
"Nes????"
Neska tidak sempat berpikir saat dia mendengar Cean yang memekik dari dalam kamar mandi.
"Kenapa, Kak?" Neska buru-buru menghampiri setelah membuka pintu kamar mandi dan akhirnya ia ikut basah juga seperti Cean.
"Itu ..." Cean menunjuk ke arah dimana ada benda yang sempat mengagetkannya, Neska otomatis menatap pada sesuatu yang Cean maksudkan dan itu justru membuat mata Neska membola seketika.
"Hah? Maaf ya, Kak," kata gadis itu segan, dia segera memungut sepasang underwearnya yang tersangkut disana.
Neska amat sangat malu, bukan sengaja memperlihatkan benda itu pada Cean.
"... tadi aku mau mandi pas kran-nya rusak," kata Neska menjelaskan seadanya dan buru-buru berlari pergi.
Untuk kedua kalinya, gadis itu merutuk diri akibat orang yang sama. Ceroboh! Kenapa ini lebih memalukan ketimbang pernyataannya waktu itu di Apartmen Cean? Pasti Cean akan mencibirnya dalam hati dan pemuda itu akan ilfeel padanya sekarang.
Cean sendiri bernafas lega setelah Neska keluar membawa serta barang pribadinya.
Tadi, Cean refleks memekik kaget saat melihatnya, sebab benda itu seperti disajikan didepan matanya. Maklum, kamar mandi di Apartmen ini sangat kecil sehingga pandangan pun tidak bisa kemana-mana lagi dan benda dengan warna merah muda itu tampak lebih menarik perhatian Cean ketimbang kran yang copot dari tempatnya.
Cean tidak terbiasa melihat benda semacam itu. Meski jiwa playboy ada dalam dirinya, tapi dia masih membatasi untuk hal-hal yang melewati batas.
Parahnya, untuk pertama kali Cean melihat barang pribadi seorang gadis dan itu justru milik Neska yang dia anggap seorang bocah.
Cean tidak mau pemikirannya mengenai gadis itu berubah hanya karena sempat melihat underwearnya. Astaga ...
Cean kembali fokus pada kran yang copot. Ini perlu diganti, krannya sudah keropos, pikir Cean.
Cean keluar lagi dari kamar mandi dengan keadaan yang basah. Menggaruk dahinya sekilas dan menghela nafas panjang. Tidak adanya Neska membuatnya harus kembali memanggil gadis itu.
"Nes?"
"Neska?"
"Y--ya, Kak?" Neska keluar dari kamar dengan wajah yang merah padam, dia sudah berganti pakaian karena yang tadi sempat kebasahan lagi. "Kak, soal yang tadi maaf ya, sumpah aku gak berniat, aku gak sengaja, aku lupa," paparnya menjelaskan.
Cean berdehem-dehem sekilas, dia gugup, entah kenapa. Akibat tak sengaja melihat benda yang ditemukannya di kamar mandi tadi, mata nakal Cean jadi menyelidik ke arah body Neska. Sialan.
"Ehm ... kran-nya harus di ganti, Nes." Cean memilih membahas hal lain, daripada mendengar Neska membicarakan hal yang sama lagi dan justru membuat pikiran Cean kembali menjadi gila.
__ADS_1
"Oh, iya, kak. Aku beli yang baru aja deh." Neska juga langsung tampak kikuk.
"Ya udah, karena aku udah terlanjur basah begini, kamu beli sekarang biar sekalian aku pasangin kran-nya. Aku tunggu disini, ya." Cean menggosok tengkuknya sekilas, masih saja gugup. "Kran-nya diameter setengah inchi, Nes. Ah, iya, sekalian belikan juga seal-tape nya," kata Cean.
Neska mengangguk-angguk pelan. "Iya, Kak. Sebentar ya."
Sebenarnya Cean mau mengeluarkan uang dari dompetnya, hanya saja gadis didepannya tiba-tiba sudah berlalu secepat kilat, tampaknya Neska juga menahan malu luar biasa, sama seperti yang dirasakan Cean saat ini.
Cean tak jadi mengambil dompetnya, dia justru memikirkan hal lain.
"Gak, gak. Neska itu masih kecil, aku gak boleh menganggap dia seperti gadis yang lain," gerutu Cean seperti bicara dan mengingatkan pada dirinya sendiri.
Cean mondar-mandir gelisah seperti orang linglung. Dia bahkan melupakan janji temu dengan Wenda sore ini. Padahal tadi dia sudah bersiap rapi untuk menemui gadis itu.
