Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan

Untukmu Dunia Ini Akan Kuhancurkan
Traveller from Another World (End)


__ADS_3

—5—


Junon, Ibukota Kerajaan Kinje, November 1620


Bel gereja berbunyi bersama dengan terbangnya burung-burung merpati putih terbang ke langit biru. Bunga bertebaran dimana-mana menyambut pasangan pengantin baru yang bahagia. Namun, ada seorang gadis tujuh tahun yang menyendiri di taman gereja, memisahkan diri dari momen itu. Bersama dengan seekor serigala putih yang tiga kali lebih besar darinya, gadis kecil itu bermain disana.


“Kai, hentikan, geli tahu,” candaku ketika serigala itu menjilati wajahku dengan riangnya.


Kai kutemukan saat sedang bermain di hutan mencari tanaman sihir untuk membuat obat. Terpisah dari kawanannya, dia menangis tersedu-sedu di bawah pohon yang rindang. Iba aku pun memberikannya bekal siangku. Mungkin melihat warna rambutku yang sama dengan bulunya, dia segera mengiraku induknya dan langsung lekat denganku.


Tapi, Keluarga baruku tidak mengijinkanku memelihara Kai. Akhirnya, aku pun diam-diam menyisihkan makananku dan memberikannya pada Kai di hutan. Hanya saja… selang 6 Bulan, anak anjing yang dahulu bisa kugendong dalam palunganku, kini sudah lebih besar dariku.


“Ih, kamu makan apa sih di hutan, sampe segede ini?” tanyaku mengelus dagu Kai yang manja. Aku pun memperhatikan sebuah kristal merah tumbuh di kepalanya. Aneh.


“Bulaaan, kamu dimana?” terdengar suara perempuan mencariku.


O-Oh, suara itu, Kakak? Kalau ketahuan aku memelihara Kai diam-diam, bisa-bisa dia mengadu ke Mama!


Sekejap terdengar suara langkah kaki yang riang mendekatiku. Aroma bunga matahari mengalun bersama keceriaannya yang benderang. Tetapi keceriaan itu justru membuatku merinding. Panik, aku pun menyuruh Kai bersembunyi di hutan sedang diriku tergopoh-gopoh bersembunyi dibalik pohon.


Diam-diam dalam semak di bawah pohon, aku mengintip ke taman tapi tak menemukan Kakak. Heran aku, apakah tadi aku mendengar suara hantu?


“BA!” tiba-tiba terdengar suara keras di belakangku.


Terkejut diriku hingga melompat dari semak-semak dan membuat Kakakku yang iseng tertawa terbahak-bahak. Kesal dijahili, aku pun memicingkan mataku melihat Mentari menggantung di atas ranting dan menepuk pundakku.


“Surprise, Bulan pasti terkejut kan menemukanku disini?”


“K-Kok bisa? P-Padahal kan Kakak harusnya ada disana, kok bisa ada di belakang Bulan?” tanyaku bingung.


“Dengan sihir dong, hihi,” kata Mentari yang dengan lincah melompat turun dari pohon. Kupu-kupu cahaya pun muncul dari tanah menghantarnya dengan anggun di depanku.


“K-Keren banget. S-Sejak kapan Mentari bisa make sihir?” tanyaku dengan amta berbinar-binar.


“Kemarin, Tuan Noctis mengajarkannya padaku. Tuan bilang, aku punya bakat sihir yang hebat. Tak hanya teleportasi, tapi Tuan Noctis juga mengajariku sihir ini,” kata Mentari yang membentuk cahaya menjadi burung merpati yang indah. Dia pun melepaskannya ke angkasa untuk pecah menjadi kilau-kilau cahaya yang mengimitasi turunnya salju pertama… Musim yang paling kusuka.


“Indah banget. Bulan juga pingin! Kakak, ajarin dong,” pintaku.


Kakak pun tertawa dan meminta tanganku, “Sini-sini. Kalau tak salah Tuan Noctis membuka sirkuit sihirku kayak gini…. Umm, ehhhh. Hahaha.”


“Ada apa Kak?”


“U-Uh, aku kok lupa ya caranya,” kata Mentari yang tertawa bodoh.


Geram, aku pun mencubit lengan Kakakku dan mengambek, “Ih, dasar Mentari. Dari dulu sukanya ngasih Bulan harapan palsu mulu.”

__ADS_1


“Y-Ya maaf. N-Nanti aku coba tanya lagi deh sama Tuan Noctis, janji,” katanya yang melingkarkan jari kelingkingnya dengan milikku.


