TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
22. Protektif


__ADS_3

"Aku gak bisa, Kak. Kalau Kakak masih menganggap aku adik, silahkan. Itu memang hak Kakak. Tapi kalau aku mau jaga jarak dari Kakak, aku harap Kakak juga gak mempermasalahkan, karena itu juga hak aku, Kak."


Lidah Cean rasanya kelu, dia tidak bisa menyahuti perkataan Neska yang terasa menohok itu. Benar, apa yang gadis ini sampaikan itu adalah kebenaran. Mereka sama-sama punya hak untuk menentukan.


Jika Cean hanya bisa menganggap Neska sebagai adik maka Neska juga berhak untuk menjauhi demi menjaga perasaan gadis itu sendiri agar tidak terus tersakiti dengan anggapan Cean kepadanya.


"Baik, jika memang kamu mau menjaga jarak denganku. Aku akan mengabulkannya. Maaf jika aku sudah menyakiti hati kamu, Nes." Cean mengangguk samar, kemudian berlalu dan memasuki Apartmennya sendiri.


Sampai didalam ruangan yang serba terbatas itu, Cean mengembuskan nafas kasar. Kenapa Neska harus seperti ini? Sedramatis ini? Tidak bisakah dia bersikap biasa saja?


Tapi entah kenapa Cean cukup tersentil akibat sikap Neska. Ya, bagaimanapun gadis itu memang berhak menentukan yang terbaik untuk dirinya, dan Cean tidak layak memaksanya.


"Baiklah, kenapa juga harus peduli. Menjaga jarak dari Neska tidak masalah, toh kita juga baru mengenal beberapa Minggu."


Cean percaya, jika Neska masih labil dalam mengartikan perasaan. Gadis itu masih bisa melabuhkan rasa suka kepada pemuda lain. Rion misalnya. Tapi, lagi-lagi entah kenapa membayangkan itu membuat kepala Cean pening.


"Baiklah, mulai sekarang aku tidak boleh terlalu peduli padanya." Cean mulai bertekad.


Keesokan harinya, Cean keluar dari unit apartmennya hingga mau tak mau dia harus berpapasan dengan Neska yang hendak pergi ke sekolah di hari Senin.


"Nes?" Seolah kebiasaan, dia lupa jika gadis itu mau menjaga jarak. Dia malah menyapanya.


Neska hanya menanggapi Cean dengan senyum yang dipaksakan kemudian melengos pergi. Saat itulah Cean tersadar, bukankah kemarin dia sudah bertekad untuk tak terlalu peduli pada gadis itu? Ah, iya, pikirnya.


"Neska ..."


Lagi-lagi Cean menghentikan langkah untuk memperhatikan interaksi Neska dengan Yola. Sepertinya ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian di Bar tempo hari.


"Ya, kak?" Neska menyahuti sapaan Yola. Cean melihat keduanya terlibat dalam sebuah percakapan yang serius.


"Nes, maaf ya soal malam itu. Aku gak lagi-lagi deh ajak kamu kerja di tempatku."


"Ah, soal itu. Aku juga minta maaf ya, kak. Apa kakak kena masalah di kerjaan karena kemarin terjadi keributan gara-gara aku?"


Yola menghela nafas pendek namun terdengar berat. "Kalau soal itu, iya, sih. Tapi gak apa-apa, aku yang salah. Justru aku gak enak banget karena kamu sampe digodain begitu. Pasti kamu takut banget ya, Nes." Yola menyentuh punggung tangan Neska tampak gurat wajahnya yang memang merasa bersalah.


"Ya udahlah, Kak. Mau gimana lagi. Udah kejadian juga."


"Ah, iya, ini Nes..." Yola menyerahkan beberapa lembaran biru kepada Neska. "Buat kamu, gaji untuk malam itu," paparnya kemudian.


Neska terlihat kebingungan, apakah dia harus menerima uang ini? Bahkan pekerjaannya tak selesai malam itu dan dia juga menyebabkan Yola bermasalah. Meskipun dia juga tak mau keributan itu terjadi gara-gara lelaki genit yang menggodanya. Ah, jika ingat kejadian itu Neska jadi kepikiran aksi Cean yang meninju sang pria.

__ADS_1


Ya ampun, lagi-lagi Cean yang dipikirkan. Neska merutuk dirinya sendiri.


"Nes? Kok bengong, ayo ambil!" Yola mendesak.


"Tapi kan, aku buat kakak jadi bermasalah ditempat kerja."


"Itu resiko aku bawa kamu kerja disana. Udah, ayo, ambil!" Yola memaksa.


Neska memang butuh uang itu, akhirnya dia mengambilnya, lagipula dia memang sudah sempat bekerja disana, kan? Meski tidak tuntas.


"Makasih ya, Kak."


"Iya, Nes. Aku minta maaf ya."


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tanpa keduanya sadari, ada Cean yang memperhatikan interaksi mereka dari jarak yang tak terlalu jauh. Dia juga mendengar percakapan Neska dan Yola.


"Ah iya, hampir lupa, katanya waktu itu kamu di tolongin sama pacar kamu, ya, Nes?"


