Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Nameless Troubles (4)


__ADS_3

—9—


Jangan menilai teman di saat suka, tetapi lihatlah dirinya disaat masa sulit. Sebab dalam masa sulit, sifat asli manusia akan terlihat jelas. Tersenyum diriku menyadari betapa benarnya kata-kata itu.


Putus asa dan sangat menginginkan Bibit Yggdrasil, Roger menandatangani kontrak sihir mereka denganku. Dia juga akan membantuku menjerat smeua warga di distrik itu sesuai dengan perjanjian kami.


Dengan kata lain, Roger telah menjual jiwanya dan seluruh orang-orang yang percaya padanya, untuk Iblis sepertiku. Dia membuang harga dirinya sebagai manusia dan menjadi budak seekor “Daemon” sepertiku. Haha, lucu sekali.


Tetapi aku pun menyadari, Arthur tampak tidak senang melihatnya. Dia hanya terdiam dan mengawasi, siap untuk mencabut pedangnya jika diperlukan.


“Kenapa kamu keliatan kesal sekali, Artie?” tanyaku.


Arthur, masih tak bisa menatap mataku, pun menjawab dengan canggung, “… Sejak kapan kamu.. berubah menjadi pembohong seperti ini?”


“Berbohong? Kok kamu asal menuduhku sih, Artie. Aku juga punya hati loh. Meskipun aku ini orangnya penyabar, kalau dituduh begitu, hatiku bisa terluka,” kataku yang berkacak pinggang heran.


“… Kenapa kamu sengaja membiarkan mereka melukaimu lalu membuat perjanjian yang tidak adil?” tanya Arthur menepis dramaku.


Aku tersenyum, keadilan harusnya tidak ada dalam kamus seorang Noctis.


“Hmm… Begini ya Arthur. Senjata paling kuat dalam sebuah negosiasi adalah rasa bersalah. Dikombinasi dengan mukjizat memaafkan, rasa bersalah akan membuat seseorang ingin melakukan banyak hal untukmu,” jelasku sembari melirik ke arah Roger yang sedang berdiskusi dengan pemuda lainnya,


“Disatu sisi, rasa berutang, meskipun hampir sama dengan ‘rasa bersalah’, tidak memiliki kegunaan. Kamu tak dapat berekspektasi orang lain akan membalas kebaikanmu, sebab sifat dasar manusia adalah enggan berutang budi.


Karena itu, aku memanfaatkan kesalahan manusia-manusia itu dan membuat perjanjian yang sebanding, agar hubunganku dengan mansuia itu hanya sebatas bisnis… bukan hutang budi.”


Arthur mengelus dagunya berpikir, “Memangnya… seberapa harga hidup orang-orang distrik disini, dibandingkan bibit pohon kehidupan itu? Sampai ribuan tahun pun… mereka takkan sanggup membayarnya,” kata Arthur menudingku,


“Kamu… berencana untuk mengeksploitasi mereka dengan harapan palsu, bukan?”


Aku tersenyum, “Whoa, imajinasimu liar juga. Tapi sayang, dibandingkan Ibumu yang jenius dan pandai bermanuver politik… aku hanya gadis sederhana yang bodoh, Artie,” kataku yang mengangkat dagu anak itu dan menatapnya dengan mata iblisku,


“… Bila kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencari sosok Ibumu dalam diriku, kamu hanya akan kecewa, Artie,” lanjutku yang kemudian melepas anak itu.


Arara, anak-anak dan imajinasi mereka yang ada-ada saja. Aku, seorang pembohong? Mana mungkin. Aku kan sudah berjanji memberikan bibit Yggdrasil kepada manusia seharga kerja keras mereka. Tapi kebetulan aku “lupa” berjanji memberitahu cara menumbuhkan pohon itu.

__ADS_1


Roger pun datang mendekatiku dan berkata, “Tuan Putri, sepertinya Nona Dokter sedang mengunjungi pasien-pasiennya di rumah. Dalam waktu seperti ini, beliau… tidak suka diganggu.”


“Bahkan oleh seorang Gubernur sekalipun?” tanyaku melipat tangan bingung, “Araraa, sehebat apa dokter itu hingga tak bisa menyempatkan waktu untuk seorang VVIP?”


Roger menggaruk-garuk kepalanya, “S-Sejak para perawat meninggalkannya, Nona Dokter mendatangi rumah demi rumah untuk menjalankan prakteknya. Dia satu-satunya penyihir yang peduli dengan kami. Bila tak ada dia, maka sudah pasti kami akan lebih cepat mati dan terpuruk.”


“Hrmm, sepertinya kalian sangat percaya dengan dokter kalian ya.”


Seorang dokter perempuan, hmm? Tidak biasanya. Aku kira dunia kedokteran Kinje hanya dipegang kaum maskulin saja. Sepertinya tujuh tahun diombang ambing perang dan wabah mengubah segalanya.


“Bila dia tak mau datang di hadapanku, bagaimana jika aku yang mendatanginya?” kataku.


Roger dan preman-premannya pun mengantarkanku dan Arthur ke tempat dokter Oe berada. Seluruh mata di distrik itu melihatku, membuatku sungguh gugup dan malu. Sebab, di mata mereka, aku tampak seperti pemimpin geng yang sedang parade, seperti di novel-novel picisan.


