
— 12 —
Saat aku membuka mata, sebuah pemandangan familar menyambutku.
Kota yang dahulu penuh dengan kehidupan kini telah tenggelam dalam abu hitam yang pekat. Sungai dahulu mengalir dan menjadi ibu bagi kehidupan kini telah membeku dan mati seperti mereka yang dahulu tinggal di permukaan. Dan mereka yang kini bertahan telah melupakan bagaimana warna langit biru, betapa cerianya mentari bersinar dan pula betapa indahnya awan yang bertebaran di langit. Kegelapan telah menguasai langit dan cahaya hanyalah lentera kecil yang tak bermakna.
Mengapa semua jadi seperti ini? Tidak ada lagi yang mengingatnya.
Hanyalah abu hitam menjadi saksi bisu akan kebodohan peradaban sebelumnya. Kota megah yang perlahan runtuh menjadi cerita kelam akan dunia yang melupakan keceriaan kasih. Kereta-kereta telah tumbang ataupun hancur dimakan rayap besi, tak luput kereta kencana indah yang menabrak sebuah toko roti. Dan dari kekelaman, jiwa-jiwa yang penasaran bangkit kembali... mencari api kehidupan yang dahulu mereka miliki.
Malice.
Tidak hidup namun juga tidak mati, mereka merayap di muka dunia dan memakan apapun yang hidup. Dengan tubuh mereka yang terselubung oleh kegelapan, cakar belati mereka dapat mengoyak apapun dengan ganas. Mata mereka merah menyala, menyayatkan kepedihan iri hati mereka pada sesuatu yang telah hilang.
PUFF!
Seekor penyihir keluar dari saluran air kota dan menatap kesekitarnya. Jubah merah menutupi setiap lekuk tubuhnya. Topeng iblis menyembunyikan wajahnya dari dunia. Dari balik tudung jubahnya, telinga sang penyihir yang panjang bergerak kesana kemari, melacak keberadaan musuh disekitarnya.
Ah, suara keras itu mengundang seluruh Malice keluar dari persembunyiannya... dan menunjukan taring pada sang Penyihir.
Lantas sang Penyihir pun menengadahkan tangannya ke langit dan bersamaan itu seluruh abu hitam bergetar begitu hebat di seluruh kota. Mereka mengalir dengan derasnya membentuk topan raksasa di hadapan sang Penyihir. Semakin besar dan dahsyat topan itu, menghisap segala Malice yang ada di dekatnya. Saat semua telah dilahap oleh tornado kegelapan itu, sang Penyihir mengeratkan kepalan tangannya tiba-tiba.
Sekejap topan itu pun membeku menjadi pohon tinggi yang mencakar langit kelam. Cabang-cabang kristal pun tumbuh kemudian menjadi dahan yang menahan abu turun ke kota itu. Dan berikutnya... terang kemilauan berpendar dari setiap tubuh sang pohon, membakar habis seluruh Malice yang tak sempat bersembunyi. Abu yang dahulu menyelimuti Kota pun kini terbebaskan, dan terang pun menunjukan indah kota itu kembali.
"Haah," hela nafas sang penyihir yang menepis sisa abu di jubah merahnya.
Taring-taring yang mencuat topeng mengerikan sang Penyihir. Mata topengnya yang merah melotot itu tentu akan memberikan mimpi buruk bagi siapapun yang melihatnya. Jika ada yang melihat, pasti mereka terpikir... Ya ampun! Mengapa dari semua topeng yang ada di dunia, dia memilih topeng menyeramkan itu? Sungguh selera yang teramat unik.
"Hmmm...?" gumam sang Penyihir menyadari tatapan mataku.
Keluar seperti tikus dari lubangnya, tubuhku bergerak sendiri menampakkan diri. Kubangan air yang membeku menjadi cermin untukku melihat seorang anak kecil dengan baju rombeng mendekati sang penyihir dengan takut-takut. Kurus dan lemah tubuh anak itu mengenaskan, mungkin hanya dengan hembusan nafas dari sang Penyihir saja, anak itu terjatuh.
