
Kuhela nafasku, melihat embun dingin darinya. Kuketuk pintu bis itu meskipun hari telah lelap di dini hari. Malam itu sangat dingin sekali, tetapi tanganku tidak gemetar kedinginan. Sebab hangat darah yang mengalir padanya masih dapat kurasakan. Tak terhapus, meski telah diterjang oleh badai hujan malam ini.
“I-Iya, siapa ya?” tanya Ma Dame Krista agak kesal membuka pintu bis itu, dengan wajah bingung ia melihatku, “Loh, Putri Bulan?”
“Aku telah menyempurnakannya,” kataku yang memberikan perempuan itu, satu tas yang telah berisi penuh ampul obat yang dapat bertahan hingga 2 bulan kedepan. Merah warna obat itu membuat alis mata Ma Dame Krista menekuk dalam.
“D-Darimana kamu dapat menyempurnakan obat itu?” tanya Ma Dame Krista curiga, sebab warna merah yang khas itu tentu saja sangat dikenal olehnya.
Tanpa menjawab, aku pun segera menyelonong masuk ke dalam. Dengan timbangan sihir, aku pun mengukur ampul itu dibandingkan dengan Metilprednisolon dari peradaban sebelumnya sembari berkata,
“DI tanganmu adalah obat yang dapat menyelamatkan hidup anakmu, Quina. Obat yang jauh lebih kuat daripada Metilprednisolon dan segala obat yang pernah diciptakan. Segala jenis penyakit dapat disembuhkan dengan obat ini.”
Ma dame Krista menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin. Hal seperti itu terlalu mengada-ada,” tetapi segera setelah mengatakan itu, matanya melotot melihat konsentrasi obat merah itu jauh lebih pekat dibandingkan obat yang di imitasikannya.
Dengan cekatan aku mematahkan ampul itu dan menghisapnya ke dalam syringe yang kuambil dari salah satu rak bahan Ma Dame Krista.
“Warna dan aroma ini… kamu menggunakan darah siapa untuk membuatnya?” tanya Ma Dame Krista.
“Bukankah Ma Dame sendiri yang memintaku menolong Quina? Tapi, mengapa justru sekarang Ma Dame yang ragu?” tantangku yang pun tersenyum meringis, menunjukan taring-taringku yang mengerikan sembari menjunjung obat itu dihadapan sang penyihir,
“Ataukah kini Ma Dame takut karena obat ini dibuat dengan esensi hidup seseorang yang pun tak kamu kenal?”
Segera Ma Dame Krista menampar tanganku dan mencampakan obat itu.
“Keluar, iblis!” teriak Ma Dame Krista menunjukan pintu padaku.
Iblis…? Yang ia maksud... aku? Bukankah aku ingin menolongnya? Bagaimana ia bisa mengatakan seekor malaikat penolong sepertiku… adalah seekor iblis?
“Tidak bisa…” kataku.
Desir adrenalin segera membuat seluruh kulitku mengeras. Melompat dengan ekcepatan tinggi aku pun mendorong Daemont inggi itu menubruk bahan obatnya. Ingin sang penyihir berteriak dan membangunkan seluruh orang di pemukiman itu, tetapi segera kubekap dengan kuat hingga ia sulit bernapas.
__ADS_1
“Aku sudah sejauh ini... takkan kubiarkan, kamu menggagalkan semuanya!” kataku yang kemudian tertawa cekikikan, “Hey, bukankah kamu mencintai anakmu, Quina? Mengapa justru kamu memilih untuk tak menyelamatkannya? hey, hey?! Jawab aku! Ah aku lupa, mana mungkin kamu bisa menjawabku jika tak bisa bernapas? Hahahahah!”
Bersama dengan wanita itu meronta-ronta ingin menyelamatkan hidupnya, pintu kamar Quina pun terbuka. Dari dalamnya muncul seorang gadis Daemon dengan tubuh yang bengkak, terperanjat kaget melihat perbuatanku.