Kami pun sampai di sebuah gubuk kayu bertingkat yang tampak akan rubuh. Samar-samar terdengar pembicaraan dari gadis bersuara menyejukan hati dengan seorang ibu yang khawatir dibalik pintu.


"Jangan lupa ya Bu, tiap dua jam mengganti kompres air hangatnya. Selain itu, biasakan memanaskan air sampai mendidih sebelum memberikannya ke dik Verrel, ya" kata suara lembut itu sebelum berpamitan dengan sang ibu yang sangat berterima kasih.


Seorang gadis keluar dari gubuk itu, terkejut melihatku di depannya. Rambut coklat kehitamannya yang kusut dihiasi dengan elegan oleh konde emas berhias batu emerald. Konde itu adalah Pin Avalon yang merupakan tanda seorang lulusan fakultas kedokteran Universitas terbaik dunia, Odinhall.


Tapi, kenapa dia begitu terkejut melihatku? Apakah kami saling mengenal sebelumnya?


“Apakah kamu sang Daemon Bulan yang dibicarakan rumor-rumor itu?” tanyaku.


“Kamu siapa?” tanya sang dokter, tetapi sebelum dia dapat menjawab matanya melirik pada Arthur dan melonjak kagetlah dirinya,


“A-Arthur?… A-Astaga kemana aja selama ini? Lumina mencarimu dari kemarin malam.”


Hmm, caranya berbicara kok mirip sekali dengan Luciel?


Arthur menggaruk-garuk kepalanya canggung, “A-Aaahh… ceritanya panjang, Lumi. Tapi intinya semalam, bila tak ada Ma Dame Clair, mungkin, aku tidak akan lolos dari para Matrovska,” katanya memperkenalkan diriku.


“M-M-Ma Dame Clair, si Penyihir Putih?! D-Daemon yang dengan sendirinya menyelamatkan seluruh dunia dengan Bibit Yggdrasil, tapi tidak ikhlas lalu malah menagih harga fantastis hingga membuatnya menjadi orang kedua terkaya di dunia?” kata Lumina kaget.


U-Ugh… T-Ternyata itu rumor yang beredar tentang diriku. Canggung juga rasanya mendengarnya langsung. Yah, mau gimana lagi, Bibit Pohon itu memang sangat langka, ditambah lagi, High Demand. Kalau aku menjualnya murah, aku mengkhianati jati diriku sebagai seorang pedagang.

__ADS_1


Lagipula uang itu kuputar kembali dalam bentuk beasiswa pendidikan, pengembangan teknologi dan agrikultur yang membawa banyak kebaikan untuk dunia. Yah, meksipun aku mendapatkan lebih banyak dari investasi itu sih, hehe.


“E-Ehem!” selaku yang kemudian menepuk pundak Arthur dan melanjutkan, “Mari kita kesampingkan seluruh rumor itu ya. Daemon Bulan, aku memiliki permi—“


“Senang bertemu denganmu Ma Dame, tapi maaf ya, aku sedang buru-buru. Banyak pasien menanti,” kata Lumina memotongku. Bagaikan angin ribut, dokter itu pun segera sirna dari hadapanku… meninggalkanku terbengong-bengong.


“A-Arthur, d-dia b-b-baru saja mencuekki aku, Clair, si Penyihir Putih? P-Penyihir yang mampu memporak-porandakan dunia hanya dengan jentikan jari?” kataku terbata-bata.


“Sifat aslimu keliatan tahu,” kata Arthur yang menggeleng-gelengkan kepalanya, “Lumi itu seperti peluru. Kalau dia punya keinginan, dia akan berusaha mewujudkannya dan tak menghiraukan hal lain, termasuk dirinya sendiri,” jelas Arthur.


“Kamu sepertinya mengenal Lumina dengan baik,” gumamku.


“Aku yang membuatnya.”


“E-E-Eh?? T-Tunggu dulu, maksudmu, d-dia, dan kamu.. Artie seorang Papa? Apa? Tunggu sebentar, bu-bu-bukannya kamu baru saja tujuhbelas? D-Dengan kata lain, k-k-kamu sudah melakukannya se-se-se—”


Arthur memijit keningnya, “Imajinasimu melenceng banget. Maksudku itu, dia adalah Homunculus yang kubuat.”


Kuhela nafasku panjang, “Ooh begitu, jadi Lumina Homunculus yaa… Kukira kamu kecil-kecil udah menghamili anak orang.”


Merah telinga Arthur yang segera mengetuk kepalaku, “S-Sembarangan!”


Tapi, bukankah Arthur menciptakan Homunculus lebih luar biasa dari imajinasiku? Melihat bocah congkak itu kini tersipu-sipu malu, mengingatkanku pada sosok Mentari. Sepertinya buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Mulai dari usia muda pun, Mentari sudah banyak menciptakan hal hebat.


Dibandingkan mereka, tanganku yang mengerikan ini hanya dapat melukai dan menghancurkan.


“Kalau begitu, bukankah sebagai tuan, adalah tugasmu untuk mendisiplinkan Homunculusmu, Artie?” kataku.


“Mendisiplinkan? Lumi udah diluar kendaliku,” keluh Arthur.


“Seorang Noctis tidak pake banyak alasan!” kataku yang pun tersenyum meringis dan menarik Arthur, mengejar si Dokter yang lari entah kemana.


-- Character Design 06--


__ADS_1


__ADS_2