
Pintu kedatangan Bandara terasa sangat padat saat Cean tiba di Singapore siang ini. Cean tidak pernah menyangka dia mengunjungi Singapore dengan membawa masalahnya. Padahal, dia berniat akan kesini lagi saat pekerjaannya sudah lengang sehingga dia bisa mengajak Neska untuk jalan-jalan. Cean ingat, jika dia masih memiliki janji untuk mengajak Neska ke Universal Studio.
Cean menghubungi Rion, nyatanya nomor adiknya tidak bisa dihubungi. Cean terpaksa menaiki taksi. Salahnya sendiri tidak bilang dari awal pada Rion bahwa dia minta dijemput hari ini. Bahkan mungkin Rion tidak tau jika dia akan datang ke Singapore sekarang.
Cean akhirnya menyetop taksi dan menuju sebuah hotel terdekat untuk meletakkan barang-barang pribadinya. Cean berniat akan berada di Singapore selama beberapa saat, untuk itulah dia membawa koper berukuran kecil.
Selain ingin mendengar penjelasan Neska dan menyelesaikan masalah mereka. Cean juga ingin menenangkan diri sebelum nanti dia akan mendengar kabar baik mengenai Jelita.
Soal wanita itu, Cean sudah mengatur sebuah strategi agar Jelita kapok. Dan Cean akan kembali ke Indonesia setelah Jelita menerima hukumannya. Jika Jelita licik, maka Cean juga bisa bermain cantik.
Jelita hanya tidak sadar jika lawannya tidak setara dengannya. Mungkin Jelita pikir Cean akan diam jika Neska diperlakukan seperti ini. Sayangnya, Jelita tak pernah tau jika Neska adalah kekasih Cean yang tentu saja tak akan Cean biarkan seseorang menyakitinya.
[Aku udah sampai di Singapore.]
Sebuah pesan singkat, Cean kirimkan kepada Neska. Dia ingin menemui gadis itu sore ini setelah dia menyiapkan perasannya sendiri. Cean takut amarah menguasainya hingga dia memerlukan waktu barang sejenak untuk menenangkan diri sebelum akhirnya bertemu dengan Neska nanti.
Cean tidak mau kemarahannya pada ulah Jelita justru berimbas pada Neska nantinya. Dia tak mau menyakiti gadis itu barang secuil pun.
Sementara disana, Neska baru saja membaca pesan Cean. Dia takut menghadapi Cean tapi dia ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Padahal, tanpa Neska memberikan penjelasan, Cean akan mengerti keadaannya. Cean tau Neska dijebak. Tapi dalam pemikiran Neska adalah pria itu mungkin akan marah besar padanya. Apalagi jika Neska menyebut nama Karel. Cean sudah tau jika Karel adalah lelaki dimasa lalu Neska meskipun sejatinya tak pernah ada hubungan khusus diantara mereka.
Sore menjelang, Cean akhirnya menunggu Neska di sebuah cafe yang terdekat dengan apartemen gadis itu. Awalnya Cean ingin menjemput tapi Neska mencegah niatnya itu sehingga mereka membuat janji temu di cafe tersebut.
Gadis itu muncul belakangan setelah Cean yang lebih dulu tiba dua menit sebelumnya.
Neska tampak berjalan santai. Rambut sebahunya tergerai. Cean tak kuasa untuk segera menyambut sosok itu. Tapi akhirnya dia hanya bisa berdiri dari duduknya saat Neska benar-benar tiba di hadapannya.
"Kak ..." Suara Neska terdengar sedih. Cean tau ini semua karena foto-foto itu.
"Duduk, Nes."
Lagi-lagi Neska merasa Cean berbeda. Dia terlalu datar, nyaris membekukan. Padahal sejatinya, Cean sedang meredam api amarah dalam dirinya. Dia takut melampiaskan itu pada Neska kendati dia sendiri tau bahwa Neska tidak bersalah.
Neska duduk dihadapan Cean, dan pemuda itu segera mengambil jari jemari Neska untuk di genggam.
"Maafin aku ya."
Neska tertegun dengan kalimat Cean. Apa ini tidak terbalik? Bukankah seharusnya Neska yang meminta maaf pada pemuda itu?
"Kamu di jebak Jelita," papar Cean. "Dia mau membuktikan kalau dia lebih baik dari kamu. Ini semua gara-gara aku, harusnya aku gak ngedukung kamu buat gantiin posisi Jelita jadi BA, ya meskipun harus aku akui jika kamu beneran layak."
__ADS_1
"Jadi ini ulah Kak Jelita? Bukannya ini semua kerjaan Karel?"
"Karel?" Kali ini Cean yang terkejut. "Karel temen SMA kamu itu?" tanyanya memastikan.
Neska mengangguk. Gadis itu lantas menceritakan pada Cean terkait apa yang sempat menimpanya termasuk sapu tangan yang dia yakini sebagai alat yang digunakan Karel untuk membiusnya agar jatuh tertidur.
"Jadi mereka kerja sama?" Cean hampir saja mengumpat jika sekarang dia tidak bersama Neska. Untunglah dia masih bisa menahan mulutnya untuk melakukan itu. "Tapi, kok bisa? Apa hubungan Jelita sama Karel?" Cean mulai mencerna situasinya.
"Aku gak tau, Kak. Tapi gimana perasaan Kakak sekarang? Ini semua berarti Karel udah ngelakuin hal yang gak pantas sama aku?" Neska tertunduk dalam dan lesu.
"Dia gak ngapa-ngapain kamu, kan?"
Neska menggeleng. "Aku gak tau, Kak. Aku gak sadar, tapi dari rekaman cctv yang diselidiki Rion katanya Karel cuma foto-fotoin aku aja, Kak."
