
“Setelah millenia menjadi penjaga segel Sang Dewi, barulah kali ini ada orang yang punya ide gila untuk membunuh sang Dewi. Bukan karena tidak terbesit dipikiran pahlawan sebelumnya, tapi, simply, tidak mungkin,” kata Ma Dame Fan menyembunyikan mulutnya dibalik kipas ornamen yang indah,
“Tapi, Clairysviel, apa yang akan kamu dapatkan setelah membunuh sang Dewi kematian?” tanya Ma Dame Fan.
“Untuk mengakhiri badai salju superadikal,” kataku memanggil Artemisia di tanganku.
Aneh, meskipun tahu akan membunuh Sang Dewi, aku sama sekali tidak merasakan niatan Ma Dame Fan untuk menghentikanku. Padahal di Obsidian Theater ini… aku dapat merasakan Mana yang sangat besar, menyeruak dari tubuhnya seperti matahari. Sepertinya sama sepertiku, Ma Dame Fan juga telah mencapai kedewaan.
Kalau begitu, kenapa dia puas diri menyegel sang Dewi Kematian, tapi tidak membunuhnya? Apakah Nyghtingale lebih kuat dari yang kubayangkan?
Ma Dame Fan mendengus, “… Apakah kamu paham mengapa sang Dewi seringkali disebut ‘Seorang Dewi’ ? Persis artinya… Nyghtingale adalah seorang Manusia,” katanya yang kemudian mengibaskan kipasnya dan menyalakan seluruh lentera di istana itu.
Sebuah murah besar pun tampak di belakang wanita anggun itu. Mural yang menggambarkan tentang seorang anak yang menggenggam sebuah pedang dan membebaskan peradaban dari monster-monster jahat yang mengancam mereka. Gambar itu persis kutemukan dalam kitab kuno di perpustakaan Noctis, judulnya jika tak salah “Takdir Pahlawan”.
Tapi seingatku, anak itu hanyalah seorang diri, tetapi mengapa di mural itu ada dua orang yang melindunginya?
“Cinta adalah kekuatan yang sangat besar, tetapi sama seperti kekuatan lainnya, dia dapat tercemar dan menjadi obsesi yang fana,” cerita Ma Dame Fan yang mengelus mural itu,
“Dari cinta yang gelap itu, seorang yang paling cerdas di masanya, terpedaya oleh bisikan iblis. Mengorbankan segala yang dia miliki, bahkan satu-satunya keluarganya yang tersisa, dia memulai ritual untuk memanggil kekuatan yang tiada tara. Sebuah mesin yang dapat mengabulkan segala permintaan.
Ideal White.
Tetapi bukannya cahaya gemilang yang lahir kemudian, melainkan sang Dewa kuno yang haus akan kehancuran. Dengan hapusan tangannya, badai api menghanguskan separuh dunia dan menghancurkan segala yang disentuhnya.”
Dewa kuno, bukan seorang Dewi? Ini pertama kalinya aku mendengar mitos ini. Dari arah cerita ini, sepertinya Ma Dame Fan ingin memberitahuku bahwa Dewi Nyghtingale bukanlah dewa kuno itu. Aku pun memutuskan untuk mendengar cerita itu lebih lanjut.
Ma Dame Fan melanjutkan, “Saat keputusasaan menerkam kehidupan, lahirlah tiga jiwa dengan kedewaan dari kandungan tiga bangsa. Bersama, mereka bertiga menyegel sang Dewa Kuno dalam dimensi keempat dan menyelamatkan dunia.
Namun, kedua jiwa memiliki ide lain. Mereka ingin mengekstrasi kekuatan dari sang Dewa Kuno dan membagikannya ke seluruh bangsa, berharap dengan kekuatan itu, peradaban kan menjadi jauh lebih kuat dan mampu menghalau sang Dewa saat ia kembali.
Untuk mengekstrak kekuatan itu, dibutuhkan sebuah media yang kuat. Dan mereka telah memilikinya. Mereka pun memperdaya jiwa yang malang dan menyegelnya di dimensi keempat, terkutuk selamanya dalam penderitaan… mewujudkan keinginan dari bangsa yang tiada habisnya dan menjaga kekuatan segel sang Dewa Kuno.
Tapi dari pengorbanan itu, lahirlah era sihir yang kita kenal.”
__ADS_1
Sekejap bulu kudukku merinding, kucabut pedangku menyadari arah cerita ini. Bila Ma Dame Fan berkata bahwa dirinya adalah penjaga segel ini, bila cerita yang ia berikan benar adanya, betapa sinisnya rencana busuk penyihir itu!
