
— 33 —
Langit malam menyambutku dengan kemerlap sinarnya yang indah. Di antara mobil-mobil yang hancur, tank yang terbakar habis dan puluhan snejata yang tak bertuan, seorang gadis berambut coklat menatap langit dengan jubah merahnya yang familiar. Tangannya menggenggam sebuah bunga Chrysanthemum yang membeku menjadi kristal.
“… Satu-satunya yang kumiliki hanyalah waktu yang begitu panjang. Sesuatu yang dengan sukarela ingin kuberikan pada semua orang… namun tak bisa,” kata gadis itu dengan suara yang sama denganku. Dia terus menatap langit dan seolah berusaha menggapai rembulan dengan tangan kirinya… tapi menyerah begitu saja.
“Saat kamu akan memilih untuk melindungi orang yang kamu sayangi atau menyelamatkan dunia ini… Kamu takkan menyesal bila memilih kata hatimu,” kata gadis itu yang mengepalkan tangannya,
“… Tapi saat di persimpangan antara memilih orang yang kamu kasihi dan hal yang benar. Kamu takkan menyesal jika memilih kasih. Idealisme itu dahulu mendorongku memulai perjalanan ini,” lanjutnya.
Sinar putih melingkupi tubuh gadis itu, memekarkan sayap api yang membara dan melenyapkan seluruh bayangan di sekitarnya. Tetapi memiliki kegemilangan itu, gadis itu justru menurunkan tangannya dengan putus asa.
“Tapi, mengapa tangan ini terus menerus melukai orang yang kukasihi?” tanya gadis itu yang pun menoleh padaku dengan matanya yang merah akan darah.
“… Apakah kamu pun… akan menemukan jawaban yang sama denganku?”
Terbangun diriku saat dingin mulai menyelimuti tubuhku. Api unggunku telah padam, menyisakan bara yang sayu-sayu malas. Dibalik gua tempatku berteduh, hujan lebat menutupi jalan keluar… menjebakku dan Saber di dalam gua itu.
“… Mimpi yang aneh lagi,” gumamku sembari menaruh ranting kering di bara itu dan memercikkan apinya lagi dengan sihir. Dibalik hujan superadikal ini, aku tak perlu takut seekor Malice akan menyerangku karena makhluk itu pun akan mati seketika bila terjebak dalam badai itu.
Tak ingin kulitku terkikis oleh superadikal yang korosif, dengan hati-hati kutarik panci di mulut gua yang telah penuh dengan air hujan. Di dalam panci itu terdapat sebuah magicite yang kini bersinar terang benderang setelah menetralkan racun superadikal di air itu. Sempat kulihat langit dan menyaksikan kepulan awan dengan kilat-kilat keunguan yang mengerikan. Ugh, sepertinya hujan beracun ini takkan reda dalam waktu dekat.
Untungnya, aku telah mengumpulkan sekeranjang penuh flora dan fauna aneh di Underworld untuk menghemat persediaan ration-ku. Mulai dari kelabang raksasa berkulit lunak yang menggeliati brokoli hitam pekat, hingga jamur flurescent dengan taring-taring yang menyeramkan.
“… Tampak lezat,” pikirku menghibur diri.
Suara tapak kaki santai menggema di gua, kilat cahaya menyilaukan mataku saat Saber dengan isengnya memainkan senternya mengacauku. Tersenyum laki-laki ngawur itu yang pun duduk di depanku dan meregangkan kakinya.
__ADS_1
“Lapor, gua ini buntu lagi, bosku! Sudah dua minggu kita turun ke Underworld, sudah ratusan gua kita jelajahi, tapi tak ada satu pun yang berakhir ke markas bawah tanah White Order,” kata Saber yang mengambil ration dari cincin spasialnya, “Aku jadi penasaran, apa mungkin informasi yang kita dapatkan hanyalah bohongan?”
Kucegah laki-laki itu membuka rationnya.
“Jangan, kita tak tahu berapa lama misi ini akan berakhir. Karena itu, sebisa mungkin kita harus menghemat supply kita, Saber,” kataku yang melirik kudapan ‘lezat’ di sampingku dengan bergidik ngeri, “.. Meskipun harus makan bahan lokal disekitar sini.”
“H-Hiiii, k-k-kau mau makan benda itu? A-Aku sih ogah,” kata Saber yang melompat geli.
“T-Tenang… Mereka aman kok dimakan. Flora Fauna Underworld punya enzim khusus yang dapat menetralkan racun superadikal. Y-Y-Yah… meskipun dari pengalaman, mereka… nggak bisa dibandingin dengan masakan Seraphina sih,” kataku yang hampir ingin muntah mengingat terakhir kali aku terpaksa harus memakan makhluk-makhluk menggeliat itu selama dua bulan.
