TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
74. Pernikahan


__ADS_3

Cean dan semua tamu yang lain menyaksikan saat Neska turun dari lantai atas diiringi oleh Sang Mama dan Sheila. Cean menatap itu dengan senyuman yang lebar, kemudian menundukkan pandangan saat matanya dan Neska langsung bertemu dan bertubrukan. Entah kenapa hari ini Cean merasa gugup saat melihat kecantikan gadis yang sebentar lagi akan menjadi wanitanya itu.


"Awas jatuh air liurnya," kelakar Rion yang duduk didekat Cean. Cean pun terkekeh mendengarnya.


Acara itu akan segera dimulai. Neska didudukan oleh Mama Yara tepat disebelah Cean dan dia akan mendengarkan pria itu mengucap ikrar suci pernikahan.


Cean semakin gugup saat Neska sudah ada disisinya. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya, dia gemetar untuk hal yang sulit dijelaskan.


"Bisa kita mulai?" Pak penghulu menanyakan kesiapan Cean dan para saksi yang ada disana, karena Ayah Neska telah tiada serta dia tak memiliki saudara lain yang dapat menjadi walinya maka Neska akan dinikahkan oleh wali hakim yang diutus dari kantor urusan agama.


Semua saksi menyatakan kesiapannya. Begitupun Cean yang sudah mengangguk pertanda sudah siap untuk mengucapkan akad pernikahan. Pria itu tampak menarik nafas dalam sebelum akhirnya tangannya dijabat oleh sang wali hakim.


Neska sendiri menunggu ucapan Cean dengan harap-harap cemas. Dia juga gugup dan takut jika Cean sampai salah berujar atau melakukan kesalahan. Neska melirik pria yang akan menikahinya itu lewat ekor matanya sendiri, dia meremass jari jemarinya karena dilanda rasa was-was.


"Sah!"


Dan satu kata yang diucapkan serentak bersamaan dengan iringan doa itu sudah didengar kedua mempelai pengantin itu yang artinya mereka sudah resmi menjadi sepasang suami dan istri.


Neska diminta untuk menyalami tangan Cean sebagai suaminya. Gadis itu pun menurut dan mencium tangan Cean dengan takzim. Mereka tidak dapat mengira rasa syahdu dan haru yang berpadu menjadi satu pada hari itu. Momen tersebut juga akan sangat sulit dilupakan dan selalu terekam dalam benak masing-masing.


"Selamat ya, kalian sudah sah menjadi suami istri."


...***...


Acara resepsi yang langsung dilakukan selepas akad itupun berlangsung ramai. Hampir keseluruhan tamu datang menghadiri pesta pernikahan Cean dan Neska.


Taman belakang rumah yang dijadikan tempat berlangsungnya acara terlihat penuh tamu. Untungnya taman itu memang cukup luas dan mampu menampung tamu yang datang silih berganti.


Pesta taman memang terkesan lebih sederhana dan elegan, lagipula mereka tidak mengundang begitu banyak orang. Hanya kerabat dan beberapa relasi Cean yang cukup dekat, pun teman-teman dari orangtua mereka yang kebetulan jam datangnya ditentukan jadi tidak serentak memenuhi tempat tersebut.


"Selamat ya, kalian udah bener-bener menikah dan jadi pasangan halal sekarang." Marko menyalami tangan Cean dan Neska bergantian. Dia ikut bahagia melihat sahabatnya yang akhirnya melepas masa lajang.


"Kau kapan menyusul?"


"Jangan menanyakan aku. Jodohnya aja belum muncul."


Neska dan Cean terkekeh mendengar ucapan Marko yang terlalu jujur. Sebenarnya, dari segi penampilan Marko itu lumayan tampan. Mungkin dia terlalu sibuk bekerja sebagai asisten Cean sehingga tidak ingat untuk mencari jodoh.


"Kalau aku kenalkan sama temanku, mau, gak, Pak?" tanya Neska. Dia masih terbiasa memanggil Marko dengan sebutan itu.


"Teman yang mana?" tanya Marko. Pun Cean menatap istrinya dengan keheranan. Pasalnya, yang Cean tau sebagai teman Neska hanyalah Sheila, itupun Sheila sudah berpacaran dan akan segera bertunangan dengan Rion.


"Ada deh, pokoknya gak bakal nyesel deh. Dia baik dan---" Neska tidak melanjutkan kalimatnya, karena akhirnya dia melihat teman yang dia maksudkan untuk berkenalan dengan Marko.


"Van!" Neska memanggil Vanya yang tampak baru saja memasuki taman dan datang sendirian.

__ADS_1


Marko dan Cean sontak melihat ke arah dimana Neska memanggil seseorang.


Vanya mendekat ke arah sepasang pengantin baru itu, disana dia juga melihat sesosok lain yang tidak dia kenali dan itu adalah Marko.


"Selamat ya, akhirnya kamu menikah." Vanya dan Neska saling berpelukan singkat.


"Makasih ya, kamu udah datang jauh-jauh kesini. Sama siapa ke Indonesia?"


"Sendiri. Kamu tau sendiri aku gak punya someone special," akui Vanya pemilik rambut sebahu itu.


Neska langsung terkekeh. Dia menatap Marko dan menaik-naikkan alisnya menggoda pria itu. Cean juga menyenggol lengan Marko sebagai kode. Tapi Marko malah garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak perlu digaruk sebab tak gatal. Marko bingung mau memulai berkenalan dengan Vanya darimana. Padahal biasanya dia pandai bermain kata-kata.


