TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
59. Momen yang terlupakan


__ADS_3

Neska terbangun saat mendengar suara bel apartmennya yang ditekan berkali-kali. Sepertinya tamu diluar sana menanti pintu untuk dibukakan dengan tidak sabarnya.


Neska merasa ada sesuatu yang aneh telah terjadi padanya, namun dia belum sempat untuk memikirkan itu sebab suara bel kembali terdengar hingga membuatnya mau tidak mau beranjak dari tempat tidur.


Neska melihat layar lebih dulu, layar itu semacam penangkap gambar dari cctv luar, berfungsi untuk memastikan siapa tamu yang datang dan berada di depan pintu unit apartmennya itu.


Disana, Neska melihat Sheila yang datang. Gadis itu tidak sendirian melainkan bersama Rion juga yang ikut bersamanya.


Neska segera membuka pintu saat itu juga.


"Sheil? Ada apa?"


"Harusnya aku yang tanya sama kamu. Ada apa, Nes?"


"Maksudnya?" Neska tak paham dengan pertanyaaan sahabatnya itu.


"Aku, Rion dan Kak Cean udah hubungi kamu berkali-kali tapi kamu gak jawab panggilannya. Chat juga gak dibalas. Kamu kemana aja?"


Neska mengernyit sekarang. Perasaan dia tidak kemana-mana. Sejak tadi di Apartmen terus.


"Masuk yuk!" ajak Neska. "Kita bicara di dalam aja," katanya.


Sheila dan Rion mengikuti langkah Neska dan masuk ke apartmennya.


Neska menjelaskan pada kedua orang itu bahwa dia tidak kemana-mana sejak pulang kuliah. Sepertinya, dia tertidur cukup lama. Entahlah, Neska juga ragu sebenarnya. Hanya saja, dia masih merasa ada sesuatu momen yang terlewatkan dari memori ingatannya.


Secara mendadak, Neska teringat soal Karel yang mengantarnya. Hanya sebatas sampai disana saja ingatan Neska mengenai kejadian hari ini, sebelum akhirnya dia terbangun karena suara bel Apartmen yang terus menerus berbunyi.


"Tadi aku ketemu Karel, dia jemput aku ke kampus terus anterin aku pulang," akui Neska dengan tampang yang masih tampak berpikir.


"Karel?" timpal Rion, dia jelas tau siapa Karel. Dulu Karel itu menyukai Neska, tentu Karel mengetahui sebab dia juga teman SMA mereka.


Neska mengangguk. "Iya, Karel yang kamu kenal juga. Dia ada di Singapore. Kebetulan kemarin pas aku pulang kesini dia juga satu pesawat dan duduk di seat sebelahku."


"Terus, tadi dia anter kamu pulang kesini, gitu?" Kali ini Sheila kembali bertanya.


"Iya, terus ..." Neska tampak mengingat-ingat lagi kejadian yang sempat menimpanya siang tadi. Terakhir yang dia ingat adalah dia bertemu Karel di koridor depan unit Apartmennya.


"Tapi ..." Neska ragu melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kayaknya ada yang aneh deh. Aku gak ingat momen pas aku masuk ke Apartmen. Tiba-tiba aku udah terbangun disini aja," paparnya.


"Apa?" Sheila dan Rion bertanya serentak dan kaget.


Neska semakin bingung sekarang, dia menggaruk pelipisnya frustasi.


"Udah, kayaknya kita bisa cek cctv ruangan deh." Rion mengingat jika itu salah satu cara mengungkap hal yang terlewat.


"Setuju," timpal Sheila dan Neska kompak.


Rion sendiri merasa tidak enak hati sejak Neska menyebut nama Karel. Apalagi pemuda itu sampai kebetulan berada di seat yang sama dengan Neska saat di pesawat. Kenapa semua seperti terorganisir seperti itu? Pasti ada yang tidak beres.


"Sekarang kamu kabarin Kak Cean, Nes. Dia pasti khawatir sama kamu. Biar soal cctv aku yang ngecek. Dan kalau Karel bener-bener ngelakuin hal yang enggak-enggak, aku yang bakal ngadepin dia tanpa menunggu Kak Cean," ujar Rion terdengar geram.


Bagaimana Rion tidak kesal, Neska mengatakan melupakan suatu momen--yang entah apa. Hal ini membawa Rion jadi mengingat tentang kejadian Kakak perempuannya--Aura--yang pernah mengalami hal serupa. Ini lah yang membuat pemuda itu tersulut amarahnya.


