
— 38 —
Aroma kornet menari-nari di hidungku. Segera aku terbangun dan menemukan Khanza sedang menyisip kopi sembari menyiapkan ration-nya. Matanya menatap bola cahaya raksasa di ujung jurang dengan tanah dan bangunan mengitarinya. Di tengah bola cahaya itu terdapat lubang yang menganga, namun samar dapat kulihat menara familiar menjadi sumber kekuatannya. Menara Merah.
“Lady Luciel, kamu sudah putus asa rupanya,” kata Khanza yang menoleh kepadaku, “Oh, kamu sudah bangun ternyata,” lanjutnya.
“…Kenapa kamu disini— A-Aww!” ringisku yang menyadari tubuhku telah dibalut perban penyembuh. Rasanya seperti belati menghujam seluruh tubuhku, berkali-kali tanpa ampun.
Khanza tertegun sejenak sebelum tersenyum lega, “Seorang Pangeran membujukku berhari-hari untuk menyusul Pathfinder kesayangannya. Eh, saat Khanza datang, ternyata Chrysant sudah dilahap ledakan sejauh 100 kilometer, hihi,” katanya yang membantuku duduk, lantas dengan cepat menotok titik-titik di punggungku.
“A-Aw, h-hentikan, sakit tahu!” tegurku.
“Tapi, dengan begini, rasa sakitnya menghilang bukan?” kata Khanza sembari mengobrak-abrik tas besarnya.
B-Benar juga. Sekejap, rasa sakit itu menghilang. Tunggu… aku bahkan tak merasakan apapun! Teknik apa itu? Akupresur? Aku kira efek teknik itu cuma mitos belaka.
Ingin aku berdiri, tetapi tubuhku yang lemah segera terjatuh tak berdaya. Untungnya, Khanza mencegahku,
“Jangan berdiri dulu, sel-sel The Warden dalam tubuhmu sedang sibuk menyusun ulang tubuhmu,” kata Khanza yang pun memberikanku sedus ration kaya nutrisi, “Makan.”
“Tidak, aku.. harus segera menemukan Time Dysplasia… Kalau tidak, Saber akan—“
“Mau sekarang atau nanti, enggak ada bedanya. Satu Bulan telah berlalu sejak ekspedisimu dimulai, Chrysant,”
“H-ha? Bukan dua minggu?”
Khanza menggelengkan badannya, “Chrysant pikir, tubuhmu dapat menahan ledakan Unwavering Faith? Harusnya sekarang kamu cuma tinggal atom kecil tak bermakna di tanah,” kata Penyihir itu yang kemudian mendekatiku dan membuka kancing kemeja hitamku, menunjukan akar-akar kegelapan yang tumbuh mengitari inti jantungku,
“Tetapi sepertinya, sesuatu yang sangat kuat tampaknya menyukai Chrysant…”
“A-Aku tidak mengerti, a-apa yang terjadi dengan tubuhku?” kataku ngeri dan ingin mencabut akar-akar itu, tetapi mereka telah menyatu dalam diriku.
“Kamu terinfeksi sel Deception, Chrysant. Jauh lebih poten dari Sel The Warden, asalkan jantungmu tidak hancur, Deception dengan senang hati akan mengembalikan tubuhmu. Chrysant hoki sekali, kebetulan inti jantungmu sangat keras dibandingkan manusia umumnya,” kata Khanza yang mengambil pedang Mystelteine yang bersandar di sampingku, tetapi akar-akar kegelapan pun melilit tangannya.
Khanza mengelus lembut akar-akar kegelapan itu dan melanjutkan,
__ADS_1
“Deception tidak pernah mati sepenuhnya. Sebagian dari DNA-nya bermutasi dalam tubuh para Penyihir dan memberikan anugrah sihir pada mereka…. Karena alasan itulah Sapiens membenci kaum Penyihir. Serangga menyedihkan itu—“
Tiba-tiba Khanza berdehem, “Maaf, meski bukan manusia, Chrysant sebel jika Khanza menghina manusia,bukan?”
Cara Khanza menyebut manusia sebagai Sapiens, mengingatkanku pada dirinya di masa lalu. Ini hanya perasaanku, tetapi Khanza tampak berbeda dan lebih terbuka ketika berada di dekat Menara Merah ataupun Biru. Seolah-olah ada kekuaan yang kini tak bisa megnawasinya di sekitar Menara itu.
“Bila… dua Malice itu menginfeksi tubuhku, artinya Chrysant dalam bahaya bukan?” tanyaku takut.
“Tidak, Deception merawat inangnya dengan baik. Karena itu, Khanza masih awet muda dan cantik seperti ini kan? Yah semua ada harganya sih. Setiap kali Deception menghidupkanmu, dia akan mengambil sebagian ingatanmu,” kata Khanza yang bermain-main dengan akar kegelapan itu.
Kupicingkan mataku dan menarik kata-kataku. Khanza tetap sama saja, terus menerus mengelak pertanyaanku dengan jawaban ngawur. Tapi benar juga… ingatan ya. Aku sama sekali tidak teringat apa yang terjadi setelah aku menyerang Asmodeus mendadak.
“Efek samping lainnya… Sekarang Chrysant dapat menggunakan sihir tanpa mantra, sama seperti penyihir lainnya. Well, intinya Khanza mau bilang, ehem…
Welcome to The White Order or should I say, The Immortal Hag Club! ” kata Khanza tersenyum meringis.
“U-Uhh, sejak kapan Chrysant mendaftar ya?” cibirku.
