
— 24 —
“Oh, Pangeran Liam dan Chrysant mau nge-date?” sapa Khanza yang memergoki kami di pintu belakang HQ Black Company. Dengan santainya Penyihir itu menghisap vapenya dan nangkring di besi tangga… lantas tersenyum geli melihatku.
U-Ugh, kenapa aku harus ketemu dia sih sekarang. Nasibku sial banget. Tapi memang Khanza hebat juga ya, bisa langsung melihat tembus ilusi yang dipasang Liam.
“Hahahaha, nggak usah malu-malu gitu dong. Rumor kedekatan Pangeran dan Ruin Hunter sudah tersebar sejak lama. Tinggal tunggu waktu sebelum berita resmi tunangan kalian disebar,” kata Khanza yang melompat di hadapan kami.
“I-Ihh, semabrangan. A-A-Aku dan Liam cuma temen kok, gak ada sesuatu di antara kami. Seriusan,” bantahku yang justru membuat Khanza tertawa geli.
“Hoo, ternyata cuma TEMAN, saja ya, Pangeran, hihi. Sayang sekali,” kata Khanza menepuk pundak Liam entah kenapa.
“E-E-Ehem, Lady Khanza, bolehkah saya meminta Lady untuk tidak memulai rumor yang tidak-tidak? Tentu—“
Khanza memotong sang Pangeran dengan tepuk tangannya, “Hyaaa, date atau tidak, Chrysant serius mau pergi ke Festival dengan kaos oblong dan celana jeans biasa gitu?Ini kesempatanmu untuk tampil manis dihadapan Pangeran loh,” kata Penyihir itu.
“Tapi ini praktis kalau-kalau aku harus bertarung.”
Khanza menepuk dahinya dan tertawa, “Astaga, kamu nggak perlu sesiaga itu sepanjang tahun tau. Sini, biar kurombak abis kamu!” katanya yang pun menarikku.
“E-eeehh, k-kamu mau bawa Chrysant kemana… U-Uwaaahh!!”
Khanza membawaku dalam ruang imajinari, dimana dia dengan riang mengayunkan tongkat sihirnya, mencobakan berbagai pakaian padaku. Mulai dari yang lucu dan menggemaskan, hingga gaun yang cukup… uh… Bagaimana cara aku mengatakannya?
“…Khanza udah selesai? A-Aku tak enak membuat Pangeran menunggu lama,” kataku merasa risih dengan rok pendek yang diberikannya padaku.
“Biarin, cowok memang tugasnya menunggu!” kata Khanza yang memicingkan matanya menilai kemeja dan rok pendekku, “Hmm, kalau pake baju seperti ini, Chrysant telrihat seperti anak-anak. Why don’t we try to expose sisi feminim Chrysant a little bit?” lanjutnya yang mengayunkan tongkat sihirnya padaku lagi.
Sinar putih pun mengubah pakaianku menjadi gaun serut berwarna hitam. Namun terkejut diriku, “U-Uh, bukankah gaun ini agak terbuka? A-Agak risih rasanya, membayangkan Liam dapat melihat pundakku seperti ini.”
“Memang itu tujuan. Imajinasi laki-laki itu liar Chrysant. Kamu tinggal menunjukan sedikit kulitmu, dan di antara sinar lentera, kamu akan tampak seperti Dewi,” kata Khanza yang membenarkan posisi kalung Seraphina di leherku, “Chrysant punya kulit kuning langsat yang manis, gaun warna hitam pasti akan membantu laki-laki itu enyadari pesonamu. Dan dengan kalung perak ini, sedikit pemanis, agar Pangeran melihat assetmu! Hihihi”
“…K-Kamu ini sepertinya menikmati sekali,” gerutuku.
Khanza tersenyum sembari memanggil peri-peri membawakan meja rias dan peralatan make upnya. Dengan telaten dia merapikan rambutku dan melukis wajahku menjadi sosok putri dalam dongeng-dongeng di mimpiku. Saat selesai, Khanza menatap cerminanku di kaca dengan senyum nostalgia dan mata haru… Tatapan yang bukan ditujukan padaku.
“Well, dengan gaun dan make up tipis ini, meskipun kasual, kamu masih tampak anggun. Cocok untuk nge-date di festival Mentari Terbit yang rame!” kata Khanza yang kemudian memandu para peri memasang sepatu hitam yang cocok dengan gaunku.
“Bila Liam tidak terpana melihat Chrysant sekarang, Khanza pasti akan menendang bokong kerajaanya itu dengan keras. Sebab, to me, you are the prettiest star tonight, Chrysant, and I have high standards!” puji Khanza.
“… U-uh, tengs?” balasku dalam bahasa arkaik yang canggung. Chrysant tidak mengerti, mengapa Khanza berbuat sejauh ini untukku. Apakah dia hanya ingin mengerjaiku saja… atau mungkin menebus momen yang dilewatkannya dengan sosok “Chrysant” di masa lalu?
