamat-lamat pada pemuda itu.


Rion akhirnya mengangguk.


"Aku emang belum bisa menempatkan nama kamu dalam hati aku."


"Tapi, Nes--"


Sekali lagi Rion mau memprotes bahkan ingin menyela ucapan Neska, tapi gadis itu menaikkan tangan sebagai isyarat agar Rion jangan memotong ucapannya lagi.


"Dan aku gak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi. Sejujurnya, aku merasa bersalah sama kamu. Aku udah menyakiti kamu. Aku gak mau kamu terus merasa dan berada diposisi ini terus jadi..."


"Cukup, Nes!" Kali ini suara Rion berubah tegas. "Sekarang, terserah kamu mau bilang apa. Apapun, aku gak akan melarang kamu lagi. Tapi, aku gak peduli Nes. Biarpun kamu bilang kalau kamu masih memiliki rasa sama Kak Cean dan itu adalah kenyataannya. Ini udah gak ngefek lagi sama aku. Aku bakal nerima ini, sampai kamu benar-benar bisa buka hati untuk aku."


Ucapan Rion membuat Neska melongo. Apa ini artinya Rion mau memaksakan hubungan mereka? Padahal Neska sudah berusaha untuk bicara secara baik-baik dan lagi apa Rion hanya memikirkan perasaannya saja?? Apa ini berarti Neska juga sudah terjebak dalam hubungannya bersama Rion?


Bersambung ...

__ADS_1


Next? Komen✅


__ADS_2