
—7—
Dari semua orang di masa lalu, aku paling tak ingin bertemu dengannya. Laki-laki yang menunjukan bayangan sesungguhnya di dalam hatiku, monster obsesi yang rakus dan menyiksa. Laki-laki yang telah merebut Mentari dariku dengan buaian dan kata-kata hampa. Meskipun pada akhirnya, laki-laki itu tidak dapat menepati janji manisnya.
Bukannya melindungi Kakak, laki-laki itu justru melukainya.
“Pergi,” kataku menunjuk ke jalan.
Laki-laki tampan itu menghela nafasnya, “Kamu sepertinya sangat membenciku,” katanya bersandar di dinding bata, “Kebetulan, aku juga.”
Kulipat tanganku dan tersenyum lucu, “Baru nyadar? Sekarang, daripada kita menyia-nyiakan energi untuk bertengkar, silahkan angkat kaki dari sini, Jun Aivelstadt,” jawabku.
“Ya, ya, ya. Aku cuma mau jemput si keras kepala itu, habis itu kita tak perlu bertemu lagi,” kata Jun.
“Darimana kamu tahu Arthur ada di rumahku?” tanyaku.
Jun dengan hormat mempersilahkanku masuk mendahuluinya ke Bunga Lentera, “Kamu baru saja mengatakannya,” balasnya yang selalu tak menjawab pertanyaanku. Dari dulu kebiasaannya yang menyebalkan itu tak pernah berubah.
Kuhela nafasku, membiarkan penipu itu masuk ke dalam rumahku sama artinya dengan membiarkan musuh menyelinap di selimutku. Mengingat sifatnya yang licik dan opportunis, aku tidak akan heran jika ia berusaha untuk mengelabuiku. Apalagi ketika ada seorang pengelana asing yang sedang mengunjungi dunia ini.
“Asal kamu tahu aja, sekarang aku punya bodyguard yang sangat hebat. Ksatria kelas teri sepertimu tak mungkin dapat mengalahkannya,” kataku congkak.
Jun hanya membalasnya dengan sneyuman dan mempersilahkan masuk. Gestur yang membuatku bergidik ngeri.
“Hih, jangan sok gentle gitu, masuk aja.”
“Heh, bukannya kamu akan gatal-gatal jika bernapas dengan udara yang sama denganku?” balas Jun.
“Arara, kamu nggak lupa aku alergi dengan playboy sepertimu,” kataku yang dengan senang hati masuk duluan.
“Yah, dan seribu satu alergimu yang lainnya,” keluh Jun yang mengikutiku dari belakang.
Bel berbunyi saat kami berdua masuk. Seperti yang kuduga, semua mata para daemon gadis segera terpesona melihat ketampanan Jun. Tersipu-sipu, mereka pun saling berbisik dan mencuri-curi pandang ke laki-laki itu, tak lagi melihat senyawa sihirku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “Uh, boleh nggak ya ketampananmu diturunkan sedikit. Kamu mengganggu bisnisku,” cibirku.
__ADS_1
Jun dengan bangga mengibaskan rambutnya, “Maaf ya, menjadi tampan adalah kutukan yang tak dapat lepas dariku,” katanya dengan congkak.
K-Kukh, percaya diri banget! Heran diriku, apa yang Mentari lihat dari playboy dan menyebalkan sepertinya? Sejak awal aku bertemu dengannya, kami tak henti-hentinya bertengkar. Yah… meski dipikir kembali, semua salahku. Akulah yang memungkinkan Jun dan Mentari bertemu.
Jun adalah Esquire-ku saat menjadi Ksatria di Kerajaan Kinje. Dia menggunakan posisinya itu untuk bertemu dengan Mentari dan menggodanya. Gadis polos yang setiap hari menghabiskan hari belajar untuk menjadi Archmagi… adalah sasaran empuk untuk gold digger seperti Jun.
Luciel pun dengan riang menyambut kami, “Selamat datang di Toko Bunga Lentera, saya Luciel, ada yang bisa diba.. Oooh, Ma Dame-ku! Kamu datang disaat yang tepat sekali,” katanya dengan urat kesal jelas nampak di keningnya.
Aku pun terperanjat kaget, “U-Uh, aku ada buat salah apa lagi?”
Luciel membunyikan jarinya, “Dame, kamu kan yang iseng menaruh kantung aneh itu di kasir?” katanya yang pun menudingku, “Gara-gara keisenganmu itu, seseorang kena imbasnya!”
Kantung aneh di dekat kasir? Aku tidak melakukan apapun.
Luciel membekap keningnya dan menghela nafas, “Udah Luciel bilang, istirahat dulu, tapi bocah itu bersikeras ingin membalas budi pada Dame. Eh, saat aku ingin mengajarinya cara mengoperasikan kasir… Hasilnya, Dame liat sendiri deh,” katanya yang menggeleng-gelengkan kepala dengan putus asa,
“Omong-omong, siapa laki-laki ini? Jangan bilang, Dame-ku yang sudah lama jomblo ngenes, akhirnya punya pacar?” tanya Luciel.
