TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
12. Balada kran rusak


__ADS_3

Neska tidak melanjutkan sesi belajarnya hari itu. Dia memilih untuk izin pulang karena kepalanya masih sakit ditambah hilang semangat.


Dilain sisi, Cean juga tiba di Apartmennya dan kepulangannya itu terlihat oleh para tetangga yang ada disana.


Indah dan Yola memang sedang bergosip di lantai 11 seperti biasanya, jika Neska sekolah dan Dena bekerja, maka hanya mereka berdua yang nongkrong disana.


Indah menunggu jam putranya pulang sekolah, barulah akan beranjak dari koridor tempat tongkrongan mereka, sedangkan Yola memang biasa menganggur di jam ini dan akan kembali bekerja di waktu hari mulai gelap.


Kepulangan Cean yang melangkah melewati koridor itu disapa oleh keduanya.


"Ehm, Mas tetangga baru yang nempatin unit disebelah Neska ya?" tanya Indah berbasa-basi. Dia sebenarnya tidak segenit Yola ataupun Dena, dia menyapa memang untuk saling mengenal saja, tapi jika pemuda tampan ini tertarik padanya, dia pun tak akan menolak pesona lelaki tampan itu.


Cean tersenyum tipis. "Iya, Mbak," jawabnya singkat.


Cean mau langsung undur diri, tapi sepertinya Yola dan Indah tidak membiarkan pemuda itu lolos begitu saja.


"Mas nya kok udah pulang kerja jam segini?" tanya Yola, lebih ke arah menyelidik.


"Iya, pekerjaan saya sudah selesai." Lagi-lagi Cean mematut senyum tipis lebih seperti risih dengan kedua wanita itu.


"Ehm, memangnya bisa gitu, ya? Enak banget ya kerjanya, kalau udah selesai langsung boleh pulang. Hmm..."


"Maaf, permisi," kata Cean ingin beranjak tapi Yola kembali menghentikannya.


"Mas, kita berdua juga tinggal di gedung Apartmen sini lho, apa Mas gak mau kenalan sama tetangga-tetangga sekitar? Aku lihat Mas udah kenalan sama Neska tempo hari." Yola kembali berujar, dia memang paling agresif dalam hal seperti ini.


Indah ikut-ikutan mengangguki perkataan Yola, pertanda dia setuju jika Cean harus mengenal mereka juga bukan hanya Neska saja.


"Ah, begitu ... maaf mbak, saya belum pernah mengenalkan diri. Saya Cean ..." kata pemuda itu.


"Saya Indah, dan ini Yola." Indah mengulurkan tangan pada Cean sesegera mungkin sebelum Yola yang mendahuluinya dalam tindakan itu.


Cean menyambutnya singkat dan Indah terpana karena sekarang tangannya berjabatan dengan Cean meski hanya beberapa detik saja.


Tangannya bisa halus gini, batin Indah.


"Sudah, ya, Mbak Indah dan Mbak Yola."


Pada dasarnya Cean memang ramah sehingga dia tidak bisa mengabaikan kedua wanita ini. Apalagi aura playboy dalam dirinya selalu tak mau menyakiti para gadis dan wanita, setidaknya dia menghargai mereka yang mau mengenalnya.


"Apa sekarang saya boleh kembali ke kediaman saya?" tanya Cean kemudian.


"Gak mau disini dulu? Ngobrol sama kita berdua?" tawar Yola dengan memasang wajah menggoda.


Cean tersenyum kecil, tentu mau menolak dengan halus. Tapi, belum sempat dia mengatakan penolakannya, mereka semua justru beralih menatap pada lift yang baru saja terbuka dimana ada Neska yang baru saja pulang dengan wajah lesu.


"Neska?"


Indah yang lebih dulu berlarian mengejar gadis lugu itu diambang lift.


Ini belum waktunya pulang sekolah, kenapa Neska sudah kembali ke Apartmen?


"Nes? Kamu kok udah pulang?" tanya Indah seperti mau menginterogasi gadis itu.


"Aku gak enak badan, Kak."


Neska bergerak pelan dan ketika mencapai batas dimana Cean dan Yola berdiri, dia menyadari ada kejanggalan.


"Kak Cean kok disini?" tanya gadis itu, dia menatap Cean bergantian dengan Yola juga.


"Aku mau pulang, tapi mbak-mbak berdua ini mengajak berkenalan," jawab Cean seadanya.


"Oh," jawab Neska tak bersemangat.