“Hmph, Sapiens,” dengus geli sang Penyihir.
Tidak mempedulikanku, sang penyihir pun duduk di bangku besi dingin, di bawah tiang lampu yang membeku. Pelan-pelan ia melepas sarung tangan kulitnya, memperlihatkan sebuah tangan dengan jemari yang tajam seperti belati dan kulit yang pucat persis seperti warna porselain.
Sang Penyihir pun membuka tas ranselnya, membuka kaleng besi dengan jari belatinya. Semerbak bau gandum dan kacang-kacangan pun menyerang hidungnya, kala membuka kertas pembungkus biskuit keras, lima permen hitam dan sebungkus kopi yang sudah hilang harumnya.
KRRRUYUUKKK
P-Perutku berbunyi? Dan air liurku mengeces? Mimpi ini… terasa begitu nyata.
__ADS_1
"T-T-Tho... uurgh!" kata sang penyihir dengan suara serak dan tersekat-sekat. Seolah sudah bertahun-tahun tak pernah menggunakan pita suaranya.
Setelah berdehem berkali-kali melumasi tenggorokannya, penyihir itu pun bertanya dengan suara sumbang, "Tho'o ni izaika?”
Bicara apa penyihir itu? Aku tak mengerti satu pun perkataannya.
Setelah memutar-mutar rambut ungunya bingun akhirnya sang Penyihir pun tersentak kaget, “Uh imi nai ga otto… Ah, ..kamu … lapar?” tanya sang penyihir dengan aksen aneh, berkata-kata dengan bahasa tubuhnya yang tak kalah canggung.
Aku mengangguk ragu-ragu, tetapi mataku tetap memperhatikan biskuit keras di tangan sang penyihir. Jahatnya, penyihir itu mengangkat turunkan biskuit itu dan tertawa kecil melihatku melompat-lompat menginginkan biskuit itu.
Kemudian dipatahkannyalah biskuit itu... tiga perempat untuk untukku dan sisanya untuknya. Tapi saat kugigit biskuit itu, keras sekali rasanya, hingga mau lepas rahangku. Tertawa sang Penyihir yang lantas mencelupkan biskuit itu ke susu hangat miliknya. Aku pun mencontohnya dan memakan biskuit lezat itu dengan nikmat.
Tapi, Rasa lapar yang sangat, membuatku segera melompat dan merebut biskuit dari tangan sang Penyihir. Sekejap biskuit itu pun telah habis tetapi perutku sepertinya belum puas. Tertawa kecil, sang penyihir menyiapkan biskuit lainnya kini dengan setoples selai stoberi yang keliatan sangat enak. Dengan jari belatinya, ia mengoleskan selai dan menyatukan dua biskuit keras itu menjadi hidangan yang menarik mata.
“Selai…stobeli… rasanya…. manis, enak," kata sang Penyihir.
Aku tersenyum begitu lebar ketika menerima barang mewah itu. Semakin lahap aku memakan hingga dalam sekejap habis semua. Melongo menatap tangannya yang kosong, aku pun menoleh kepada sang penyihir dengan mata berkaca-kaca.
“Mau… lagi… aku… banyak,” kata sang Penyihir yang memberikan seluruh biskuit keras itu untukku. Saking senangnya, aku pun melompat-lompat dan melahap semua biskuit itu dalam sekejap.
Setelah kenyang, aku pun memberanikan diri duduk di samping sang Penyihir menyeramkan tapi baik hati itu. Kutatap dengan sangat topeng sang penyihir tanpa menyadari tanganku hampir menyentuh topeng itu, tetapi sang Penyihir mencegahnya.
Aku dengan polos menunjuk ke kereta yang hancur di toko roti itu, "Mama Papa tidur sejak minggu disana," jawabnya.
“Oh… maaf…” kata sang penyihir canggung.
Mencoba memecahkan es diantara kami, aku pun bertanya, “Kalau Penyihir, siapa?”
