
"Gimana, Nes?"
Sheila bertanya pada Neska yang tafakur di sampingnya. Saat ini, mereka sudah kembali berada didalam mobil dan sedang menuju jalan pulang--setelah sebelumnya bertemu dengan Marko di sebuah cafe.
Sheila perhatikan, sejak tadi Neska banyak diam. Gadis itu hanya sesekali menoleh ke luar jendela mobil, lalu sesekali berikutnya tampak menghela nafas berat.
Sepertinya Neska tengah memikirkan sesuatu.
"Nes? Kamu gak suka ya sama tawaran kerja ini?" Sheila kembali bertanya, kali ini bahkan menebak-- sebab tak sekalipun Neska menyahuti pertanyaannya.
Neska menggeleng lemah. "Aku cuma lagi teringat sesuatu aja, Sheil," jawabnya.
"Ingat apa?"
"Masa lalu. Aku gak menyangka ditawari pekerjaan seperti ini, padahal dulunya aku cuma tukang bersih-bersih dan kerja serabutan sebagai sampingan."
"Ya bagus, dong!" seru Sheila. "Berarti ada kemajuan, kan?" ujarnya antusias.
"Iya, sih. Cuma ... gak nyangka aja."
Neska kembali membuang pandangan ke luar, menatapi jalanan lalu lintas yang tampak cukup padat. Sesungguhnya dia bukan cuma memikirkan pekerjaan baru ini, melainkan teringat pada seseorang yang selalu mengusik pikirannya tanpa bisa dienyahkan.
Neska berharap, jika nanti dia sudah sibuk bekerja maka, seiring dengan waktu dia bisa melupakan sosok itu. Semoga saja.
...***...
"Grey, kamu tau gak kenapa Neska gak semangat soal pekerjaan baru itu?"
Rion terkekeh akibat pertanyaan bawel Sheila. Dia juga tak menyangka jika sekarang Sheila amat peduli pada Neska.
"Kalau soal Neska yang gak semangat, aku mana tau, Sayang."
"Terus? Kenapa dia kayak orang yang banyak pikiran gitu?"
"Mungkin Neska memang lagi sibuk mikirin kuliahnya."
Sheila mengangguk. "Mungkin juga, ya. Tapi, dia langsung murung sejak ditawari kerjaan baru. Katanya ingat masa lalu."
Rion menanggapi itu dengan kekehan. "Neska bilang gitu? Ehm, mungkin Neska ingat Kak Cean, Sayang," tebaknya.
"Nah, itu ... padahal kerjaan barunya kan berkaitan sama Kak Cean, harusnya Neska semangat, dong?"
"Neska gak tau kalau Kak Marko itu asistennya Kak Cean ..." sahut Rion sambil merapikan anak-anak rambut Sheila yang tampak berantakan.
Sheila menepis pelan tangan Rion demi bisa menatap wajah lelaki itu lebih jelas. "Serius?" responnya cukup terkejut. "Jadi, selama ini Neska itu gak tau kerjaan Kak Cean? Dan dia benar-benar mengira pekerjaan ini datang dari kita berdua, gitu?" lanjutnya bertanya.
Rion mengangguk. "Kamu gak ada bahas soal Kak Cean sama Neska, kan? Aku sama Kak Marko berencana buat mereka berdua kaget, karena Kak Cean juga gak tau kalau Kak Marko merekrut Neska jadi BA body lotion itu," terangnya.
__ADS_1
Sheila melebarkan kelopak matanya sembari mencerna ucapan Rion.
"Jadi, kalian sengaja?"
"Iya. Abisnya beberapa tahun belakangan Kak Cean sibuk mengurus perusahaan sendirian. Kamu tau sendiri masalah Kak Aura dulu, kan? Karena itulah, Kak Cean sampai gak bisa sekalipun menemui Neska, dia terlalu larut sama kesibukannya, tanggung jawabnya semakin besar."
Sheila akhirnya manggut-manggut. Dia mengerti sekarang. Neska dan Cean sudah terlalu lama tak bertemu. Neska memang tidak terbuka padanya, tapi Sheila tau jika Neska masih mengharapkan Cean dengan begitu besar, itu dapat dilihat dari gelagatnya yang tidak sekalipun tertarik pada pemuda lainnya. Itulah penilaian Sheila.
Begitupun dengan Cean, dari cerita Rion, Sheila tau jika Kakak lelaki Rion itu tengah mengistirahatkan hati sekarang. Tidak ada berita jika Cean tengah dekat dengan gadis lain dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan. Padahal, itu berbanding terbalik dengan kebiasaan Cean yang terkenal suka bergonta-ganti pacar. Sheila cukup tau sepak-terjang Cean dari desas-desus di keluarganya.
Untuk hal ini, Sheila dapat menyimpulkan apa yang terjadi, jika sebenarnya Neska dan Cean saling menyukai sejak lama. Pun Rion pernah mengatakan soal ini kepadanya. Jadi, menurut Sheila mungkin keadaan saja yang belum berpihak pada kedua orang itu.
"Aku jadi gak sabar deh, gimana ya kalau Kak Cean dan Neska bener-bener ketemu?" Sheila mengetuk-ngetuk jari didepan dagu, dia terlihat sedang berpikir keras.
Sementara Rion yang melihat gelagat Sheila-- jadi gemas sendiri. Dia menarik pipi chubby Sheila hingga membuat gadis itu memekik.
"Grey !!!"
Rion pun kabur sebelum Sheila sempat mengamuk dan menangkapnya.
...***...
Hari ini Neska bertemu Marko kembali. Ini adalah hari pertama Neska akan menjalani sesi fotoshoot.