Karena Cean tak mau masuk angin menunggu Neska yang belum juga kembali, dia memilih melepaskan kaos basah yang masih dikenakan olehnya. Menyebabkan pemuda itu hanya ber-te-lan-jang dada sekarang.
"Neska beli kran-nya dimana, ya?" Cean menunggu dengan tak sabar. Dia akhirnya keluar dari dalam Apartmen Neska dalam keadaannya yang seperti itu.
Menunggu di ambang pintu sambil melihat ke arah koridor dimana seharusnya Neska sudah tiba disana.
Tak berapa lama, yang ditunggu sudah terlihat.
Neska kembali dengan gestur grasak-grusuknya. Tapi matanya berkedip gelisah saat melihat keadaan Cean sekarang yang hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan.
"A--ada, Kak."
Gadis itu menundukkan pandangan. Wajahnya mungkin sudah merona sekarang. Ini pertama kali dia melihat postur tubuh atletis seorang pemuda matang secara langsung dan perut kotak-kotak itu mengingatkannya pada sebuah iklan di televisi.
Neska pun mengulurkan bungkusan berisi kran air pada Cean dan disambut oleh pemuda itu dengan gelagat biasa saja. Cean tidak pernah tau jika sekarang Neska tengah mati-matian menahan rasa serba salah yang membuat jantungnya bermanufer cepat akibat melihat penampilan pemuda itu.
Cean pun kembali masuk ke dalam Apartmen Neska dengan tak merasa ada yang salah.
Cean mulai memasang kran di kamar mandi, sementara Neska memegang dadanya sendiri. Jika diibaratkan, saat ini jantungnya hampir terlepas dari rongganya.
Dalam beberapa menit kemudian, pemuda itu sudah keluar dan berucap pelan.
"Kran-nya udah selesai, Nes."
Neska segera bangkit dari duduk gelisah nya. "Ah, iya, makasih banyak, ya, Kak."
__ADS_1
"Kamu kenapa nunduk gitu? Aku perhatiin sejak kembali dari membeli kran kamu jadi aneh."
Haruskah Neska blak-blakan saja kalau keadaan Cean sekarang menodai matanya?
"G-gak, Kak. Gak apa-apa."
Cean mematut senyum tipis. Dia sudah tau jika Neska berkata tak apa-apa tandanya ada apa-apa.
"Ada masalah lainnya?" tebak Cean. "Kalau soal yang tadi, lupain aja. Gak usah malu lagi. Okey?"
Padahal Cean pun masih mengingat jelas bentuk benda yang tadi sempat dia lihat. Jelas saja Neska malu, karena sebenarnya diapun sama, pikirnya.
Cean hanya tidak mau ada yang berubah setelah ketidaksengajaan itu.
"Ehm, bukan itu, Kak."
"Terus?"
"Kakak ... jangan keluar Apartmen dengan keadaan begini, ya."
"Begini gima---" Cean melihat pada dirinya sendiri dan, "Ah, sorry. Aku pikir ... gak gitu, maksud aku, kamu jangan melihat aku sebagai lelaki."
"Terus? Aku lihat kakak sebagai perempuan, gitu?" tanya Neska dengan polosnya.
Cean terkekeh. "Gak, maksudnya kamu anggap aku seperti kakak kamu saja, begitu... jadi kamu gak akan malu lagi, anggap biasa saja, Nes."
Untuk beberapa saat Neska melongo tak percaya atas ujaran Cean.
"Kakak, mau aku anggap sebagai kakak lelaki aku, begitu?"
"Nah, pinter." Cean bergerak mengambil kaosnya yang basah, kemudian mengenakannya lagi sebab permintaan Neska ada benarnya, dia tak mungkin pulang dalam keadaan ber-te-lan-jang dada meski Apartmennya hanya berada disebelah saja.
Neska tergugu, dia kehilangan kata-kata. Dalam hatinya mengatakan bahwa fakta sebenarnya adalah Cean ingin menganggapnya sebagai adik perempuan dari pemuda itu. Begitukah?
"Ya udah, Nes. Aku balik dulu, ya."
Neska mengangguk-anggukkan kepalanya, entah kenapa matanya memanas sekarang. Dia ingin menangis menyadari jika Cean bukan menganggapnya seorang gadis melainkan seperti seorang adik.
Cean menutup pintu apartmen Neska dan berlalu meninggalkan Neska yang masih memikirkan hal ini. Apa ini yang namanya patah sebelum tumbuh dan layu sebelum berkembang?
__ADS_1
Bersambung ....
Next? Komen yang banyak✅