
— 19 —
U-ukkh… Darah keluar dari mulutku bersama nyeri yang menikam dadaku. sial, sepertinya hantaman tadi melukai tubuhku lebih parah dari yang kukira. Tiba-tiba debu dan tanah terangkat kala cahaya terang kemerahan muncul di hadapanku. Aku pun disambut oleh bola energi sihir raksasa yang muncul dari sebuah kepala Predator Telos. Dan tak menunggu lama, dia melesatkan laser merah menujuku.
DUARRR!!!
Sebuah lidah melilit perutku, menarikku lari dari gedung itu. Nyaris menghindari ledakan dahsyat yang meratakan gedung-gedung di sekitarnya. Lidah itu membawaku di hadapan laki-laki dengan tangannya telah bermutasi menjadi lidah raksasa.
Tercengang diriku, dia… adalah Subyek 893!
“A-Apa yang terjadi padamu?” tanyaku yang mendekati laki-laki itu, tetapi segera dia menjauhiku dan menjambak rambutnya dengan mata yang melotot dan menangis. Dia… tampak kesakitan sekali.
“Aargghh!! T-T-The Reaper benar… H-Hidup kami hanya akan… mEMbawa penderitaan bagi orang… di sekitar kami. Tapi kamu.. Subyek 03, kamu… berbeda… Kamu adalah Chalice yang ideal…,” kata Subyek 893 sebelum tanduk tulang tumbuh menyeruak disekujur tubuhnya. Mengaung kesakitan laki-laki itu saat tulang-tulang menembus tubuhnya dan daging tumbuh membentuk kaki-kaki laba-laba. Tetapi sebelum berubah seutuhnya, laki-laki itu menghujam jantungnya sendiri dan melemparnya padaku.
“Chrysant… kumohon… Hentikan kami… sebelum kami…menjadi monster yang akan… melenyapkan dunia…”
Hancur menjadi kupu-kupu kecil, Subyek 893 pun hilang dari pandanganku. Magicite merah yang ditinggalkannya bergetar di tanganku dan sekejap, dia pun melesat menembus jantungku. Nyeri yang luar biasa merasuki tubuhku bersama seluruh sirkuit sihirku panas membara. Tapi kekuatan besar pun mengalir di seluruh tubuhku, menyembuhkan segala luka yang kumiliki. Dan bersamanya, sebuah keping ingatan yang asing di kepalaku…
“Bangunlah, The Warden!”
BUMM!!
Kepala naga sang Predator menghantam gedung tempatku bersembunyi. Dengan amta ularnya yang megnerikan dia mencari-cari posisiku, tetapi tak menyadari sebuah tombak petir menghujamnya dengan ganas. Sang Predator pun berteriak dengan daging yang berusaha menyembuhkan dirinya, tetapi petir tombak itu menghalanginya.
“Chrysaaannntttt!!!! Arrgghhhhh!” teriak sang Predator padaku yang telah berdiri di atas kepalanya dan menghantamkan tombak petir yang menghancurkan kepalnya dan merambat memecah belah seluruh leher kepala itu menjadi hujan darah.
Aneh, entah mengapa tubuhku terasa ringan sekali. Dan… sihir-sihir petir ini, mengalir begitu saja padaku. Seolah dia adalah hal natural yang sejak lama kumiliki. Dan bagaikan kilat tubuhku pun menarikan tarian badai petir yang menghanguskan sembilan kepala naga itu tanpa ampun. Aku pun melompat, mengumpulkan tombak petir raksasa di tangan kananku. Dihadapan mata sang Naga aku pun dapat melihat cerminan diriku…
__ADS_1
Seekor malaikat monster dengan sayap berlian dan senyuman sadis.
Namun cerminan itu mengalihkan perhatianku. Tanpa kusadari kesembilan kepala Predator Telos telah tumbuh kembali dan menghantam tubuhku ketanah. Dan persis setelah itu, sang Predator Telos mengumpulkan bola energi hitam yang menghisap segala debu disekitarnya… siap menghancurkan tubuhku menjadi debu.
“… Bagaimana bisa kamu menunjukan jalan kalau babak belur begitu?” kata seorang laki-laki dengan jubah hitam. Merah matanya menatapku dengan pilu.
“S-Saber… Mengapa—-UUGGHHH!!”
Merah sirkuit sihirku memuncratkan darah yang menyiksaku. Darah kumuntahkan dan dari cerminan darah kulihat sayap berlian itu runtuh… Bersama dengan hilangnya kekuatan aneh yang merasuki diriku tadi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku?
“Hmph, rasa sakit itu adalah bayaranmu ketika menggunakan Ignition Berserker. Ingatlah rasa sakit itu… sehingga kamu takkan pernah menggunakannya lagi,” kata Saber yang mencabut pedang merahnya yang panjang dan memasang kuda-kuda, “Sebab… semakin sering kamu menggunakannya, kamu akan kehilangan kemanusiaanmu.”
Ignition Berserker? … Kemanusiaan, apa yang laki-laki itu bicarakan?
“Kenapa… kamu tidak bersama Dagger?!” teriakku berusaha bangkit dengan tekanan energi sihir itu.
“Heh… Si keras kepala itu menghadiahiku dengan tamparan, saat dia tahu aku meninggalkanmu disini. Sampai detik terakhir sepertinya aku emmang Kakak yang buruk. Tapi, karena itu pula, aku akan menggunakan hidupku yang payah ini… untuk satu kebaikan…
“Lihatlah Chrysant… Inilah yang akan terjadi apdamu saat kehilangan kemanusiaanmu. Ignition Berserker!!” teriak Saber.