“Kalau Bulan bisa make sihir juga, nanti kita bisa jadi duo penyihir terhebat di dunia!”  kataku dengan senyum polos.


“Tentu saja! Bahkan bisa saja kita menyelamatkan dunia ini,  seperti Pahlawan Olivia dua ribu tahun lalu, hihihi,” kata Mentari.


Saat itu senyuman manis Kakakku berhasil menipuku. Saat itu aku tak tahu bahwa Kakak berbohong. Dia berusaha menutupi kebenaran bahwa aku… tak memiliki sirkuit sihir. Itu sebabnya, Tuan Noctis tidak tertarik untuk mengajarkan sihir padaku.


Mentari adalah sosok Kakak yang sangat kukagumi. Lembut dan baik hati, perhatian dan dapat diandalkan, cantik dan mempesona, Mentari bagaikan Putri sempurna dari negeri dongeng. Helai rambutnya seperti sungai emas yang mengalir diantara putih kulitnya yang halus dan lembut. Senyumannya bagaikan sinar harapan yang dapat mencairkan bahkan es di puncak gunung sekali pun.


Dia sungguh berbeda denganku, yang hanyalah gadis biasa yang lamban dan tak berbakat. Bahkan “sepupu-sepupu” kami sering bercanda bahwa aku hanyalah produk sisa dari rahim Mama ketika mengandung kami. Semua kebaikan dan bakat telah diambil semua oleh Mentari.


Bahkan Mama pun…


Tiba-tiba Kai muncul dari balik hutan, menggeram pada Mentari. Sepertinya dia mengira Mentari sedang menyakitiku sehingga dia ingin melindungiku.


“Kai, jangan. Dia Kakakku,” kataku yang menepuk kepala Kai dan menenangkannya. Penasaran, Kai pun mengendus Mentari, lalu kemudian tersenyum dengan ekor yang bergoyang senang.


Pucat wajah Mentari ketika berusaha menarikku pergi, “B-B-B-Bulan c-cepat lari! I-I-Itu kan Anima!”


“Anima? Kai kan anjing Siberian husky,” tanyaku tak kalah bingung. Kalau tidak salah, Anima adalah monster kegelapan yang lahir dari kegelapan hati manusia. Mereka adalah musuh memangsa umat manusia untuk menjadi semakin kuat.


“M-Mana ada Husky sebesar itu, adikku,” tegur Bulan menjewer telingaku, “Udah jelas dari kristal merahnya itu, dia seekor Blood Wolf!” lanjutnya mengomel.


“Bola bulu ini suka makan manusia?” tanyaku tak percaya, menunjukan keimutan Kai pada Kakakku.


Mentari menggigit jarinya, “Benar juga sih… Uhhh, teori dan kenyataan selalu berbeda,” gumamnya.


Rasa iri jelas terlihat di wajah Mentari. Tanpa kukira, gadis yang tadi mengomel-ngomel tentang Anima, kini melompat dan membenamkan dirinya di bulu Kai yang lembut. Dengan gemas, Mentari pun mengusek-ngusekkan kepalanya menikmati lembut dan hangat bulu Kai.


“Uuuhhh, lembut banget, lebih empuk dari kasur di rumah,” kata Mentari yang pun bersandar di tubuh serigalaku.


“Bulan nih selalu penuh dengan kejutan. Siapa yang kira kamu kabur dari nikahan Mama dan Tuan Noctis, untuk bermain dengan Anima peliharaanmu?” katanya.


“Kakak juga kabur kan?” tanyaku.


Mentari tertawa canggung, “Ssssst, aku nggak kabur ya. Aku kan hanya menjalani tugas sebagai Kakak yang baik, mencari adiknya yang hilang,” katanya mengeles.


Empat tahun setelah Papa meninggal, Mama dilamar oleh seorang bangsawan kayaraya, Keiya Adagio Noctis. Mama bilang dahulu bangsawan itu adalah pasien yang ia selamatkan saat masih bekerja sebagai seorang dokter. Kehangatan dan kasih yang tulus dari bangsawan itu meluluhkan hati Mama, apalagi ketika dia dengan senang hati menerima kami ke dalam Istana.


Hari ini Mama dan Tuan Noctis pun secara resmi menikah. Tapi, aku tak bisa bilang aku bahagia melihat mama senang… Sebab aku merasa, Kediaman Noctis tidaklah menerima gadis kampung sepertiku.


