
"Kak, satu hal yang harus kakak ingat. Aku gak seperti yang kakak pikirkan. Foto-foto yang kakak terima itu mungkin memang aku, tapi aku gak sadar saat foto itu diambil." Neska mencoba memberi penjelasan pada Cean di seberang sana.
Tidak ada sahutan dari Cean, Neska paham mungkin pria itu tengah menata perasaannya sekarang terkait keaslian foto yang diterimanya. Tapi, dilain sisi Neska juga takut jika Cean tidak mempercayainya dan malah membuat argumen serta kesimpulan sendiri mengenai foto-foto yang didapatkannya tersebut.
"Kak ..." Suara Neska kembali bergetar, mengiba, dia tidak mau Cean membuat spekulasi sendiri terkait hal ini. Dia mau Cean mendengarkan sedikit saja penjelasannya. Mana mungkin Neska berpose seperti itu secara sadar?
"Aku akan menemui kamu secepatnya dan kita akan bahas ini secara langsung nanti."
Neska menangkap nada dingin dari suara Cean diseberang sana. Gadis itu mendesahh frustrasi. Tapi memang ada baiknya mereka bertemu secara langsung agar Neska dapat menjelaskan secara terperinci pada Cean mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Baik, jika itu keputusan Kakak. Aku tunggu kedatangan kakak kesini."
"Hmm," sahut Cean yang terdengar lesu dan tak bersemangat.
Panggilan itu diputus sebelah pihak oleh Cean. Neska kembali menangis tersedu-sedu. Membayangkan jika Cean sudah berpikiran yang tidak-tidak padanya karena foto itu. Neska tidak tau bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan Cean padanya. Karena hal ini, Neska yakin jika rasa percaya Cean mulai terkikis terhadapnya. Tapi Neska masih ingin memberikan penjelasan pada pria itu. Dia tidak mau Cean men-cap nya sebagai gadis yang tidak baik hanya karena keaslian foto itu. Neska dijebak. Itulah yang harus Neska beritahukan pada Cean. Tapi, apa Cean akan percaya?
Dilain tempat, Cean berada dalam titik kebimbangan. Dia tau yang mengirimkan foto itu adalah Jelita. Cean menebak jika gadisnya pasti dijebak oleh wanita itu. Akan tetapi, satu sisi dalam kepalanya justru membawanya pada pemikiran logis yang mengatakan bahwa tidak mungkin Neska bisa dijebak begitu saja oleh Jelita. Apa sebenarnya Neska juga senang mengoleksi foto seperti itu?
Segera Cean mengenyahkan pemikiran tersebut. Gadisnya yang polos tak mungkin memiliki hobi aneh seperti itu kecuali itu Jelita. Tapi, bagaimana bisa foto itu benar-benar asli? Apa yang sebenarnya terjadi pada Neska? Apa ini ada kaitannya dengan Neska yang menghilang sejak selesai dari jam kampusnya?
Tingg ...
Satu notifikasi pesan kembali masuk ke ponsel Cean. Kali ini dari nomor yang sama. Jelita.
Dan yang kali ini dikirimkan pada Cean benar-benar membuat darahnya mendidih. Difoto itu terlihat jika Neska sedang dipeluk oleh lelaki yang wajahnya tidak kelihatan ke karena posisi laki-laki itu tengah mengecup dahi Neska yang tertidur dengan selimut yang menutupi sampai dada.
Cean terbelalak. Dia sudah tau jika foto ini diambil disaat yang sama dengan foto yang sudah dia cek keasliannya. Jadi, Cean tau jika foto ini juga asli, terlihat dari resolusi kamera serta nama filenya yang serupa dengan foto-foto awal yang tadinya sudah lebih dulu dikirimkan oleh Jelita.