Neska melihat Yola yang tersenyum penuh arti padanya. Neska dapat menyimpulkan jika saat ini Yola dan Indah sedang melakukan aksi untuk merebut perhatian Cean seperti pembahasan mereka tempo hari--saat dimana Cean baru saja pindah ke gedung tua itu.

__ADS_1


"Aku duluan ya, Kak." Neska berderap dan meninggalkan Cean, Indah serta Yola disana.


Cean gemas sendiri, selain prihatin pada Neska yang mengaku tak enak badan, dia sebenarnya mau meminta bantuan Neska untuk lolos dari kedua wanita didekatnya, tapi berhubung Neska sudah lebih dulu pergi, maka Cean kehilangan cara untuk kabur sekarang.


"Mbak Indah, Mbak Yola, saya permisi ya, mau istirahat." Cean berujar kikuk.


"Disini aja istirahatnya, kita bisa lho buat kamu rileks."


Oh my ... rasanya Cean mau mendengkus sekarang. Andai bukan para wanita yang mencegah langkahnya sekarang, Cean pasti akan berlaku lebih keras untuk pergi, karena ini seperti membuang-buang waktunya saja.


"Permisi." Kali ini suara Cean lebih tegas. Ia memasang wajah dingin, hingga membuat Yola dan Indah saling memandang dengan kebingungan sebab perubahan sikap pemuda itu.


"Astaga, Yol, tetangga kita yang satu ini benar-benar meresahkan, deh." Indah menggoncang-goncangkan lengan Yola dengan rasa gemas luar biasa.


"Dia gak ngelirik kamu, tuh," kata Yola mengolok Indah.


"Sama, dia juga gak ngelirik kamu!" ucap Indah mendengkus. "Seenggaknya tadi kita udah jabatan tangan. Tau gak, tangannya tuh lembut dan halus banget... gak kebayang deh kalau tangan itu nyentuh wajah aku dan yang lainnya," katanya kemudian.


"Dasar janda gatel," cibir Yola.


"Kamu juga, kan!"


Mereka kemudian tertawa disana.


Bersamaan dengan itu, Cean yang berjalan cepat dengan langkah kakinya yang lebar, sudah tiba didepan unitnya sendiri.


Didepan pintu, Cean sempat melirik pada pintu unit yang Neska tempati. Entah kenapa dia ingin melihat keadaan gadis itu yang tadi terlihat tak baik-baik saja.


Ah, kenapa harus peduli? Mereka bahkan baru saling mengenal, pikir Cean.


Cean akhirnya masuk ke kediamannya sendiri. Dia membawa pekerjaannya ke rumah hari ini selepas dapat info dari Marko mengenai Jasper. Dia tidak mau pria itu semakin menyelidikinya.


Bersamaan dengan itu, ponsel Cean berdering dan itu dari Wenda.


Sejak Wenda di rawat di Rumah Sakit dua hari lalu, Cean memang tidak menghubunginya lagi setelah melihatnya terlalu dekat dengan Jasper waktu itu. Cean pikir Wenda akan menghubunginya, nyatanya tidak. Dan baru hari ini gadis itu kembali meneleponnya. Cean pun tersenyum miring sekarang. Apa lagi ini? Batinnya.


"Aku udah keluar dari Rumah Sakit. Kamu kok gak menghubungi aku, sih?"


"Kamu sendiri gak ngabarin aku." Cean menyahut cuek. Dia bahkan mengira Wenda akan meminta maaf atas kejadian waktu itu, nyatanya tidak.


"Kok gitu, sih? Jadi kamu mau menghubungi aku kalau aku ngasih kabar duluan ke kamu, gitu?"


"Gak gitu juga, paling enggak, aku tau kalau sekarang kamu udah gak sama Jasper lagi baru kamu menghubungi aku, kan?"


"Cean... apaan sih kamu?"


"Aku cuma gak mau ganggu waktu kalian berdua. Aku cukup pengertian untuk memaklumi itu dan menunggu kamu gak sibuk dengan dia."


"Cean, maaf, aku minta maaf ya. Aku gak bermaksud mengabaikan kamu. Aku ... ehm, aku baru pegang hp juga sih makanya baru hubungin kamu hari ini."


Cean ingin terbahak sekarang. Terlalu terlambat ucapan maaf gadis ini, bahkan dia juga berujar gugup, pikirnya.


"Oh gitu? Emang hp kamu dimana dua hari ini?"


"Ada, tapi aku gak buka gadget. Sekali lagi aku minta maaf, ya."


Cean tak mau menggubris alasan klise yang dibuat-buat itu, dia lebih tertantang untuk membuktikan ucapan Marko sekarang. Wenda tak lagi penting-- sejak dia tau sejauh mana kedekatan gadis itu dengan Jasper.


