
Neska dan Sheila berlari-larian menuju Rumah Sakit yang diberitahukan sebagai tempat dimana Rion di tangani setelah mengalami kecelakaan.
"Suster? Saya mau menanyakan ruangan pasien yang baru saja mengalami kecelakaan."
"Atas nama?"
"Grey Orion Lazuardi."
"Sebentar saya cek dulu." Perawat itu langsung mencari nama dengan identitas yang dimaksud Sheila "Ruangannya, ada di Bangsal Melati Nomor 11."
"Oke, terima kasih, Suster." Sheila mengangguk sebagai bentuk undur dirinya pada perawat yang berjaga di depan meja resepsionis tersebut, kemudian segera bergegas, diikuti oleh langkah Neska yang sama risaunya dengan perasaan Sheila saat ini.
Mereka berdua memasuki bangsal yang tadi diberitahukan oleh sang suster lalu benar saja melihat Rion terbaring disana--diatas ranjangg pesakitan.
Kondisi pemuda itu terlihat memprihatinkan. Lehernya diberi gips, tangan kirinya juga dibalut menggunakan elastis berwarna kecoklatan.
"Grey?" Sheila menatap lelakinya dengan tampang sedih. Neska mengelus pundak Sheila untuk menenangkan gadis itu.
Sheila langsung menangis tersedu-sedu, sedang disana Rion masih belum nampak sadarkan diri.
"Kamu yang namanya Sheila?"
Sheila mengangguk pada seorang pemuda yang menunggui Rion didalam ruangan itu.
"Aku Dika, tadi aku yang menelpon kamu."
"Makasih Dika, kamu udah kasih tau aku mengenai apa yang menimpa Grey." Sheila menarik nafasnya sambil sesekali sesenggukan. "Gimana kejadiannya Grey bisa kecelakaan begini?" tanyanya kemudian.
"Aku juga gak tau pasti, Sheil. Tapi kata yang ngelihat di tempat kejadian ..m katanya Grey lagi nyebrang."
Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tampang sedih.
"Ya udah, karena kamu udah disini, aku pamit pulang ya," kata Dika.
"Makasih, Dika."
Pemuda itu undur diri dan keluar setelah undur diri pada Sheila dan juga Neska.
Neska merasa Sheila butuh waktu sendiri untuk menjenguk Rion. Barangkali ada hal-hal yang mau dikatakan gadis itu untuk menguatkan Rion yang baru saja mengalami kecelakaan. Akhirnya, Neska memilih keluar dari ruangan tersebut.
"Sheil, aku keluar dulu ya."
"Kamu mau kemana?"
"Ehm, ini Kak Cean nelepon. Ntar aku berisik kalau teleponnya disini," alasan Neska.
Sheila pun mengangguki perkataan Neska.
Sepertinya Neska dari ruang dimana Rion dirawat. Sheila menggenggam jemari pemuda itu. Baru saja dia dan Neska menceritakan impiannya jika di kamar oleh Rion. Kenapa sekarang Rion justru mengalami kecelakaan?
"Grey, aku minta maaf, ya," Sheila mengajak bicara pemuda yang tengah berbaring kaku itu.
"Aku emang salah karena terlalu sering nuntut kamu."
"Aku sering terlalu manja sama kamu."
__ADS_1
"... mulai sekarang aku gak akan ngerepotin kamu lagi. Aku janji tapi kamu segera pulih ya. Aku gak mau kamu seperti ini. Ngelihat kamu sakit aku juga jadi ngerasa sakit."
"Maafin aku juga yang masih sering cemburu sama Neska. Padahal kamu dan Neska udah gak ada hubungan apapun lagi."
Sheila mengusap airmatanya di pipi. Baginya, melihat keadaan Rion seperti ini sangat menyakitkan. Jika dia diharuskan memilih dua pilihan sulit dimana pilihan pertama adalah melihat Rion mati atau pilihan kedua yaitu Rion bahagia bersama gadis lain, sepertinya Sheila akan memilih opsi yang kedua. Meski itu sakit dan pedih tapi itu lebih baik ketimbang dia tidak bisa melihat Rion lagi untuk selama-lamanya.
"... sikap aku yang seperti itu, karena aku terlalu sayang sama kamu, Grey. Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu ninggalin aku."
Sheila berujar sambil diiringi isak tangis yang lirih dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Secara perlahan, Sheila merasakan tangan Rion mulai bergerak, disusul dengan mata pemuda itu yang tampak mengerjap pelan.
"Sheil ..."
Sheila langsung sigap menyongsong kesadaran kekasihnya.
"Kamu udah sadar?"
"Aku dimana?"
"Di Rumah Sakit. Kamu kecelakaan beberapa saat lalu."
Rion meringis sesaat merasakan nyeri dibeberapa bagian tubuhnya.
"Memangnya kamu mau kemana? Kenapa bisa kecelakaan?" lirih Sheila menatap lekat pada mata Rion.
"Eng, aku tadi ..."
Belum sempat Rion melanjutkan kalimatnya. Ruangan itu kembali dimasuki oleh Dika yang tadinya sudah pamit untuk pulang.
"Eh, kau sudah sadar, Bro?" Dika menatap Rion yang menjawab dengan isyarat mata. "... ini, aku hampir saja lupa dan membawanya. Ini milikmu, kan? Tadi ku temukan di dalam saku hoodie yang kau kenakan, karena pakaianmu harus diganti dengan pakaian pasien Rumah Sakit." Dika mengangsurkan sebuah kotak yang terbalut kertas berkilat berwarna perak.
