
— 9 —
“Hwaaahhh!! Apa inii, kok enak banget,” kata sang Penyihir yang langsung melahap satu panci sup yang Chrysant buat, “Duh daging ini! Bumbu dalam kuahnya meresap banget, tapi masih juicy. Manis wortel dan kentang ini meledakkan umami di mulutku. Duuuh, nggak bosen-bosennya aku makan. Lama-lama aku bisa gendut nih,” lanjutnya.
Aku ternganga tak percaya. Baru saja pergi memasang perisai sihir di sekitar hangar, sang Penyihir telah menghabiskan makananku!
Sang penyihir mematahkan rahang topeng tengkoraknya untuk makan. Sekejap suaranya yang serak pun berubah menjadi suara wanita yang ceria dan penuh semangat. Dimana dia bisa mendapatkan topeng dengan teknologi mutakhir seperti itu?
Tapi, saat Sang Penyihir mengikat rambut ungunya yang panjang, Merah segar bibirnya seperti menggunakan gincu. Chrysant tak dapat berhenti mengagumi jemari lentiknya yang sangat indah. Aku pun tersadar, wanita begitu cantik jelita ini… mengapa aku seolah pernah melihatnya? Tapi dimana?
“Kyaaa! Kalau diliatin begitu banget, Khanza bisa-bisa hamil!” kata Khanza.
H-H-Haa?!
“Ya nggak lah. Mana mungkin!” bantahku. Astaga, mulut Khanza ngawur banget sih.
Khanza tersenyum meringis dan menyanyikan kicauannya, “Santaai, Khanza cuma pingin bilang hal yang sama kayak aktris di film, hihihi! Ituloh, tsundere-tsundere ala anime. Chrysant pernah nonton nggak? Ah pasti nggak pernah ya? Apa Chrysant kerja 247? Hihihi. Kamu kurang menikmati hidup ini,” candanya yang kemudian mengambil sekaleng bir dan meminumnya,
“K-Kkuuuukkh!! Memang minum bir sehabis makan enak itu josss tenan. Hey, hey, Chrysant ngapain datang ke tempat terpencil ini? Seragam itu, kamu seorang Pahtfinder? Waaaahhhh! Pingin deh punya seragam sekeren itu!” lanjutnya.
C-Cerewet banget. mulutnya seperti radio yang tak berhenti berputar. Astaga, mungkin ini yang dimaksud mimpi buruk oleh William?
“Ngomong-ngomong darimana kamu bisa tahu namaku? Padahal kita belum sama sekali bertemu,” jawab Chrysant ketus sembari mengambil sup yang masih tersisa.
Sang penyihir menyentuh bibirnya bingung, “Kalo tak salah, Chrysant diambil dari bunga yang enak banget kalau dijadiin teh ya? Nama yang aneh! Hihihi,” komentarnya yang lalu duduk bersila dengan riang.
A-Aneh? K-kurang ajar! Biasanya aku akan langsung menggebuki orang yang mengejek nama pemberian Kakak. Tapi di Underworld yang penuh dengan bahaya dan kejutan ini, lebih baik aku tak mencari masalah dengan sesama pengguna sihir. Apalagi seorang Penyihir.
Berbeda dengan Pemburu dan Ksatria, Penyihir adalah orang-orang yang bisa menggunakan sihir tanpa berkat dari Dewi Black Company. Mereka mampu menggunakan sihir tanpa mantra dengan kekuatan yang lebih besar dan mematikan. Hubungan kami dengan para penyihir jauh dari bersahabat. Sepuluh tahun lalu, bersatu dalam satu bendera putih, White Order, para penyihir pernah melakukan pemberontakan yang hampir menghancurkan regime Black Company. Tapi semenjak kegagalan mereka, satu per satu penyihir pun turun dan menjadi pengembara di Underworld.
Tepat sekali, Khanza adalah musuh Black Company… seorang White Order. Tapi, sekarang aku malah makan dan ngobrol santai bersama musuhku. Aneh, aku sama sekali tidak merasa permusuhan di antara kami. Malah aku merasa seperti sedang bertemu dengan teman lama.
