TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
25. Pacar


__ADS_3

Beberapa hari ini, Neska mencoba untuk menepis bayang-bayang wajah Cean dalam pikirannya. Sayangnya, hanya raut pemuda itu yang yang berpental-pental di tempurung kepalanya. Cean yang tertawa, wajah keheranannya, serta wajah dinginnya juga. Semua itu terus saja membayangi Neska yang sedang berusaha melupakan sang idaman hati.


Neska melirik pada paperbag yang kemarin diberikan Rion kepadanya. Dia bahkan belum membaca Novel itu, jangankan membaca, benda itu bahkan masih tersampul plastik dengan rapi seperti tidak ada ketertarikan dalam diri Neska untuk membacanya.


Neska memang tidak begitu berminat membacanya, awalnya dia mau meminjam novel di perpustakaan demi mengisi waktu kosong dan bisa melupakan Cean dalam kegiatan membacanya itu.


Realitanya, membaca novel tak dilakukan, bayangan Cean pun tak bisa dienyahkan. Benar-benar miris.


Apa Neska mencari kegiatan lain saja? Hari ini dia memang tidak bekerja paruh waktu setelah sepulang sekolah, hingga membuatnya hanya sendirian di kediamannya sembari merenung, hingga akhirnya kepikiran dengan wajah tampan milik Cean.


Ah, kenapa sulit sekali melupakannya. Padahal sudah jelas-jelas Cean memiliki pacar lebih dari satu. Wenda dan Aura. Apa itu saja tidak cukup untuk membuat Neska melupakannya? Atau justru Neska tertarik menjadi selingan juga? Mengajukan diri menjadi yang ketiga. Sepertinya, jika Cean setuju Neska akan mempertimbangkannya.


Ah, tidak-tidak. Pikiran semacam itu harus dihempaskan jauh-jauh. Neska tidak mau dikendalikan oleh perasaannya sendiri. Seberapapun dia menginginkan Cean, dia harus memiliki harga diri dengan tidak meminta-minta agar perasaannya dibalas dan dikasihani hingga menjadikan dirinya sendiri semacam selingan untuk bahan permainan Cean.


Suara deringan ponsel, membuyarkan lamunan Neska siang itu. Dia melirik ke arah benda pipih itu, rupanya itu adalah panggilan dari Rion.


Memikirkan tentang mantan musuh yang kini malah mendekatinya, Neska pikir tak ada salahnya untuk membuka hati buat Rion. Bukan berarti menjadikan pemuda itu pelarian tetapi Neska juga berharap dapat melupakan Cean dengan adanya Rion. Sepertinya itu tak salah.


Ya, minimal, Neska ingat sebuah kata-kata lama.


Tidak dapat Kakaknya, adiknya pun jadi. Begitulah yang saat ini Neska pikirkan. Meski dia sudah menolak pemuda itu mentah-mentah, dan terus terang mengenai perasaannya yang menyukai Cean, tapi mencoba dekat dengan Rion sepertinya boleh juga. Siapa tau Neska bisa berubah haluan. Rion juga baik, pikirnya.


Tanpa mau membuat Rion menunggu lebih lama, Neska akhirnya menjawab panggilan itu.


"Nes, sore ini ... mau jalan bareng, gak?"


...**...


Kedekatan Neska dengan Rion berjalan seiring dengan waktu yang terus bergerak. Tidak hanya membuat Rion senang, hubungan keduanya yang semakin membaik justru membuat Karel mundur secara perlahan-lahan.


Hal ini membuat Neska bersyukur, sebab hubungannya bersama Rion bisa menjauhkannya dari seorang Karel yang toxic. Yah, meski dia dan Rion tidak memiliki status apa-apa dalam kedekatan mereka beberapa bulan terakhir.


Hari kelulusan sudah di ambang mata. Setelah sebelumnya mereka melewati sesi ujian bersama-sama. Semuanya berjalan begitu saja. Lambat laun Neska merasa sudah bisa menerima Rion dalam hidupnya meskipun dia belum juga melupakan Cean sang cinta pertama.


Tepat di hari kelulusan, Rion mengutarakan perasaannya lagi pada Neska dan akhirnya dia mendapat jawaban yang dia inginkan. Neska menerimanya. Tidak sia-sia dia mendekati gadis itu selama kurang lebih enam bulan ini.


...***...


"Woi, bro!" Marko menepuk pundak Cean saat mereka berjanjian untuk bertemu di sebuah Cafe.


"Hmm," sahut Cean tak bersemangat.

__ADS_1


"Aku denger kau udah mau meninggalkan Apartmen tua itu, ya?"


"Ya, semua udah selesai."


"Misi penyamaranmu selesai? Apa yang kau dapat?" tanya Marko.


Cean hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh, kembali menyeruput coffee latte nya tanpa mau memperjelas segalanya pada Marko.


"Oh iya, soal Jelita... dia udah teken kontrak hari ini sama perusahaan kita. Gak sia-sia aku deketin dia nyaris setengah tahun, Bro!"


"Jadi, dia udah setuju jadi Brand ambasador lotion kita?"


"Yoi. Model yang lama cuma sementara. Bakal segera digantikan sama Jelita. Gimana kerjaan ku? Mantap, kan?" Marko menaik-naikkan alisnya menggoda Cean.


