TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
76. Meledek


__ADS_3

Papa Sky dan Mama Yara saling melirik sembari mengulumm senyum saat melihat Cean dan Neska turun dari kamar mereka hari ini. Keduanya tampak semringah lalu duduk di meja makan dengan bersisian.


"Ehemm," Papa Sky berdehem sekilas, berniat menggoda sepasang pengantin baru itu, sayangnya niat usilnya sudah terbaca oleh sang istri, Mama Yara memberi kode lewat isyarat mata agar Papa Sky tidak melanjutkan niatnya itu.


Papa Sky langsung diam, hingga akhirnya Rion dan Aura ikut bergabung di meja makan tersebut.


"Eh, udah pada keramas aja, ya?" goda Aura pada Cean dan Neska.


Neska langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, sementara Cean terkekeh sambil mendelik kecil pada saudari kembarnya yang datang jauh-jauh dari Jerman. Ya, Aura tinggal di Jerman beberapa tahun belakangan, tepatnya sejak terjadi insiden yang tidak diinginkan pada malam pengantinnya. (Mau tau kisah Aura, ada di judul DIJEBAK DI MALAM PENGANTIN. CEK PROFILKU)


"Aura? Duduk, gih." Lagi-lagi Mama Yara memberi isyarat pada Aura agar tidak mengganggu sang Adik.


"Jangan ditanggapin ya, Nes. Kamu tau sendiri Aura sama Cean kayak gimana ... mereka suka banget saling ledek," kata Mama Yara pada Neska yang sudah merona wajahnya.


"I-iya, Ma." Neska menjawab keki.


Mama Yara kembali menatap Aura yang mengulumm senyum usil diposisinya.


"Udah, kamu jangan godain Adikmu terus, Aura."


"Yah, aku godain gimana, sih, Ma? Kan cuma nyapa orang yang keramas doang."


"Mungkin Aura gak pernah keramas pagi-pagi, Ma," kata Cean menimpali.


"Apaan sih jadi bahas keramas," ujar Aura bersungut-sungut.


"Kamu duluan tadi yang bahas hal itu." Cean melempar pandangan pada Rion yang tampak menekuri ponselnya. "Tanya aja sama Rion. Ya, kan, Dek?" sambung Cean mengarah pada adik bungsunya tersebut.


"Jangan lihatin aku, Kak," ujar Rion tak acuh.


Aura langsung terkikik mendengar Rion tidak berpihak pada Cean.


"Rasain!" olok Aura.


"Aura, udah, kita lanjut sarapan pagi, ya."

__ADS_1


Meja makan hari itu tampak riuh karena mereka semua berkumpul di meja yang sama. Hanya ada satu orang yang tidak ada disana yaitu pria yang harusnya bersama Aura dengan status suaminya.


Neska merasa tak ada yang berubah setelah dia dan Cean menikah. Keluarga suaminya benar-benar menerima dia layaknya anak sendiri. Neska jadi merasakan bagaimana hangatnya keluarga.


Menjelang siang, mereka berkumpul di ruang keluarga, sebab Oma Indri juga datang untuk melihat keadaan cucu-cucunya. Oma memang rutin melakukan itu, dia merasa tak banyak waktu untuk bersama para cucu diusianya yang sudah sepuh.


Lagipula, jarang sekali mereka semua ada dengan formasi lengkap. Biasanya cuma ada Cean yang stay di Jakarta, itupun dia sibuk bekerja. Sementara Rion di Singapore dan Aura menetap di Jerman dua tahun belakangan.


"Oma mengucapkan selamat untuk cucu-cucu Oma, Cean dan Neska yang akhirnya menikah. Oma tidak sabar mau menimang cicit, itupun jika Oma masih diizinkan Tuhan untuk berumur panjang."


Mendengar itu, Cean dan Neska saling bergenggaman tangan.


"Oma pasti panjang umur sampai bisa melihat kami semua--cucu Oma--memiliki anak-anak yang lucu," kata Cean dan mereka semua mengaminkan hal itu.


...***...


"Kamu mau kita bulan madu kemana, Sayang?" tanya Cean saat berbaring dalam pangkuan istrinya. Mereka kembali ke kamar siang itu, padahal suara Aura yang terus meledek terus mengiringi keduanya yang berjalan menuju lantai atas, sayangnya Cean tak mau peduli hal itu kendati Neska sangat malu saat Cean benar-benar mengajaknya untuk masuk ke kamar lagi.