“Y-Ya maaf. Saat penyelamat Chrysant datang, dia melihatku sedang menggambar nama bunga Chrysant. Mager cari nama lagi, dia menamai Chrysant dengan bunga itu,” balas Chrysant.
Sang penyihir mengangguk dengan antusias, “Nggak nanya.”
Sialan.
“Terus, kamu siapa, Penyihir Berjubah Merah?” tanyaku.
__ADS_1
Sang Penyihir pun berdiri dan membusungkan dadanya bangga, “Khanza,” jawabnya singkat.
Aku mendengus heran, “Hanya itu? Kamu tidak berusaha menjelaskannya lebih lanjut?” tanyaku sesudah menyisip sup hangatku.
Khanza segera melesat mendekati Chrysant dan mengambil kedua tangannya, “Eh, kenapa? Kamu penasaran dengan aku? Aaah, Khanza senang sekali ada gadis yang perhatian denganku. Hey, hey, kamu datang kemari pasti tertarik untuk bergabung dengan White Order, kan? Jika tidak, mana mungkin kamu sedekat ini dengan markas besar kami!” katanya.
M-Markas besar? Tanpa sadar aku menarik tanganku dan mengambil jarak dengan Khanza.
“Aree, mengapa kamu terlihat takut begitu, hmmm?” tanya Khanza yang mendekati Chrysant dan meraih kedua pipinya. Dengan mata merahnya, penyihir itu bertanya, “Jangan bilang, kamu datang untuk menghancurkan kami?”
“T-Tidak, a-aku-“
“Heee? Kamu tidak datang untuk bergabung maupun menghancurkan White Order. Hmmm… O-oohh!”
Tiba-tiba Khanza memegang pipinya yang memerah, “Kyaaa! Jadi kamu datang jauh-jauh hanya ingin bertemu denganku? Kyaaaa, gimana niih! Khanza tersipu-sipu jadinya,” lanjutnya.
“U-uuughhH!! Kamu ini, bikin Chrysant kesal saja! Ya enggaklah, ngapain seorang Pathfinder sepertiku jauh-jauh kemari untuk menemuimu, huh?” bantah Chrysant kesal.
Khanza tertawa dan menyentil kening Chrysant dengan keras,
“Nyahahahaha! Maaf maaf maaf. Khanza hanya suka sekali membaca orang dari ekspresi wajah mereka. Tenang, tenang, Khanza hanyalah Penyihir Pengelana yang kebetulan lewat,” kata sang Penyihir yang memangku pipinya dan menatap Chrysant dengan senyum yang lembut,
Penuh kebahagiaan? Chrysant tertegun.
Ingatan gelap masa lalu Chrysant perlahan menjamahi dirinya. Tentang dahulu bagaimana aku dikucilkan dan dirundung oleh anak-anak disekitarnya karena ‘berbeda’ dengan mereka. Tetapi beberapa tangan cahaya yang terulur padaku, mereka memberikannya kehangatan untuk terbebas dari kegelapan yang dingin itu.
Tanpa sadar aku pun tersenyum, “Yah, Chrysant adalah orang yang paling beruntung di dunia,” jawabku.
Khanza hanya tersenyum, lantas berdiri dan mengenakan kembali jubah merahnya. Tumbuh bagaikan sisik berlian, rahang topeng tengkoraknya pun kini sempurna kembali.
“Loh, kamu langsung pergi? Tidak istirahat dulu?” tanyaku heran.
“Hoho, gini-gini, Khanza adalah penyihir yang sibuk. Tidak ada waktu buat ngelonin anak-anak sepertimu,” katanya yang mengacungkan tanda peace di jarinya,
“Ah, sebagai bayaran atas makanan lezat yang Chrysant siapkan untuk Khanza, bolehkan aku memberikanmu saran.
Bila kamu ingin hidup terus dalam kebohongan manismu, jangan tinjakkan kakimu di Junon.”
“T-Tunggu, apa maksudmu dengan—,” kataku yang percuma, sebab Khanza sudah pergi menghilang ditelan kegelapan.
__ADS_1
Bagaikan angin ribut, penyihir itu begitu saja datang dan pergi. Hanya memberikan pertanyaan yang membuatku semakin penasaran.