Marko mengenalkan Neska pada tim untuk pemotretan itu. Mereka juga melakukan meeting singkat dihari yang sama.
"Nes, Ini Zain, dia fotografer kita," kata Marko mengenalkan seorang pemuda kepada Neska.
Marko juga sudah menjelaskan pada Zain jika Neska belum berpengalaman sama sekali mengenai dunia modeling dan fotoshoot. Sehingga Zain tau harus memulainya seperti apa dan harus lebih sabar menangani new brand ambasador yang dipilih Marko ini.
"Kak, ini emang enggak casting lagi, ya? Aku yang langsung jadi bintang iklannya?" tanya Neska pada Marko.
Bagaimanapun, Neska masih tak percaya dia bisa menjadi bintang iklan tanpa melalui tahap seleksi. Terlebih, dia tak memiliki pengalaman apapun. Neska pasti akan lebih terkejut jika tau dia bukan hanya sekedar menjadi bintang iklan saja, melainkan telah di rekrut menjadi brand ambasador sebuah produk body lotion. Marko memang belum mengatakannya, dia takut Neska curiga. Dia akan mengatakannya nanti saat penyerahan tanda tangan kontrak.
"Iya, Nes. Udah, kamu tenang aja. Nanti kamu pasti bisa dan terbiasa," jawab Marko optimis.
"Kalau ternyata aku gak bisa, gimana?"
"Coba aja dulu. Kamu gak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini hari pertama kamu dan tim aku jauh-jauh datang dari Indonesia, jadi kamu harus berusaha sebaik mungkin. Oke?"
Neska tau Marko tidak menerima penolakan. Jadi, dia akan berusaha membuat Marko agar tidak kecewa padanya. Pun dengan tim yang sudah khusus datang untuk mengajarinya.
"Udah, sekarang kamu ikut Rasti buat ganti baju. Terus, nanti tanya sama Dewi gimana caranya pose dengan senyum yang bagus."
Neska mengangguk. "Aku usahakan, ya, Kak."
"Intinya kamu harus percaya diri. Buang semua ketakutan kamu dan hilangkan sejenak beban pikiran yang misalnya ada di kepala kamu. Karena semua itu berpengaruh sama penampilan dan totalitas kamu nantinya."
__ADS_1
"Makasih ya, Kak."
Marko berdehem pelan, kemudian matanya menatap ke arah lain seolah tengah mencari-cari seseorang.
"Ras? Rasti!" seru Marko setelah melihat wanita yang dicarinya.
"Iya, Pak?"
"Ini, kamu urus Neska, ya. Pilihan baju yang tepat, yang buat dia nyaman biar rasa percaya diri nya bisa muncul."
"Oke, Pak." Rasti menyahut patuh. Dia mengajak Neska berganti pakaian di sebuah ruangan lain yang masih dalam kawasan tempat pemotretan mereka.
Setelah memilih dan berganti pakaian, Neska lanjut di dandani oleh seorang pria kemayu bernama Farah--katanya nama aslinya sih Fahri--Neska cepat akrab dengan pria itu karena Farah banyak omongan yang lucu-lucu.
"Udah siap?" Seorang wanita lain yang bergabung dalam kru itu bertanya. Neska sempat berkenalan dengannya dan dia bernama Dewi.
"Udah, Mbak." Neska mengikuti panggilan semua orang terhadap wanita itu yang memang dipanggil 'Mbak Dew'.
"Oke, kita mulai, ya."
Dewi meminta Neska tersenyum, sesekali dia meminta Neska berjalan dan berputar-putar. Dirasa sudah cukup dan menilai penampilan Neska telah sesuai dengan projek fotoshoot mereka, barulah Neska ditempatkan pada sebuah titik yang akan menjadi latar belakang pemotretan tersebut.
"Oke, kita mulai, ya." Zain sudah berdiri di balik kameranya dan bersiap membidik.
Dewi masih mengarahkan singkat pada Neska, memberikan produk yang akan Neska bawa dan pamerkan dalam pemotretan ini.
"Nes, lihat kamera, lotion nya jangan ketutupan baju itu." Zain memberi komando untuk mengarahkan gaya Neska.
Neska dengan sigap mengikuti, meski perasannya sangat gugup sekarang. Dia tampak canggung tapi Dewi terus memberinya semangat jika dia bisa.
"Rileks, Nes."
"Ya, senyumnya jangan dipaksa. Natural aja," kata Zain kemudian.
Neska mengikuti instruksi itu, dia tersenyum ke kamera sembari memamerkan body lotion yang menjadi produk untuk diiklankan.
"Satu ... dua ..." Zain membidik wajah dan gaya Neska dengan kamera. "Oke, ganti pose," katanya kemudian.
Fotoshoot itu berlangsung cukup lama dengan berbagai arahan gaya. Meski ada beberapa foto yang memperlihatkan kekakuan Neska dalam berpose, tapi senyum Zain terkembang saat dia juga menemukan hasil foto dengan angle yang bagus.
"Gimana?" tanya Marko pada Zain.
"Good. Gak begitu mengecewakan untuk orang yang masih amatiran. Dia emang fotogenik sih jadi enggak susah-susah amat. Dari 10 foto, hasilnya fifty-fifty. Lima bagus, lima enggak," kata Zain menerangkan.
"Jadi, ini bisa dilanjut, kan?"
"Bisa, Bos. Cuma dia perlu banyak belajar dan diarahin lagi pasti hasilnya lebih bagus dari hari ini."
__ADS_1
Marko menyudahi percakapannya dengan Zain dan tersenyum puas. Dia tidak sabar untuk menunjukkan salah satu foto new Brand Ambasador pilihannya itu kepada Cean nanti.
Bersambung ...