"Thanks, Bro," ujar Rion pada Dika. Dia menerima kembali benda yang memang adalah kepunyaannya.
"Ya udah, aku pulang ya. Udah ada pacarmu yang jagain, kan?"
"Makasih banyak ya, Dika." Sheila yang menjawab, kemudian Dika benar-benar melesat pergi.
Sheila menatap Rion seolah masih menunggunya untuk menjawab.
"Sayang, maaf ya, tadi aku buru-buru untuk mengambil pesanku di sebuah toko. Tidak berhati-hati dan ceroboh sampai ditabrak motor," kata Rion dengan memaksakan senyum.
"Memangnya penting banget ya pesanan kamu itu? Ingat nyawa kamu lebih penting," kata Sheila yang kini malah mengomeli Rion sesudah mendengar alasan pemuda itu hingga menyebabkannya mengalami kecelakaan di jalan.
"Maaf, tapi pesanannya memang penting." Rion menunjukkan kotak berbungkus perak ke hadapan Sheila dan gadis itu tau jika yang dimaksudkan Rion sebagai pesanan adalah kotak itu.
"... harusnya aku ngasih ini di momen yang spesial. Tapi karena insiden ini diluar prediksi aku, jadi aku minta maaf kalau momennya jadi harus di rumah sakit seperti ini."
Rion memberikan kotak peraknya pada Sheila, membuat gadis itu menatapnya kebingungan.
"Buat kamu."
Sheila tertegun. Dia jadi merasa bersalah sebab secara tak langsung Rion jadi seperti ini karena dirinya.
"Kenapa bengong? Ayo buka." Rion kembali berkata-kata saat melihat Sheila terdiam.
__ADS_1
Dengan pelan dan sesekali melirik Rion disana, Sheila pun membuka kotak berbungkus perak itu dan terkesima melihat isinya.
Sheila jelas tau ini adalah kotak bludru untuk mengemas sebuah perhiasan. Sheila membuka isinya dan mendapatkan sebuah kalung emas putih berbandul dua cincin yang disatukan menjadi satu. Dalam masing-masing cincin tertulis kedua nama mereka berdua. Sheila-Grey.
Melihat itu, Sheila justru meraung sejadi-jadinya. Dia semakin merasa berdosa.
"Kamu sengaja pesan ini buat aku?"
Rion menipiskan bibir. Tersenyum. Yang artinya adalah iya.
"Makasih ya. Ini hadiah paling istimewa yang pernah aku dapatkan."
"Sementara ini, kamu pakai dulu kalungnya. Nanti, kalau aku udah ngelamar kamu secara resmi di depan kedua orangtua kamu, baru kita pakai cincinnya masing-masing."
Sheila memeluk Rion yang dalam posisi berbaring. Dia meletakkan kepalanya diatas dada bidang pemuda itu. Kejutan Rion ini memang sulit dipercaya. Sheila bahagia. Amat bahagia. Secara tak langsung ini adalah bagian dari awal mula Rion melamarnya. Meski tak seromantis yang ada dalam angan-angan Sheila, tapi ini jauh lebih berharga dari apapun, sebab Rion sampai harus masuk Rumah Sakit karena mengambil pesanan perhiasan ini yang dipesan khusus untuk Sheila.
"Kamu suka?"
Sheila mengangguk. "Banget," katanya.
Rion tersenyum puas. Meski keadaanya seperti ini, tapi akhirnya niatnya untuk memberikan Sheila perhiasan itu sudah terpenuhi.
"Tapi aku lebih suka kalau kamu sehat. Itu yang paling utama buat aku," kata Sheila menatap sepasang mata Rion bergantian.
"Iya, aku memang ceroboh dan gak berhati-hati. Tadi aku terlalu bersemangat pas mau ke toko perhiasannya."
Rion mengelus-elus rambut Sheila yang kembali memeluk dada bidangnya.
"Eh? Aku ganggu ya?" Neska masuk ke ruangan itu, dia kira sudah cukup lama dia meninggalkan Sheila disana. Tapi yang terjadi dia malah memergoki keduanya yang dalam posisi intens.
Sheila langsung menegak. Dia menatap Neska dengan senyuman tapi masih dengan wajah sembab yang tadi sudah banjir airmata.
"Gak apa-apa, Nes. Ini Grey udah bangun."
Neska pun mengangguk. Dia bersyukur Rion sudah dalam kondisi baik-baik saja. Tadi dia juga bertemu dengan Dika saat pemuda itu kembali untuk mengembalikan kotak perak milik Rion dan Dika menceritakan sekilas pada Neska jika kondisi Rion tidak terlalu serius, hanya keseleo leher tapi juga mengalami patah tulang lengan yang sudah dilakukan operasi kecil untuk pemasangan pen.
"Semoga kamu cepat pulih ya." Neska mendoakan Rion dengan tulus.
"Makasih, calon Kakak ipar."
Mereka semua terkekeh pelan karena bisa-bisanya Rion menggoda Neska dengan keadaannya yang seperti itu.
"Lain kali hati-hati ya, calon adik iparku," kata Neska malah menimpali perkataan Rion sebelumnya.
Neska melihat pada kalung yang sudah digunakan Sheila. Itu tampak kontras, sebab sebelumnya Sheila memang tidak menggunakan perhiasan di lehernya.
"Wah, ada yang dapat hadiah nih," goda Neska pada Sheila.
Sheila langsung refleks memegang kalungnya, dia menyengir.
"Ini hadiah paling istimewa, Nes."
"Semoga kalian bisa saling menjaga ya."
...Bersambung ......
__ADS_1