
Memikirkan tentang Aura yang datang mengunjungi Apartmen Cean, Neska jadi memikirkan perkataan Yola waktu dia bekerja paruh waktu di Bar tempo hari.
"Nes, tau gak, aku pernah lihat tetangga baru kita itu lho disini."
"Maksud Kakak, Kak Cean?"
"Hmm, iya. Beberapa kali ..."
Neska menatap Yola tak percaya. Apa mungkin tempat main Cean ditempat semacam ini?
" ... sama cewek. Itu sebabnya waktu kemarin kamu ceritain dia, aku sempat gak tertarik. Kayaknya dia banyak ceweknya deh," pungkas Yola menyambung kalimatnya yang sempat terjeda.
Ingatan tentang ucapan yang sempat Yola katakan kepadanya--mengenai Cean--kini membuat Neska bertanya-tanya.
Apa benar Aura adalah salah satu dari koleksi wanita milik Cean? Bisa saja. Sebab, wanita yang pertama Neska lihat mengunjungi Apartmen pemuda itu adalah Wenda, bukan Aura.
Memikirkan tentang itu, membuat Neska semakin sedih. Pikirannya yang polos mengira Cean benar-benar pemain wanita. Jikapun suatu saat Cean tertarik padanya, mungkin Cean akan mencampakkannya dengan mudah saat pemuda itu sudah bosan.
Pemikiran dan prasangka-prasangka buruk mulai menghampiri kepala Neska. dia berharap kenyataan ini dapat membuatnya ilfeel atau hilang rasa terhadap pemuda itu. Ya, dia harus membuka mata lebar-lebar dan melihat keburukan Cean juga bukan hanya pada kelebihannya saja.
"Mulai sekarang, aku harus berusaha melupakan Kak Cean. Dia bukan cowok yang baik. Harusnya aku bersyukur dia cuma menganggapku sebagai adik, bukan memanfaatkan perasaanku dengan menjadikan aku salah satu koleksinya juga."
Neska berkata-kata pada dirinya sendiri. Mulai sekarang dia harus melupakan perasaannya yang tulus terhadap pemuda itu.
"Apa aku harus ngasih tau Kak Aura kalau Kak Cean itu banyak ceweknya? Kasihan Kak Aura kalau dia dipermainkan sama Kak Cean, karena Kak Aura itu kelihatan banget cewek baik-baik."
Neska turut prihatin pada Aura yang terjerat cinta seorang playboy seperti Cean. Dia merasa ingin memberitahunya, tapi Neska tau dia tak berhak ikut campur akan hubungan orang lain.
"Semoga kamu cepat sadar, Kak." Neska mendoakan Cean tanpa sadar. "Semoga Kak Aura juga segera tau kalau dia itu dijadikan selingan sama Kak Cean."
...*...
Cean baru saja keluar dari gedung Apartemennya kala dia berpapasan dengan Neska di Lobby.
Neska pura-pura tak melihat, dia sudah bertekad melupakan Cean tapi mau bagaimana lagi, menghindar pun percuma jika mereka masih dalam lingkup tempat tinggal yang sama-- mereka akan selalu bertemu seperti saat ini.
Cean tau Neska mulai menjauhi dan menjaga jarak darinya, bahkan sejak Senin kemarin gadis itu tampak menghindari sapaannya. Apa sekarang Cean harus menyapa Neska lagi dikala Neska pun tampak acuh tak acuh kepadanya?
Cean baru mau membuka mulut dan ingin menyapa Neska, rupanya gadis itu lebih dulu disapa oleh orang lain.
"Neska, kamu mau kemana?"
__ADS_1
Tak dapat dipungkiri, suara ini amat familiar ditelinga Cean sehingga mau tak mau dia menoleh juga untuk melihat siapa yang datang dan menyapa gadis yang berada tak jauh dari posisinya.
"Rion? Kamu kesini?" tanya Neska lalu menghampiri cowok itu.
Awalnya mata Cean melebar menyadari kehadiran adiknya, tapi dia berusaha bersikap biasa saja. Setidaknya, kehadiran Rion bisa membuatnya ikut berada ditengah-tengah Neska dan sang adik. Ya, dia punya alasan untuk bergabung sekarang.
"Iya, aku mau ngasih ini ke kamu."Rion mengulurkan sebuah paperbag untuk Neska.
"Apa ini?" Neska bertanya sebelum menerimanya, dia menatap Rion dan mengabaikan Cean yang ikut bergabung dengan mereka.
"Kamu ngapain kesini?" Cean memanfaatkan peran sebagai kakak dari Rion--sehingga tidak janggal jika dia ada diantara Rion dan Neska sekarang.
"Kak, Kakak disini juga?" Rion baru sadar jika ada Kakaknya di Lobby, sebab sejak tadi pandangannya hanya terfokus pada Neska saja. "Aku mau ngasih sesuatu sama Neska," kata Rion menjawab sang Kakak, lalu kembali menatap Neska disana. "Itu ... aku bawain novel yang mau kamu pinjam di perpustakaan kemarin," katanya mengarah pada Neska.