“Kenapa kamu tidak tidur saja sekarang, Ma Dame Krista?” kataku yang membisikkan sihir Zennitus kepada sang penyihir. Api hitam pun menembus kepalanya dan merebut kesadarannya. Sebelum wanita itu tertidur, ingin ia meraih Quina sembari berkata, “…Lari, Quina…”
Namun untuk mencapai pintu keluar, gadis muda itu harus melewatiku. Berbeda dari manusia yang bodoh, seekor Daemon memiliki insting yang kuat. Segera Quina pun sadar bahwa dihadapannya adalah seekor predator yang takkan dapat ia kalahkan, apalagi dengan kondisi tubuh seperti itu. Dia pun terjatuh gemetar, menatapku penuh ketakutan.
“Tenang saja… aku takkan menyakitimu,” kataku sembari mengambil syringe penuh obat itu.
“J-Jangan sakiti aku…!” pinta Quina yang merangkak menjauhi.
“Kamu tak perlu takut. Yang kubutuhkan darimu hanyalah sebuah suntikan dan bukti kesembuhanmu. Harusnya kamu berterima kasih padaku, Quina.”
Kuambil kerah baju Quina dan menyeratnya kembali, masuk ke dalam kamarnya. Disana aku pun menaruhnya di atas tempat tidur, lantas mengikat kedua lengannya dengan helai rambutku yang sekeras kawat. Menaiki tubuhnya dan mencegah kakinya berontak, aku pun tersenyum sembari menyiapkan jarum suntik itu.
“Mengapa… kamu tega melakukan semua ini?” tanya Quina dengan suara lemah.
“Karena menyelamatkanmu… aku bisa menyelamatkan diriku,” kataku yang pun menusukan jarum itu di vena lehernya, menyuntikan obat itu padanya sembari berbisik, “Bila kamu sembuh dan merasa bersalah kemudian hari, maka gunakanlah hidupmu yang telah kuselamatkan… untuk menyelamatkan orang lain, Quina.”
Hanya dalam tiga puluh menit, tubuh Quina pun kembali seperti semula. Detak jantungnya teratur, seluruh bengkak tubuhnya menghilang. Dia kini nampak cantik sekali, seperti ibunya yang adalah Daemon musang yang terkenal akan kecantikannya.
Disaat yang sama pula… aku tak mampu menahan senyum di wajahku, yang kemudian berubah menjadi tawa.
“H-Hahahhaha!!! Aku-aku berhasil! obat ini… sungguh dapat menyembuhkan segala jenis penyakit,” kataku yang kemudian menjunjung tinggi syringe itu, “Dengan ini… akhirnya, Mutter akan melihatku!”
Merah merona pipiku, menantikan elusan penuh kasih sayang dari Mutter yang memuji hasil kerja kerasku. Ah, apakah pujian yang akan ia nyanyikan apdaku? B-bagaimana aku harus meresponnya? APakah aku harus bertingkah manis seperti Eclair di hadapannya? Ahahahahaa!
Apakah… ini yang dinamakan cinta? Perasaan yang menggebu-gebu dalam hatimu, yang akan mendorongmu untuk menjadi orang yang lebih hebat dan mengalahkan segala tantangan dalam hidupmu? Perasaan yang memelihara hidupmu dan memenuhi harimu dengan kehangatan dan cahaya harapan? Aaahh… hanya memikirkannya saja, dunia abu-abu yang selama ini kulihat, kini berubah penuh dengan warna!
Aku pun menyeret tubuh Ma Dame Krista ke dalam kamar Quina, seperti boneka yang manis, aku menyusun kedua tubuh itu selayaknya gambaran Ibu dan anak yang tidur bersama. Tersenyum diriku melihat lukisan cantik itu, lantas tak tahan untuk mencium kedua kening mereka.