"Van, kenalin ini Pak Marko. Dulunya aku kerja sama dia, lho." Neska yang tak tahan melihat Marko yang tidak pandai mengambil kesempatan, kembali berujar untuk memancing keduanya agar berkenalan.


"Oh, hai... Aku Vanya." Gadis itu mengulurkan tangan ke arah Marko. Dia memang selalu humble dan cepat menyesuaikan diri.


Marko tersenyum malu-malu kemudian menyambut uluran tangan Vanya.


"Marko ..." kata pria itu mengenalkan diri.


Sekarang Cean dan Neska mengulumm senyum melihat tingkah kocak Marko yang sok malu-malu itu. Biasanya Marko tak begini, Cean yakin jika Marko tertarik pada Vanya dan usaha Neska sepertinya akan berhasil, tapi entahlah dengan Vanya, gadis itu tampak biasa saja menanggapi Marko.


"Kalian ngobrol dulu deh, ya. Gak apa-apa kan Pak, kalau temenin Vanya dulu?" ujar Neska dan mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat agar Marko melakukan pendekatan dengan Vanya.


"I-iya, Nes. Saya temenin Vanya."


Vanya mengangguk dan pergi bersama Marko. Entahlah mereka akan melakukan pendekatan mulai darimana.


"Apa menurut kamu Marko bakal berhasil ngedeketin Vanya?"


Neska mengendikkan bahu atas ucapan suaminya. "Kita lihat aja nanti. Vanya itu udah lama sendiri. Dia kayaknya belum move on dari mantannya deh. Moga aja Pak Marko beruntung," katanya terkekeh kemudian.


Cean pun mengamini ucapan Neska. Dia juga mau Marko mendapatkan pasangan dan ikut melepas masa lajang diusia yang hampir menginjak kepala tiga.


"Gimana perasaan kamu sekarang?" tanya Cean pada Neska.


Neska tertawa pelan. "Tentu aja aku seneng, Kak," ungkapnya.


"Seneng doang?"


"Bahagia juga."


"Yang bener?"


"Iya, masa bohong."

__ADS_1


Cean menggenggam jemari istrinya. "Aku juga. Bahagia sekali bisa menikahi kamu hari ini. Aku harap pernikahan kita menjadi yang pertama dan terakhir. Saling mengingatkan jika salah. Tidak boleh membawa masalah sampai berlarut-larut. Biasakan berdamai sebelum matahari terbenam. Sanggup?" Cean menatap Neska dengan tatapan serius.


Neska mengangguk. "Mudah-mudahan kita bisa melewatinya, Kak. Aku sanggup asal itu bersama Kakak," ujarnya.


Cean tersenyum dengan tautan jari kelingking mereka yang kini saling bersentuhan. Ini benar-benar hari bahagia untuk keduanya.


"Wah, pengantin baru jadi iri deh."


Mereka tersadar dengan celetukan tamu yang baru saja hadir dihadapan keduanya. Disana ada Yola dan suaminya. Neska menyambut Yola dengan melakukan sesi cipika-cipiki yang singkat.


"Akur-akur ya kalian. Semoga cepat dapat momongan juga," ucap Yola sambil mesem-mesem penuh arti.


Neska langsung menundukkan wajahnya yang memerah. Sementara Cean terkekeh mendengarnya.


"Tenang aja, nanti kalau kita ada kabar baik pasti undang Mbak Yola lagi di acara syukurannya," jawab Cean.


Mereka juga berkenalan dengan suami Yola yang ternyata ramah dan humoris. Beberapa kali pria dengan nama Panji itu berkelakar dan melemparkan guyonan yang membuat Neska dan Cean ikut terbahak.


"Gini nih suami aku kalau udah kumat gesrek nya," kata Yola pada sepasang pengantin itu.


"Ya, biarin aja, Kak. Justru orang seperti Mas Panji ini bisa mencairkan suasana."


Yola dan Panji akhirnya meninggalkan sepasang pengantin itu di pelaminan. Mereka akan lanjut mencicipi hidangan yang ada disana.


"Yuk, ah makan. Aku sengaja setel perut kosong tadi pas mau kesini," kelakar Panji yang sampai ditelinga Cean dan Neska juga hingga mereka kembali tertawa dengan ucapan pria itu.


"Serasi ya mereka," kata Neska menjurus kepada Yola dan suaminya.


"Iya, tapi kita lebih serasi lagi," kata Cean tak mau kalah.


Neska terkikik dan tanpa sengaja dia melihat pada netra Cean yang kini menatapnya intens.


"Kenapa, Kak?" Neska menjadi gugup. Padahal tadi dia tak begini, ini gara-gara tatapan Cean yang dirasa berbeda dengan yang sebelumnya.


"Kamu udah siap, kan?" bisik Cean kemudian. Suaranya terdengar serius.


"Siap?" Alis Neska tertaut keheranan dengan pertanyaan ambigu Cean. "Siap, untuk?" tanyanya lagi.


"Siap untuk malam pengantin kita. Menjadi istri aku yang sesungguhnya?"


Neska membuang pandangannya dari Hujaman mata Cean. Dia menggigitt bibirnya sendiri karena gugup.


"Nes?" Cean memegang sisi wajah Neska agar sang istri kembali menatap padanya.


Bukannya menjawab, Neska yang sudah dilanda rasa gugup akibat pertanyaan Cean justru melakukan kebiasaannya yang sering muncul disaat seperti ini.

__ADS_1


Ya, Neska kembali cegukan membuat Cean akhirnya terkekeh dan kehilangan keseriusannya.


...Bersambung ......


__ADS_2