TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
23. Kedatangan Aura


__ADS_3

Neska memutar bola mata jengah saat tiba di sekolah dan mau tak mau harus bertemu dengan Karel. Mengingat perbuatan Karel tempo hari, rasanya Neska masih kesal luar biasa.


"Nes?"


"Neska!"


Karel mengejar langkah gadis itu. Dia sudah menyadari jika dia telah salah dengan tindakannya waktu itu.


Akan tetapi, Neska melengos pergi tanpa menghiraukannya. Orang-orang seperti Karel wajib dia hindari atau dia akan terjebak dalam situasi yang sama untuk kedua kalinya.


"Aku ... minta ... maaf, Nes ..." Karel terengah-engah mengejar langkah Neska yang cepat, kemudian berhenti di bangku kelas yang memang sudah diduduki gadis itu.


"Lho, kenapa kalian?" Vita yang juga baru tiba di kelas langsung menautkan alis melihat Karel yang mengejar-ngejar Neska. Rasanya Sabtu kemarin mereka masih baik-baik saja bahkan pulang bersama dengan mobil cowok itu.


Neska tak menyahuti pertanyaan Vita. Dia diam dengan tatapan lurus ke depan seolah mengabaikan Karel dengan sengaja.


"Aku minta maaf, Nes." Karel menatap Neska dengan tatapan mengiba.


"Jadi ..." Neska menjeda kalimatnya sejenak dengan pandangan yang masih ke depan sana. "Kamu udah tau letak kesalahan kamu dimana?" tanyanya sembari menoleh ke arah Karel dengan senyuman satir.


Karel meneguk saliva dengan cepat. Tatapan Neska benar-benar marah padanya. "Udah, Nes. Aku tau, aku yang salah," ujarnya sembari menunduk kemudian.


"Ya udah, kalau udah tau salah kamu apa, sekarang aku mau kamu menjauh dari aku, Rel."


"Nes?" Karel menatap Neska tak percaya, seberapakalipun gadis ini menolaknya, tidak pernah Neska terang-terangan meminta untuk dijauhi olehnya. Paling mentok, Neska yang bersikap menghindar dari Karel, tidak pernah seperti ini.


"Aku tau aku salah. Aku tau, Nes. Aku mohon kamu jangan begini. Aku janji gak akan mengulang kesalahan itu lagi sama kamu," pungkas cowok itu.


Neska menggeleng samar, senyumannya makin terkembang, tapi Karel dan Vita yang melihat itu-- jelas tau bahwa senyum yang Neska sunggingkan saat ini adalah sebuah keterpaksaan.


"Tau gak, Rel ... aku bener-bener kecewa sama sikap kamu!" tegas Neska membuat pemuda itu terbelalak. "Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi. Ngerti!" sambungnya menekankan.


Melihat aura kemarahan yang terpancar dari wajah cantik gadis itu, Karel langsung mundur dengan menghela nafas berat. Dia tau dia sudah melangkah terlalu jauh. Dia juga menyadari bahwa tindakan dan kata-katanya waktu itu amat membuat Neska terkejut dan merasa tidak dihargai.


"Sekali lagi, aku minta maaf, Nes."


Seperginya Karel, Vita langsung menyikut lengan Neska. "Kenapa, sih?" tanyanya penasaran.


Neska ingin jujur pada teman sebangkunya itu terkait tindakan Karel yang melewati batas, tapi bel pertanda masuk sekolah sudah terdengar dan mereka harus langsung berhamburan ke halaman sekolah untuk melakukan upacara bendera.


...~~~...


Neska memasuki gedung Apartmennya dengan langkah pelan. Tidak sadar ada langkah lain yang berjalan di belakangnya.


Neska memang baru saja pulang dari bekerja paruh waktu untuk bersih-bersih di gedung serbaguna yang ada di depan Apartmen.


Saat memasuki lift, Neska baru menyadari jika ada orang lain yang sudah berdiri disebelahnya. Seorang wanita cantik yang wajahnya tidak asing bagi Neska.


Seperti pernah melihat, tapi dimana? Begitulah batin gadis itu.


Wanita itu tersenyum pada Neska karena kini mereka berada didalam lift yang sama-- hingga membuat keduanya dapat melihat wajah masing-masing.


"Kamu ... yang waktu itu kerja di garden organizer, kan?"


"Hah?" Neska tercengang beberapa saat, ingatannya langsung mengingat saat dia diajak Dena bekerja menata taman beberapa Minggu yang lalu. "Ah, iya, Kak," jawabnya, lalu lanjut mengingat-ingat siapa wanita cantik dihadapannya ini.


"Kamu tinggal disini?" tanya wanita itu kemudian.

__ADS_1


Neska mengangguk. "Kakak ... apa kita pernah ketemu sebelumnya? Aku lupa tapi ..." Neska kembali berpikir sesaat, kemudian mulai menemukan jawabannya. "Ah, iya, aku ingat sama Kakak," tuturnya senang.


"Nah, udah ingat?"


"Udah, Kak. Kakak anaknya yang punya rumah besar itu, kan? Yang waktu itu aku tata tamannya."


"Nah iya, benar."


Lift berdenting dan mengantarkan mereka pada lantai tujuan yang sama.


"Kakak mau ke lantai 11, juga?"


"Huum, ada urusan yang mau segera diselesaikan."


"Oh ..." Neska menyahut singkat, tidak mau kepo akan urusan yang dimaksud wanita ini.


"Kenalin, aku Aura." Wanita itu mengulurkan tangan pada Neska sebelum melanjutkan langkahnya.