Ma Dame Fan pun menatapku dengan tajam, “Seperti bunga yang mekar lalu rontok, begitupula jiwa yang terkutuk itu, hancur menjadi debu. maka dari itu setiap dua ribu tahun, kedua jiwa lain memilih tiga jiwa dari tiga bangsa… mendorong mereka dalam keputusasaan, berharap salah satu dari mereka bangkit dan mencapai kedewaan.
Dengan begitu, segel sang Dewa Kuno akan terbaharui dan Era sihir akan terus berlangsung.”
Melesat diriku menebas wanita busuk itu, tetapi seorang ksatria menghentikanku. Keemasan rambutnya melingkupi pucat wajahnya. Dari matanya yang hampa akan kehidupan, aku pun mengerti bahwa Ksatria itu hanyalah boneka yang dikendalikan oleh Ma Dame Fan.
Penyihir itu pun tersenyum,
“Sekarang, kamu mengerti mengapa membunuh Nyghtingale adalah hal yang mustahil? Kamu, juga jiwa malang yang terpilih sebagai pahlawan, dan gadis petir itu, terbuai oleh kekuatan Ideal White… semua hanya untuk menjadi pengganti peran Nyghtingale sebagai ‘penyelamat’ dunia ini,” kata Ma Dame Fan yang menghempasku dengan kekuatan dahsyat,
“Clairysviel Adeola Noctis… Menyerahlah dan serahkan jiwamu padaku. Bila kamu menolak takdirmu, maka sang Dewa Kuno akan turun ke dunia ini dan menghancurkan segalanya…. Dunia akan berakhir.”
Kini aku mengerti mengapa tiada niatan membunuh kurasakan dari Ma Dame Fan. Sebab sejak awal, dia hanya berencana meanngkapku dan mengurungku di segel itu. Sama seperti Triad Megistus lainnya yang ia perdaya selama ini
Tombak petir pun melesat padaku, nyaris aku menghindarinya tetapi kemudia tombak itu mengobarkan api merah tak sempat kuhindari. Bersamaan itu, sang Ksatria Boneka menebasku dari balik debu. Merelakan tubuh itu, aku pun memanggil diriku yang baru di belakang Ma Dame Fan dan menyerangnya dengan Artemisia.
Tapi, pedangku justru terpental sebelum dapat menyentuhnya. Dengan amta iblisku, aku bisa melihat aliran angin yang aneh melingkupi seluruh tubuh Ma Dame Fan. Seolah gravitasi sendiri berperan terbalik di sekitarnya.
Ma Dame Fan melirikku, “Kamu ini makhluk yang aneh. Hidup dalam lingkungan penuh cinta, tetapi kamu justru menolaknya. Saat diberi kesempatan untuk mewujudkan cinta yang sesungguhnya, dengan mengorbankan diri, kamu justru berusaha bertahan hidup,” katanya yang menghempaskan pusaran angin yang mementalkan diriku di dinding.
“Segitu bencinya kah kamu dengan takdirmu sendiri? Atau mungkin bukan takdir yang kamu benci… melainkan dirimu sendiri?” kata penyihir itu memaku tubuhku dengan tombak es.
Gempa hebat mengguncang istana, membuat sang Penyihir kehilangan keseimbangannya. Suara kaca yang pecah pun terdengar di langit, saat akar-akar kegelapanku menghantam masuk untuk menyelamatkan diriku. Ma Dame Fan memuntahkan darah dan tersenyum kecut melihatku,
“Kamu… Lebih kuat dari yang kukira. Tak kusangka, akan ada hari Obsidian Theater diserang seperti ini,” katanya yang kemudian mengendalikan seisi istana untuk melesat menghancurkan akar-akar kegelapanku.
… Dia terluka oleh akar-akar kegelapanku? Aku pun melihat istana yang kini telah berubah menjadi kumpulan balista yang menembaki akar-akar kegelapanku tanpa henti. Melihat Ma Dame Fan tampak kewalahan dan mengalihkan perhatiannya dariku, aku pun paham.
Seluruh Obsidian Theater ini adalah tubuh Ma Dame Fan. Sama sepertiku yang memiliki tubuh besar seperti Pohon Yggdrasil, Ma Dame Fan… adalah seekor Anima.
“Araraa, sang Dewi yang mahakuasa, kewalahan melawan tikus percobaannya?” kataku yang memanggil lebih banyak akar kegelapan untuk mendominasi Obsidian Theater. Bagaikan ular yang menggeliat, aku menghancurkan angkasa kegelapan Obsidian Theater.
__ADS_1
Aku pun turun dari dinding itu, disambut oleh sang Ksatria yang menebasku. Berat tebasannya, meskipun nyaris aku menangkisnya dengan Artemisia, seluruh tulangku rasanya retak semua. Tak mampu menahan, aku hanya dapat menepisnya dan menghindar dari serangan susulan Ksatria itu.