“S-Sembarangan! D-Dia hanya seorang penguntit yang mau kulaporkan ke polisiku,” kataku tersipu-sipu.
Tapi Jun malah tertawa, “Gadis kecil ini hebat sekali, bisa membuat sang Bulan tersipu-sipu malu begitu. Namamu siapa?”
“Luciel, anu… mohon maaf Tuan, tapi anda belum menjawab pertanyaanku,” kata Luciel yang memandang Jun dengan curiga.
“Ah, dimana tata krama saya. Nama saya Jun Aivelstadt, seorang pengelana dari negeri timur. Kebetulan saya adalah Kakak ipar dari Penyihir menyebalkan sekali.”
Kutinjak kaki laki-laki itu dan mengkoreksinya, “Yang benar Adik. Jangan lupa aku lebih tua darimu sehari.”
“Astaga, sehari doang ya.”
“Sehari itu sangat berarti,” kataku.
Benar satu hari sangatlah berarti. Tapi, kamu takkan mengertinya, Jun.
… Seminggu setelah kematian Mentari, Para Tetua Noctis menyuruhku untuk hidup sebagai Kakakku dan menyembunyikan kematiannya. Di hari itu putri yang tak bergunalah yang mati, bukanlah putri jenius yang membawa kemakmuran bagi keluarga, kata mereka. Saat aku berharap Jun akan menolak ide gila itu, tapi dia malah menghilang dan tak bisa dihubungi seharian.
__ADS_1
Hidup sebagai Mentari sama artinya aku mencuri segalanya dari Kakak. Tak ingin menerima takdir itu, esok harinya aku pun pergi dari istana Noctis. Meninggalkan segalanya.
Andai saja kamu bersamaku hari itu dan membantuku menolak para Tetua itu, takdir apakah yang akan menantikan kita? Mungkin saja, kita takkan saling membenci seperti saat ini.
Kupijit keningku, “Sudahlah, El, sekarang lebih baik kamu tunjukan padaku, dimana Arthur,” kataku yang khawatir akan kantung aneh itu dan efeknya dengan keponakanku itu.
Luciel pun mengantar kami ke kamarku. Dengan hati-hati dia membuka pintu, menyisakan sedikit celah untuk kami bertiga mengintip ke dalam.
Bau cat yang menyengat segera menyeruak bersama dengan tawa obsesi dari laki-laki yang melukis seluruh dinding kamarku. Matanya terbuka lebar, terhipnotis oleh puluhan malaikat yang ia lukis di dinding. Tapi wajah malaikat itu persis sekali dengan diriku!
“Ah, dewiku, penyelamat hidupku, Daemon Bulan! Mengapa kamu begitu sempurna? Cantik bagai berlian, bersinar gemilang melebihi terang rembulan,” kata Arthur yang sepertinya terhipnotis
Dari tingkahnya yang seperti gila itu, sepertinya isi dari kantung aneh itu adalah sebuah ramuan cinta!
T-Tapi, mendengar pujian berlebihan itu membuat telingaku merah. Apalagi kata-kata itu terucap dair kepononakanku yang baru saja berusia tujuh belas. Aaaahh, aku yang mendengarnya saja malu banget!
Tiba-tiba aku mendengar Jun tertawa cekikikan. Segera kucubit bahu laki-laki itu dan menegurnya, “Heh, anakmu sendiri jadi gila gitu, kok kamu malah ketawa sih? Bapak macam apa kamu?”
“Gimana tidak ketawa? Bocah keras kepala yang sok kalem dan dewasa itu, sekarang bertingkah seperti ABG yang jatuh cinta pertama kali,” kata Jun.
“I-iihh! ini bukan saatnya bercanda tahu. Keponakan jatuh cinta dengan bibinya sendiri itu aneh!”
“Hah, dari dulu kamu selalu khawatiran, Bulan,” kata Jun yang tiba-tiba membuka lebar pintu itu.
Terkejut diriku segera bersembunyi, namun diam-diam mengintip ke dalam. Disana aku melihat Arthur melonjak kaget dengan wajah merah padam, terkejut melihat ayahnya memergoki dirinya. Dan disaat yang sama, Jun tersenyum dan melipat tangannya.
“T-T-Tidak. I-ini bukan seperti yang kau pikirkan. A-Aku, t-tidak, ini hanya—“ dalih Arthur mencari-cari alasan.
Jun berdehem dan berkata, “Dasar anak Mama manja.”
“TIDAK!”
A-Aku hanya menganga tak percaya. Sepertinya aku lupa, bahwa Jun dari dulu suka sekali mengerjai Arthur. Saking seringnya hingga Mentari pernah kesal dan mengusir Jun dari kediaman Noctis. Astaga, kalau begini caranya, bisa-bisa anak itu akan trauma seumur hidupnya.
Aku pun masuk ke kamarku dan melihat Arthur tersipu-sipu tak mampu menatap diriku. Kuhela nafasku dan berkacak pinggang,
__ADS_1
“Ayo, kita sembuhkan dirimu, Artie.”