Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Triad Megistus (1)


__ADS_3

Kota Bebas Pei Jin, Agustus 1647


Halaman luas tempatku berdiri dahulu adalah tanah yang subur. Pepohonan rindang dengan dedaunan hijaunya yang mengalahkan indah permata giok terhampar di sepanjang sungai Arisia yang jernih. Tapi kini semua telah terhapus oleh badai salju superadikal tujuh tahun yang lalu. Keindahan itu sekarang terbayang oleh gemilang dinding kota Pei Jin di belakangnya.


“Ritual akan kumulai,” gumamku yang pun mengambil pedang ornamen yang disiapkan Lumina untukku. Penyihir itu pun mengangguk dan memerintahkan semua manusia yang menonton mundur.


Waktu hanya dapat bergulir maju, tetapi tak bisa kembali. Apa yang telah diperbuat tidak akan dapat terhapuskan oleh permintaan maaf. Apa yang telah hancur tidak dapat kembali seperti semula. Memahami kata-kata itu aku pun mulai menari dibawah badai salju yang membakar kulitku.


Lapis demi lapis lingkar sihir raksasa muncul di bawah kakiku. Mereka merangkai diri menjadi gerigi jam yang rumit, berdetak berulang pada jam tiga lewat tiga, melewati dan kembali berulang-ulang kali. Bersamanya, aku mengayunkan pedangku dan membawa kembali pertarungan yang menghancurkan takdir dunia ini dan pula jiwaku.


“Bulan yang ingin menjadi Matahari, tenggelam dalam kebodohan iri hatinya. Matahari yang buta oleh kegemilangan dirinya, tak dapat melihat kegelapan yang menganga,” kataku berputar seolah menghempas musuh bayangan yang tak pernah ada,


“Dua kakak beradik bodoh, ditakdirkan untuk saling membunuh, tetapi tak bisa hidup tanpa satu sama lainnya. Keegoisan mereka… kini membawa dunia dalam ujungnya,” gumamku yang kemudian menancapkan pedang di tengah lingkaran sihir raksasa itu.


“Semoga kedamaian dan kesejahteraan kembali di dunia, kami berdoa, kepada Tuhan yang tidak ada. Doa tak bermakna yang kemudian sirna bersama angin,” kataku yang memejapkan mata  dan mengucurkan darahku memberi makan lingkaran sihir itu, memberikannya kekuatan sihirku.


Sinar merah pun bersinar dari mata iblisku ketika kubuka mata,  “Meskipun begitu, akmi akan tetap berdoa dan berharap akan langit biru yang pernah menaungi kami. Dengar, dengar, dan dengarlah dunia, harapan yang telah menjadi obsesi di hatiku.


Absolute Darkness!”


Gempa bumi pun muncul mengoyakkan tanah tempatku berpijak. Dari koyakan bumi itu akar-akar kegelapan pun menyerak menjadi pohon kegelapan raksasa yang menopang langit dari badai salju. Bunga-bunga mawar darah pun bermekaran di dahannya dengan mata iblis yang menatapku tersenyum.


Pohon mengerikan itu membawa ketakutan bagi yang menatapnya, tetapi perlahan membeku oleh salju putih. Bunga-bunganya pun rontok sebelum berbuah, kembali ke tanah dan air dan mewarnainya dengan merah darah. Sebuah pohon kristal putih pun lahir, memukau mata dengan keindahan terangnya yang palsu.


Yggdrasil ketujuh yang kuciptakan untuk melindungi distrik Clariyastra milikku dari bahaya salju superadikal.


“W-Wow, jadi, seperti itu Pohon Yggdrasil lahir,” kata seorang warga demi warga yang berlari mendekati pohon kristal yang baru itu.


"Cantik sekali!" puji semua orang.

__ADS_1


Kupanggil jubah hitam menutupi sirkuit sihirku yang mengucurkan darah. Tentu saja, aku tak ingin orang-orangku melihat pemimpinnya terluka parah setelah ritual berbahaya itu bukan? Aku lebih ingin mereka menganggapnya sebagai sebuah keajaiban dari seorang dewi, daripada perjuangan seorang manusia melawan takdir. Mukjizat lebih mudah diterima oleh nalar… daripada usaha keras.


“Lumina, buatkan aku teh ya,” kataku yang melempar sisa pedang ornamen itu pada asistenku.


“T-T-Tunggu dulu Putri, kamu tidak apa-apa?” tanya Lumina yang mengejarku.


“He? Kenapa kamu khawatir sekali?” tanyaku yang tertawa geli, “Aku adalah Penyihir Putih, satu dari tujuh penyihir terkuat di dunia. Ritual seperti ini mah cuma sepele untukku.”


Lagipula, aku juga abadi kok.


Lumina mengambil tanganku dan membuka jubahnya. Terkejut sekali matanya yang pun melihat luka-lukaku sama persis seperti mereka yang terkena Wabah Nyght.


Banyak pertanyaan yang terbesit di kepalanya, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Putri, ijinkan aku mengobati lukamu.”


“Loh, kamu nggak pingin ngubah aku jadi zombie lagi?”