Neska menggaruk pelipisnya sekilas. "Enggak, Kak. Itu cuma kenalan aku yang kebetulan ada disana juga," paparnya.


"Kenalan kamu?" Yola mengernyit dengan sebelah alis yang terangkat naik, sebab merasa ada kejanggalan. "Cuma kenalan kamu doang? Yakin? Kok kayak protektif gitu sama kamu?" lanjutnya diselingi dengan senyum menggoda.


"Ah, iya, Kak. Cuma kenalan gitu, kok. Gak lebih."


"Masa, sih?" Yola mencolek pipi chubby Neska seolah terus menggoda gadis itu.


Neska tertunduk dengan wajah Semerah tomat. "Iya, Kak. Aku mana punya pacar."


"Kalau orang protect begitu tandanya ada rasa, lho."


Ucapan Yola berhasil membuat Neska melotot, begitupun Cean yang masih di posisinya. Apa iya?


"Ah, begitu ya, Kak. Iya, sih. Dia ada rasa sama aku ... anggap aku udah kayak adiknya kali," ujar Neska acuh tak acuh sembari mengendikkan bahu. Keduanya lalu tertawa.


"Ya udah, sekolah sana. Ntar telat lagi "


"Ah, iya, Kak. Ini hari Senin, aku mau upacara. Bye, Kak." Neska melambai-lambaikan tangan pada Yola.


Setelah melihat Neska pergi, barulah Cean berderap dan keluar dari tempat persembunyiannya. Sebenarnya bukan sengaja untuk bersembunyi, hanya saja posisinya memang terhalang tembok sebab dia belum berbelok ke arah dimana Lift berada.

__ADS_1


"Mas Cean?" Yola melihat Cean disana.


Cean tidak membalas sapaan ramah Yola. Dia justru memasang wajah datar. Entahlah, Cean kesal karena sekarang dia tau bahwa wanita ini lah yang mengajak Neska kerja paruh waktu di Bar saat Sabtu malam kemarin. Meski sebenarnya Cean sudah bisa menebak itu--saat Marko menyebutkan pernah mengenal Yola di Bar yang sama.


"Mas, kenapa buru-buru banget?" Yola mengejar langkah Cean yang memasuki lift, bahkan wanita itu ikut masuk juga kesana padahal Cean yakin sang wanita tidak ingin keluar dari gedung Apartmen di pagi hari seperti ini.


"Saya udah telat." Cean menjawab datar, bahkan tak menatap lawan bicaranya.


"Mas, tau gak, ada yang mau saya tanyakan dari kemarin, cuma kemarin momennya gak pas karena ada Indah juga."


"Apa?" tanya Cean akhirnya. Dia membenarkan dasi yang dia kenakan saat lift sudah bergerak turun.


"Sebenarnya saya sempat beberapa kali ketemu Mas Cean diluar lingkup Apartmen kita ini lho, Mas." Yola berujar akrab.


"Oh, ya?" tanya Cean dengan senyum masam. "Di Bar?" lanjutnya menebak.


"Wah, Mas Cean tau? Apa diam-diam mas juga ngelihat keberadaan saya disana?" Yola tersenyum semringah.


"Bukan, Marko yang cerita pernah ketemu mbak disana."


"Oh, jadi Mas Marko itu temen dekatnya Mas Cean, ya?"


Cean mengangguk mengiyakan. Mereka keluar dari lift dan tiba di depan lobby.


"Hati-hati kerjanya ya, Mas." Yola mengucapkan kalimat itu tanpa risih, seolah-olah sikapnya hari ini memang sengaja mengikuti Cean sampai ke lantai dasar seperti tengah mengantar kepergian pemuda itu.


Cean tersenyum miring, tanpa pernah Yola duga, pemuda itu justru menoleh ke arahnya lagi dan mendekat ke samping tubuhnya dengan sedikit mencondongkan badan.


Yola terkesiap, dia sudah kepedean jika Cean akan tertarik padanya.


"Saya harap, mbak gak pernah mencoba mengajak Neska bekerja lagi di tempat hiburan malam seperti itu," tukasnya menohok membuat mata Yola melebar seketika tak pernah menyangka Cean justru membahas soal gadis yang tadi sempat dia temui.


"Ma-maksudnya?"


"Saya tau Mbak memahami maksud saya. Saya tidak menyukai Neska melakukan pekerjaan seperti pekerjaan yang mbak lakukan. Jadi ... jangan mengajaknya lagi." Cean menekankan setiap perkataannya.


Sementara Yola mengernyit dalam karena merasa jika sikap Cean terlalu protektif pada Neska. Bukankah ini terdengar aneh? Cean seakan memperingatinya terkait hal ini.


Ini membuat Yola jadi mengingat seorang yang Neska katakan sebagai kenalannya. Ya, kenalan yang sangat protect terhadap gadis itu? Apakah Cean orangnya? Apa dia juga yang membuat keributan malam itu demi menolong Neska dari Bram yang berniat menggodanya? Yola pun semakin bertanya-tanya dalam hati.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2