Cean segera menelpon Jelita saat itu juga. Dia harus membuat perhitungan pada wanita itu. Tanpa perlu mendengar penjelasan dari Neska, Cean tau jika gadisnya tengah dijebak oleh orang suruhan Jelita. Yakin. Cean yakin seratus persen jika itu yang terjadi sebenarnya. Cean dapat menyimpulkan karena jebakan seperti ini pernah menimpa saudarinya--Aura. (Kisah Aura ada di novel Dijebak Di malam Pertama)
"Hai, Pak Cean?" Begitulah Jelita menyambut panggilan telepon dari Cean.
"Breng sek! Kau apakan Neska?"
Jelita malah tertawa diseberang sana. "Aku tidak melakukan apapun padanya, Pak. Bapak saja yang terlalu menjunjung tinggi dia, padahal harga dirinya tidak lebih rendah dari saya."
"Dasar ja-lang!" maki Cean. "Hapus fotonya, aku akan membayarmu untuk semua foto-foto itu!" tukasnya.
"Membayar? Apa bapak pikir saya kekurangan uang? Saya masih bisa mencari uang meski tidak bekerja di tempat Bapak lagi."
"Jadi, apa maumu?" tanya Cean to the point.
__ADS_1
"Bapak yakin menanyakan apa yang saya mau setelah Bapak menginjak-injak harga diri saya dengan mendepak saya dari perusahaan bapak dan menolak tawaran saya mentah-mentah saat di club'?"
"Katakan!" sergah Cean.
"Yang perlu bapak tau, saya tidak butuh uang bapak."Jelita menjeda kalimatnya. "Tapi, saya mau Bapak menjilat ludah bapak sendiri dengan cara memohon pada saya yang pernah bapak tolak."
"Apa maksudmu?" tanya Cean geram.
"Saya yakin Bapak paham maksud saya. Memohonlah, Pak. Kita akan menghabiskan malam panas berdua dengan begitu saya percaya bahwa Bapak sungguh-sungguh meminta maaf pada Saya dan menghargai saya yang sudah menawarkan diri pada Bapak."
"Jangan harap!" desis Cean.
"Kalau begitu kesepakatan kita tidak pernah berlaku. Foto itu akan terus ada pada saya dan begitu saatnya tiba semuanya akan tersebar ke media. Pihak yang kompeten akan segera menyatakan keasliannya lalu Neska akan berakhir dengan karirnya yang belum seberapa dan nama yang langsung jelek. Bagaimana?"
Kali ini Cean yang tergelak. Dia tertawa sampai puas, entah menertawakan kebodohannya sendiri yang bisa diancam oleh Jelita atau justru menertawakan Jelita yang sengaja mencari gara-gara padanya.
"Kau mau bermain-main denganku, ya?" sarkas Cean. "Kau mencari lawan yang salah, Jelita. Ancamanmu tidak akan mempan untukku. Ku pastikan semua foto itu akan hilang darimu sebelum tersebar ke media manapun."
"Benarkah?" Jelita malah tertantang dengan Cean yang balas menantangnya.
"Ya, aku bahkan bisa melenyapkan sampai ke akar-akarnya. Kau salah jika mengajakku bermain-main soal ini."
"Aku memang tidak pernah main-main atas semua yang ku ucapkan!" tegas Cean.
"Kenapa Bapak seperti ini memperjuangkan nama baik model baru itu? Kenapa dulu saat saya berkerja dibawah naungan perusahaan Bapak, bapak tidak berlaku demikian?"
"Sebenarnya saya mempertahankan nama baik kamu juga, Jelita! Sayangnya sikap kamu sendiri yang justru membuat nama kamu tercoreng dan membuat saya muak sampai memecat kamu."
...****...
Semalaman, Neska menangis tidak henti-hentinya. Dia malu. Amat malu. Ternyata tubuhnya sudah dinikmati oleh Karel meski itu hanya dipandangi saja. Neska menyesal kenapa semua ini bisa terjadi. Kecerobohan membawanya kepada jalan ini. Neska takut jika jejak digital mengenai foto-fotonya akan tersebar di media dan tidak bisa terhapus.