Neska membuka paperbag-nya, dia melihat Novel yang memang ingin dibacanya ada disana. Tapi, itu bukan terlihat seperti milik perpustakaan sekolah, melainkan masih bersampul plastik alias baru dibeli.
"Lho, kok--" Neska kebingungan.
"Iya, kamu mau baca itu, kan? Tapi novelnya keburu dipinjam sama Dila?" sela Rion.
"I-iya, sih. Tapi ... aku bisa baca setelah Dila mengembalikannya ke Perpus," ujar Neska tak habis pikir.
"Tapi ..."
"Udah, gak apa-apa, Nes."
"Rion, makasih, ya." Neska tidak tau bagaimana membalas kebaikan Rion. Pemuda itu bahkan datang khusus ke apartmennya untuk mengantarkan Novel incarannya secara langsung seperti ini.
"Udah?" Kali ini Cean angkat suara setelah cukup memberi waktu untuk Neska dan Rion berinteraksi.
Kedua remaja itu langsung melihat pada sorot mata Cean yang tampak dingin.
"Kenapa, Kak?" Rion pun mengernyit pada Cean.
"Ayo! Ikut Kakak naik, Kakak mau bicara sama kamu." Cean meninggalkan Rion dan berharap sang adik mengikuti langkahnya. Dia tidak jadi keluar dari Apartmen dan memilih kembali ke unitnya bersama Rion.
Sebelum mengikuti Cean, Rion menyempatkan untuk berpamitan pada Neska. Dia pun menatap Neska dengan senyuman kecil. "Aku naik dulu ke Apartmen Kak Cean, ya," katanya.
Neska mengangguk pelan. "Sekali lagi, makasih ya, Ri ..." ujarnya tulus.
"Hmm," sahut Rion lebih seperti gumaman pelan. Dia ingin mengayunkan langkah, tapi sebelum itu dia mengacak rambut Neska sekilas.
__ADS_1
Perlakuan manis Rion membuat mata Neska melebar, hal itu juga tak luput dari pengamatan Cean hingga membuatnya berdecak lidah sekilas.
...*...
Sesampainya di unit apartmen milik kakaknya, Rion duduk berhadapan dengan sang Kakak seperti berada didepan meja hijau dalam ruang persidangan.
"Kenapa, sih, Kak?" tanya Rion malas. Dia melihat raut ketidaksukaan dari Cean. Ada apa dengan kakaknya ini?
"Kamu kasih tau Aura tempat tinggal kakak?"
"Oh, jadi ini masalah Kak Aura, aku pikir Kakak marah karena aku kasi Neska hadiah." Rion tersenyum tipis diujung kalimatnya, tapi senyuman itu membuat Cean merasa sebal.
"Kamu jawab aja, Dek. Kenapa kamu kasih tau Aura tempat tinggal kakak?" Cean membuang pandangan ke arah langit-langit ruang, "dan soal Neska, kenapa juga Kakak harus marah?" katanya tak acuh.
Rion mengulumm senyum, dengan santai dia memajukan tubuhnya agar lebih condong menghadap pada Sang Kakak.
"Soal Kak Aura, ya memang aku yang kasi tau, karena kakak tau sendiri kan, kalau saudari kita itu selalu ngotot." Ada hening yang sengaja dibiarkan Rion untuk menjeda kalimatnya. "aku tau, Kak. Kakak marah setiap aku menemui Neska disini. Iya, kan?" selidiknya.
Tentu saja ucapan terakhir Rion membuat mata Cean membola.
"Apa maksud kamu, Orion?" tanyanya dengan suara yang lebih tegas.
"Kakak suka sama Neska, kan?" tukasnya to the point. Rion pun tersenyum tipis menyadari reaksi berlebihan dari sang kakak.
Sekarang Cean malah terbahak akibat ujaran sang adik.
"Mana mungkin," bantah Cean masih dengan tawanya yang semakin terdengar sumbang. "Neska itu udah kayak adik perempuan bagi Kakak. Kakak juga udah punya pacar. Lagipula, Neska lebih cocok sama kamu," ujarnya panjang lebar.
Sebuah sunggingan tipis terbentuk disudut bibir Rion.
"Oh, gitu? Jadi, kalau aku beneran pacaran sama Neska. Gak apa-apa, kan? Kakak gak marah, kan? Baguslah, soalnya aku gak mau bersaing sama Kakak."
Sekali lagi Cean tertawa, tapi kali ini Rion semakin yakin jika tebakannya tak salah lagi. Cean saja yang belum menyadari perasaan pada gadis yang juga Rion incar.
"Ya, ya, terserah kamu aja. Emang Neska mau sama kamu? Kalau dia mau, ya udah Kakak setuju-setuju aja, ngapain juga marah." Cean mengendikkan bahunya, namun tetap tak berani menatap pada mata sang Adik.
"Oh, oke kalo gitu," sahut Rion dengan senyum terkembang. Dia semakin bersemangat mendapatkan Neska sekarang.
Dengan percaya diri Cean mengutarakan kalimatnya tadi pada sang adik. Tapi entah kenapa sekarang dia malah menyesal sesaat setelah kata-kata itu terucapkan. Damned!
Bersambung ...
__ADS_1