Mentari menggelengkan kepalanya, “Aku tak pernah melihat Mama begitu cantik dan bahagia seperti hari ini.”


Nada suara Mentari menyembunyikan kepedihan yang dalam. Mungkin karena kami telah bersama sejak dari kandungan, aku yang psikopat ambang batas ini pun dapat memahami perasaannya. Dengan canggung, aku pun mengelus kepala Mentari dan menenangkannya.

__ADS_1


“Tapi setelah mengikuti acara pernikahan ini, aku pun paham. Ini adalah pernikahan Mama dan Keluarga Noctis,” kata Mentari.


“Maksud Kakak?”


Mentari menutup matanya, “Aku membenci tatapan mata para bangsawan itu, terutama laki-laki itu. Bila dia sungguh mencintai Mama… mengapa dia menatap kita, darah daging Mama sendiri, seperti tikus di jalanan?” katanya yang kemudian menggigit bibirnya.


Aku dapat merasakan tubuh Mentari gemetar, putus asa mencari pegangan dalam hidupnya. Kegelisahan dan ketakutan Kakak dapat kumengerti. Sebab pada dasarnya, aku pun merasakan hal yang sama.


“Apakah Tuan Noctis akan merebut Mama dari kita, Bulan?”


Dahulu keluarga kami yang kecil bisa hidup dengan tenteram di pedalaman desa. Tak ada prejudis datau hukum tidak tertulis yang mendikte takdir hidup kami. Tetapi semua akan berubah ketika kami memasuki dunia bangsawan.


Di dunia bangsawan, anak perempuan hanyalah sebuah petaka. Tak bisa meneruskan usaha keluarga, tak bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi, yang bisa seorang anak perempuan berikan pada keluarganya hanyalah menjadi alat pernikahan politik… lantas membusuk mengurusi rumah tangga dan memasak. Seorang perempuan bangsawan tidak dapat melarikan diri dari takdir itu.


Tetapi bagaimana dengan kami? Mentari dan diriku tidak memiliki darah bangsawan sama sekali. Baru beberapa bulan yang lalu, kami berdua hanyalah perempuan desa biasa. Apa yang bisa kami berikan pada keluarga Noctis yang kaya raya itu?


Aku menggenggam erat tangan Kakak dan menyentuhkan kepalaku dengannya, “Meskipun semua orang meninggalkanmu, percayalah, Bulan akan selalu disisi Kakak.


Apapun yang terjadi, Bulan akan menyayangi Kakak.”


— + —


Kota Bebas Pei Jin, Agustus 1647


Kuseduh teh krisan sembari melihat cantiknya pohon cahaya yang tumbuh menjulang melingkupi kota dengan dahannya. Duduk di atas tumpukan mayat Matrovska yang tak bernyawa yang kuhabisi, aku pun memandang rendah sosok berjubah hitam dengan dua pedang di sabuknya.


“Ternyata ada gunanya aku mengikuti aroma dari penyerangku di distrik tanpa nama. Tak kusangka aku akan menemukan kumpulan serangga yang mencoba menghentikan diriku,” kataku yang dengan elegan menaruh cangkir teh itu di piringnya,


“Menyebarkan rumor dan menyerangku terang-terangan, menunjukan kamu mengetahui tujuanku. Dengan kata lain, kamu bukan berasal dari dunia ini.


Hey, siapakah kamu, pengelana dari dunia lain?”


Sosok gelap itu pun melesat di belakangku dan melajukan tombak petir. Akar-akar kegelapan pun segera melindungiku dari serangan sihir itu.


“Jawabanmu mengiyakan pertanyaanku. Menarik sekali. Aku adalah iblis yang telah menghancurkan berbagai dunia demi tujuanku, kamu pikir serangan itu dapat melukaiku?” kataku.


Tapi ternyata serangan itu hanyalah pengecoh agar sosok berjubah hitam itu dapat melarikan diri dari jamahanku. Ingin aku mengejar sosok gelap itu, tetapi dia cukup pintar untuk menutupi aroma tubuhnya yang khas dengan sihir.


Akar-akar kegelapan pun muncul dan melahap mayat-mayat di di bawah kakiku dengan ganas. Kekuatan merah pun mengalir ke dalam tanganku. Sekejap kulitku pun terurai namun dengan mengepalkan tanganku, kucegah tubuhku hancur.


“Waktuku… Hmm, aku harus segera menghancurkan dunia ini sebelum tubuh ini mencapai batasnya,” gumamku.


-- Character Design 04 --


__ADS_1


__ADS_2