Khanza tertawa terbahak-bahak, sungguh suka sekali penyihir itu bercanda. Haah, mana candaannya bahaya lagi. Kalau dia ngomong begitu di depan anggota Black Company, bisa berabe. Tapi, Khanza… memang seorang White Order.
Khanza pun berpisah dengan Mystelteine dan berdiri meregangkan tangannya,
“Oke, sekarang, sambil kamu makan, bolehkah Khanza mendengar ceritamu. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini, Chrysant?” katanya.
Sambil melahap daging sintetis itu, aku pun menceritakan semuanya kepada Khanza. Tentang misiku, tentang Nuwa dan termasuk serangan Asmodeus. Tanpa terasa, satu dus ration telah kulahap habis… Tetapi rasa lapar yang hebat menyergapku. Dengan senang hati, Khanza memberikan satu dus ration lagi untukku.
“Hmmm, aneh. Asmodeus tidak pernah menyerang manusia sebelumnya. Apa mungkin, Chrysant melakukan sesuatu yang membuatnya marah?” tanya Khanza.
“U-ugh, t-tidak, aku tidak melakukan apapun,” kataku berbohong, tapi mata tajam Khanza segera menyadarinya.
“Hehehe. Tapi seriously, Asmodeus tidak bisa menyerang manusia. Sebab, Emilia telah menginstal program yang akan menghancurkan sistem sebuah Homunculus jika dia menyerang manusia. Kecuali…” kata Khanza melirik pada lubang hitam,
“Seseorang menginstal ulang program gadis malang itu,” lanjutnya.
“Ue? Emang bisa?” tanyaku sambil melahap dus ketiga rationku.
__ADS_1
“Bisa dong, semua Homunculus punya colokan USB yang bisa dipasang flashdisk. Ini ada satu,” katanya mencolok pusarku.
“Iih, jangan bercanda!” kataku menepis tangan itu.
Khanza tertawa berkacak perut lantas menghapus air matanya, “Well, Homunculus yang telah melewati proses Malifikasi tidak akan memiliki fitur komputer seperti itu lagi. Sel Warden akan mengubah seluruh kabel dan mesin dalam tubuhnya menjadi daging dan organ yang menyerupai manusia,” katanya yang menghela nafasnya panjang,
“Tapi, Asmodeus berbeda. dia adalah Homunculus iseng yang kuciptakan untuk mengerjai Emilia. Memiliki fitur kompleks, kekuatan tiada tara, dan AI mutakhir yang dapat meniru tingkah manusia, eh ternyata tidak ada satu pun Magicite yang mampu menyalakan Homunculus itu. Dia seperti harta karun yang ada di depan mata tapi tak dijangkau. Hadiah yang sempurna untuk menyinggung Penyihir gila itu bukan?”
… Oh, Khanza bisa menciptakan Homunculus? Aku sudah tak terkejut lagi. Tapi, sepertinya keisengan Khanza sudah berakar dari dulu ya.
“Sebelum seorang anak iseng memasang Quartz Bulan padanya dan menjadikannya teman. Saking senangnya, anak itu memprogram Asmodeus untuk memanggilnya Onee-chan, atau dalam bahasa kuno, Kakak. Heh, ada-ada saja.”
Tersenyum tipis kau menyahut, “Jangan bilang anak itu si Chrysant?”
“Yup… Chrysanthemum. Harta karunku yang telah hilang,” kata Khanza dengan nada yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Sepertinya dia tidak terkejut aku mengetahui masa lalunya.
“Tapi, kok aneh. Bukannya kalau aku diciptakan 17 tahun yang lalu, dan aku termasuk seri paling awal, harusnya Khanza sebagai yang terakhir tak mungkin menciptakan Asmodeus, bukan?” tanyaku sembari melahap dus terakhir persediaan Khanza.
Khanza melihat bunga Chrysanthemum di tangannya dan berkata, “Simple. Khanza kembali ke masa lalu via Time Dysplasia.”
Hampir keselak diriku mendengar kebenaran itu, “W-W-WHAT?”
“Heeee, kenapa terkejut banget?” kata Khanza yang pun berdiri dan melipat tangannya, “Sangat mungkin mengirimkan seseorang dari masa depan ke masa lalu. Tetapi untuk melakukan itu dibutuhkan energi sihir yang luar biasa. Tapi untuk mengirim seseorang jangka waktu satu bulan sih, hmm, sebuah Quartz Bulan sudah cukup.
Untuk saat ini, itu kan tujuanmu, Chrysant?”
U-ugh, Penyihir ini selalu saja meledakkan kejutan besar lantas mengalihkan topik. Habis ini pasti dia akan mengelak pertanyaanku seperti biasa. Haah, sudahlah, aku ikuti saja permainannya.
Aku pun menangguk, “Yup, aku ingin menyelamatkan Nuwa dan Saber,” kataku.
Khanza mengelus dagunya, “Tapi… sayang rasanya, jika kembali ke masa lalu sekarang, ketika di depan mata kita, markas White Order menanti. Tanpa ledakan Unwavering Faith, sampai mati pun, kamu takkan mencapai tempat ini,
Sebab Adram menguburnya dalam lapis demi lapis Tme Dysplasia,” katanya yang pun mengacak pinggangnya,
“Well, mumpung kamu sudah disini dan tak ada yang mengawasi kita, bagaimana jika aku menunjukan padamu. Kebenaran tentang sihir yang digunakan manusia?”
__ADS_1