Kebohongan apa yang dia maksud? Entah mengapa firasat buruk muncul di dadaku. Kupegang liontin kalung pemberian Seraphina dan berdoa, semoga Dewi Black Company memberikanku kekuatan untuk menyelesaikan misi ini.
—- + —-
Di suatu tempat, oleh seseorang yang familiar…
Badai abu menyerbu tubuh Khanza. Tetapi layaknya benteng perkasa, dengan santai penyihir itu berjalan melewatinya. Tangan Khanza sibuk meengayunkan tongkat sihir patah, menghempaskan segala Malice yang menghadang jalannya.
“Emillia.. Hahaha! Sepertinya tinggal di tanah kegelapan ini menumpulkan taringmu,” sapa Khanza riang kepada sosok kegelapan yang terus menerus mengeluarkan badai abu dari tubuhnya.
Khanza mendengus kemudian membentuk tombak es dari tongkat sihirnya, “Duh, diam aja. Kamu baru merespon jika kita bertarung? Tak berubah ya, meski waktu telah lama berlalu,” tanya sang penyihir.
Mata Khanza mengintai sosok kegelapan dengan pembuluh darah menyala dari tubuhnya. Tampak tersiksa sosok itu, mengerang dalam keputusasaannya. Ia memanggil tombak-tombak abu hitam yang melesat menuju Khanza. Tetapi dengan anggun, sang Penyihir menangkal semua serangan sia-sia itu.
“Ya, benar begitu. Salurkan seluruh obsesimu padaku,” kata Khanza yang melesat bagai kilat menuju punggung sosok gelap itu.
Dengan satu tusukan telak, Khanza menghujam jantung sosok gelap itu. Tetapi bukannya terurai menjadi kupu-kupu cahaya, melainkan darah mengalir deras darinya menodai pakaian sang Penyihir. Hah, permainan menjijikan dari teman masa lalunya.
“… Maafkan aku… Semuanya… aku gagal… melindungi kalian,” kata bayangan itu yang perlahan menjadi seorang wanita dengan kulit gelap dan rambut berwarna perak.
“Hyaaa, kukira kamu sudah menjadi seekor Malice yang sempurna, tapi sepertinya keinginanmu cukup kuat untuk menahan kutukan itu. Tentu saja, kamu kan sang Pathfinder,” kata Khanza yang lantas mengakhiri penderitaan sosok kegelapan itu dengan menebas kepalanya.
“Tidurkah… Serahkan obsesimu padaku, Subyek 93.”
Tawa sinis dari sang Penyihir mengundang berbagai Malice muncul dari bayangan. Geram mereka justru membuat sang Penyihir tampak riang. Seolah sengaja, Sang Penyihir membiarkan dirinya dikepung ratusan Malice yang ingin mengoyak-koyakkan tubuhnya.
“Pas sekali! Aku sedang ingin meluapkan emosiku!” teriak Khanza yang melesat menuju para Malice yang mengepungnya.
Raungan singa dari para raksasa itu menggelegar hingga membuat pohon beriak gelisah. Bersama-sama ratusan Malice menyerang sang Penyihir tanpa ampun. Tetapi dengan tarian tombak yang indah, Penyihir itu menebas satu persatu di antara mereka. Tertawa dirinya seolah pertarungan hidup dan mati itu hanyalah sebuah permainan baginya.
Hanya dalam sekedip mata, sang Penyihir kini telah berdiri di atas ratusan mayat Malice. Mayat-mayat itu pun terurai menjadi kupu-kupu cahaya yang terbang bebas ke langit. Tetapi sinar kupu-kupu itu menunjukan horror yang mereka tinggalkan.
Bermandikan darah segar yang mewarnai tubuhnya jadi merah, Sang Penyihir pun melepaskan topeng tengkoraknya dan melihat ke angkasa. Seolah ingin menggapai rembulan yang telah tiada, ia mengulurkan tangannya.
“Mempertemukanku dengan boneka itu, hey hey, kamu berusaha menumpulkan obsesiku? Jangan bercanda,” kata Khanza mengepalkan tangannya dengan keras,
"... Khanza… akan mewujudkan Ideal White dan menghancurkan dunia kegelapan ini.”
__ADS_1