“Iya, itu nanti. Tapi sekarang, aku tak ingin calon bonekaku yang cantik penuh bekas luka,” kata Lumina yang kesal dan menepuk lukaku dengan keras.


“Wah, apa gerangan sang Puella Dragonica datang menemui Penyihir sederhana sepertiku?” tanyaku dengan nada mengejek.


Quina yang tampak lebih dewasa dari tujuh tahun yang lalu melihat pohon yang kuciptakan. Dia pun mengacak pinggangnya dan berkata,


“Mempesona sekaligus mengerikan. Sihirmu tidak pernah berubah, Clair. Sama seperti manusia-manusia itu, tampak lemah dan tak berdaya, tapi jika diberi kesempatan… siapa yang tahu malapetaka yang akan kalian perbuat.”


Aku dapat merasakan kekesalan Lumina mendengarnya. Dia lekat menatap Quina dengan tajam dan berkata,


“Tuan Putri tidak akan melukai siapapun.”


Quina tertawa konyol, “Waduh, baru sepatah kata kuucap, tapi kamu terlihat ingin membunuhku,” kata wanita rubah itu yang segera menghilang seperti kilat.

__ADS_1


Panik, segera kudorong Lumina menjauhi dari tebasan tombak petir Quina yang mematikan, tetapi tak aku sendiri tak sempat menghindarinya. Gelegar petir pun memecahkan pelindung sihirku dan membakar kulitku. Melihatnya Quina dengan sombong memainkan tombaknya dan menatapku dengan rendah.


“Tak mampu menghindari serangan sederhana seperti itu, hahaha. Kamu berubah, Clair,” kata Quina yang menghunuskan belati tombaknya di leherku dan mentapku dengan niatan membunuh yang pekat,


“Kamu jadi lemah.”


Para polisi Hwarang segera mengepung warga yang marah, menodong mereka dengan pistol sihir yang menakutkan. Mereka tidak hanya marah karena Quina telah melukaiku, tetapi lebih pada apa yang wanita itu telah lakukan di dunia.


Quina adalah pemersatu Uni Erites yang memenangka pertempuran melawan Kinje tujuh tahun yang lalu. Sang Puella Dragonica yang menyemburkan api perangnya dan membumihanguskan seluruh kejayaan dan peradaban manusia hanya dalam satu tahun.


Tiba-tiba dari bayanganku muncul tiga boneka mayat Lumina yang menepis tombak Quina. Namun di mata sang Puella Dragonica, tebasan boneka itu hanyalah serangga pengganggu baginya. Mata Quina bersinar terang saat dia menghentikan waktu dan dalam sekejap memotong-motong boneka mayat itu hingga ke partikel terkecilnya.


“Mengapa kamu berusaha melindungi iblis itu, aku tak mengerti, dokter Oedellia. Padahal dialah yang membuatmu kehilangan segalanya,” kata Quina yang tiba-tiba muncul di belakang Lumina dan berbisik di telinganya,


“Kamu yakin rumor Daemon Bulan menciptakan Wabah Nyght adalah sebuah kebohongan? Dan tebaklah… siapa sesungguhnya yang menyebabkan Kinje hancur di tanganku?”


Lumina mencabut tongkat sihirnya dan berbisik, “Gran Impact.”


Sebuah gelombang kejut mendorong Quina menjauh darinya. Wanita itu pun segera melompat dan melindungiku, lantas memanggil dua belas mayat hidup lainnya mengepung Quina. Tetapi tahu bahwa boneka itu tidak mungkin mengalahkan Sang Puella Dragonica, Lumina hanya bertahan dan tak menyerang.


Quina—tak terluka sama sekali—berkata,


“Clair, sebentar lagi sihir ilusimu akan berakhir. Dunia akan melihat kebusukanmu yang sesungguhnya. Bila masih tersisa sedikit hati nurani di jiwamu itu, tunjukan padaku dimana kamu menyembunyikan Sang Pahlawan... maka setidaknya, aku akan menyisakan sedikit kebohonganmu agar kamu bisa mati dengan tenang.”


Aku menekuk alisku bingung, “Aku gak paham kamu ngomong apa, Quina. Jangan bilang, Ratu dunia yang hebat termakan oleh rumor tanpa dasar?” tantangku yang pun berdiri dan meminjam pedang dari salah satu boneka Lumina.


Quina memanggul tombak petirnya dan tertawa, “Kamu masih bersikeras untuk berbohong? Baiklah jika itu permainanmu, aku masih punya cara lain untuk menemukannya. Mungkin, aku akan mengunjungi anak itu dan membuatnya mengaku,” katanya yang memanggil kelopak bunga api yang perlahan melingkupi tubuhnya,


“Sampai kapan kamu akan memperpanjang kesengsaraan dunia ini, Clair? Kamu pun tahu… selama Triad Megistus tak sempurna, Salju superadikal tidak akan berhenti,” lanjutnya sebelum menghilang menjadi bunga-bunga api yang tersebar di langit.

__ADS_1


Aku menghela nafasku dan menggenggam kalungku. Sepertinya, panggung terakhir cerita ini akan segera dimulai.


__ADS_2