__ADS_1
“Semua hanyalah mimpi buruk sementara, saat kalian terbangun, hidup bahagia akan menantikanmu,” bisikku yang segera membereskan kekacauan disana dan meninggalkan bis itu.
Namun saat melangkah keluar dari bis itu, telingaku mendengar suara senapan mengarah padaku. Dihadapanku kini telah berbaris sebelas pelayan Keluarga Noctis, dengan wajah dinginnya menodongkan senapan itu padaku. Dan di tengah mereka ialah Mutter dan Eclair menatapku dengan kekecewaan yang sangat… dan sebersit ketakutan.
“Mutter, lihatlah,” kataku yang kemudian menunjukan ampul obat merah itu padanya, “Aku telah berhasil. Aku telah menyembuhkan Quina, dan kelak akan menyembuhkan semua orang di dunia dengan obat ini. Aku akan membuat nama Keluarga Noctis semakin termashyur. Tidakkah… Mutter akan bangga padaku?”
Mutter tidak menjawab, ia justru mendekatiku tetapi Eclair segera mencegah Mutter dengan wajah khawatir dan ingin menangis. Dengan paksa, Mutter melepaskan cengkraman Eclair pada jubahnya dan melangkah padaku.
“O-Obat ini akan kunamakan.. Mutterbeweisen. Sebab obat ini adalah bukti bahwa Bulan pantas menjadi seorang Noctis… pantas untuk menjadi anak mutter yang membanggakan,” kataku yang pun mendekati Mutter dengan obat itu di tangan.
“Mutter, obat ini kupersembahkan untukmu-“
PLAK!
Dengan belakang tangannya, Mutter menampar dan menghempasku jatuh di tanah. Sebagian besar ampul itu pun jatuh dan pecah di tanah, bersama tubuhku yang melemah di hadapan Mutter. Tapi, kuberanikan diri untuk menatap Mutter dan melihat tatapan kecewa darinya.
“Kamu membunuh orang hanya untuk alasan sederhana seperti itu?” tanya Mutter yang mengepalkan tangannya dan membentakku, “Tahukah kamu apa yang kamu perbuat?! Kamu hanya terus menerus memberikanku masalah disaat genting seperti ini!”
A-Alasan sederhana…? Aku tak percaya apa yang kudengar, maka aku pun berdiri dan menatap balik Mutter dengan pertanyaan.
“Bukankah aku telah membebaskan Lumina dari penderitaan hidupnya? Bila pun malam ini aku tak mengubahnya menjadi Muttebeweisen, Lumina akan mati karena infeksi berat di seluruh tubuhnya,” tanyaku yang kemudian memegang dadaku dan memberanikan diri meninggikan suaraku di hadapan Mutter,
“Bukankah justru aku menyelamatkan hidupnya yang sia-sia itu?!”
PLAK!!
Sebuah tamparan keras kuterima kembali di wajahku, tetapi kukuatkan diriku untuk tidak terjatuh dan terus menatap mata Mutter.
“Mulai hari ini kamu kuasingkan ke Hilfheim,” katanya yang kemudian membalikkan badannya, “Setidaknya di kota mati itu, anak petaka sepertimu tak akan menyebabkan masalah lagi untukku.”
Mutter pun menyulutkan cerutu dan mulai menghisap yang dalam. Untuk pertama kalinya, aku melihat wanita itu merokok… Satu sisi yang tak pernah kukenali darinya. Samar tapi aku dapat mendengar, sesaat setelah ia menghela nafas yang panjang pada badai malam,
__ADS_1
“Harusnya dari dulu kukirim kamu kesana, menyusahkan saja.”
Saat mendengar itu, mataku pun terbuka lebar. Kini aku pun seberapapun aku berharap untuknya... kasih dari Mutter takkan pernah kudapatkan. Sebab di matanya, aku hanyalah parasit yang menyusahkan. Anak petaka yang tak layak untuk dicintai.