__ADS_1
Khanza pun menepuk tangannya dan membawa kami kembali di dunia nyata. disana Pangeran Liam tertegun menatapku. Tak berkedip sekalipun sang pnageran, membuatku malu sekali.
Tiba-tiba Khanza meninjak kaki Liam dan berdehem.
Tersadar Liam yang kemudian menepuk pipinya dan berkata, “K-Kamu c-ca— ehem, kamu s-sudah siap?”
“Cih, Pangeran kok cemen,” gerutu Khanza yang pun menendang bokong bangsawan Liam dengan keras, “Tapi, kalau nggak cemen, kikuk, dan canggung, itu bukan masa muda namanya. Selamat menikmati malam ini, jangan lupa pake pengaman kalau tak ingin menyesal ya!”
“BISING!!” teriakku pada Penyihir nggak jelas yang kabur bagaikan angin itu. Hah, astaga, Khanza selalu punya seribu satu cara untuk membuatku malu.
“Ih, ada-ada saja si Khanza tu,” gumamku tertawa geli.
“Kalian berdua tampak akrab, meski baru ketemu beberapa hari yang lalu,” sahut Liam.
“… Ummm, panjanglah ceritanya. Lebih dari itu, ayo kita pergi. Chrysant sudah lapar dan ingin makan, hihihi!”
Arthur pun tersenyum dan mengulurkan tangannya dengan sopan. Aku pun mengambil tangan itu dan bersama, kami berdua pun berjalan menuju festival dengan saling bergandengan tangan… Seperti saat masih di akademi dahulu.
Sesungguhnya, rumor yang tersebar tentang kami ada benarnya. Aku dan William memang dekat… lebih daripada seorang teman, tapi kurang dari pacar. Tetapi karena posisi William sebagai bangsawan Noctis dan aku, seorang yatim piatu yang dipandang sebelah mata, kami pun tak pernah menjalin hubungan lebih serius. Namun, kami merasa nyaman dengan hubungan unik kami ini. Sebab kami tahu disaat suatu hari takdir akan memisahkan kami, hubungan tanpa ikatan ini dapat kami lepas dengan mudah… tanpa menyakiti siapapun.
Nostalgia sekali… Kapan terakhir kali kami bergandengan tangan seperti ini ya?
Semenjak William dilantik sebagai Pangeran Arthur dan aku menjadi Pathfinder, kesibukan membuat kami jarang sekali bertemu. Ironi… padahal dahulu aku pikir menjadi Pathfinder akan mendekatkanku dengan Arthur, tapi ternyata malah kebalikannya. Karena itu, singkat waktu kami yang berharga ini… aku akan menikmati dan mengingat momen malam ini setiap detiknya.
“Ooh, itu roller coaster sihir, penemuan baru Pathfinder Yona. Mau coba? Aku bisa mengirimkan doppelganger untuk mengantri, sembari kita menikmati festival ini. Setuju?” kata Liam menjentikkan jarinya dan memanggil bayangan kami.
“Setuju!” balasku penuh semangat, lantas menarik laki-laki itu memasuki keramaian distrik festival, sementara doppleganger kami menuju antrian panjang roller coaster itu.
Festival Mentari Terbit dahulu ditujukan untuk mengingat saat sang Dewi Black Company menanam pohon kehidupan pertama di dunia. Sekarang, festival itu merayakan hasil panen berlimpah di seluruh benteng angkasa. Setahun sekali, para penduduk dari berbagai betneng akan datang ke Alexandria, membawa penuh warna budaya dalam kota sihir itu.
Di sepanjang mata memandang, aku menemukan tawa dan canda dari berbagai ras manusia. Mulai dari kaum Peri Elfian yang cantik melintasi langit dengan sayap putihnya yang bersinar-sinar, para kucing Cattelya yang menjajakan dagangannya dengan lihai hingga Dragonkin yang berani sibuk… uh, berjudi kartu di tempat umum. Dalam tujuh hari tujuh malam, kota Alexandria yang terlalu serius karena mayoritas dihuni manusia Librarian yang kutu buku atau Heimskarr yang keras tapi ulet dan tekun, kini penuh warna dan ragam budaya yang gemilang.
“Neng manis mau coba lempar gelang berhadiah? Terlihat sederhana, tapi permainan ini membutuh akurasi dan konsentrasi yang tinggi!” tawar Daian, seekor Lizardmen dengan turbannya yang besar, menawarkan rangkaian tiang kaca kecil dengan gelang disana.
“Maennya gampang, nona dan pacar nona tinggal berdiri di garis sana, lalu melempar karet gelang ini dan menyangkutkannya di tiang kaca. Masing-masing tiang itu memiliki skor, semakin tinggi skornya, semakin besar hadiahnya,” jelas Daian.
“U-Uhh, k-kami b-belum pacaran!” bantahku.
“Aiayayaya? Padahal udah gandengan tangan itu? Ya ampun, kang mas, agresif dikitlah jadi orang,” tegur Daian.