Rion takut Neska dijebak, sebab Rion sadar bahwa Neska baru saja meniti karir. Mungkin ini karena ada yang iri dengan Neska, atau bisa juga karena masa lalu Cean yang mau mengusik gadis itu. Bagaimanapun, kakak lelakinya itu terlalu banyak mantan yang bisa saja membalaskan dendam karena rasa sakit hati dan menjadikan Neska sebagai sasaran balas dendam itu.


...***...


"Kamu tadi kemana aja?"


"Aku ketiduran di Apartmen, Kak. Maaf ya."


"Aku khawatir banget sama kamu."


"Maaf ya, Kak. Ini aku udah hubungin kakak langsung kok pas aku kebangun."


"Lain kali jangan gak berkabar gini, ya. Aku hampir aja nyusulin kamu ke Singapore tadi."


Neska meringis dalam posisinya.


"Aku pasti buat kakak kelimpungan, ya?"


"Iya, gitu lah. Aku lebay ya? Padahal kamu gak kemana-mana juga."


"Makasih ya Kak, kakak bukan lebay tapi kakak terlalu peduli sama aku."


Neska jadi takut sesuatu telah terjadi padanya di momen yang sempat terlupakan olehnya. Mendadak, dia merasa bersalah pada Cean. Dia mencoba mengingat lagi apa ya h sempat dia lupakan.


"Kamu udah makan, Nes?"

__ADS_1


Neska tak menjawab, dia sibuk memikirkan apa yang Karel lakukan padanya. Dia tak ingat bagaimana caranya masuk ke Apartmen. Memori ingatannya tidak bisa menjelaskan kapan dan seperti apa dia bisa tiba-tiba tertidur di atas tempat tidurnya sendiri. Neska tetap merasa ada sesuatu yang janggal.


"Nes? Kamu masih disana?"


"Ya-ya, Kak."


"Kamu lagi mikirin apa?"


"Gak kok, Kak. Aku cuma lagi mikirin mata kuliah besok. Ada kuis soalnya."


"Oh, ya udah kalau gitu, kamu mau belajar ya?"


"Ehm, boleh, Kak?"


"Ya tentu saja boleh, Sayang."


Neska terkekeh kecil, kemudian undur diri dari panggilan mereka yang sedang berlangsung itu.


...***...


Cean bernafas lega setelah menerima panggilan dari Neska. Untunglah gadis itu tidak kenapa-napa. Padahal, pemikiran Cean siang tadi sudah kemana-mana. Dia sampai tidak fokus meeting dan bekerja.


Akan tetapi, kelegaan Cean hanya berlangsung sementara, karena beberapa detik dari itu dia mendapatkan sebuah pesan yang dikirim dari nomor asing yang sudah dapat Cean tebak siapa pemilik nomor tersebut.


Jelita.


Dan pesan yang dikirimnya adalah foto Neska yang tengah terbaring nampak tertidur dengan hanya mengenakan underwear saja.


"Breng sek!" Cean mengumpat keras. Apa-apaan ini? Dia menyanggah hal itu dalam hatinya. Pasti ini hanya akal-akalan Jelita saja. Ini hanya foto editan. Begitulah yang Cean yakini.


Sampai akhirnya dia kembali menerima pesan dari Jelita.


[Ini adalah BA baru di perusahaan Bapak kan? Ternyata dia tidak jauh lebih baik dari saya. Buktinya dia menerima open BO]


Cean menggeleng keras. Mana mungkin dia mempercayai ucapan Jelita begitu saja. Dia akan segera mencaritahu keaslian foto tersebut sebelum menuduh Neska yang bukan-bukan. Lagipula, Neska teramat polos untuk melakukan hal tidak terpuji itu.


Cean memilih mengabaikan pesan Jelita. Tapi sepertinya wanita itu belum mau berhenti sampai disana.


[Bagaimana jika foto-foto ini tersebar di media, ya, Pak? Bisa-bisa nama perusahaan Bapak tercoreng, belum lagi karir gadis bernama Neska ini. Dia pasti akan segera terkenal karena aibnya sendiri.]


Cean mengeram kesal, mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Demi apapun, dia sangat kesal dengan ulah Jelita yang mengedit foto Neska.

__ADS_1


[Saya akan melaporkan kamu juga karena mengedit foto Neska seperti itu] Akhirnya Cean membalas pesan Jelita dengan ancaman juga. Setelah itu, Cean segera beranjak dari kamarnya untuk menyelidiki soal foto tersebut. Dia tidak akan tenang sebelum mengetahui fakta terkait foto Neska itu. Pun dengan file foto yang berada di tangan Jelita. Cean tidak mau Jelita memanfaatkan foto itu untuk menjadi senjata yang akan menyerangnya.


...Bersambung ......


__ADS_2