"Terserah kakak aja, deh," kata Neska sembari mengelus-elus rambut suaminya.


"Jangan terserah, aku maunya kemauan kamu. Aku turutin kemanapun kamu mau."


Cean mengangguk dalam posisinya.


"Sebenarnya kalau aku kemana aja boleh asal tetap sama Kakak. Tapi, kalau memang kakak mau aku yang nentuin tempatnya, aku mau ke Bali aja."


"Bali?" Cean menatap Neska dengan kernyitan dalam. Dia pikir Neska akan meminta pergi jauh, mungkin di luar Indonesia tapi ternyata gadis yang sudah menjadi istrinya itu malah mengajaknya ke Bali.


"Iya, dulu ... waktu aku kecil, tempat yang paling ingin aku kunjungi itu Bali. Dalam bayangan aku, Bali itu pasti bagus banget. Ada pantai, ada gunung, kayaknya semuanya ada didalam satu pulau yang sama. Aku selalu berkhayal bisa ke Bali."


"Jadi itu keinginan kamu dari kecil?"


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Cean menipiskan bibir.


"Baiklah, kita ke Bali aja kalau gitu."

__ADS_1


"Kakak setuju?" Neska tak percaya Cean menurutinya begitu saja.


"Setuju, Sayang. Anything for you, Honey." Tangan Cean terulur ke atas dan dia mengelus pipi mulus Neska dengan senyuman bahagia. Mana mungkin dia tidak mengabulkan keinginan istrinya yang sangat sederhana.


"Beneran?" Neska masih saja tak percaya, ekspresinya nampak kegirangan namun belum melepaskan sorakan saja.


"Iya, kalau cuma mau ke Bali pasti aku turutin, asal jangan minta Bali nya dipindahin kesini aja," kelakar Cean yang membuat Neska menghujani pria itu dengan kecupan bertubi-tubi.


Cean terpana beberapa saat, sebab istrinya tampak sangat bahagia bahkan tak segan menciuminya lebih dulu.


Cean menangkap tangan Neska dan langsung mengambil alih keadaan, dia membuat posisinya berbalik sehingga kini Neska yang berada dibawah kunggkungannya.


Cean menatap kedua bola mata Neska bergantian. Gadis itu seakan pasrah ketika Cean sudah memangkas jarak diantara mereka. Neska justru memejamkan matanya dan Cean tersenyum melihat penerimaan dari sang istri.


"Lagi?" bisik Cean tepat ditelinga Neska.


Neska tidak menjawab, dia menggiigit bibirnya sebagai respon untuk pertanyaan Cean sehingga pria itu sudah merasa mendapat akses.


Dengan cepat, Cean membuka kaos yang dikenakannya, membawa tangan Neska untuk menyentuh dada bidangnya.


Neska membuka matanya dan tersipu saat tangannya sudah bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Cean. Wajahnya terasa memanas. Meski pertama melakukannya semalam Neska sempat meringis kesakitan, tapi dibeberapa waktu berikutnya dia mulai menikmati perlakuan Cean yang membuatnya mabuk dan melayang-layang


Neska kembali memanggil nama Cean saat pria itu sudah semakin membanjiri miliknya dengan permainan jemarinya.


"Kak Cean?"


"Hmm?" sahut Cean yang sedang menikmati permainannya.


"Kakak mau apa?" tanya Neska dengan suara parau. Dia melihat kepala Cean sudah berada diantara kedua kakinya.


"Mau ini," jawab Cean dan langsung melakukan aksi yang tidak pernah Neska sangka sebelumnya. Pria itu sudah 'mencicipinya' dibawah sana.


Neska mengeraang kasar. Dia hendak protes dengan perbuatan Cean tapi respon tubuhnya justru mengingkari hal itu sebab lenguhann dari bibirnya menandakan bahwa itu amat sangat nikmat.


"Aku akan masuk, Sayang," ucap Cean saat Neska benar-benar dirasa telah siap.

__ADS_1


...Bersambung ......


Nanti aku kasih 1 Bab lagi abis ini, ya. Moga masih stay disini ya, karena ini udah menuju ending. Tinggalkan komentar dan berikan gift ke novel ini karena udah mau tamat tapi dukungannya semakin berkurang 😅😅😅😅


__ADS_2