TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
32. Menyusul


__ADS_3

Aura dan Cean baru saja menginjakkan kaki di Singapore. Mereka tiba disana saat langit sudah menggelap. Aura masih belum paham kenapa Cean harus ikut dengannya, tetapi dia tidak mau mengulik terlalu jauh kendati Aura yakin jika tujuan Cean ke negara Singa bukan semata-mata untuk melihat perkembangan perusahaan pusat saja.


Ya sudahlah, itu adalah urusan Cean, pikir Aura. Dia juga memiliki urusan sendiri. Selain untuk memantau keadaan Rion dan Neska, Aura juga akan bertemu dengan Jeno yang kebetulan juga berada di Singapore bersama keluarga besarnya. (Hubungan antara Aura dan Jeno, akan ada dan dibahas di novel baru nanti🙏)


"Kita kemana?" celetuk Cean melihat Aura yang melenggang santai tanpa membawa koper. Aura punya Apartmen pribadi disini, dia bebas pulang pergi tanpa harus membawa perlengkapannya lagi.


"Pulang ke Apartemenku. Kamu terserah kamu kemana," jawab Aura acuh tak acuh.


Cean berdecak lidah. Tidak menyukai jawaban saudari kembarnya. "CK! Katanya mau memantau Rion dan Neska, kenapa tidak langsung menemui mereka saja?" ujarnya protes.


"Ini udah malam, lagian aku capek. Mau istirahat."


"Ke Singapore mau istirahat atau mau melihat mereka?"


Aura bersungut-sungut, "Kenapa kamu yang ngatur, sih? Besok juga masih bisa ketemu mereka. Kita baru aja sampai."


"Hei, minta Rion menjemput kita disini," ujar Cean merujuk pada keberadaan mereka yang masih dalam kawasan Bandara.


Aura menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan ujaran saudara kembarnya ini. "Kamu mengikutiku kesini cuma mau mengatur-ngatur? Kenapa gak kamu aja yang memantau mereka sekalian?" desisnya.


"Ya udah, kalau cuma memantau dua bocah itu sih gampang."


"Dua bocah kamu bilang? Rion dan Neska itu udah dewasa, kalau mereka bocah, gak mungkin mereka udah hidup mandiri disini tanpa orangtua."


Cean tak mau kalah, dia menatap Aura dengan tatapan nyolot. "Kalau bukan bocah, gak perlu dipantau kayak gini, kan?" tukasnya membuat Aura memutar bola matanya malas.


"Ya udah, aku telepon Rion dulu lah. Gak usah minta jemput segala. Kita bukannya asing berada disini. Udah biasa juga!"


Kali ini, Cean diam, dia membiarkan Aura menelpon Adik bungsu mereka tersebut.


"Kenapa, Kak?" Terdengar suara Rion yang menyahut dari seberang sana. Aura sengaja mengaktifkan loud speaker.


"Dek, Kakak udah di Singapore ini."


"Ah, iya, Kak. Aku dan Neska bakal jemput kakak disana. Sebentar ya."


"Eh, eh, gak usah."


"Apa? Gak usah, kenapa, Kak?"


"Nggak usah repot, Dek. Kakak juga udah tau jalan, kan? Lagian Kakak kesini gak sendirian, sama Kak Cean juga."


Tiba-tiba, suara Rion lenyap. Tidak ada sahutan. Rion terdiam diseberang panggilan.

__ADS_1


"Dek? Kamu masih disana, kan?" panggil Aura kemudian.


"Oh ... oke. Aku tunggu Kakak di Apartmen aja ya."


Mendengar jawaban Rion, Cean mengibaskan tangannya sebagai isyarat pada Aura untuk menolak tawaran itu. Cean menyebut nama Neska tanpa suara, seolah ingin Aura menanyakan pada Rion tentang gadis itu dan mengajaknya keluar bersama.


"Gak usah. Kamu dimana sekarang? Kakak sekalian mau ketemu Neska. Ajak aja dia keluar, kita ketemu bareng-bareng ya."


"Ya, sekarang aku emang lagi di Mall sama Neska, tapi---"


"Nah, bagus. Jadi kakak gak bolak-balik dari Apartmen kamu ke Apartmen Neska lagi."


"Ya udah kalo gitu."


Entah kenapa, sekarang Aura mengernyit, suara Rion berubah parau dan lesu, seperti menahan tangis. Kenapa dia ini? Pikir Aura. Baru saja Aura mau menanyakan kenapa mood Rion berubah drastis secara tiba-tiba, tapi panggilan itu sudah terputus begitu saja.


"Gimana?" tanya Cean tak sabar.


"Gimana apanya? Kan kamu udah denger sendiri tadi. Ya kita ke Mall sekarang ketemu Rion dan Neska disana."


Wajah Cean berubah semringah, kali ini Aura memicing menatapnya.


"Kamu ..."


"Apa?" sentak Cean, dia mulai sadar jika sekarang Aura kembali membaca gelagatnya. "Gak usah nebak-nebak. Gak berhadiah!" katanya.


Cean mengikuti langkah jenjang Aura dari belakang tubuh semampai gadis itu. Tak lama, mereka memesan taksi untuk menuju Mall dimana Rion berada.


...****...


Neska bingung sekarang. Dia tau kini kenapa Rion mendadak berubah lesu. Ini karena Cean yang juga datang ke Singapore. Apa sebenarnya Rion tau perasaannya yang belum sepenuhnya bisa melupakan Cean? Ah, ya, pemuda ini pasti tidak bo doh dan bisa menerka setiap situasi dan keadaan.