"Aku Neska, Kak."


"Cantik, ya, kamu." Aura pun terkekeh manis.


"Kakak lebih cantik lagi," sahut Neska sungkan atas pujian yang dilayangkan Aura kepadanya.


"Ya udah, aku lanjut jalan ya."


"Iya, Kak."


Keduanya berjalan menuju arah yang sama membuat mereka terkikik pada akhirnya.


"Iya. Kakak mau ke sebelah?" tanya Neska keheranan sebab Aura menuju Apartmen Cean.


"Iya, emang mau kesini. Menyelesaikan urusan," katanya diselingi dengan kekehan.


Harus Neska akui, selain cantik, wanita ini juga ramah dan gampang akrab. Tapi, yang Neska tak habis pikir, untuk apa Aura mendatangi Apartmen Cean?


"Aku duluan masuk ya, Kak." Neska berpamitan meski kini dia sangat penasaran apa urusan Aura ke tempat tetangga tampan di sebelah kediamannya.


Setelah Neska masuk, barulah Aura beraksi menggedor-gedor pintu unit apartmen yang dihuni oleh saudara kembarnya.


"Cean!! Buka pintunya!"


Mendengar teriakan Aura yang sangat dihafalnya, Cean yang ada didalam Apartmen langsung membulatkan mata.


Darimana Aura tau jika aku berada disini?


"Ah, Rion!" Cean merutuk Rion dalam hatinya.


Dengan langkah jenjang, pemuda itu pun menghampiri pintu apartmen yang serasa mau runtuh akibat gedoran Aura yang tak sabaran. Rasanya Cean menyesal tiba dikediamannya lebih awal. Lebih baik tadi dia di kantor saja dulu meski pekerjaannya sudah terselesaikan.


"Ngapain?" tanya Cean yang menyambut kedatangan Aura dengan tak bersemangat.


"Aku mau masuk!" sentak Aura. Dia melengos melewati tubuh tinggi tegap milik saudara kembarnya.


"Ngapain sih kamu! Mau nyelidikin aku?" Cean marah, tapi berhubung masih menghargai sang Kakak+-dia hanya bisa bicara dengan datar tanpa intonasi tinggi.


"Yup. Aku mau lihat tempat tinggal kamu."

__ADS_1


"Curiga?" tebak Cean. "Aku gak nyimpan cewek disini," ujarnya kemudian. Dia tau Aura sangat takut jika Cean tinggal serumah dengan wanita yang bukan siapa-siapa apalagi belum menjadi istrinya.


Aura terkikik, ternyata Cean bisa membaca isi pikirannya. Terkadang mereka memang sesimpel itu, bisa memahami tanpa perlu menjelaskan. Itulah yang sering Aura rasakan jika menyangkut saudara kembarnya ini.


"Baguslah, aku udah curiga aja soalnya."


"Jangan curiga gak jelas. Kayak cewek posesif!"


"Hahaha, bicaramu lagaknya aku pasanganmu aja!" kata Aura.


"Lah sikap posesifmu udah kayak pacarku aja!" Cean balik menyindir.


"Kakak cuma gak mau kalo adik sampai tinggal serumah sama yang bukan mahrom," kata Aura yang kembali terkikik dengan kalimatnya sendiri.


"Iya, Kakak. Kakak memang yang terbaik." Cean meladeni gurauan sang kakak.


"Minta minum lah! Masa ada tamu gak dikasi minum," sindir Aura.


Cean beringsut menuju kulkas mini yang ada di apartemennya. "Nih," katanya memberi softdrink pada saudari kembarnya itu.


"Ish, kok soda? Aku gak minum soda."


"Adanya cuma itu, kalo gak mau soda, air putih, mau?" Cean pun terkekeh.


"Huh, nyebelin." Aura bersungut-sungut, "Jangan jodohkan hamba dengan lelaki seperti Cean ya, Tuhan," doanya kemudian.


Cean mengangkat sebelah alisnya, ucapan Aura hanya seperti angin lalu baginya.


"Aku pria terbaik. Masuk finalis Top Man 2023, tau!"


"Oh ya?" Aura tersenyum mencibir. "Gak tipeku, tuh!" kekehnya kemudian.


Begitulah tingkah mereka berdua, terkadang ribut dan terkadang akur. Kadang saling marah dan kadang saling menyindir. Tapi keduanya tidak pernah menaruh dendam pada diri masing-masing.


"Kamu tau dari Rion kalau aku tinggal disini?"


Aura mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dasar anak kecil gak bisa dipercaya," desis Cean yang kembali merutuk Rion.


"Salah sendiri gak ngasih uang tutup mulut."


Cean mendengkus akibat ucapan saudarinya.


"Eh, disini enak juga ya meski agak panas," kata Aura kemudian. "Apalagi tetangganya cantik," lanjutnya.


"Tetangga? Tetangga yang mana?"


"Kamu berharapnya sama yang mana?" Aura menaik-naikkan alisnya menggoda Cean, sementara Cean tak habis pikir darimana Aura bisa tau dan mengenal salah satu tetangganya di Apartmen ini.


Bersambung ...


Dukung dan tinggalkan komentar di setiap bab nya ya.


Ah, iya, buat sekedar info ya. Novel ini sebenarnya season kedua dari novel EX (Belenggu Cinta Pertama). Di Novel EX menceritakan tentang kehidupan orangtua Cean dan Aura yaitu Sky dan Yara. Buat yang belum mampir kesana, boleh dong baca juga dan beri komentar disana๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ cek profilku.


__ADS_1


__ADS_2