Terkejut sang Penyihir menunjuk dirinya sendiri, “A-Aku… Uhh… Siapa… aku?” tanya dirinya yang bingung sendiri.
Tertawa geli diriku melihat tingkah penyihir itu yang lugu. Lantas dengan riang aku meraih tangan berliannya dan berkata,”Papa dan Mama bilang kebaikan harus dibalas kebaikan! Sebagai balasan Penyihir yang baik, aku akan memberikan Penyihir nama!"
“Apa…?” gumam sang Penyihir bingung, tak paham sepenuhnya karena bicaraku yang terlalu cepat.
Tanpa mampu mengontrol mulutku, aku pun menjawab, ”Mulai hari ini nama Penyihir adalah Khanza!!"
“Khanza… namaku? Uhh… aneh….Khanza… Arti… apa?”
“Entah, kedengaran keren aja.”
“Jadi… Kamu… kasih… Khanza nama… tanpa arti?”
__ADS_1
“Masalah?” tanyaku bingung.
Penyihir itu menepuk dahinya dan tertawa geli. Dipeluknya aku dengan gemas dan dengan ganas menggelitik pinggangku, “Kamu… neybelin….” katanya setelah puas mengerjaiku.
“Kalau begitu… Khanza pun… tanya…. Namamu siapa?”
Dengan riang, aku pun menjawab, "Chrysant!"
"Chrysant... bunga… Chrysanthemum?” tanya sang Penyihir yang dijawab anggukan penuh semangat dariku.
Sang Penyihir kemudian menengadahkan tangan kanannya memanggil cahaya-cahaya kecil. Mereka kemudian menari-nari membentuk rangkaian kelopak bunga cantik yang bersinar dengan indahnya. Terpesona diriku melihat sihir itu. Di dunia tanpa keindahan ini, tak semua mata pernah melihat bunga asli selain dari buku ataupun ilusi sihir.
“Mereka… tak mekar lagi… Salju Superadikal… Sapiens… bodoh… Indah… hilang,” kata sang Penyihir yang kemudian menaruh bunga cahaya itu di atas telingaku,
"Bunga Chrysanthemum... Kasih… hingga akhir khayat… Namamu… Indah sekali.”
— + —
Terbangun diriku dari mimpi aneh itu, disambut oleh nyeri luar biasa di kepala dan seluruh tubuhku. Ugh! Rasanya seperti pisau menyayat-nyayat diriku tanpa ampun!
“Mimpi yang aneh sekali, seolah-olah aku pernah bertemu dengan Khanza sebelumnya,” gumamku membekap dahiku menahan nyeri.
Tapi, bukankah itu mustahil? Bisa saja ini hanya produk imajinasiku yang terlalu liar. Sebab, penyihir lugu itu berbeda jauh dengan monster arogan yang sangat ceriwis itu. Lagipula, kereta yang kutunjuk itu… tak pernah lagi digunakan selama ribuan tahun. Mengapa? Karena kereta itu hanya digunakan saat dahulu manusia masih tinggal di Underworld, lebih dari tujuh millenia yang lalu!
“C-Chrysant, kamu sudah bangun?” tanya seorang gadis berambut emas yang masuk ke bilikku. Dengan mata berkaca-kaca, gadis itu segera berlari memelukku dengan erat.
“Syukurlah, syukurlah! AKu kria aku takkan dapat melihatmu membuka mata lagi,” kata gadis itu.
“D-Dagger? K-K-Kamu selamat?” tanyaku yang tak kalah kaget.
Dagger melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Dia pun mengangguk dan berkata, “Ada banyak yang ingin kusampaikan… tapi yang paling penting… Pathfinder Nadja suah mati. Dia mengorbankan hidupnya demi melindungi kami.”
“… The Reaper menyerang kalian?” tanyaku.
Dagger menggelengkan kepalanya, “Yang menyerang kami… adalah Malice tipe S yang diciptakan White Order.
Kami menyebutnya... Sang Predator.”
Character Design
__ADS_1