Cean mengelus punggung tangan Neska. Dia bersyukur Karel tidak bertindak terlalu jauh. Tapi bukan berarti pemuda itu akan dia lepaskan begitu saja. Karel harus menerima ganjarannya.
Bersamaan dengan itu, ponsel Cean berdering dan itu adalah panggilan dari Rion.
Rion meneleponnya karena tadi Cean sempat menghubunginya.
"Kakak di Singapore sekarang."
"Iya, ini juga ada kaitannya sama Jelita. Jadi bukan cuma Karel yang terlibat."
"Jelita? Jelita mantan BA di perusahaan Kakak, kan?"
"Iya, dia mau menghancurkan Neska dengan cara menyebarkan foto-foto itu."
"Ah, permainan lama," kata Rion. "Karel udah aku urus dari kemarin. Tapi kalau kakak mau ketemu dia nanti aku kasi tau dimana tempatnya."
"Bagus." Cean tersenyum miring diposisinya. "Cepat kirimkan lokasinya. Kakak udah gak sabar untuk hal itu." Cean melirik Neska sekilas, dia takut Neska tau rencana jahatnya untuk membalas perbuatan Karel. Tapi gadis itu sudah tampak baik-baik saja setelah Cean mengatakan dia memahami situasinya dan tidak akan memandang Neska sebelah mata.
Cean memang tidak mungkin menyalahkan Neska. Dia tau disini Neska hanya korban. Sejak awal, dia sendiri yang merasa bersalah karena Neska begini karena menjalin kerjasama di perusahaannya. Dan sialnya, pekerjaan Neska adalah menggantikan posisi Jelita yang licik. Itu yang menyebabkan Neska harus tersandung kasus seperti ini.
"Aku masih kangen banget sama kamu, Nes. Tapi aku harus menemui laki-laki breng sek itu lebih dulu. Aku akan kasi pelajaran berarti untuk dia," batin Cean sambil kembali menatapi Neska yang menikmati es krim dengan polosnya.
Setelah mengantarkan Neska sampai ke depan pintu Apartmennya. Cean berbalik pergi untuk melanjutkan tujuannya. Dia akan menemui Rion dan tentu saja Karel yang sudah dijanjikan oleh adiknya.
Sebuah tempat yang tidak diduga oleh Cean. Itu adalah Apartmen milik Aura yang kosong dan sudah cukup lama tidak ditempati.
__ADS_1
Cean masuk ke sana dan mendapati Karel dalam posisi tergantung. Kakinya di atas dan kepalanya hampir menyentuh lantai.
Cean hampir tergelak dengan ulah adiknya. Ternyata Rion bisa kejam juga, pikirnya. Rion memang tidak bisa disepelekan. Dia lebih banyak diam tapi sekali berbuat sangat diluar prediksi.
"Gimana, Kak?" tanya Rion pada Cean.
"Lumayan," jawab Cean sambil tersenyum miring. "Udah kamu apain dia?" tanyanya.
Rion mengendikkan bahu. "Tadinya cuma aku ajak duel. Dia duluan yang nantangin malah. Terus dia yang tepat, ya udah aku gantung aja," paparnya sambil tersenyum tipis.
"Kamu udah tanya apa aja yang dia lakuin sama Neska?"
"Udah, dari rekaman cctv juga udah buktiin kalo dia udah bicara jujur. Cuma kalau Kakak gak ada bilang soal Jelita, aku gak akan tau mengenai hal itu karena Karel gak ada nyebutin nama Jelita sama sekali."
Disaat yang sama, sepertinya Karel mulai sadar dari tidurnya. Entahlah tadi dia tidur atau pingsan. Intinya sekarang pemuda itu meraung minta dilepaskan. Dia semakin kalut saat menyadari disana bukan cuma ada Rion saja melainkan ada Cean juga.
Karel memang tidak pernah tau jika Rion adalah Adik Cean. Yang dia tau, Rion datang padanya untuk membalas soal apa yang dia lakukan pada Neska. Pun karena Rion adalah teman satu SMA-nya. Sementara Cean? Karel mengenal sosok Cean sebagai calon suami Neska saat mereka sempat berkenalan waktu itu. Tapi, kenapa sekarang kedua orang ini berada didepannya dan tampak sangat mirip?
"Kalian bekerja sama untuk menghabisi ku?" tebak Karel sudah mulai was-was.
"Iya," sahut Rion dan Cean kompak.
"Kalian tidak bisa memperlakukan aku begini. Lepaskan aku! Aku cuma disuruh oleh Jelita!" pekik Karel marah.
"Aku bisa saja melepaskanmu tapi hapus foto-foto Neska dari ponselmu."
"Itu mudah. Yang penting lepaskan aku!" kata pemuda yang sudah babak belur di bagian wajahnya itu.
"Jangan coba menipuku!" Cean angkat suara lagi, dia mengarahkan ujung sepatunya ke wajah Karel yang terlihat sangat dekat, sebab kepala lelaki itu memang berada dibawah nyaris menyentuh lantai.
"Aku gak menipu. Aku juga kasihan sama Neska. Aku bisa menghapusnya segera. Tapi file nya juga udah terlanjur aku kirim ke Jelita."
Cean dan Rion saling berpandangan. Mereka tau jika Jelita juga memegang sebaran foto itu.
"Kalau aku tidak salah, foto-foto itu juga akan dimanfaatkan Jelita untuk dipasang di situs penjualan wanita."
"Apa??" Kali ini Cean dan Rion terkejut karena info yang diberikan Karel.
"Ya, mudah-mudahan Jelita belum sempat memajang fotonya di situs itu," papar Karel kemudian.
__ADS_1
...Bersambung ......