Rambut keemasan laki-laki itu pun terbakar menjadi putih yang emgneras bagaikan tandu. Kristal-kristal berlian tumbuh dari tubuhnya, membentuk zirah perang yang mengerikan. Daging pun tumbuh melahap pedang merahnya menjadi bilah dengan gigi-gigi yang tajam. Dalam sekejap, laki-laki dihadapanku berubah menjadi sosok monster yang tak kukenal.
Saber kemudian memasang kuda-kuda yang mengumpulkan angin dalam pedang geriginya. Kekuatannya begitu besar, sebanding dengan bola hitam yang diciptakan Predator Telos. Dan tiba-tiba, waktu pun terhenti saat Saber menebaskan pedang itu dan berteriak,
“Raven Style 03: Dimension Slash!”
Sebah kejut angit membelah bola energi hitam Predator Telos, mengoyak realita dan mencuptakan ruang gelap yang menghisap bola itu ke dalamnya. Sebelum koyakan itu hilang, Saber pun melesat dan menyerang sang Predator telos dengan tarian epdang yang ganas. Saking cepatnya tebasan Saber, mataku tak dapat menangkapnya.
__ADS_1
Namun, Predator Telos pun menerkam saber dan menelan Ksatria itu… sebelum … ZRIING!! ZLASSHH! SLASH!
Kepala yang menerkam Saber pun terpotong hingga ke picis terkecil, memberikan pijakan bagi malaikat itu untuk melesat menuju kepala lain. Mengangkat pedangnya, Saber pun memusatkan seluruh konsentrasinya. Membayangkan jatuhnya daun di atas kolam ikan yang tenang.. .dan memotongnya menjadi tiga.
“Raven Style 07: Zetsubou Dove,” bisik Saber tepat di hadapan kesembilan kepala ular itu.
Sekejap waktu pun terhenti dan dengan lihainya, Saber memainkan pedangnya menembus saatu persatu kepala itu. Tetapi begitu sempat waktu itu berlalu, hingga hanya tiga kepala saja yang dapat ia potong sebelum mendarat di tanah… dan bertekuk lutut memuntahkan darah bersama pancuran merah yang muncrat dari korbannya.
Telah tumbuh berlian memakan seluruh lengannya… kini mengambil kesempatan untuk mendekati jantung Saber. Buram matanya berima dengan nafasnya yang sesak. Tapi laki-laki itu masih berdiri, berusaha melindungiku dengan segenap kekuatannya.
“… Tidak, kita… akan kembali bersama,” kataku yang pun bangkit berdiri dan menembakkan panah cahaya pada ketiga sudut medan pertarungan kami. Dengan langkah tertatih-tatih, aku menaiki puing demi puing, mencapai puncak tertinggi yang mampu kugapai. Bersamanya aku pun mengucapkan mantra,
“Oh Black Company, penuntun hidup kami. Lindungilah kami dari mereka yang jahat, jauhkanlah kami dari deru kematian…”
Saat di puncak aku pun mengarahkan tanganku membentuk segitiga dan berucap, “Celestial Pyramid!”
Piramid cahaya muncul, mengurung sang Predator dalam penjara yang menyesakkan. Sirkuit-sirkuit cahaya lahir dari piramid itu, terhubung pada delapan Magicite yang menjadi sumbu lingkar sihir raksasa yang mengitari Predator, menjaga integritas piramid cahaya hingga sang monster tak dapat lepas dari genggamannya. Persiapan yang diam-diam kupasang semalam untuk jebakanku melawan Predator. Dan di puncak tertinggi, Chrysant memusatkan seluruh sihirnya pada sebuah anak panah… yang tampak emas kemilauan.
Tiga naga cahaya muncul dari panah Chrysant, meliuk dan membakar kulit gadis itu. Iris mata Chrysant pun berubah menjadi merah dan dengan taris darah. Aku pun melepas anak pananhnya sambil berteriak,
“Great Gamble!”
Melesat bagaikan meteor, tiga naga itu menghantam Piramid cahaya di bawahnya. Gempa hebat menjalar seisi kota, retakan-retakan pun muncul di jalan aspal, memisahkan satu dan lainnya. Bangunan segera runtuh satu persatu, masuk ke lubang hitam raksasa yang menghisap tanah di sekitarnya dengan lahap.
Termasuk Saber dan Seraphina. Dengan kekuatan terakhirnya, Saber pun menggendong gadis itu, melompati bangunan runtuh satu persatu… menghindari pusaran kematian yang menelan dunia itu. Hingga akhirnya mereka pun sampai di batas jurang… menyaksikan lukisan kehancuran yang ditinggalkan oleh Chrysant.
Great Gamble adalah sihir terkuat yang kumiliki. Dengan memusatkan seluruh energi sihirku, aku dapat melepaskan serangan yang begitu dahsyat yang mampu meratakan satu kota. Tetapi setelah menggunakan kekuatan itu... aku pun tak dapat menggunakan sihir dalam waktu yang lama…. dan kehilangan kesadaranku.
__ADS_1
Tubuhku pun melemah dan kakiku pun tak mampu lagi berdiri. Seperti boneka yang tak berdaya, aku pun jatuh dalam lubang gelap itu bersama dengan reruntuhan kota dan jalan. Namun tepat di dasar… seseorang menangkap tubuhku dan menidurkannya dengan pelan…
Lembut suara familar itu saat berkata, “… Jangan mati dulu, kamu masih berhutang satu ramen denganku.”