“Aman Master, semua ada waktunya,” kata Liam mengelak dengan lihat, dia pun mengelus dagunya, “Hmm, lebih menarik kalau ada taruhan, Chrysant. Bagaimana jika sebagai hukumannya, dia dengan skor terendah harus mencicipi geprek Kirby cabe 20?”
__ADS_1
“Kamu nyadar kan telah menantang seorang pemanah jenius? seumur-umur, Chrysant selalu juara lomba panah!” kataku tersenyum geli.
“Hoho, mungkin sekarang rekor itu akan pecah,” kata Liam dengan sneyum percaya dirinya yang nyebelin.
“Kalau kamu kepedesan, jangan nyesal ya!” kataku yang pun mengambil sepuluh karet gelang dan mulai melemparnya. Kupicingkan mataku dan mengosongkan pikiranku, saat membidik gelang itu. Saat aku mau melemparnya tiba-tiba Liam berbisik di telingaku,
“Kamu cantik sekali malam ini, Chrysant.”
“H-HA?!” celetukku kaget tanpa sadar telah melempar karet itu melingkar di tanduk Daian. Liam pun segera tertawa terbahak-bahak dan berkata,
“Duh, si jenius meleset rupanya.”
“I-iiihh!! Itu kan karena kamu gangguin aku. Lihat saja, yang berikutnya, pasti tepat sasaran. jangan ganggu aku ya,” peringatku.
Tetapi dengan jantung berdegup kencang seperti ini satu persatu karet gelangku pun meleset. Pada akhirnya hanya satu yang melingkar di sasaran, itu pun… skornya rendah. Sedangkan saat gilirannya, sang Pangeran dengan sempurna memasukan semua karet gelang itu di skor tertinggi.
Dengan senyum congkak, Liam menggodaku, “Ehem, sepertinya rekor tak terkalah Ruin Hunter pecah hari ini?”
“Dasar curang,” kataku melipat tangan, “Hmph, baiklah. Chrysant sudah berjanji, dan sekali janji, harus ditepati. Mana Geprek Kirby, aku datang,” lanjutku.
Malam pun berlanjut. Bersama, aku dan William mencoba seluruh permainan dan makanan di festival itu. letih dan kekenyangan, kami pun duduk di bangku panjang, di bawah pohon Yggdrasil yang bercahaya. Kusandarkan kepalaku di bahu Arthur dan berkata,
“Uuuhhh, kenyang bangeet. Festival Mentari Terbit emang de best! Tapi, aku tak menyangka Kirby di geprek rasanya enak ya. Bukannya Kirby itu Malice tipe D?”
“Meski dibilang Kirby, sebenarnya dia tu daging domba biasa kok. Tapi, aku lebih gak nyangka kamu tahan pedas rupanya. Malah dua puluh gak cukup, kamu pesan 30 cabe. Lambungmu gapapa?”
Mengelus perutku, aku pun tertawa kecil, “Tenang tenang, cabe sebanyak itu bukan masalah untuk Anak Malice sepertiku, hihihi.”
“Chrysant, kamu adalah manusia. Dan yang paling mempesona tentu saja. Jika saat di akademi dulu, kamu tidak menghajarku setelah merundungmu, tentu saja saat ini, aku masih menjadi Pangeran angkuh dan manja,” kata Arthur mengelus rambutku dengan lembut.
“Simpan gombalanmu untuk Putri-Putri Kerajaan aja yah. Lagipula, kamu nggak berubah kok. Masih sombong dan suka sekali mengerjaiku, hihihi,” balasku yang melihat menara jam telah menunjukan pukul delapan malam.
“Tinggal dua jam lagi… sebelum kita harus kembali menjadi Pangeran Arthur dan Ruin Hunter. Ah betapa cepatnya waktu berlalu, saat kamu menikmatinya,” lanjutku.
“Chrysant… Setelah semua yang kamu lakukan untuk Black Company, mereka pasti telah mengakuimu sebagai sosok penting di kota ini. Apalagi, setleah bersama Desert Lion, kamu membawa pusaka Quartz Bulan kembali ke Black Company,” kata Liam menggaruk-garuk rambutnya canggung,
“Jadi aku berpikir, bila kita—“
SSRRTT
Bergantung di dahan pohon Yggdrasil, seorang perempuan berambut putih menyela Arthur. Dia seorang Matrovska, satu dari tujuh prajurit elit yang mengabdi Keluarga Noctis. Hmm, tanduk merah mencuat dari kenignnya dan rambut putihnya itu, kalau tak salah dia adalah Quina Megistus.
__ADS_1
“Pangeran Arthur, Maaf menyela momen ‘spesial’ anda dengan Lady Chrysant, tapi ada masalah gawat,” kata Quina yang pun melompat di hadapan kami dan berlutut,
“Kami menemukan jejak Malice memasuki kota Alexandria!”