Tapi tiba-tiba, angin pun berhenti, saat Ksatria itu menyarungkan kembali pedangnya. Dia menghirup nafas dalam. Sinar merah muncul dari matanya saat gelombang kejut merah berpendar dari tubuhnya. Waktu pun terhenti ketika ia menebas pedangnya, menghancurkan segala sesuatu yang disentuh tebasan itu sejauh mata memandang dan mengoyakkan dimensi.
“Huh… coba saja, aku tidak punya ribuan tubuh, aku pasti segera mati,” kataku yang muncul kembali dari akar kegelapan di langit. Astaga, ngeri banget! Ksatria itu bukan manusia biasa. Bisa jadi… dia adalah dewa yang bekerja sama dengan Ma Dame Fan dan mengurung Nyghtingale. Namun sudah mati dan kini dikendalikan oleh Penyihir itu.
Melihat akar-akar kegelapanku terdesak oleh balista suci Ma Dame Fan dan kekuatan boneka Dewanya itu, kalau begini caranya, bisa-bisa aku hancur sebelum dapat mencapai Nygthingale. Pasti ada cara lain… tapi gimana?
Aku pun memanggil Ideal White di tanganku dan merasakan hal yang ganjil. Kan mereka dewa, bukankah harusnya mereka dapat memanggil Ideal White dan menggunakannya untuk menyelamatkan dunia? Tapi mengapa mereka harus mengorbankan Dewi Nyghtingale untuk mempertahankans egel dan memulai era sihir?
Aneh. Berbeda dari cerita mereka, Ideal White sungguh ada,. Tetapi mengapa Ma Dame Fan dan dewa lainnya tidak menggunakannya?
Tunggu dulu… apa mungkin, mereka tak mampu mewujudkan Ideal White sepertiku?
“Ma Dame Fan! Coba dengarkan aku dulu!” teriakku yang pun turun ke istana lagi. Tentu saja disambut oleh balista sial yang mencoba menghancurkan akar kegelapan yang melindungiku.
Nyaris aku dapat mendarat di hadapan Ma Dame Fan, sebelum sang Ksatria Dewa hampir menebasku. Tetapi ketika aku menunjukan Ideal White di tanganku, kedua dewa itu pun berhenti. Terbuka lebar mata Ma Dame Fan ketika dengan terbata-bata berkata,
“E-Energi sihir yang besar itu… I-Ideal White? Bagaimana bisa? Bukankah sihir itu hanya omong kosong sang Iblis?”
Dengan keringat dingin bercucuran di dahiku, aku pun menjawab, “Dengan akar-akar pohonku, aku dapat menyerap kekuatan sihir dari segala makhluk yang mati dan dikubur. Di tanganku ini, ialah essensi jiwa yang kupinjam dari ratusan juta makhluk hidup yang pernah berjalan di muka dunia… ditambah lagi dengan potensi sihir mereka yang meningkat akibat wabah Nyght.”
Ma Dame Fan terbelalak kaget, lantas membekap wajahnya tak percaya apa yang ia dengar. Kemudian seolah sudah jadi gila, dia pun tertawa, “Kamu menyebarkan Wabah Nyght, menghabisi separuh dunia… demi mewujudkan Ideal White? Bahkan sang Iblis pun tak sebengis ini ketika menipu Ayahanda dan memanggil Dewa Kuno dulu.”
“Yah, aku kan, Sang Ratu Iblis. Tentu saja, aku lebih jahat dibanding iblis biasa,” kataku menahan nyeri bakar yang menjamah tanganku dari Ideal White.
“Ma Dame Fan, bila musuh sesungguhnya dunia ini bukanlah Nyghtingale, tapi Dewa kuno itu… Bagaimana jika kita menjalin sebuah kontrak?” kataku yang memberikan surat emas pada sang Dewi.
Sang Dewi membaca surat itu dan tersenyum kecut, “Kamu akan menyerahkan Ideal White kepadaku, jika aku membantumu mengalahkan sang Dewa Kuno? Kamu sudah gila ya?”
“Mau gimana pun, dunia ini akan berakhir. Lantas, apa salahnya kita mencoba kemungkinan kecil untuk menyelamatkan dunia ini?”
Ma Dame Fan memanggil ksatria Dewa itu dan mendiskusikan surat itu padanya. Aneh, aku kira ksatria itu sudah mati, ah, sudahlah, aku kan dewi baru, mana aku mengerti seluk beluk dunia perdewa-dewian?
__ADS_1
Ma Dame Fan pun menghela nafasnya dan menatapku dengan serius, “… Clairysviel Adeola Noctis, aku Amelia Sonata Noctis, Dewi ruang dan waktu, menerima kontrakmu. Mari, kita mulai taruhan yang menentukan takdir dunia ini bersama.”