Hanya saja, Neska belum berani berterus terang pada Rion mengenai perasaannya yang sama sekali tidak bisa menaruh hati pada pemuda itu. Neska tak sanggup untuk jujur, dia takut menyakiti hati Rion, tapi dia juga tau jika dia terus menutupi hal ini, berbohong, dan memanfaatkan kebersamaannya dengan Rion-- sama saja dengan dia menyakiti pemuda ini lebih dalam lagi.


Neska mau jujur, dia ingin sekali membebaskan Rion dari hubungan mereka yang berat sebelah dan tidak seimbang. Tapi, dia bingung harus memulainya dari mana. Perasaan bersalah selalu menghantamnya berkali-kali. Harusnya sejak awal dia tidak memberikan Rion harapan.


Akan tetapi, Neska pun tidak tau semuanya akan jadi begini. Dia kira dia bisa membuka hati dan menerima Rion, nyatanya setelah dia menjalaninya--Cean tetap menempati tahta tertinggi didalam hatinya. Cean tidak dapat tergantikan oleh Rion, kendati Neska sudah memaksakan untuk hal itu. Karena inilah, Neska jadi terkesan memanfaatkan Rion saja, padahal sejak awal dia benar-benar mau menerima Rion. Sayangnya, hatinya yang tidak bisa melakukan itu.


"Rion? Neska? Kalian sehat, kan?"


Suara Aura, berhasil membuat Neska terhindar dari pertanyaan Rion soal perasaannya.


Mungkin sekarang Neska bisa bernafas lega, tapi dia sadar bahwa ini hanya sementara, keadaan takkan mungkin menyelamatkannya berkali-kali. Dilain kesempatan, mungkin dia harus jujur sebab nuraninya sendiri selalu memaksanya untuk terbuka, jujur dan melepaskan Rion saja.

__ADS_1


"Kak?" Rion bangkit dan memeluk Kakak tertuanya sejenak. "Kita sehat, kok, Kak," jawabnya kemudian.


"Hai, Nes?" Aura menyapa Neska lagi, dia melihat gadis itu terbengong, entah kenapa.


"Hai, Kak."


"Kak Cean mana?" tanya Rion, namun suaranya masih sama lesunya dengan diakhir panggilan mereka tadi.


"Ke toilet bentar," jawab Aura. "Nah, itu dia..." ujarnya merujuk pada sesosok pemuda yang tampak berjalan santai menuju posisi mereka semua.


Disaat yang sama, Neska membuang pandangan. Sebulan tidak bertatap muka dengan Cean, membuatnya canggung dan kikuk. Belum lagi karena sore tadi pemuda itu bahkan menelepon ke nomor pribadinya. Dan sekarang, Cean sudah berada didepan matanya. Ini benar-benar seperti mimpi bagi Neska.


"Kalian udah makan?"


"Kita baru selesai makan sih."


"Wah, padahal kakak mau ajak kalian makan malam bareng."


Lebih banyak, Aura dan Rion lah yang bercakap-cakap. Neska memilih diam, sedangkan Cean pun sama--tapi tentu dengan tatapan yang memperhatikan.


"Kalau Kakak laper, kita temenin makan aja. Ntar aku sama Neska pesan cemilan atau kalau Neska mau makan lagi ya boleh aja." Rion melempar pandangan pada Neska. "Gimana, Nes?" tanyanya.


Gadis yang banyak diam sejak kedatangan Aura dan Cean itu hanya bisa menganggukkan kepala.


Rion mencoba memahami gelagat Neska, dia tau Neska selalu begini jika ada Cean, pikirnya.


"Ya udah, mau makan di Mall ini atau keluar dari sini?"


"Chinese food." Cean yang diam sejak tadi, kini bersuara. "Aku mau makan Chinese food." Pemuda itu berbalik tanpa menunggu jawaban setuju atau tidak dari mereka semua.


Cean tau, kedua saudaranya akan menyukai ajakannya. Jadi, dia tidak perlu menerima penolakan.


Mereka semua akhirnya mengikuti langkah Cean yang berjalan lebih didepan.


Aura dan Neska bercakap-cakap, sementara Rion larut dalam isi kepalanya sendiri.


Sesampainya di Restoran yang menyajikan berbagai masakan Cina namun halal, mereka pun menempati sebuah meja bundar yang mau tak mau membuat keempatnya harus berhadap-hadapan satu dengan yang lainnya.


"Maaf, aku ... gak terbiasa pakai sumpit. Boleh minta sendok dan garpu aja?" celetuk Neska, dia sebenarnya meminta tolong pada Rion, tetapi justru Cean yang memanggil pelayan untuk membawakan pesanan Neska.


Melihat itu, Rion menekan perasaannya dalam-dalam. Dia semakin yakin kedatangan Cean kesini semata-mata untuk bertemu dengan kekasihnya.


Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Cean dapat menatap Neska dengan cukup jelas. Gadis itu duduk diseberangnya, memakan makanan Cina dengan sendok dan garpu yang dia pesankan. Ada senyuman tersungging disudut bibir Cean, entah kenapa sekarang perasaannya menghangat, padahal sore tadi dia merasa gusar luar biasa.

__ADS_1


"Kak Cean, ngapain ikut ke Singapore?"


Pertanyaan Rion, membuyarkan lamunan Cean yang tengah larut menatap Neska. Sontak dia menoleh ke arah adik bungsunya. Sialnya, Rion seperti menunjukkan tatapan tidak suka yang kentara. Sepertinya Rion tau kenapa dia memutuskan ikut dengan Aura ke Singapore. Damned!


__ADS_2