“K-K-Kalau Bosku bilang aman sih… Sebagai ksatria, a-aku ikut-ikut saja,” kata Saber yang membantuku memasang dapur darurat itu.
Minyak goreng kugantikan dengan darah pohon menangis, dimasak cepat diatas api hitam sang iblis. Sembari menunggu, aku menumbuk Jamur api dan apel berdarah lalu mencapurkannya dengan picis-picis kelabang yang telah kupotong sebelumnya di sebuah wadah, membiarkan potongan kelabang itu mengaduk-aduk dirinya sendiri dengan kaki-kaki kecilnya itu. Setelah mencampur rata semua bumbu, aku pun mencemplungkan semuanya ke wajan dan mulai memasak.
Semerbak aroma yang menyerupai bau daging sapi berpadu dengan salmon menari-nari di hidungku. Hmmm, wanginyaaa ... sampai-sampai aku harus menahan diri kalau tidak ilerku akan menetes.
“E-Ehem, taraa! Menu survival Chrysant sudah jadi. A-Aku menamakannya… Death Sushi!” kataku yang menyodorkan sepiring sushi itu pada Saber, “Hayo, Saber, makan! Meskipun bentuknya seperti ini, dia penuh dengan gizi loh,” paksaku menyodorkan satu picis di dekat mulutnya.
“A-Aku ini makan demi rasa, bukan gizi,” kata Saber ketakutan, tetapi sebagai bawahan yang manut, akhirnya dia pun pasrah dan melahap sushi itu dengan mata berkaca-kaca.
Tiap kunyahan membuka mata Saber dengan lebar. Tanpa berkata-kata, ia pun mengambil sebuah piring, lalu rakus memakan semua sushi spesial itu. Tak percaya dengan apa yang dia lakukan, Saber terbengong-bengong.
“K-Kok enak?” tanya Saber.
Tertawa geli aku, “Iya dong, Chef Chrysant dilawan! Aku cuma menakutimu aja. Nggak semua flora fauna disini rasanya aneh, untuk pemula sepertimu, sengaja aku memilih yang kira-kira cocok di lidah,” kataku mendengus congkak.
“Tunggu… Chrysant pernah memakan yang lebih aneh dari ini?” tanya Saber.
__ADS_1
Aku mengangguk canggung, “Kadang-kadang aku harus bertahan selama dua bulan lebih untuk menyelesaikan misiku. Jadi, demi survival, mau gimana lagi?” kataku yang pun mencomot Death Sushi dan melahapnya dengan rakus.
Yah… kadang zong sih, fauna yang kumakan ternyata beracun banget. Tapi untungnya Sel Warden dalam tubuhku dengan cepat menetralkan racun itu. Meskipun… aku jadi diare beberapa hari, hahaha.
“Selama ekspedisi ini, aku akan mengajarkan seluruh kemampuan survival-ku, Kouhai-kun,” kataku dengan semangat. Sebab ini baru pertama kalinya aku turun berekspedisi dengan orang lain. Apalagi rekan ekspedisiku adalah calon kakak iparku sendiri.
“Siap, Chrysant-senpai!” kata Saber tak kalah semangat.
Setelah mengisi perut, kami pun menggelar peta yang tua yang diberikan oleh Penyihir White Order yang ditangkap Nuwa. Banyak sekali ketidakakuratan yang harus diperbaiki karena fenomena familiar yang mengacaukan Underworld. Time Dysplasia, sihir familiar itu kurasakan di sejauh seratus kilometer, melingkupi seluruh area yang kami survey.
Haahh… aku jadi berpikir misi ini mustahil. Gila ya. Arthur berekspektasi aku dapat melacak posisi markas besar White Order dengan peta ini dan petunjuk yang nggak jelas banget. Kota yang bercermin dari kesombongan Benteng Angkasa… Astaga, apa maksudnya?
“Hmm, kalau pake cara konvensional, sampai setahun pun, kita gak mungkin menemukannya,” gumamku melipat tangan, “Ugh… tapi aku sama sekali tidak punya ide. Oke! Kouhai-kun, sekarang waktumu bersinar. Curahkan ide segarmu segera!”
“E-Eeh? Aku? Kalau bosku aja nggak bisa, apalagi junior sepertiku,” keluh Saber.
“Cowok gak pake alasan!”
Saber menggaruk-garuk kepalanya frustasi, tetapi kemudian matanya pun melihat panci di atas api unggun kami. Tiba-tiba matanya pun terbuka lebar dengan senyum yang cerah,
“Ah, aku tahu.”
“Apa? Apa? Cepat katakan idemu,” kataku tak sabar.
Dengan senyum lebar Saber berkata, “Bagaimana kalau ktia memancing para Penyihir itu keluar dengan masakan?”
Kupijit keningku dan menghela nafas panjang… Laki-laki ini gak serius kan?
__ADS_1