"Mantap apanya? Kelamaan!" kata Cean yang terbahak pada akhirnya. "Kita udah mau cari BA lain untuk produk lipstik, nah kau baru dapatin BA produk lotion. Kacau!" sambungnya kemudian.


"Yah, pelan-pelan lah, Bro. Menaklukkan Jelita itu gak mudah, dia model kelas atas. Pemenang Top model 2022 jadi ya jelas dia jual mahal."


"Apapun alasannya, itulah resiko kerjaanmu, Ko."


"Iya-iya, aku bakal cari BA untuk lipstik terbaru deh," ujar Marko pasrah.


"Ashiapp ..." Marko menyahut cepat dan antusias.


"Jadi, setelah ini kau balik ke rumah orangtuamu atau pindah ke Apartmen yang lebih waras?"


Cean mengambil gulungan kertas di hadapannya, menggumpalnya lalu melemparkan itu pada Marko. Alih-alih marah, Marko malah cekikikan atas respon sahabatnya itu.


"Maksudmu apartemenku yang lama gak waras, gitu?" marahnya.


"Ya iyalah, betah juga kau disana setengah tahun."


"Entahlah," kata Cean menghela nafasnya berat. Ada rasa yang sulit dia utarakan terkait Apartmen tua yang sempat menjadi tempat tinggalnya itu.


"Saranku, lebih baik kau pulang ke rumah orangtuamu."


Cean menggelengkan kepalanya. Dia bukan tak mau hidup bersama dengan keluarga, tapi banyak urusan pribadinya yang ingin dia luputkan dari pengetahuan keluarganya.


...**...


Cean sudah berkemas siang tadi dan mungkin besok dia akan benar-benar meninggalkan Apartmen tua dan tidak bertetangga lagi dengan gadis kecilnya.

__ADS_1


Gadis kecilnya? Ya, dia menganggap Neska begitu.


Ah, kenapa saat mengingat Neska rasa-rasanya ada sesuatu yang hilang? Sudah hampir beberapa bulan belakangan Cean jarang melihat gadis itu lagi. Biasanya jika pagi dia akan dapat melihat Neska yang sedang menunggu angkutan umum di depan gedung Apartmen mereka. Tapi belakangan hari jarang nyaris tak pernah.


Biasanya juga, Cean sering berpapasan dengan gadis itu, tapi sudah lama mereka tidak bertatap muka sejak Neska mengatakan ingin menjaga jarak darinya.


Rion juga sudah jarang datang ke apartmennya sejak dia mengatakan jika tidak mengapa kalau sang adik mau mendekati Neska?


Ini sangat aneh, seharusnya jika Rion benar-benar mau mendekati gadis itu, seharusnya Rion sering berkunjung, kan? Nyatanya tak ada. Hal ini justru membuat Cean mencari-cari, karena dia berharap dengan kedatangan Rion ke Apartmen itu dia jadi punya alasan untuk bisa bertemu atau sekedar melihat gadis kecil itu?


Lagi-lagi, hanya kata entah yang terbersit di kepala Cean. Kenapa dia harus curi-curi seperti itu demi melihat Neska? Entahlah.


Malam ini, Cean kembali ke rumah orangtuanya. Ada acara makan malam perayaaan kelulusan Rion dari SMA Harapan Taruna.


Sebenarnya Cean malas untuk kumpul keluarga karena dia takut kejadian yang sudah-sudah terulang kembali. Ya, Aura akan membahasnya di meja makan dan didepan semua keluarganya. Mengingat itu rasanya Cean malas. Tapi, Cean memaklumi sikap Aura, kakaknya itu begitu karena kelakuan Cean juga. Tapi sekarang Cean sudah berubah, jangankan banyak wanita, satupun dia tak punya.


Demi menghargai keluarganya, serta Rion yang mengundangnya lewat pesan suara. Mau tak mau Cean akhirnya datang ke rumah Mama dan Papanya demi makan malam bersama. Lagipula, sudah lama juga mereka tak makan malam seperti ini. Biarlah nanti Aura puas mengulitinya. Cean akan ikhlas menerimanya.


"Ma, Pa." Cean menyalami kedua orangtuanya dengan takzim. Disana baru ada Papa dan Mamanya saja, sementara Aura dan Oma belum kelihatan batang hidungnya.


"Anak mama yang tampan udah pulang. Kamu nginep disini kan?"


"Belum tau, Ma."


"Kok gitu, sih?" sungut Yara. "Ke rumah Mama aja susahnya minta ampun. Nyari di kantor kamu juga gak ketemu. Huh, susahnya punya anak yang udah berubah jadi orang penting," katanya disertai cebikan.


"Mama ..." Cean mencoba membujuk sang Mama karena tingkah wanita yang masih cantik diusia yang tak muda lagi itu sungguh membuatnya merasa bersalah.


Saat Cean sibuk dengan Mamanya. Rupanya Rion tiba disana bersama seseorang.


"Ma, Pa, Kak... coba lihat aku sama siapa." Rion mendekati Cean, Yara dan Sky yang duduk berhadapan di ruang tamu malam itu.


Ujaran Rion jelas menyadarkan ketiganya. Mereka sontak menatap pada sang anak bungsu.


"... kenalin, ini Neska. Dia ... pacar Rion."


Mendengar itu alis Cean langsung tertaut, belum lagi saat dia melihat Neska yang berdandan cantik demi menghadiri acara makan malam bersama keluarganya malam ini.


Bersambung ....


Next? Komen ya

__ADS_1


__ADS_2