"Kamu gak kerja hari ini?" tanya Wenda kemudian.


"Kerja dong, kalau gak kerja aku mau makan apa."


"Cean, kamu bisa cari kerja di tempat lain kalo emang udah gak betah di perusahaan yang sekarang jadi tempat kerja kamu."


"Aku terikat kontrak, Wen ..."

__ADS_1


Terdengar helaan nafas berat dari Wenda diseberang sana. "Ya udah, aku mau ketemu kamu setelah ini. Bisa, gak?" tanyanya.


...~~...


Neska baru saja mau mandi ketika kran air di Apartmennya justru terlepas.


"Si@l!" Neska mengumpat kesal. Bukan bangunan Apartmennya saja yang tua, tapi peralatan dan pernak-pernik disini juga sudah patut untuk diganti.


Air terus keluar dari titik air di dinding yang krannya sudah terlepas itu. Neska berinisiatif menyump@lnya dengan kain tapi tetap tidak bisa, yang ada malah kainnya jatuh dan lolos dari sana karena tendangan airnya sangat kencang. Neska bahkan sudah basah kuyup sebelum sempat mandi.


"Aaaaa ... gimana ini?" Neska panik. Bisa-bisa rumahnya kebanjiran jika begini. Dia mau mematikan sumber air dari mesinnya langsung-- tapi letaknya terlalu tinggi dan tidak bisa Neska jangkau, sementara dikediamannya Neska tak punya tangga atau semacamnya.


"Aku harus hubungi pihak Apartmen tua ini. Mereka harus membenarkan saluran air yang kerannya lepas." Neska bertekad.


Neska segera keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya, sayangnya panggilannya ke pihak Apartmen tidak tersambung.


Satu-satunya jalan ninja Neska adalah meminta bantuan tetangga yang terdekat dengan unitnya. Pilihannya hanya ada dua. Yang pertama adalah Pak Win, dan yang kedua adalah Cean.


Tentu Neska tak mau merepotkan Cean dalam hal semacam ini, dia pun keluar untuk meminta bantuan Pak Win.


Namun sayang, ketukan pintu yang Neska lakukan dikediaman pria tua itu bukannya mendapat sahutan dari si empunya, justru seseorang dari unit Apartmen lain yang keluar.


"Nes? Ada masalah?" Cean disana dengan penampilan yang sudah rapi.


Neska melirik pada dirinya sendiri yang acak-acakan karena tragedi di kediamannya sendiri.


"Gak, Kak. Gak ada apa-apa." Neska tak mau merepotkan Cean dalam hal ini.


"Kamu kelihatan gak baik-baik aja. Kamu sakit? Tadi pulang sekolah juga lebih cepat, kan?"


"Ng ... Kak, sebenarnya aku lagi ada masalah." Akhirnya Neska memutuskan untuk terbuka. Dia tidak memiliki pilihan lain, dia takut air didalam kamar mandinya semakin meluber kemana-mana.


"Apa?"


"Kran di kamar mandi aku copot, airnya kemana-mana. Aku gak bisa matiin dari mesin air, tombolnya ketinggian."


Mendengar itu, Cean langsung melotot. "Kok gak bilang dari tadi? Biar aku lihat," tanggap Cean.


Neska merasa terharu. Dia tak menyangka Cean mau melakukan ini dan membantunya padahal pria itu sudah sangat rapi dan kelihatannya mau pergi.


"Kak, aku---"


"Ayo, Nes! Apa kamu mau aku masuk ke rumah kamu sendirian, buat lihat masalah itu?"


"Eh? Ehm... gak, kak. Ya udah, ayo, masuk!"


Neska membukakan pintu dan benar saja, air sudah merembes kemana-mana.


"Kak, pasti kakak bakal basah kalau masuk ke kamar mandi. Airnya deras banget. Krannya udah copot."


Cean membuka kemejanya dan kini hanya mengenakan kaos dalaman untuk mengecek keadaan dalam kamar mandi yang masih tertutup pintunya itu.


"Kamu disini aja, biar aku yang masuk ke kamar mandinya. Ya?"


Neska mengangguk, dia duduk disana dan menunggu Cean yang sudah mulai membuka pintu kamar mandi.


"Nes????"


Sekarang Neska terkejut saat mendengar teriakan Cean dari dalam kamar mandinya.


Bersambung ...


ANESKA PUTRI


__ADS_1


BLUE OCEAN LAZUARDI



__ADS_2