Neska yakin, setelah semua itu dikonsumsi publik, maka namanya akan tercemar. Imej polos yang dimilikinya, yang benar-benar adalah dirinya, akan hilang seiring dengan tersebar luarnya fotonya yang tidak mengenakan busana.
Belum lagi sangsi sosial yang akan diterimanya. Pasti banyak mata yang menatapnya remeh. Mengira dia murahan. Bahkan mata-mata lain yang akan jelalatan membayangkan bentuk tubuhnya.
Jika sampai itu terjadi, maka hidup Neska akan benar-benar hancur sebelum karirnya benar-benar naik.
"Udah dong, Nes. Mau sampai kapan kamu nangis kayak gini?" Sheila mencoba menenangkan Neska lagi, entah berapa kali dia melakukan hal itu tapi tak sekalipun Neska mendengarkannya. Gadis itu tetap saja tersengguk karena pemikirannya sudah semakin jauh kemana-mana.
"Rion udah janji bakal cari Karel hari ini. Kamu tenang aja, ya. Karel pasti bakal habis dibogem Rion."
__ADS_1
Bukan, bukan masalah dendam pada Karel yang Neska pikirkan tapi lebih memikirkan nasib dia kedepannya. Terutama dengan Cean yang akan memandangnya sebelah mata. Neska tidak siap. Dia tidak yakin Cean akan menerimanya setelah kejadian ini. Bukankah tubuhnya sudah terekspos oleh Karel? Pasti Cean akan jijik padanya nanti.
"Foto..." kata Neska pada Sheila.
"Foto? Foto apa, Nes?" tanya Sheila tak mengerti maksud sahabatnya.
"Jadi, kamu semalam bilang kan kalau dari rekaman cctv itu Karel kayaknya foto-fotoin aku?"
Sheila mengangguki ucapan Neska yang bicara sambil menangis itu.
"Fotonya udah sampai ke Kak Cean."
"Apa?" Sheila terkejut dan membekap mulutnya sendiri. "Jadi, Karel memang ngerencanain ini? Pasti maksud dia biar kamu sama Kak Cean putus, deh, Nes."
"Entah, aku juga gak tau apa maksud dia sebenarnya."
"Sabar ya, Nes. Aku yakin Kak Cean pasti paham dengan keadaan kamu."
"Tapi semalam suara Kak Cean dingin banget sama aku. Dia awalnya gak percaya foto itu. Akhirnya dia cari tau keasliannya. Kayaknya di kecewa setelah tau foto itu asli, Sheil."
Sheila menarik nafas panjang. Dia berusaha memahami perasaan Neska sekarang.
"Pasti Kak Cean bakal ngerti Nes. Aku yakin, dia sayang banget sama kamu, kan? Kalau perlu nanti aku dan Rion bantu jelaskan semuanya kalau foto-foto itu karena kamu dijebak."
Neska mengusap kasar linangan airmatanya di pipi. "Mungkin dia bisa ngerti, tapi dilain waktu dia bakal ngelihat aku sebelah mata, Sheil. Dia pasti anggap aku murahan. Cewek yang tubuhnya udah dilihatin sama cowok lain."
"Ya tapi itu kan bukan keinginan kamu, Nes."
Neska menggeleng lemah. Dia tidak bersemangat sekarang.
"Jadi, apa keputusan Kak Cean setelah tau foto-foto itu? Dia gak marah sama Karel?"
"Justru itu, Kak Cean gak ada nyebutin nama Karel sama sekali. Seolah yang memberitahu dia itu bukan Karel."
"Apa Karel disuruh seseorang?" tebak Sheila.
"Aku gak tau. Yang jelas Kak Cean mau bertemu aku dan bicara secara langsung sama aku."
Sheila menatap Neska dengan sendu. "Mudah-mudahan semuanya baik-baik aja. Aku doain hubungan kalian semakin kuat setelah ini, ya," paparnya tulus.
...Bersambung .......
__ADS_1